Kolom

Perempuan dan "Layangan Putus"

Mutiara Fhatrina - detikNews
Sabtu, 22 Jan 2022 10:24 WIB
3 Perbedaan antara Sosok Kinan dalam Series Layangan Putus dengan Mommy ASF
Kinan dalam serial "Layangan Putus" (Foto: HaiBunda)
Jakarta -

Belakangan hari ini sedang ramai tentang web series Layangan Putus, hampir seluruh orang membicarakan bahkan membuat meme tentang reka adegan dalamnya. Web series ini viral karena mengangkat tema yang benar-benar mengusik perasaan perempuan di dalamnya, perselingkuhan. Tak perlu waktu lama, web series yang berawal dari curhatan seorang perempuan di grup menulis di Facebook itu ramai menjadi perbincangan.

Apalagi setelah web series itu berjalan beberapa episode, seorang bapak mengutarakan surat terbukanya agar segera dihentikan. Surat terbuka itu malah mendapat kecaman dari netizen yang didominasi oleh ibu-ibu. Malah, bapak itu kena semprot balik karena dianggap takut perilakunya di luar ketahuan juga oleh istri yang instingnya semakin diasah karena web series ini.

Awalnya saya termasuk orang yang tidak ingin dan tidak sempat juga untuk menontonnya. Kesibukan saya bersama 3 orang anak, dan belajar menulis naskah buku membuat saya tidak kepikiran. Untuk apa juga, saya memang menghindari menonton series seperti itu. Bukan karena tak setuju jalan ceritanya, tapi karena saya menyadari diri ini seorang yang baperan. Bisa-bisa saya baper sampai berbulan-bulan karena Layangan Putus.

Tapi, trailer dan meme yang bertebaran hampir di seluruh sosial media membuat saya akhirnya menyerah, ingin juga menonton. Maka dari itu, saya kumpulkan link web series itu dan menontonnya satu persatu. Sambil berdoa dalam hati, semoga tidak baper! Hehe.

Episode pertama masih biasa saja, tidak baper, mungkin ini juga karena konflik yang disajikan belum terlalu kentara. Namun ternyata setelah beberapa episode menonton, perasaan baper saya juga tidak terlalu mendominasi. Ada sedikit sih perasaan terhanyut akan karakter dan jalan cerita yang ada, tapi masih bisa terkontrol dan tidak meledak-ledak.

Fokus saya justru malah ke Kinan (tokoh utama) secara pribadi. Kinan yang merupakan lulusan kedokteran ini justru memilih menjadi ibu rumah tangga biasa. Terlepas dari suami yang memang pengusaha dan kaya raya, mengapa Kinan bisa memilih menjadi ibu rumah tangga saja? Apa tidak sayang dengan sekolah kedokterannya yang ditempuh selama bertahun-tahun dengan biaya yang tidak murah?

Memiliki karier bagi perempuan tentu saja bukan hanya perkara berapa uang yang dihasilkan, tapi juga sebagai sarana untuk bersosialisasi, bertemu orang lain, dan mengaplikasikan ilmu. Ingat kan bahwa perempuan itu makhluk sosial yang katanya butuh mengeluarkan 10.000 kata per hari untuk bisa menjaga kewarasan?

Semakin saya mendalami bagaimana kehidupan Kinan, saya lalu membandingkan dengan diri sendiri. Setelah memutuskan menikah, saya yang sempat mencicipi bagaimana rasanya kursi kantor, harus resign karena kehamilan. Kehidupan saya kemudian beralih dari pegawai kantoran menjadi ibu rumah tangga biasa. Jangan tanya bagaimana perasaannya, karena saya sendiri butuh lebih dari 5 tahun untuk menyesuaikan diri. Apalagi melihat teman-teman yang semakin gemilang di kantor masing-masing, perasaan saya bertambah kalut.

Mungkin jika kita menjadi Kinan, berkumpul bersama teman-teman bukan hal yang sulit. Kinan bisa saja berkumpul dengan teman-temannya tanpa ada gangguan dan rengekan dari anaknya. Suasana kumpul-kumpulnya juga bisa nyaman, loncat dari satu kafe ke kafe lain tanpa pandang berapa harga menu di sana. Bagaimana dengan perempuan kaum pas-pasan seperti kami?

Marah, kesal, iri melihat pencapaian orang lain, barang tentu sudah menjadi perasaan yang harus saya kelola selama 5 tahun itu. Bukan, saya bukan marah pada suami yang meminta saya fokus di rumah untuk menjaga kehamilan dan anak-anak nantinya. Saya hanya merasa menjadi orang yang tidak bermanfaat. Tentu ini tidak perlu diperdebatkan ya, karena standar setiap orang apalagi perempuan itu berbeda. Saya tak bilang bahwa menjadi ibu rumah tangga itu tak bermanfaat, tapi menurut saya secara pribadi lebih suka suasana akademis yang menuntut saya untuk bisa banyak belajar.

Namun lucunya, ketika suatu hari kemudian ada sebuah lowongan kerja yang sangat pas dengan latar belakang pendidikan, saya malah memilih mundur. Alasan utamanya justru anak-anak dan keluarga. Dalam pikiran saya, jika saya bekerja selama 8 jam di luar, lalu dengan siapa mereka nantinya? Apa cukup dengan seorang yang saya pekerjakan untuk mengasuh mereka nantinya? Pikiran saya menjadi rumit. Apakah kualitas hidup mereka sehari-hari akan sama seperti ketika dengan saya? Ah, begitu banyak pertimbangan sampai akhirnya saya putuskan untuk berkata tidak dan menolak tawaran pekerjaan itu.

Lambat laun saya mulai meredakan segala emosi dan mengambil jalan tengah, belajar dan membangun karier dari rumah. Ya, tulisan ini juga sebagai salah satu upaya saya agar tetap bisa belajar dan bersosialisasi dengan banyak orang. Saya memilih mengikuti banyak webinar dan kelas-kelas daring, memilih merajut kata satu ke kata lainnya, dan belajar banyak hal yang bisa dilakukan dan tetap berdaya. Beruntungnya saya memiliki suami yang mendorong saya untuk tetap maju, dan saya malah diberi kesempatan untuk mengambil kuliah kelas karyawan. Alhamdulillah.

Perempuan ternyata memang harus diwaraskan pikirnya meskipun rumit. Kenapa? Karena ini berhubungan dengan bagaimana caranya nanti mengasuh anak-anak. Perempuan yang bahagia akan dengan riang dan lapang dada menemani setiap langkah perkembangan anak. Tentu juga berlaku dengan keadaan sebaliknya. Bagaimana pun caranya, apapun yang terjadi dalam perjalanan hidupnya, perempuan harus memiliki waktu untuk dirinya sendiri, dan mengembangkan setiap potensi yang ada pada dirinya.

Ada yang kemudian bertanya, apa benar ketika saya kuliah lagi dan disibukkan dengan tugas-tugas justru malah bahagia? Saya jawab iya. Mereka yang mendengar lalu bergeleng-geleng, kok bisa?

Perempuan memang rumit, serumit kisah layangan putus.

Eh iya, saya juga perempuan. Pantas saja saya juga merasa rumit memahami diri sendiri.

Mutiara Fhatrina

(mmu/mmu)