Kolom

Gus Dubes dan Enam Tips Hidup Toleran

Ferdiansah - detikNews
Kamis, 20 Jan 2022 14:28 WIB
Gus Dubes dan Enam Tips Hidup Toleran
Gus Dubes Zuhairi Misrawi
Jakarta -
Terpilihnya Gus Zuhairi Misrawi sebagai Duta Besar untuk Republik Tunisia (17/11/21) menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga Nahdliyin, tak terkecuali kalangan lintas iman dan madzhab. Pasalnya, ia adalah sosok yang selama ini konsisten dalam mengurai persoalan kebangsaan, baik melalui gagasan ataupun gerakan, khususnya pada isu intoleransi, radikalisme, terorisme, dan gejolak sosial-politik islam Timur Tengah.

Sebagai Juru Bicara Indonesia di Tunisia, Gus Dubes memiliki program untuk mempromosikan Islam Nusantara dan ideologi Pancasila sebagai strategi diplomasi, khususnya di kawasan Tunisia serta kawasan Timur Tengah pada umumnya. Baginya, spirit toleransi (tawassuth) dan Pancasila akan menjadi "kata kerja" dalam program kerjanya lima tahun ke depan sebagai Dubes (selain penguatan di sektor ekonomi). Mengingat secara historis, kemerdekaan Tunisia tidak bisa lepas dari peran diplomatik Sukarno melalui Konferensi Asia Afrika. Nama sang Proklamator menjadi bagian penting dari historisitas masyarakat Tunisia.

Program Gus Dubes ini bukan tanpa dasar argumentasi, mengingat kasus intoleransi masih terus marak terjadi, tidak hanya di Indonesia, bahkan di berbagai belahan dunia. Menurutnya, maraknya kasus intoleransi ini akibat dari kesalahan penafsiran suatu ayat Al-Quran yang dianggap melegitimasi kekerasan terhadap kelompok lain --sebagaimana diuraikan dengan ciamik dalam bukunya yang berjudul Al-Quran Kitab Toleransi: Inklusivisme, Pluralisme, dan Multikulturalisme (2020).

Menurut cendekiawan Nahdlatul Ulama ini, al-Quran secara eksplisit banyak menyerukan akan pentingnya hidup toleran di tengah-tengah masyarakat. Secara tafsir 'adah, Al-Quran memiliki 300 ayat yang menyeru akan pentingnya membumikan toleransi dan 176 ayat yang banyak dijadikan justifikasi pembenaran oleh kelompok radikal puritan untuk melakukan intoleransi. Artinya, dalam hal ini, sebenarnya secara kalkulatif seruan untuk hidup toleran lebih dominan daripada pesan-pesan intoleransi. Perlu digarisbawahi bahwa 176 ayat tersebut masih bisa ditafsirkan kembali.

Terlepas dari itu, spirit toleransi dewasa ini menjadi penting untuk terus dihidupkan, mengingat berbagai peristiwa sosial-keagamaan belakangan ini banyak diwarnai dengan aksi-aksi intoleransi. Mengutip catatan kasus intoleransi dari Setara Institute pada 2021, terdapat 32 kasus terkait pelaporan penodaan agama, 17 kasus penolakan pendirian tempat ibadah, dan 8 kasus pelarangan aktivitas ibadah. Kemudian, 6 kasus perusakan tempat ibadah, 5 kasus penolakan kegiatan dan 5 kasus kekerasan yang terjadi sepanjang tahun 2020 menuju 2021.

Berangkat dari secuil data di atas, kewaspadaan di setiap lini masyarakat menjadi hal yang tidak bisa dielakkan. Tugas mereduksi intoleransi merupakan tugas bersama seluruh komponen masyarakat dan sudah barang tentu perlu dilakukan upaya-upaya preventif terjadinya potensi-potensi intoleransi yang bisa merusak tatanan dan peradaban suatu bangsa.

Gus Dubes dalam presentasinya pada International Peace Symposium (3/10/15) di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta menyebutkan akan pentingnya hidup toleran dan damai di masyarakat. Maka untuk terus menjaga nyala kehidupan yang toleran, kita perlu melakukan enam langkah berikut ini secara konsisten dan kontinue.

Pertama, ko-eksistensi. Artinya kita harus hidup berdampingan dengan siapapun, tanpa memandang latar belakang agama, ras, golongan dan sebagainya. Karena pada dasarnya kita diciptakan oleh Allah, berbangsa-bangsa dan bersuku-suku (Q.S. Al-Hujurat ayat 13) untuk saling mengenal, saling membantu, yang kalau dalam bahasa Bung Karno adalah saling gotong royong antar sesama manusia.

Kedua, keterbukaan. Membuka diri terhadap orang lain menjadi kewajiban dalam menjalani hidup di dunia ini. Di ruang publik, kita sebagai sesama warga negara perlu membuka diri untuk saling berdialog dengan lintas etnis dan lintas agama untuk mencari titik temu di tengah aral perbedaan. Apalagi di era keterbukaan ini, sudah sepatutnya kita bersama-sama bekerja sama dalam membangun warga kebangsaan yang harmonis dan sejahtera, tanpa ada rasa kecurigaan yang berlebihan, yang berpotensi menimbulkan aksi-aksi intoleransi terhadap liyan.

Ketiga, Mutual Learning. Saling belajar menjadi kunci dalam menyemai toleransi dalam kehidupan. Mengingat kebenaran yang sejati itu tidaklah tunggal, kebenaran ada di masing-masing agama. Apalagi agama pada hakikatnya mengajarkan kebenaran dan kebaikan untuk kemaslahatan manusia. Jangan sampai kemudian suatu kelompok merasa dirinya paling benar, dan suka menyalahkan pendapat orang lain. Oleh karena itu, kita perlu membaca perspektif dan memahami paham keagamaan agama lain sebagai jalan edukasi, bukan sebagai jalan mengubah keyakinan.

Keempat, Respect. Dari adanya saling belajar itu, kita akan dapat saling menghormati terhadap paham atau perbedaan yang ada pada orang lain. Kita perlu sadar bahwa perbedaan itu adalah sunnatullah, kalau masyarakat memahami ini, kita pastinya akan saling menghormati terhadap kepercayaan dan paham keagamaan kelompok lain.

Kelima, Understanding. Kalau sudah saling menghormati, pada gilirannya kita akan saling memahami. Pentingnya saling memahami bahwa perbedaan tidak perlu dipertentangkan. Maka mengapa dalam setiap kajian literatur kitab-kitab kuning yang diajarkan oleh para kiai di pesantren selalu menutupnya dengan perkataan wallahu a'lam bissowab? Karena agar kita menyadari bahwa yang mampu mengetahui kebenaran sejati dalam kehidupan itu hanyalah Allah, tidak ada seorang pun manusia di muka bumi yang bisa mengaku paling benar dan berhak memonopoli kebenaran tuhan atas dasar pikirannya sendiri.

Keenam, Value and Selebration. Dari semua itu, yang terpenting adalah kita memiliki nilai universal yang perlu kita junjung bersama-sama, yakni nilai kemanusiaan, sebagaimana selalu diajarkan oleh Gus Dur bahwa yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan. Maka pada akhirnya, kita perlu merayakan perbedaan ini dengan sukacita sehingga pada gilirannya potensi intoleransi akan tereduksi dengan sendirinya. Karena kita semua sejatinya menyadari bahwa perbedaan itu indah dan kehidupan toleran itu penting diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat di manapun berada.

Ferdiansah peneliti The Al-Falah Institute Yogyakarta

(mmu/mmu)