Sentilan IAD

Konflik, Berita, dan Penyaring yang Mungkin Tak Ada

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Kamis, 20 Jan 2022 13:00 WIB
iqbal aji daryono
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Fihril Kamal/istimewa)
Jakarta -

Hujan turun begitu deras sore itu, mengguyur ujung barat Pulau Ambon. Rencana kami jalan-jalan nonton belut jumbo morea gagal. Akhirnya kami mampir berteduh saja di rumah Oji, kawan baru saya.

Rumah Oji terletak di Desa Larike, Kecamatan Leihitu Barat, Kabupaten Maluku Tengah. Itu sebuah desa, atau negeri kalau dalam penyebutan secara adat, yang seratus persen penduduknya muslim.

Sambil masih menyimpan harapan utopis akan redanya hujan, saya duduk di teras rumah Oji sambil memandangi anak-anak yang bertelanjang dada bermain bola.

"Pelataran itu bekas gereja, Bang," kata Oji, sambil menunjuk bidang pekarangan tempat anak-anak menendangi bola.

Saya kaget. Lho, katanya seratus persen muslim?

"Iya, Bang. Dulu sekitar tiga puluh persen warga Larike ini Kristen. Tapi sejak kerusuhan, akhirnya banyak di antara kami yang berkumpul sendiri-sendiri," sahutnya, sambil mengunyah pisang goreng hangat yang baru saja dihidangkan oleh keluarganya.

Kerusuhan yang dimaksud Oji tentu saja konflik berdarah berbalut SARA yang membuat Ambon koyak-moyak dua dekade silam. Maka, seketika terlintas di pikiran buruk saya, wah, apakah yang tiga puluh persen di Larike itu dihabisi tetangganya sendiri, lalu gereja mereka dihancurkan?

Sambil menahan pikiran buruk itu, saya melirik ke arah kawan yang satunya lagi, yang tampak sedang asyik mengisap Marlboro merahnya. Nama panggilannya Toka. Dia pemuda Kristen, warga Negeri Allang, desa sejarak sepuluh menit bermobil dari Larike.

Melihat dua pemuda lokal yang bersahabat dalam perbedaan agama, dan tiba-tiba di tengah kami nyelonong obrolan bertopik SARA, saya jadi kikuk sendiri. Tapi daripada saya mules penasaran, saya tanyakan saja kenapa kok gereja itu sekarang tak lagi ada.

Toka ikut nimbrung, dan kemudian meluncurlah rentetan kisah yang berbeda dengan bayangan saya semula.

Jadi, kata mereka berdua, dulunya desa-desa itu campur-campur pemeluk agamanya, dan itu biasa saja. Begitu kerusuhan mulai pecah, ketakutan merebak di mana-mana. Di dalam Larike sendiri aman, tetapi ancaman serangan bisa datang sewaktu-waktu dari desa-desa jauh di luar Jazirah Leihitu.

Karena itulah, warga Larike yang muslim segera mengambil tindakan. Mereka mengungsikan tetangga Kristen mereka ke Allang, kampung halaman Si Toka. Di Allang, mayoritas warganya Kristen. Tetapi, meski Larike desa muslim dan Allang desa Kristen, bukan lantas otomatis mereka berbaku bunuh. Ada satu nilai orang Maluku yang berdiri di atas perbedaan keyakinan, yaitu persaudaraan.

Persaudaraan di sini bukan semata-mata nilai persaudaraan umum sebagaimana diajarkan dalam pelajaran PMP atau PPKn di sekolah, melainkan persaudaraan yang muncul karena hubungan sedarah dari nenek moyang mereka, atau persaudaraan bentukan karena sumpah. Pela dan gandong, istilahnya. Nah, meskipun penduduk Larike dan Allang berbeda agama, mereka diikat oleh hubungan sebagai gandong yang tak mungkin mereka rusak.

Alkisah, pada zaman Belanda, Raja Allang melakukan sebuah kesalahan. Pemerintah kolonial menetapkan hukuman "mati gantung" baginya. Tetapi, Raja Larike menahan hukuman itu. Dia bilang kepada hakim kolonial, lebih kurang, "Oke, hukumannya mati gantung. Berarti Raja Allang belum bisa digantung, karena dia belum mati. Beda kalau gantung mati, digantung dulu baru mati. Ini seharusnya menunggu dia orang mati dulu, baru digantung."

Pengadilan kolonial menerima keberatan Raja Larike. Raja Allang pun dibebaskan. Selepas peristiwa itu, Raja Allang dan Raja Larike bersama rakyat mereka bersumpah bahwa selamanya anak keturunan kedua negeri itu bersaudara sebagai gandong.

Hingga hari ini, tak ada orang Maluku yang berani main-main dengan hubungan pela dan gandong. Pelanggaran atas sumpah leluhur mereka sering kali berakibat fatal, yaitu kutukan-kutukan mistis yang menyeramkan. Ibarat kata, kalau ada warga Allang menolak membantu orang Larike, dia pasti akan tertimpa bencana, mulai yang agak ringan hingga kematian. Pun sebaliknya, warga Larike tak bakalan berani menolak jika dimintai bantuan oleh saudara gandong-nya, orang Allang.

Terdengar irasional, tetapi semua orang Ambon yang saya jumpai, dari berbagai kelas sosial dan kelas pendidikan, membenarkannya.

Dengan ikatan sesakral itu, Desa Larike dan Desa Allang bertahan dari sebaran konflik. Warga Larike yang Kristen diungsikan ke Allang, lalu gereja yang bernama Ebenhaezer itu dibongkar, dan loncengnya saja yang diselamatkan. Itu cara mereka agar pasukan-pasukan liar dari jauh, yang tidak terikat dalam pela atau gandong dengan mereka, tak punya alasan untuk menyerbu masuk Larike.

Pola semacam itu tak hanya terjadi di Larike dan Allang. Di banyak sekali desa lain pun demikian. Maka, meski baku potong tetap terjadi antara kelompok Islam dan Kristen, apa yang terjadi di sana dua dasawarsa silam tidak sesederhana Islam melawan Kristen, Kristen melawan Islam. Bahkan, belakangan banyak yang semakin paham bahwa sebenarnya di tahun-tahun gelap itu ada kekuatan besar yang mengacak-acak mereka, demi kepentingan yang, aduh, saya tak berani menceritakannya.

***

Cerita dari Oji dan Toka itu diam-diam membuat perasaan saya campur aduk. Bukan rasa terharu atau sejenisnya. Namun lebih pada rasa menyesal, merasa bodoh, sekaligus juga bersyukur.

Pada masa konflik tersebut, saya adalah seorang mahasiswa semester awal yang masih meledak-ledak, di atas landasan sempitnya lingkup pergaulan. Bacaan rutin saya sebuah majalah Islam, dan saya merasa majalah itulah tempat saya melabuhkan harapan akan kebenaran.

Apa yang tersaji di lembar-lembar majalah itu saat menggambarkan konflik Ambon semata gambaran hitam dan putih, Islam versus Kristen. Tak ada cerita semacam Larike dan Allang, tak ada tokoh seperti Oji dan Toka. Lebih-lebih lagi ketika terbit satu edisi bestseller dengan judul Tentara Allah Turun di Ambon, berisi liputan utama tentang kisah-kisah hadirnya pasukan malaikat yang membantu milisi muslim.

Sontak, saya merasa itulah kebenaran sejati. Berlanjut kemudian dengan betapa rajinnya saya ikut nonton bareng video-video perang di Ambon, video yang penuh agitasi dengan latar visual jasad-jasad yang remuk dicacah-cacah. Puncaknya, saya datang ke Stadion Kridosono Jogja, ketika Laskar Jihad dideklarasikan.

Sejak hari itu, rasa gelisah tak henti menyergap saya. Kemudian pelan-pelan tekat saya membulat, bahwa saya harus turut berangkat ke Ambon, untuk membela saudara-saudara seiman saya.

Untunglah, setelah serangkai perdebatan, seorang kawan berhasil mencegah saya mendaftar jadi milisi. Itulah yang bikin saya bisa bersyukur hari ini.

Tetapi, ada berapa ribu anak muda seperti saya yang waktu itu tak terselamatkan? Ada berapa ratus ribu yang yakin bahwa informasi satu sisi yang datang kepada mereka adalah seutuhnya kebenaran?

Setiap krisis yang kompleks memang tak dapat dicerna secara sambil lalu belaka. Itu jugalah yang membuat Ambon dan Maluku Utara kemudian menjadi lokasi laris untuk ladang riset para ilmuwan sosial. Lalu hasil riset mereka dirumuskan, mungkin sebagai bahan untuk diajukan kepada para pembuat kebijakan, atau untuk memancing lebih banyak lagi dana hibah penelitian.

Meski demikian, seberapa jauh hasil riset semacam itu sampai kepada publik luas pengakses informasi? Saya kira sedikit sekali. Yang sampai kepada pembaca awam adalah informasi dari media-media ala kadarnya.

Dan sialnya, banyak media yang rakus kepada uang lalu dengan segala cara membangun loyalitas pelanggannya. Bagaimana cara membangun loyalitas di tengah kobaran amarah massa? Gampang saja: dengan mengabaikan air dan hanya memberitakan api yang menyala-nyala.

Saya langsung teringat cerita dari beberapa pengamat. Kata mereka, di tengah pusaran konflik mengerikan itu mendadak terbit dua media. Satu pro-milisi Islam, satu pro-milisi Kristen. Kedua media itu, konon, dimiliki oleh satu juragan yang sama.

***

Hari ini, kita sibuk bicara post-truth, juga mendaraskan jargon-jargon literasi digital. Namun, seberapa akan efektif cara kita menghadapi banjir berita dalam konflik-konflik keras, yang membuat publik pengakses informasi terlibat dalam pusaran konflik itu sendiri?

Dengan enteng kita berkhotbah tentang saring sebelum sharing. Padahal pada hari ini, selain tetap ada godaan uang, juga ada algoritma dan echo chamber--sesuatu yang dua puluh tahun lalu belum ada. Dengannya, bahkan alat penyaring di tangan kita sekadar mengikuti suara-suara yang terus berdengung di lingkaran kita, dan tak pernah berhasil menjadi penyaring yang semurni-murninya.

Apakah lantas akan terus bermunculan versi-versi baru dari anak muda pembaca majalah penyaji kabar satu versi, lalu ujungnya mereka juga bertekat berangkat menjadi milisi?

Iqbal Aji Daryono penulis

(mmu/mmu)