Kolom

Menerapkan "Transit Oriented Development" di Jakarta

Kelvin Ramdhani - detikNews
Rabu, 19 Jan 2022 12:00 WIB
Contoh konsep TOD yang sudah diterapkan di Jakarta
Jakarta -

DKI Jakarta, sebagai ibu kota Indonesia, masih menjadi kota dengan kepadatan yang terbilang cukup tinggi dibandingkan dengan kota lain di Indonesia. Berdasarkan data sensus 2020, kepadatan penduduk di DKI Jakarta mencapai 14.555 jiwa per kilometer persegi, sedangkan kepadatan penduduk di Indonesia hanya 141 jiwa per kilometer persegi. Dengan ini maka kepadatan penduduk di DKI Jakarta setara dengan 103 kali kepadatan penduduk di seluruh Indonesia.

Kepadatan penduduk ini tentu mempengaruhi aktivitas penduduk di DKI Jakarta, seperti kepadatan kendaraan pribadi yang akhirnya menimbulkan kemacetan pada beberapa titik ruas jalan. Kebiasaan masyarakat untuk menggunakan transportasi pribadi dalam bermobilisasi ini masih menjadi alasan utama terjadinya kemacetan pada jam tertentu. Meskipun upaya pemerintah dalam menerapkan peraturan seperti peraturan three in one (satu mobil minimal tiga penumpang) atau peraturan plat nomor ganjil-genap sudah dijalankan, namun tampaknya permasalahan kepadatan lalu lintas masih belum teratasi dengan maksimal.

Salah satu cara untuk mengatasi kepadatan lalu lintas adalah dengan mengimbau masyarakat untuk menggunakan transportasi umum atau transportasi massal. Fasilitas transportasi umum di DKI Jakarta saat ini terbilang cukup baik dibandingkan dengan kota lain di Indonesia, namun kenyataannya minat untuk membiasakan diri bermobilisasi dengan transportasi umum pada masyarakat masih rendah karena fasilitas yang kurang memadai serta jangkauan yang kurang meluas.

Maka, untuk mengurangi penggunaan transportasi pribadi, perlu adanya pembangunan transportasi umum yang memadai dan terintegrasi untuk menunjang seluruh kebutuhan bermobilisasi masyarakat seperti konsep Transit Oriented Development (TOD). TOD adalah konsep pembangunan yang saling terkoneksi antar-perumahan (residential), perkantoran, serta pemberhentian transportasi umum sehingga memudahkan masyarakat dalam bermobilisasi.

Integrasi

TOD adalah sebuah konsep perencanaan kota yang berfokus pada fasilitas transit. Konsep ini sangat berkaitan dengan transportasi publik (public transportation) dan transportasi massal (mass transportation). TOD didefinisikan sebagai sebuah konsep yang menggunakan pola ruang mixed-use yang mendorong pertumbuhan tempat tinggal yang berdekatan dengan layanan transit sehingga memudahkan penghuni untuk bermobilisasi menggunakan moda transportasi publik.

Sistem TOD ini ditandai dengan adanya integrasi antara titik transit, area komersil, area perkantoran, dan area perumahan sehingga semua area dapat dijangkau dengan mudah menggunakan transportasi publik yang ada. Konsep TOD menjadi salah satu alternatif perencanaan kota untuk pertumbuhan daerah yang dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan mengurangi biaya transportasi rumah tangga.

Selain itu, pola ruang mixed-use yang digunakan pada konsep TOD dapat mengurangi dampak lingkungan dan berpotensi dalam mengurangi kemacetan lalu lintas. Perkembangan kota yang berorientasi pada transportasi publik dan transportasi massal menciptakan kemudahan pada masyarakat dalam bermobilisasi sehingga secara tidak langsung dapat melancarkan aktivitas kota dan memajukan perekonomian kota itu sendiri.

TOD sering dianggap sebagai salah satu konsep perancangan kota yang berkelanjutan serta gaya hidup yang sehat karena memungkinkan adanya penurunan jumlah tingkat pengguna kendaraan pribadi. Dengan menurunnya tingkat penggunaan kendaraan pribadi, akan berpengaruh pula pada tingkat kebersihan udara pada kota.

Berkurangnya penggunaan kendaraan pribadi juga memungkinkan menurunnya jumlah luas jalan kendaraan yang ada sehingga ruang-ruang ini bisa digunakan sebagai ruang terbuka hijau ataupun ruang publik lainnya. Gaya hidup sehat juga ditunjukkan jika masyarakat gemar untuk bermobilisasi dengan kendaraan publik.

Penelitian menunjukkan bahwa banyaknya masyarakat yang gemar untuk bergerak berdampak pula pada menurunkan jumlah kematian masyarakat yang disebabkan oleh obesitas di kota. Sehingga dengan banyaknya bergerak maka kualitas gaya hidup masyarakat kota pun akan ikut semakin membaik.

Belajar dari Singapura

Singapura adalah salah satu negara maju di Asia dengan sistem transportasi publik yang sangat efisien. Tidak hanya aspek transportasi, Singapura juga menunjukkan penggunaan lahan yang efisien serta kualitas pembangunan perumahan yang efisien dan baik. Lahan terbatas memaksa negara ini untuk menciptakan konsep pembangunan kota yang efisien di segala aspek. Salah satu konsep perencanaan kota yang digunakan oleh Singapura adalah TOD.

Pola pembangunan kota di Singapura terbangun beriringan dengan beralihnya moda transportasi jalan menjadi moda transportasi massal yang lebih modern yaitu MRT yang secara tidak langsung memberi dampak pada pembangunan fasilitas penunjang di kota itu sendiri. Selain itu, pembatasan penggunaan kendaraan pribad memaksa masyarakat untuk terbiasa menggunakan transportasi publik yang disediakan. Sehingga secara perlahan gaya hidup masyarakat mulai terbentuk dan terlihat dari keberhasilan konsep TOD yang diusung. Dapat dikatakan bahwa MRT di Singapura menjadi pusat keberhasilan dalam menerapkan konsep TOD.

Keberhasilan Singapura dalam menerapkan konsep TOD pada kotanya juga dikarenakan konsistensi yang dilakukan oleh pemerintah dalam pembangunan kota. Masyarakat yang secara tidak langsung dipaksa untuk bermobilisasi menggunakan transportasi massal ini diimbangi dengan kemudahan penggunaan serta kenyamanan fasilitas publik sehingga masyarakat merasa nyaman dan aman dengan menggunakan transportasi publik yang disediakan.

Tidak lupa, pusat perekonomian kota didekatkan dengan stasiun-stasiun sehingga pertumbuhan ekonomi kota menjadi lancar dan berkembang secara pesat. Pertumbuhan kota secara vertikal pun menjadi pendukung keberhasilan konsep TOD di Singapura. Kebutuhan tempat tinggal yang kemudian dibangun secara vertikal menimbulkan adanya kedekatan antara area komersial dengan area perumahan, sehingga hal ini sesuai dengan konsep mixed-use land and konsep compact city.

Usaha yang dilakukan oleh Singapura dalam menerapkan konsep TOD sebanding dengan manfaat yang didapatkan bagi masyarakatnya. Kualitas lingkungan yang bersih dan minimnya polusi udara dari kendaraan bermotor dirasakan oleh masyarakat karena masyarakat mulai beralih ke transportasi massal hingga Singapura dinobatkan sebagai salah satu kota berkelanjutan.

Selain itu, masyarakat Singapura tidak segan-segan untuk bermobilisasi menggunakan jalan pedestrian yang ada karena jalur pedestrian dibangun dengan fasilitas yang nyaman serta kualitas udara yang bersih untuk beraktivitas. Maka, tidak heran jika Singapura menjadi salah satu negara dengan konsep transportasi massal dan konsep TOD terbaik di dunia.

Potensi di Jakarta

DKI Jakarta adalah salah satu kota di Indonesia dengan fasilitas transportasi publik yang terbilang cukup memadai, mulai dari angkutan umum kota, bus dalam kota (Transjakarta), hingga transportasi massal seperti kereta komuter (KRL) dan MRT. Beragam jenis moda transportasi yang disediakan oleh pemerintah tentu memudahkan masyarakat untuk bermobilisasi di dalam kota. Meskipun tiap pemberhentian transportasi publik di Jakarta belum saling terkoneksi, namun melimpahnya area pemberhentian transportasi publik di Jakarta ini memberikan potensi untuk membangun konsep TOD di Jakarta.

Saat ini, masih banyak masyarakat yang lebih gemar untuk menggunakan kendaraan pribadi dengan alasan kepraktisan serta kenyamanan yang masih dinilai kurang. Antar-pemberhentian transportasi publik satu dengan yang lainnya masih berjauhan dan tidak terkoneksi sehingga masyarakat kesulitan untuk berpindah-pindah moda transportasi publik. Inilah alasan mengapa transportasi publik di Jakarta masih dianggap kurang praktis.

Namun, saat ini pemerintah Jakarta sedang mengusahakan menerapkan moda transportasi yang terintegrasi, salah satunya dimulai dengan pembangunan jembatan layang bagi pejalan kaki yang menghubungkan antar Stasiun MRT ASEAN dengan Halte Transjakarta CSW. Konsep desain jembatan layang ini diambil dari pemenang sayembara pada 2019 dengan bentuk melingkar sejajar dengan ketinggian stasiun MRT.

Selain itu, pada malam hari area jembatan layang ini dihiasi dengan lampu warna-warni yang mempercantik kawasan itu sendiri. Tampilan cantik dari jembatan layang ini tidak hanya memanjakan mata penggunanya saja, namun juga sangat berpengaruh terhadap kepraktisan pengguna dalam bermobilisasi.

Pembangunan jembatan layang Stasiun MRT ASEAN-Halte Transjakarta CSW menjadi pembuka bagi pembangunan transportasi yang terintegrasi di Jakarta. Pemberhentian transportasi publik yang terintegrasi seperti Stasiun MRT ASEAN dan Halte Transjakarta CSW akan sangat memudahkan masyarakat untuk bepergian dengan moda transportasi umum yang berbeda-beda. Dengan kepraktisan yang ada ini dapat meningkatkan minat masyarakat untuk bermobilisasi dalam kota menggunakan transportasi publik sehingga dalam mewujudkan kota dengan konsep TOD yang baik.

Banyaknya moda transportasi publik serta pembangunan infrastruktur di Jakarta saat ini sangat memungkinkan terwujudnya konsep TOD di dalam kota. Konsistensi pemerintah dalam menghimbau masyarakat untuk menggunakan transportasi umum disertai dengan pembangunan fasilitas yang memadai dapat menjadi salah satu cara untuk keberhasilan penerapan konsep TOD di Jakarta. Keberhasilan penerapan konsep TOD di Jakarta tidak hanya akan dirasakan oleh penggunanya saja, namun juga akan dirasakan oleh seluruh masyarakat Jakarta maupun pendatang dari luar Jakarta.

(mmu/mmu)