Kolom

Indeks Kebahagiaan Pemicu Kontroversi

Titik Munawaroh - detikNews
Rabu, 19 Jan 2022 11:15 WIB
Indeks Kebahagiaan Pemicu Kontroversi
Jakarta -
Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa waktu yang lalu menerbitkan sebuah publikasi hasil survei yaitu Indeks Kebahagiaan 2021. BPS menyebutkan bahwa indeks kebahagiaan penduduk Indonesia secara nasional berada di angka 71,49 meningkat sebesar 0,8 poin dibanding tahun 2017 yang berada di angka 70,69 pada skala 0 sampai 100.

Indeks kebahagiaan juga dihitung pada tingkat provinsi, sehingga tidak hanya dibandingkan antarperiode, namun juga antarprovinsi sehingga muncul pemeringkatan provinsi berdasarkan nilai indeks kebahagiaan. Disebutkan pula dari 34 provinsi di Indonesia, urutan 5 teratas nilai indeks kebahagiaan adalah Maluku Utara, Kalimantan Utara, Maluku, Jambi, dan Sulawesi Utara. Sedangkan 5 provinsi yang berada pada urutan terbawah berturut-turut adalah Banten, Bengkulu, Papua, Nusa Tenggara Barat, dan Jawa Barat.

Pemeringkatan tersebut tentu menimbulkan banyak konsekuensi. Muncul istilah provinsi paling bahagia, provinsi paling tidak bahagia, provinsi yang mengalami peningkatan paling besar, dan sebagainya. Hal itu tentu memicu reaksi publik yang beragam. Salah satu yang cukup banyak mendapat perhatian adalah sorotan dari epidemiolog Pandu Riono melalui akun Twitter-nya yang menyebutkan bahwa terdapat problema besar dalam pengukuran dan dalam interpretasi, sehingga perlu skeptis terhadap BPS.

BPS telah menjawab melalui akun Twitter resminya. BPS menyatakan bahwa tolok ukur kebahagiaan tiap orang berbeda dan ukuran indeks kebahagiaan memang bersifat subjektif. Meski demikian, BPS menekankan subjektif bukan berarti bohong. Benarkah BPS berbohong?

Memaknai Statistik

How to lie with statistics merupakan sebuah buku karya Darrell Huff pada tahun 1954 yang menyajikan pengantar statistik untuk pembaca umum. Judul buku yang sangat menarik yang pada akhirnya banyak dimaknai sebagai sebuah cara untuk berbohong menggunakan statistik. Istilah itu pun memunculkan gambaran bahwa statistik bisa digunakan untuk berbohong ataupun memanipulasi sesuatu.

Sejatinya buku tersebut mengajarkan bagaimana memaknai statistik secara tepat dengan menjadi orang yang memahami data dengan baik secara sederhana. Dalam salah satu babnya disebutkan bahwa dalam sampel selalu terkandung bias. Untuk itu setiap membaca data statistik perlu dipahami bagaimana data diperoleh, hasil sensus ataukah survei. Jika data hasil survei, berapa ukuran sampelnya, apakah sampelnya representatif atau tidak, bagaimana rancangan penarikan sampelnya, bagaimana proses pendataannya, wawancara, telepon, atau mengisi sendiri, dan masih banyak hal terkait sampel perlu dipahami.

Skeptis menurut KBBI berarti ragu-ragu atau tidak percaya. Ajakan untuk bersikap skeptis terhadap BPS oleh epidemiolog Pandu Riono merupakan bentuk sikap kritis terhadap BPS. BPS perlu mengapresiasi hal tersebut, karena ajakan tersebut membuat orang menjadi berpikir dan mempertanyakan statistik yang dihasilkan oleh BPS. Dengan berpikir kritis, akan menimbulkan rasa ingin tahu yang lebih besar terhadap statistik itu sendiri yang pada akhirnya akan memberikan pemahaman lebih kepada masyarakat tentang indikator statistik tersebut.

Seperti halnya judul buku karya Darrell Huff bahwa statistik bisa dipakai untuk berbohong, namun sebagai lembaga resmi yang diberikan amanat untuk melaksanakan kegiatan statistik dasar oleh undang-undang, dalam melaksanakan tugasnya BPS tunduk pada kode etik statistik yang diatur dalam Peraturan Kepala (Perka) BPS Nomor 39 Tahun 2010 tentang Visi, Misi, Nilai-nilai Inti, dan Kode Etik Statistik BPS.

Kode etik tersebut di antaranya adalah statistik yang memenuhi norma, standar, prosedur, dan kriteria yang berlaku dalam setiap penyelenggaraan kegiatan statistik; statistik yang objektif sesuai dengan fakta lapangan yang sebenarnya; statistik akurat, yang mampu menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Tentu dengan memegang teguh kode etik statistik tersebut data yang dihasilkan BPS bisa dipertanggungjawabkan.

Memicu Perdebatan

BPS sebagai lembaga penyedia statistik tentu sudah menghasilkan berbagai macam data dan indikator. Beberapa di antaranya adalah data yang sarat nuansa politis dan rawan perdebatan. Di antara indikator tersebut adalah angka kemiskinan, inflasi, pertumbuhan ekonomi, tingkat pengangguran, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan yang saat ini memicu perdebatan adalah indeks kebahagiaan.

Angka kemiskinan sangat rawan memicu perdebatan, baik kemiskinan meningkat maupun menurun. Penurunan angka kemiskinan misalnya, di satu sisi merupakan angin segar bagi pemerintah karena mencerminkan keberhasilan dalam pengentasan kemiskinan. Namun bagi pihak lain bisa jadi dianggap sebuah rekayasa pemerintah karena adanya "fakta" masih banyak kemiskinan yang ditemui di sekitarnya yang memicu ketidakpercayaan terhadap angka yang dihasilkan oleh BPS. BPS dituding sebagai lembaga yan tidak independen dan bisa dikendalikan oleh pemerintah.

Indeks kebahagiaan pun mengalami nasib yang serupa. Apa benar di tengah kondisi pandemi kebahagiaan penduduk meningkat? Bukankah seharusnya kondisi pandemi menurunkan tingkat kebahagiaan? Pertanyaan seperti itu tentu berkecamuk di benak sebagian besar masyarakat. Namun yang perlu kita pahami bersama adalah bahwa indeks kebahagiaan dihasilkan dari Survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan (SPTK).

Statistik yang dihasilkan dari sebuah survei adalah hasil estimasi dari sejumlah sampel yang ada. Selain berbasis sampel SPTK 2021 adalah survei persepsi yang nilainya sangat bergantung pada persepsi dan pemahaman responden terhadap pertanyaan yang ajukan. Oleh karena itu nilai indeks kebahagiaan sangat dipengaruhi persepsi responden tentang kebahagiaan itu sendiri.

BPS menyatakan bahwa target sampel SPTK 2021 sejumlah 75.000 responden dengan respons rate sebesar 99,5 persen; responden yang berhasil diwawancarai adalah sebanyak 74.684 responden. Sampel terpilih adalah berstatus kepala rumah tangga (KRT) atau pasangannya. Dengan demikian anggota rumah tangga yang berstatus selain kepala rumah tangga atau pasangannya tidak berpeluang terpilih sebagai sampel. Dengan demikian gambaran indeks kebahagiaan tersebut lebih tepat menggambarkan kebahagiaan KRT atau pasangannya daripada seluruh penduduk karena adanya bias pemilihan sampel (sample selection bias).

Sample selection bias adalah bias karena pemilihan sampel yang tidak acak; unit sampel yang satu memiliki peluang terpilih sampel lebih besar dibanding yang lain. Inilah yang kurang terjelaskan kepada masyarakat umum, sehingga membawa kepada kesalahpahaman terhadap hasil survei tersebut dan memicu terjadinya kontroversi.

Poin berikutnya yang menjadi catatan adalah sampel SPTK 2021 berbeda dari sampel SPTK 2017 karena keduanya bukan survei panel (sampel yang sama diwawancarai selama beberapa periode). Hal ini tentunya akan membawa sedikit misleading saat menjejerkan keduanya dan menyampaikan bahwa adanya peningkatan atau penurunan indeks di suatu wilayah. Meskipun secara metodologi keduanya terbanding, namun secara sampel tidak, maka ketika membandingkan keduanya perlu diingat bahwa pada kedua periode tersebut sampelnya berbeda.

Menyederhanakan yang Kompleks

Indeks kebahagiaan sebagaimana yang disampaikan BPS mengukur kesejahteraan subjektif (subjective well-being) sudah banyak dilakukan oleh negara-negara lain. Indeks kebahagiaan melibatkan proses meng-angka-kan sebuah perasaan atau persepsi tentang kebahagiaan itu sendiri dari beberapa dimensi. Dimensi yang diukur antara lain dimesi kepuasan hidup, perasaan, dan dimensi makna hidup.

Ketiga dimensi tersebut memiliki bobot yang berbeda dalam menyusun indeks kebahagiaan, masing-masing berturut-turut memiliki kontribusi sebesar 34,8 persen, 31,18 persen dan 34,02 persen. Dimensi yang ada dalam komponen indeks kebahagiaan dijabarkan dalam 19 indikator penyusun.

Indeks kebahagiaan merupakan upaya menyederhanakan sesuatu yang kompleks yaitu definisi kebahagiaan itu sendiri. Penyederhanaan tersebut tentu memiliki konsekuensi terhadap ukuran kebahagiaan yang maknanya seolah menjadi tereduksi. Tentu menjadi sebuah pertanyaan sulit ketika kita ditanya apakah kita bahagia? Jika bahagia, seberapa bahagiakah kita? Jika dituangkan dalam skala 1-10, pada angka berapa tingkat kebahagiaan kita? Hal inilah yang memicu terjadinya reduksi makna kebahagiaan yang dinyatakan dalam angka indeks.

Selain faktor pemilihan sampel, dalam survei persepsi seperti SPTK ini peranan responden dalam memberikan skala tingkat kebahagiaannya sangat menentukan indeks kebahagiaan yang nantinya akan terbentuk. Bahagia saya tentu berbeda dengan bahagia anda. Inilah kunci dari indeks kebahagiaan yang dihasilkan BPS.

Indeks kebahagiaan dibangun berdasarkan teori dan asumsi-asumsi yang berdasar. BPS tentu tidak mengada-ada ketika melakukan penghitungan sebuah indikator. Indikator tersebut sudah melewati studi pendahuluan, dan berbagai tahap penyempurnaan. Jadi indikator tersebut bisa dikatakan tepat tetapi dengan catatan bahwa indikator tersebut harus dimaknai pula secara tepat.

Pelajaran Berharga

Indeks kebahagiaan memberikan pelajaran berharga yang bisa dipetik. Bagi BPS, hal ini tentu menjadi sebuah kritik membangun yang perlu disikapi dengan bijak. Sajikan data dengan segala macam dimensinya. Masyarakatkan statistik secara masif sehingga masyarakat Indonesia menjadi melek statistik. Sajikan data yang valid secara secara efektif dan tidak menyesatkan pengguna data.

Sebagai konsumen data dan informasi, jadilah konsumen data yang cerdas. kita perlu melihat statistik secara lebih baik lagi. Bacalah data statistik secara benar dan obyektif. Karena statistik hanyalah alat, maka bagaimana menggunakan statistik secara tepat itu berada di tangan pengguna.

Pekerjaan rumah bagi BPS ke depan adalah bagaimana memasyarakatkan statistik secara luas, sehingga membentuk masyarakat yang melek statistik dan masyarakat yang sadar statistik. Butuh upaya tidak hanya dari BPS namun juga dari semua pihak untuk menjadikan masyarakat Indonesia sadar statistik. Dengan menjadi sadar statistik, kita akan menjadi pembaca yang cerdas.

Titik Munawaroh Statistisi Muda pada BPS Kota Yogyakarta, sedang menempuh pendidikan Doktoral di Program Studi Kependudukan Universitas Gadjah Mada

Simak juga 'Indeks Kebahagiaan Warga DKI Turun, Wagub Balas Pamer Capaian':

(mmu/mmu)