Kolom

Jalan Keluar Penggunaan Energi Terbarukan

Arga Pribadi Imawan - detikNews
Senin, 17 Jan 2022 13:00 WIB
Indika Energy menggandeng pengembang tenaga Surya dari India guna memenuhi kebutuhan penggunaan energi baru terbarukan di Indonesia.
Penggunaan energi terbarukan dengan tenaga surya (Foto: dok. Indika Energy)
Jakarta -

Wacana global saat ini menunjukkan tentang perubahan energi fosil menjadi energi terbarukan. Kemunculan wacana ini didasarkan kepada krisis energi yang diprediksikan akan terus menguat semenjak tahun 2021 (Effendi, 2021). Dalam situasi risiko yang semakin menguat, kampanye tentang energi terbarukan mulai dilaksanakan di sejumlah negara. Norwegia misalnya, baru-baru ini telah menjalin kerja sama dengan Indonesia berkaitan dengan energi hydroelectric (energi listrik bertenaga air) dan energi surya.

Dominasi wacana energi terbarukan telah mengantarkan Indonesia kepada posisi yang sangat menguntungkan dengan dibuktikan jalinan kerja sama di atas. Bagaimana tidak? Indonesia memiliki sumber daya alam (SDA) yang sangat melimpah. Dari segi geografis, wilayah Indonesia dikelilingi oleh perairan dimana menunjukkan potensi besar dalam pemanfaatannya untuk produksi energi bertenaga air. Tidak hanya itu, status Indonesia sebagai negara tropis turut mendukung bagi Indonesia untuk memproduksi energi bertenaga surya. Artinya, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi negara contoh dalam mengaplikasikan energi terbarukan.

Sayangnya, potensi ini tidak dimanfaatkan dengan mandiri dan cenderung diabaikan. Debat akademik mulai bertebaran dan mengelaborasi sebab utamanya. Analisis yang dimunculkan mengarah kepada dimensi ontologi atau pertanyaan mendasar tentang apa yang membuat Indonesia urung mendorong energi terbarukan. Titik 'berangkat' analisis ini kemudian berimplikasi kepada dominasi analisis akademis yang sering kita dengar hingga saat ini, di antaranya pentingnya perubahan perilaku birokrasi, mendorong politisi untuk membawa isu perubahan iklim hingga kampanye energi terbarukan.

Pendapat itu sepenuhnya benar, namun narasi itu tidak sepenuhnya menjelaskan solusi praktis penyelesaian masalah yang muncul. Aspek aksiologi atau tentang bagaimana seharusnya potensi energi terbarukan diaplikasikan menjadi hilang. Sederhananya, kita sudah mengetahui peta permasalahan tentang tantangan aplikasi energi terbarukan di Indonesia. Akan tetapi, kita cenderung 'lepas' dalam mendiskusikan tentang bagaimana tantangan itu dijawab. Kita mengetahui ada yang salah, namun cenderung tidak mengelaborasi solusi atas permasalahan yang ada.

Kontroversi

Dilansir dari beberapa opini di The Conversation Indonesia, tantangan yang muncul dalam implementasi energi terbarukan Indonesia berfokus kepada tiga hal. Pertama, penguatan infrastruktur energi terbarukan. Kedua, memberikan perhatian lebih kepada energi terbarukan dengan penambahan anggaran research and development (R&D). Ketiga, terhambatnya Rancangan Undang-Undang (RUU) Energi Terbarukan dari para pemangku kebijakan akibat dari kurangnya perhatian terhadap pengembangan energi terbarukan.

Bangunan argumentasi yang ditawarkan telah memberikan kesadaran yang besar bagi diskusi energi terbarukan. Namun, perbincangan terhadap 'benturan' pengetahuan antara 'orang awam', seperti penduduk adat, dengan ilmuwan belum terjelaskan. Padahal risiko 'benturan' pengetahuan antara keduanya menjadi sesuatu yang tidak terelakkan mengingat kondisi masyarakat Indonesia yang multikultur.

Joks dan Law (2017) telah menunjukkan contoh kasus yang sangat baik tentang kontroversi antara lay knowledge (pengetahuan orang awam) dengan scientific knowledge (pengetahuan ilmuwan) yang terjadi di Norwegia. Kajian mereka melihat tentang titik tengah dalam penyelesaian perbedaan pengetahuan yang terjadi antara penduduk asli yang disebut sebagai sàmi dengan para ahli biologi tentang bagaimana populasi ikan Salmon harus dijaga.

Studi mereka mengatarkan kepada kesimpulan bahwa cara berpikir ilmiah perlu 'dilunakkan' atau tidak bergantung kepada perhitungan scientific semata. Sementara pengetahuan sámi perlu 'dikeraskan' dan dibuat lebih mudah dibawa agar tidak selalu berpedoman kepada nilai-nilai luhur semata (Joks & Law, 2017)

Hybrid Forums

Titik tengah di atas kemudian mengantarkan kita kepada pertanyaan selanjutnya tentang bagaimana hal itu diwujudkan. Callon, et.al (2011) menawarkan jawaban untuk menemukan titik tengah di antara dua atau lebih kubu yang saling berbenturan tersebut --disebutnya sebagai hybrid forums. Secara sederhana, gagasan ini menjelaskan tentang pentingnya pertemuan yang melibatkan ilmuwan, orang awam, politisi hingga para birokrat.

Dalam forum tersebut, mereka bebas untuk memberikan pendapat apapun tanpa ada 'penghakiman' dari pihak mana pun. Yang terpenting, tujuan akhir dari forum ialah membentuk pemahaman baru dengan frekuensi yang sama diantara para aktor. Tidak hanya itu, hybrid forums juga menawarkan efektivitas dan legitimasi sehingga keputusan hasil forum menjadi valid. (Callon, 1999)

Dengan demikian, dimensi aksiologi dalam mengaplikasi energi terbarukan di Indonesia terletak pada terlaksananya hybrid forums di antara para ilmuwan, orang awam, politisi serta birokrat. Memang pada kenyataannya, kontestasi pengetahuan diantara para aktor yang terlibat akan berjalan sangat 'keras'. Namun, langkah ini menjadi salah satu opsi langkah yang harus dilakukan saat ini dalam menyongsong era energi terbarukan.

(mmu/mmu)