Kolom

Perilaku Bertransportasi dan Kebijakan Pembangunan Infrastruktur

Yusfita Chrisnawati - detikNews
Senin, 17 Jan 2022 11:15 WIB
Arus lalu lintas di Jalan Soekarno-Hatta, Bandung, terpantau cukup padat. Pesepeda pun terpantau ikut macet-macetan karena tak ada jalur sepeda di jalan itu.
Foto ilustrasi: Wisma Putra/detikcom
Jakarta -

Hampir setahun belakangan ini saya tinggal di kota dengan tingkat kualitas hidup terbaik di dunia yaitu di Vienna, Austria. Praktis saya menggunakan transportasi umum sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari; saya menjadi biasa melihat stroller bayi naik turun bus dengan nyaman dan anak-anak muda yang keluar-masuk kereta sambil menenteng e-scooter atau menuntun sepeda. Bahkan penyedia jasa antar makanan saja mayoritas menggunakan sepeda onthel sebagai sarana pengantaran. Tidak peduli musim panas atau musim dingin, jika orang sudah nyaman memakai sepeda, mereka akan tetap memakai sepeda.

Di kalangan teman-teman riset saya, tidak ada yang menggunakan mobil ketika pergi ke kampus. Pilihan mereka adalah sepeda, kendaraan umum, dan moda transportasi baru bernama e-scooter. Dan, entah mengapa kalau di luar negeri itu keren-keren saja walau pakai baju seadanya dan naik sepeda biasa, bukan bermobil. Beberapa peneliti senior bahkan profesor sekalipun biasa jalan kaki bersama mahasiswa sambil menanti bus di depan kampus. Sistem transportasi yang memadai ternyata mampu mengakomodasi kebutuhan bergerak bagi generasi usia produktif terutama anak muda.

Kemudahan ini membuat generasi muda di Vienna dan Eropa pada umumnya menjadi enggan memiliki kendaraan pribadi karena bisa bergantung pada variasi moda publik yang jauh lebih fleksibel. Memiliki mobil pribadi dipersepsikan oleh anak muda sebagai sebuah tindakan tidak efisien dari segi biaya dan kepraktisan. Mobil juga bukan lagi menjadi simbol kemapanan dan orang mungkin juga tidak peduli pada hal tersebut.

Seandainya nih, seandainya, semua usaha kota-kota besar di negara kita ini dalam menyediakan transportasi publik yang andal itu berhasil! Kita lalu punya variasi transportasi umum yang beragam, bisa diandalkan dalam melayani kebutuhan dari pintu rumah ke tujuan akhir, menyingkat waktu perjalanan, dan harga terjangkau seperti layaknya negara-negara Eropa. Sebuah pertanyaan kemudian timbul.

Apakah generasi muda ikhlas dan rela meninggalkan kendaraan pribadi dan beralih memakai kendaraan umum lalu tiada lagi kemacetan di kota? Belum tentu, jangan buru-buru membayangkan kondisi ideal itu. Mari kita refleksi diri, seberapa bermakna kehadiran motor dalam kehidupan sehari-hari kita. Apakah motor cukup hanya berfungsi sebagai sarana bergerak dari rumah menuju kampus atau tempat kerja lalu jemput pacar?

NDX A.K.A menangkap makna motor bagi anak muda dalam liriknya yang berbunyi: Jare nek ra Ninja ra oleh dicinta....

Dengan kata lain, meski seandainya transportasi umum sudah dapat diandalkan, belum tentu pacarmu mau dijemput dan diajak naik trem atau kereta.

Beralih ke mobil dan pengandaian yang sama bisa kita terapkan. Apakah mobil ini tetap menjadi penting untuk dimiliki apabila kita mampu bergerak leluasa dengan transportasi umum? Tentu saja tetap penting, sebab salah satu ukuran pencapaian di Indonesia saat ini bukan seberapa sering kamu naik kereta dan bus dalam keseharianmu. Punya mobil atau tidak? Kalau punya lantas seberapa mahal mobilmu? Itu ukuran kesuksesan generasi muda saat ini.

Perkara mobilnya hasil kredit, tak jadi persoalan, toh platnya tetap hitam tanpa ada pembeda --plat hitam mobil jika beli cash dan plat warna pink untuk mobil yang dicicil penuh cinta misalnya. Persoalan jumlah kepemilikan kendaraan seseorang menjadi bahan kontemplasi berikutnya. Yakin, cuma butuh satu motor Ninja untuk menjemput pacarmu? Kalau pacarmu seleranya RX King atau kamu sendiri seneng nyambi jadi driver Gojek, masak iya kamu cukup punya Ninja? Tentu kamu butuh minimal Vario untuk kemudahan ngojek dan antar barang.

Mobil Mazda MX-5 RF berpintu dua tentu kece banget buat kencan sama gebetan, tapi pas mau kondangan bawa keluarga segambreng tentu Avanza atau Innova masih tetap menjadi andalan. Malem minggu ngapel gebetan, Minggu siang anter kondangan, begitu rutinitas masyarakat Indonesia pada umumnya pada bulan-bulan berkah untuk mengadakan pernikahan. Senin sampai Jumat bisa buka rental atau narik GoCar.

Nilai dan Budaya

Perbedaan nilai dan budaya masyarakat kita ternyata sangat berpengaruh terhadap perilaku bertransportasi. Untuk siapa sarana transportasi umum itu disiapkan dan siapa yang ditargetkan untuk memakai? Apa yang menjadi preferensi orang dalam menggunakan berbagai pilihan moda transportasi yang ditawarkan?

Jangan lupa bahwa dinamika dan nilai sosial masyarakat kita itu juga berbeda. Kepemilikan kendaraan pribadi masih menjadi sebuah simbol status dalam strata sosial masyarakat kita yang masih sangat menjunjung tinggi budaya materialisme. Belum tentu masyarakat kita serta merta akan beralih ke transportasi umum dan meninggalkan tradisi pamer kesuksesan melalui parade mobil dan motor kekinian.

Adopsi mentah-mentah kebijakan pembangunan infrastruktur transportasi dari Barat tanpa mengenali karakter calon penggunanya bisa jadi malah sebuah tindakan menghambur-hamburkan uang pajak. Bisa jadi malah menjadi kebijakan yang salah sasaran dan jauh dari kata efektif. Tidak perlu diingatkan lagi berapa banyak proyek transportasi yang gagal secara investasi dan malah justru jadi beban negara karena mesti dipertahankan keberadaannya dengan subsidi.

Tampaknya pemerintah harus belajar lebih peka jika akan bergerak lebih lanjut dalam investasi penyediaan transportasi publik. Membangun infrastruktur dan fasilitas transportasi itu ibarat suami mau beli hadiah ulang tahun buat istrinya. Suami harus betul-betul memahami karakter, perilaku, kebiasaan, kesukaan, hingga hobi istrinya untuk bisa menentukan dengan tepat mau memberi hadiah apa. Jangan sampai istri tidak suka sepak bola, tapi kamu belikan jersey tim favoritmu, dan berharap dia akan suka rela memakainya hanya demi menyenangkanmu.

Simak juga 'Jokowi Fokuskan APBN 2022 untuk 6 Kebijakan: Covid hingga Infrastruktur':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)