ADVERTISEMENT

Kolom

Godaan untuk (Selalu) Berbuat Baik

Muhammad Nanda Fauzan - detikNews
Jumat, 31 Des 2021 10:47 WIB
ilustrasi berbuat baik
Foto ilustrasi: Thinkstock
Jakarta -

Letnan Anton Hofmiller, didorong oleh rasa simpati yang berlebihan, memilih bekerja sama dengan Kekesfalva dan Dokter Condor dalam proses penyembuhan Edith, seorang gadis lumpuh yang malang. Kekesvalfa—sang Ayah—bertugas memenuhi kebutuhan moril dan finansial, Dokter Condor mengurusi prosedur medis, sementara sang Letnan perlu menyuplai rasa cinta-kasih kepada sang pesakitan dengan cara berkunjung sesering mungkin, bahkan di titik paling ekstrem, menerima lamarannya.

Di sinilah malapetaka besar terjadi. Sang Letnan, sejak awal, tak menaruh perasaan berlebih—kecuali rasa iba—kepada Edith. Oleh karenanya, di hadapan kawan-kawan sesama militer, sang Letnan menampik fakta bahwa ia telah menerima lamaran sang gadis; ia merasa malu di satu pihak, dan merasa kalut di pihak lain. Pengakuan sang Letnan sampai pada telinga Edith. Respons Edith memilukan tapi bisa dimengerti; terjun dari balkoni, lalu wafat beberapa jam setelahnya.

Kisah tersebut dituliskan oleh Stefan Zweig dalam Kalut (Mooi, 2020), dengan kejelian yang begitu memikat. Sebuah cerita yang berhasil memerangkap kita pada kesadaran esensial, bahwa perbuatan jahat dan perbuatan baik sama-sama memiliki konsekuensi negatif.

Kesadaran semacam itu jarang kita jumpai dalam ajaran-ajaran tentang hidup. Sejak kecil dorongan untuk berbuat baik, untuk mengutamakan memberi pertolongan, telah kita terima dalam bentuk pelajaran budi-pekerti, hingga kini ketika ucapan-ucapan motivasi sangat masif diproduksi. Kita akhirnya sering mendengar kompetisi yang paradoksal dan tak pernah jelas siapa jurinya; berlomba-lomba untuk berbuat baik. Padahal yang lebih terhormat—dan lebih berat—adalah, menghindari untuk berbuat jahat.

Kita sepertinya lupa bahwa "berbuat baik" selalu bersifat transaksional, dalam pengertian ia memerlukan kesepakatan kedua belah pihak. Bila tidak, pihak yang menerima pertolongan bukan tidak mungkin merasa terusik—bahkan merasa dilecehkan kemampuannya. Dan di samping itu, si pemberi pertolongan harus siap mengorbankan seluruh kenikmatan untuk orang lain—tanpa harap balas sama sekali.

Berbuat baik tidak pernah sesederhana kedengarannya. Ada tanggung jawab untuk berbuat baik, di samping juga memerlukan pengetahuan yang memadai. Saya pernah mempersilakan seorang ibu untuk melangkahi antrean saya di mesin ATM, tapi alih-alih merasa gembira, si Ibu malah menuding saya hendak mengintip sandi yang ia miliki. Sementara itu, seorang Menteri 'memaksa' anak tunarungu untuk berbicara, dengan maksud merangsang kemampuan yang diberikan oleh Tuhan—katanya. Ada maksud mulia dalam dua tindakan itu. Tapi niat mulia, kita tahu, tidak pernah cukup.

Peristiwa-peristiwa semacam itu, dalam porsi dan versi yang berlainan, saya yakin pernah dialami oleh siapa pun paling tidak sekali dalam seumur hidup. Dalam kondisi tersebut, hal pertama yang terlintas dalam benak kita—sebagai apologia—biasanya adalah; "orang-orang kerap menyalahi maksud baik." Jelas terasa naif.

Padahal kadang-kadang, yang perlu kita curigai adalah godaan untuk "selalu berbuat baik". Mengapa kita harus memikul tanggung jawab untuk menyenangkan orang lain, bahkan dalam kondisi yang relatif kondusif? Boleh jadi, selama ini diam-diam kita menikmati posisi superior tatkala sukses menolong orang lain, atau semata merasa bangga karena telah berbuat baik.

Perasaan semacam itulah yang sepertinya sukses menciptakan kalut dalam diri Letnan Anton Hofmiller. Setelah semua tindak-tanduk heroik yang dilakukan, ia seperti didera oleh Messiah Complex. Ada satu momentum singkat di mana ia menemukan dirinya seperti juru selamat. Malam itu aku adalah sang Maha Agung, katanya. Aku merasa bangga, manusia-manusia itu menyukai cahaya yang kupancarkan. Tapi tak butuh waktu lama untuk membuatnya tersadar atas kesalahan besarnya; mengutuki semua rasa iba yang berlebihan; menyesali keinginan untuk berbuat baik yang telah membuat hidupnya berubah sedemikian rupa.

Ah, seandainya saja sang Letnan mampu mengontrol rasa ibanya! Boleh jadi Edith, gadis yang digambarkan demikian menderita itu, tak akan mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri karena rasa cinta tak terbalas. Ia mungkin akan sembuh—meski menyita waktu dan biaya yang tak sedikit. Dan Letnan Hofmiller sendiri, besar kemungkinan akan menjalani hidup sebagaimana letnan kebanyakan, lalu kariernya melesat dalam posisi kemiliteran sebagaimana lazimnya.

Tapi akhirnya, seumur hidup sang Letnan harus dihabiskan oleh bayang-bayang bahwa ia seorang pembunuh keji—korbannya perempuan, lumpuh pula. Bahkan ia mesti berangkat ke medan perang dengan maksud melupakan kekejian yang dilakukannya atas Edith, dan bukan didorong oleh semangat patriotik tertentu. Dan itu semua bermula dari sebiji kebaikan yang terus disirami.

Saat membuat tulisan ini, tiba-tiba sepenggal dialog dalam film The Night Comes from Us (2018) melintas dalam benak saya. "Pilihan keliru," kata seorang tokoh yang diperankan oleh Julie Estelle, saya kutip secara verbatim. "Anak itu justru akan lebih baik jika tak kau tak membawanya." Konteks percakapan tersebut adalah, ketika tokoh jagoan membawa kabur seorang gadis cilik dari pembantaian. Padahal, di luar sana, gangster dan mafia sedang dan akan terus memburu sang jagoan. Tentu, maut membayang-bayang si Anak, selama ia terus dibawa-bawa oleh sang jagoan.

Pada akhirnya kita tahu, dalam segala tindak heroisme selalu ada tragik yang menyertai. Dan anjuran untuk "berbuat baik", sejauh pengetahuan saya, hampir selalu dibarengi dengan penekanan "kepada mereka yang membutuhkan". Lalu, sejak kapan kita melupakan empat kata terakhir itu?

Muhammad Nanda Fauzan penulis dan pembaca cerita

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT