ADVERTISEMENT

Kolom

"Yuni" dan Obrolan-Obrolan yang Tak Kunjung Usai

Anhar Dana Putra - detikNews
Jumat, 24 Des 2021 09:30 WIB
Film Yuni
Arawinda Kirana dalam film
Jakarta -

Seorang sinefil yang saya kagumi pernah berkata, "Film yang baik adalah film yang tidak pernah selesai." Saya setuju, sebab tidak banyak film yang bisa mencapai level itu. Film Yuni adalah salah satu dari yang sedikit itu. Yuni menawarkan banyak hal untuk terus dibicarakan, bahkan lama setelah filmnya usai.

Plot film Yuni berpusat pada cerita seorang siswi SMA dari daerah pinggiran kota Banten bernama Yuni yang diperankan oleh Arawinda Kirana. Di usianya yang masih sangat belia, Yuni dituntut oleh lingkungan terdekatnya (keluarga, sekolah, tetangga) untuk memutuskan sendiri pilihan-pilihan besar dalam hidupnya. Keputusan-keputusan besar dalam hidup yang bahkan buat orang dewasa sekalipu, terlampau sulit untuk dipahami.

Pada fase perkembangan emosi yang demikian naif dan eksploratif, Yuni sudah dituntut untuk menentukan masa depannya sendiri; mau lanjut kuliah, mau bekerja sebagai TKW, atau mau menikah saja (sebagaimana nasib banyak gadis remaja sepantaran di daerahnya). Diperparah oleh keadaan di mana ia tidak punya siapa-siapa yang bisa ia jadikan role model, hanya punya nenek yang gemar karaoke.

Bayangkan betapa besar tekanan yang harus ia hadapi?

Berlapis-Lapis

Sebagai anak perempuan yang lahir dari pasangan ayah seorang sopir pribadi serta ibu seorang asisten rumah tangga, yang tumbuh besar di lingkungan sub-urban yang konsevatif, eksistensi Yuni terdesak oleh sejumlah persoalan keperempuanan yang berlapis-lapis.

Cita-citanya untuk lanjut kuliah tertunda karena tidak punya biaya. Mengharapkan beasiswa, tapi tidak didukung kepala sekolahnya sendiri sebab menurutnya perempuan seperti Yuni lebih baik menikah saja daripada berkuliah.

Impian lainnya yang ia punya untuk menjadi penyanyi pun digugat oleh keyakinan yang dipegang masyarakat tempat ia hidup. Misalnya, perempuan harus menjaga suaranya karena itu aurat, perempuan tidak seharusnya bermimpi macam-macam, perempuan sebaiknya cepat menikah karena kodratnya di sumur-dapur-kasur, perempuan pamali menolak lamaran lebih dari dua kali, perempuan tidak boleh ini, itu, dan seterusnya. Keyakinan-keyakinan yang boleh jadi terasa familier buat kita orang-orang Indonesia yang berasal dari daerah atau pinggiran kota.

Realitas masyarakat Yuni yang seperti itu disajikan dengan gamblang seakan-akan kita sedang menyaksikan film dokumenter biografi. Masyarakat Yuni disajikan perlahan-lahan, namun utuh. Keputusan ini akhirnya memang membuat pace filmnya terkesan sangat pelan, tapi justru itu yang membuat film Yuni jadi menarik.

Kelompok-kelompok masyarakat yang beneran ada di dunia nyata tapi jarang sekali mendapat representasi dalam film, mendapat porsi lebih di film ini. Lewat layar lebar di film ini kita bisa menyaksikan representasi orang-orang yang boleh jadi sehari-hari kita temui, seperti nenek-nenek yang rajin salat tapi roko'an, bapak-bapak pengangguran yang kerjaannya mancing tiap hari, janda korban KDRT yang akhirnya buka salon karena diusir keluarga gara-gara malu, pasangan yang terpaksa dinikahkan karena kena grebek, ibu-ibu muda yang suaminya pergi entah ke mana, suami yang pergi meminang perempuan lain bersama istri pertama, sampai orang-orang dengan ekspresi gender dan orientasi seksual minoritas. Semua kelompok identitas ini ditampilkan dengan netral dan apa adanya, tanpa sedikit pun terasa judgemental.

Puisi

Ada banyak film yang mengutilisasi penggalan-penggalan puisi agar filmnya terasa manis, tapi tidak dengan film Yuni. Penggalan-penggalan puisi Sapardi Djoko Damono tidak hadir di film ini sebagai pemanis belaka, melainkan sebagai elemen penting penggerak cerita.

Yuni memang bukan orang yang mengerti puisi, tapi ia menemukan eskapisme dalam puisi-puisi Sapardi. Lewat penggalan-penggalan puisi dari buku Hujan Bulan Juni, Yuni akhirnya mendapati suatu ruang di mana ia tidak lagi dituntut menjadi siapa-siapa atau apa-apa.

Film ini memiliki potensi untuk membawa penonton jatuh cinta (lagi) pada puisi-puisi Sapardi (seperti AADC terhadap Chairil Anwar dulu, yang mana menjadi menarik sebab kedua film ini ditulis oleh orang yang sama, Prima Rusdi).

Saya sendiri bahkan baru sadar bahwa puisi-puisi Sapardi ternyata seindah itu setelah menyaksikan film ini. Setiap kali penggalan puisinya dibacakan saya sontak membatin: yang fana adalah waktu, Sapardi abadi. Semoga tenang Bapak di sana.

Jukstaposisi

Pada beberapa adegan, saya menangkap beberapa jukstaposisi yang menarik untuk diperbincangkan. Salah satunya jukstaposisi puisi dan tubuh Yuni. Setidaknya dua kali dalam film ini Puisi Sapardi dibaca Yuni dalam keadaan dan posisi yang hampir "telanjang".

Jukstaposisi ini lumayan minor, tapi berhasil bikin saya penasaran. Entah disengaja atau tidak, tapi sangat menarik membincangkan semiotika dari jukstaposisi ini. Saya sebetulnya punya interpretasinya, tapi butuh susunan kalimat yang sangat hati-hati agar tidak berakhir terkesan mengobjektifikasi tubuh perempuan.

Jukstaposisi lain yang paling nyata dan major adalah perbedaan tone warna yang kontras saat Yuni berada di sekolah dan di luar sekolah. Saat Yuni berada di sekolah tone film terasa normal, tapi saat Yuni berada di luar sekolah tone film berubah warna jadi "ungu banget".

Yuni digambarkan sebagai penggila warna ungu. Semua benda yang ia punya berwarna ungu, mulai dari motor, pena, jepitan rambut, sampai pakaian dalam yang ia kenakan. Fakta ini menunjukkan bahwa Yuni punya pendirian dan berani stand up buat pendiriannya. Tidak seperti mayoritas gadis remaja sepantaran dia di lingkungannya.

Perbedaan tone warna yang kontras ini seolah menegaskan bahwa Yuni menjalani dua hidup yang berlawanan secara bersamaan. Tone ungu mewakili hidup yang ingin ia jalani; hidup yang membuatnya merasa bebas dan menyala. Sementara tone normal mewakili hidup yang harus ia jalani; hidup yang membelenggu dan penuh ekspektasi.

Pengalaman menjalani dua hidup yang berlawanan bersamaan semacam ini sebetulnya tidak unik. Kita semua barangkali pernah atau bahkan masih sedang menjalaninya. Corak masyarakat kita yang kolektif dan konformis,membuat nilai-nilai membahagiakan keluarga serta ekspektasi sosial menjadi mutlak dan tak terbantahkan. Sehingga menjalani dua hidup seperti itu seringkali menjadi strategi paling masuk akal yang bisa kita lakukan untuk bertahan dan tetap waras.

Penghargaan Internasional

Indonesia sangat jarang punya film coming-of-age yang bermutu, sekalinya ada mutunya sebagus ini. Saya pikir mutu film Yuni tidak kalah dengan mutu film-film sejenis yang sudah lebih dulu mendulang pujian seperti Mustang (2015) atau Lady Bird (2017).

Bisa dibilang semua peran di film ini dieksekusi dengan sangat baik oleh para aktornya, bahkan peran-peran kecil sekalipun. Tidak ada satu pun peran yang terkesan dimainkan secara amatir.

Tepuk tangan paling keras tentu saja layak kita berikan ke Arawinda Kirana. Sebagai aktor pendatang baru, eksekusi yang ia mainkan hampir tanpa cela, kalau tidak mau dibilang sempurna. Menakjubkan di usianya yang semuda itu, ia sudah mencapai kematangan akting level elit. Tidak heran dia diganjar Piala Citra di FFI dan Silver Yusr Award di Read Sea Film Festival Arab Saudi, dua-duanya sebagai Pemeran Utama Perempuan Terbaik. Sangat menarik menantikan peran apalagi yang akan ia mainkan di film-film selanjutnya.

Dengan segala keunggulan yang ditawarkan, film Yuni memenangkan sejumlah rekognisi internasional, termasuk Platform Prize dari Toronto Film Festival dan terpilih sebagai official entry mewakili Indonesia di kategori Best International Feature Film di ajang Oscar. Semua berkat sentuhan sang sutradara brilian Kamila Andini.

Yuni adalah film yang patut kita rayakan bersama-sama. Untuk itu, mari kita doakan semoga film ini membawa pulang kabar baik dari The Academy Award.

Simak Video 'Film 'Yuni' Tak Berhasil Masuk Nominasi Oscar 2022':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT