Kolom Kang Hasan

Melindungi Para Santri

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Senin, 13 Des 2021 11:00 WIB
kang hasan
Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Seminggu ini media kita heboh membahas kasus pencabulan yang dilakukan oleh seorang ustaz di sebuah pesantren di Bandung. Kini terungkap lagi kasus serupa di Tasikmalaya. Kedua kasus itu pun bukan yang pertama. Sudah ada puluhan kasus serupa di berbagai tempat di seluruh Indonesia.

Adanya kasus-kasus ini memberi pelajaran penting, yang seharusnya sudah disadari oleh orangtua. Pertama, kekerasan seksual tidak terjadi karena perempuan tampil menggoda, memicu birahi laki-laki. Kekerasan seksual terjadi karena ada laki-laki yang tak sanggup mengendalikan perilaku seksualnya. Artinya, fokus perlindungan bukan pada bagaimana perempuan harus menjaga diri, tapi pada kesadaran bahwa ada laki-laki bejat yang berkeliaran.

Kedua, relijiusitas dalam bentuk rajinnya seseorang beribadah maupun titel relijius yang disandang oleh seseorang bukan jaminan bahwa ia akan berperilaku baik. Dalam kasus-kasus tadi, agama justru dipakai oleh pelaku untuk melakukan berbagai manipulasi guna mencapai tujuan bejatnya.

Konsekuensi dari dua kesimpulan itu adalah, jangan serahkan anak untuk dididik di sekolah dengan sistem menginap seperti pesantren atau boarding school, kecuali didapatkan jaminan atas keselamatan mereka. Jaminannya bukan dalam bentuk kepercayaan kosong yang mengandalkan atribut agama atau nama seseorang. Jaminan harus diberikan dalam bentuk sistem berbasis manajemen risiko.

Sebenarnya bukan hanya santri perempuan yang rentan terhadap kekerasan, baik seksual maupun fisik. Santri laki-laki juga rentan. Ancaman bukan hanya datang dari guru, tapi juga dari rekan sesama santri. Sebenarnya lagi, masalahnya bukan cuma soal kekerasan, tapi juga soal sanitasi dan kesehatan. Beberapa kali saya menemukan pengabaian soal sanitasi dan kesehatan dalam kunjungan ke pesantren.

Ringkasnya, harus ada standar soal keamanan dan keselamatan anak-anak di sekolah-sekolah menginap itu. Ditambah dengan standar soal sanitasi dan kesehatan tadi. Penetapan dan penerapan standar ini tidak mudah. Pesantren lahir sebagai lembaga pendidikan informal. Mirip dengan warung-warung yang dengan mudah dan bebas bisa didirikan. Menerapkan standar keselamatan, keamanan, sanitasi, dan kesehatan akan sama sulitnya dengan menerapkan standar higienis terhadap warung-warung di pinggir jalan. Kesulitan bersumber pada besarnya jumlah objek yang mau distandarkan, ditambah dengan soal pola pikir tradisional yang sulit diubah. Tapi kalau tidak dibuat standarnya, kita akan terus menyaksikan kejadian-kejadian buruk yang tidak hanya mengancam anak-anak kita, tapi juga merusak nama baik pesantren.

Di sisi lain, para orangtua harus kembali disadarkan soal tanggung jawab pendidikan anak. Mendidik anak itu kewajiban orangtua. Kewajiban itu tidak gugur atau tunai hanya dengan mengirim anak ke sekolah. Masih sangat banyak orangtua menganggap bahwa mereka cukup memasukkan anak ke sekolah, dengan begitu mereka sudah menunaikan kewajiban. Setelah itu mereka merasa tak perlu lagi terlibat.

Dalam hal pesantren, sikap para orangtua bisa lebih parah lagi. Mengirim anak ke pesantren jadi semacam sarana untuk membebaskan diri dari beban pendidikan anak. Kirim ke sana, lalu semua hal diurus oleh pesantren. Tidak jarang orangtua mengirim anaknya ke pesantren seperti membuang anak. Anak nakal, masukkan ke pesantren. Pesantren dianggap sebagai lembaga ajaib yang bisa mengubah orang. Sikap seperti ini kerap dikritik oleh para pengelola pesantren.

Ke mana pun kita memasukkan anak ke sekolah, beban tanggung jawabnya tetap ada pada kita. Kita harus memantau pertumbuhan fisik dan psikis anak kita, jangan pernah lepas dari pantauan kita. Artinya, kalau pun anak kita masukkan ke pesantren, kita masih wajib berkomunikasi dengan anak secara kontinyu. Dengan begitu bila ada penyimpangan, bisa kita deteksi sejak dini.

Hal lain adalah soal mendidik anak-anak kita untuk waspada terhadap kekerasan seksual. Dalam banyak kasus, anak-anak tidak berdaya menolak, karena tidak punya pengetahuan tegas soal batas perilaku yang dibolehkan. Mereka juga tidak mendapat pendidikan soal bagaimana bersikap tegas terhadap tindakan yang tidak patut.

Seks adalah soal yang tabu untuk dibahas di mayoritas rumah tangga kita. Terlebih terhadap anak, seks menjadi sangat tabu. Akibatnya, hal-hal terkait kekerasan dan penyimpangan seksual juga tidak pernah dibahas. Anak laki-laki, misalnya, bisa saja menganggap pelukan dan ciuman gurunya sebagai ungkapan sayang, padahal ia sedang mengalami pelecehan seksual.

Sepatutnya soal seks dibahas secara terbuka, sebagai pengetahuan, baik dalam keluarga maupun di ruang kelas. Pendidikan seks adalah pendidikan yang akan berperan besar menentukan perilaku seksual anak-anak kita.

(mmu/mmu)