Ditolak Itu Hal Biasa

ADVERTISEMENT

Jeda

Ditolak Itu Hal Biasa

Impian Nopitasari - detikNews
Minggu, 12 Des 2021 11:15 WIB
impian nopitasari
Impian Nopitasari (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Ini adalah hari-hari yang berat di lini masa Twitter karena selalu berseliweran berita tentang kekerasan seksual dari mana pun dan dalam bentuk apapun. Melelahkan setiap hari harus ngelus dada membaca trending topic yang isinya tentang kekerasan seksual yang semakin tidak masuk akal. Saat masih bersedih membaca berita tentang Novia Widyasari dan para santriwati di Bandung, tidak sengaja mata saya menangkap unggahan berita tentang drama penolakan cinta ala cah kabupaten.

Seseorang yang ditolak cintanya mengirim santet kepada seseorang yang menolak cintanya. Hal tersebut menjadi gegeran tidak hanya dua keluarga tapi dua kampung karena salah satu pihak merasa tidak terima dan dirugikan dan pihak lain merasa tertuduh tanpa bukti.

Mungkin ada yang menertawakan hal seperti ini. Tapi sebagai cah kabupaten saya memang percaya dengan segala macam hal yang berbau klenik. Jadi masalah seperti ini sebenarnya biasa saya dengar dan lihat langsung ketika saya masih kecil sampai dewasa. Tapi poin masalahnya sebenarnya bukan di kleniknya, melainkan cara mengungkapkan kekesalan ketika ditolak. Santet hanyalah salah satu media saja. Bukannya banyak kasus kriminal karena motivasi cinta yang ditolak?

Orang seringkali hanya fokus bagian penolakannya saja. Bahwa yang menolak itu pasti kejam. Ya, saya tidak memungkiri kalau ada orang yang menolak dengan cara yang tidak baik sampai menghina yang ditolak. Tapi banyak kasus ketika sudah menolak baik-baik, dengan cara yang sebisanya tidak menyinggung, masih membuat orang yang ditolak marah dan mengamuk. Menolak baik-baik saja masih ada risiko begitu, apalagi kalau dengan cara yang kasar.

Tapi kadang kita tidak menyalahkan juga kalau ada yang sampai di tahap kasar. Bisa saja karena sudah merasa terganggu sekali. Semua punya kemungkinan.

Seharusnya kalau kita paham konsep konsen "no means no" semua tidak akan menjadi ribet. Berlaku untuk yang menolak ataupun ditolak. Bagi seseorang yang memang suka dengan seseorang yang menyatakan cinta padanya, kalau suka ya mbok wis bilang suka, tidak usah drama dengan mengirim curhatan di menfess Twitter bahwa dia hanya mengetes saja, dan menyuruh orang yang sudah ditolaknya untuk berjuang lagi.

Orang yang ditolak sudah benar kok ketika ditolak ya sudah menjauh karena ya seharusnya memang begitu. Buat apa memperjuangkan seseorang yang memang sudah jelas-jelas bilang tidak mau?

Justru orang yang ditolak sudah paham konsep "no means no". Sama saja ketika orang yang ditolak, apalagi ketika yang menolak memang tidak dengan cara yang kasar, ya sudah tidak usah drama juga dengan perang di base Twitter atau mengirim santet. Orang itu tidak mau denganmu. "No means no". Wis mandheg wae.

Saya ngomong begini sebenarnya tidak hanya omong saja, tapi juga pernah mengalami. Kalau kasusnya tentang perasaan cinta, tentu saja saya lebih banyak ditolak daripada menolak. Haha. Ada yang ketika saya ditolak masih berhubungan baik, tapi ada yang tidak. Dulu memang saya ketika ditolak baik dengan cara yang halus atau kasar memang tidak sampai mengirim santet, tapi ada yang lumayan drama. Namanya ditolak sehalus apapun apalagi memang kasar pastinya membuat sakit hati.

Nah, dalam periode sakit hati tersebut saya banyak menulis fiksi dengan tema patah hati. Saya menuangkan kemarahan saya di situ. Ya memang jadinya produktif, tapi di umur saya yang sekarang saya mikirnya dulu saya hanya belum paham konsep "no means no".

Begitupun ketika saya menolak seseorang. Sudah pernah saya tulis kalau saya itu tipenya adalah pekewuhan akut. Sulit bilang "tidak". Jadi ketika menolak seseorang saya pastikan untuk sebisa mungkin tidak menggunakan bahasa yang kasar walau tegas bilang "tidak". Sebisa mungkin meminimalkan sakit hati orang yang ditolak, karena saya juga sering mengalami penolakan. Tapi itu pun ada yang tidak terima dan masih sering mengganggu hidup saya.

Ada yang suka menguntit di dunia maya, di dunia nyata, mengirim teror, mengganggu teman-teman saya gara saya juga terganggu, dan berbagai gangguan lainnya. Mereka itu sungguh tidak paham konsep "no means no". Saya sudah bilang tidak mau ya seharusnya jangan mengganggu lagi.

Saya sering disalahpahami bahwa hidup saya ini enak dan tidak pernah mengalami penolakan. Misal dalam urusan menulis, dikira ya ujug-ujug jadi kolomnis mingguan, dikira ujug-ujug punya buku yang laris, dikira selalu mulus menembus media redaksi. Tidak semudah itu, Susanto! Hidup saya sebenarnya banyak sekali mengalami penolakan. Saya baru berani mengirim tulisan saya di media itu ketika duduk di bangku SMA.

Pertama kali tulisan saya dimuat itu puisi di sebuah koran lokal, tidak dihonor, dan dikira tidak dimuat. Eh, ternyata teman sekelas saya menemukan tulisan itu di tempat sampah. Haha. Baru di bangku kelas XI saya berhasil menembus media nasional, sebuah cerpen remaja di Majalah Teen. Tapi sebelum itu ya sering ditolak media lainnya.

Setelah sempat vakum dan menulis lagi ya kembali lagi ke nol, mengirim-ngirim lagi dan banyak ditolaknya. Sampai akhirnya saya menemukan jalan bahwa saya lebih cocok menulis dalam bahasa Jawa. Itu pun ya mengalami penolakan juga, di-paido redaktur. Tidak semua tulisan saya bagus, tidak semua diterima.

Urusan lain saya juga sering ditolak. Tidak hanya urusan asmara yang mblangsak karena sering ditolak, saya sepertinya memang tidak hoki dalam urusan seleksi. Tiga kali ditolak Perguruan Tinggi Negeri, tiga kali ditolak seleksi CPNS, berkali-kali gagal diterima ketika melamar kerja, bahkan pernah kapusan melamar di tempat kerja abal-abal. Haha. Setelah itu saya sudah malas ikut seleksi-seleksi lagi, mending pakai orang dalam. Haha bercanda.

Tidak, saya lebih menerima kalau hidup itu ya tidak selalu seperti yang kita mau. Terkadang, atau malah sering, kita mengalami yang namanya penolakan. Bukan bermaksud membuat pesimis orang lain, tapi ya hanya realistis saja. Setelah ditolak ya bersedih seperlunya, setelah itu fokus kepada apa yang kita punya, maksimalkan saja di situ.

Jujur saja, sekarang saya merasa malah konten-konten semacam demotivasi lebih nyambung daripada konten motivasi. Film-film, quote-quote, atau buku-buku yang terlalu melambungkan mimpi malah tidak terlihat realistis. Ya, kita boleh banget bermimpi, punya cita-cita setinggi langit, punya tekad yang kuat, tidak ada yang salah. Tapi ketika dihadapkan kalau mimpi kita ternyata tidak tercapai dan semacamnya karena keadaan ya mau tidak mau ya harus diterima.

Apalagi kalau kita tidak punya privilese dan start-nya beda dengan mereka yang punya privilese.

Saya pernah membaca utas penerima beasiswa kuliah di luar negeri yang memberi tahu tahapan dari mencari beasiswa sampai bisa kuliah di sana. Yang saya suka dari utas tersebut, dia tidak memungkiri kalau mencari beasiswa itu membutuhkan uang yang banyak, pun ketika diterima dan hidup di sana ya butuh uang, jadi tidak hanya indah-indahnya saja yang ditampilkan. Memotivasi boleh tapi harus dipikirkan juga realitanya bagaimana agar tidak kaget.

Dulu saya sebal sekali ketika ada anak yang pintar, diterima PTN tapi tidak diambil. Saya kesal karena saya sebagai orang yang ditolak PTN merasa tersakiti. Dia diterima kok malah tidak diambil tapi memilih bekerja, padahal ada orang seperti saya yang ingin sekali di posisinya. Ingin sekali rasanya merasakan bagaimana diterima itu.

Tapi sekarang saya paham kenapa anak tersebut tidak jadi kuliah. Kuliah itu butuh uang yang banyak. Tidak hanya SPP, tapi juga biaya makan, tinggal, dan lain-lain. Tidak semua keluarga punya privilese bisa mendapatkan uang sebanyak itu. Terkadang nekat saja tidak cukup, tapi memang harus realistis.

Kalau saya perhatikan ketika menonton anime, banyak cerita seorang siswa putus sekolah karena keluarganya banyak utang dan dia harus bekerja untuk membayarnya, setelah lulus SMA tidak semua kuliah, tapi fokus bekerja karena kuliah butuh banyak uang sedang keluarga mereka termasuk miskin. Intinya banyak keinginan kita yang tertolak, tidak tercapai. Hidup memang seperti itu. Tidak selalu ada keajaiban yang menghampiri.

Kita ini manusia, punya perasaan. Ditolak oleh apapun itu pasti rasanya sakit. Tapi kita juga manusia, punya kontrol diri, mau apa ketika sudah ditolak. Dukun yang bertindak, uang yang bertindak, atau logika yang bertindak?

Mendungan, 11 Desember 2021

Impian Nopitasari penulis

(mmu/mmu)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT