Kolom

"Self Healing", Agama, dan Kesehatan Mental

Muhammad Musmulyadi - detikNews
Jumat, 10 Des 2021 15:00 WIB
rear view of group of females caucasian friends enjoying at the sunset with ocean in background - success and satisfaction concept for nice people together with joy - friendship and vacation
Foto ilustrasi: iStock
Jakarta -

Semenjak kepedulian netizen terhadap kesehatan mental, self healing sering menjadi pembahasan. Hampir setiap saat ketika membuka media sosial, saya menemukan unggahan-unggahan tentang self healing. Ketika mereka sedang terkena masalah, pikiran seperti benang kusut, emosi tidak stabil, keuangan menipis, bahkan ketika skripsi belum selesai karena dosen pembimbing belum meng-acc, sejurus kemudian status bertemakan self healing diunggah sedemikian rupa dibarengi lagu-lagu pendukung dan quote-quote dari Alvi Syahrin. Ada juga yang kadang mengunggah foto pemandangan pantai, gunung, tempat wisata kemudian dilengkapi dengan tulisan "need healing."

Teman saya, semester 11 memilih tidak mengerjakan skripsi dengan alasan sedang melakukan self healing. Dia menganggap skripsi adalah beban dalam kehidupannya yang mengambil sepertiga bagian dalam kepalanya. Di kasus yang lain dalam sebuah acara kepanitiaan, salah satu panitia yang memiliki jabatan sebagai sekretaris menjadikan self healing sebagai alasan untuk menghindari tanggung jawabnya sebagai panitia. "Saya mau me time, Kak!" katanya, setelah beberapa kali saya telepon namun tidak diangkat. Saya membutuhkan kabarnya demi terlaksananya kegiatan. "Ini tugas, Dik."

Ini bukan argumen saya untuk menganggap kesehatan mental itu tidak penting. Tapi di luar daripada itu. Seringkali kita ikut-ikutan terhadap satu tren-tren tertentu. Self healing misalnya. Kita menunggangi self healing untuk lari dari tanggung jawab, untuk menutupi alasan-alasan yang tidak masuk akal, atau mungkin menutupi kemalasan kita. Sejauh ini yang saya tahu yang sering ditunggangi oleh kepentingan pribadi itu hanya agama; belakangan muncul tunggangan lain, self healing.

Pada dasarnya self healing bertujuan untuk menyembuhkan diri, pikiran, dan jiwa. Dengan memahami diri sendiri, menerima ketidaksempurnaan dan membentuk pikiran positif dari apa yang telah terjadi. Sebab meskipun self healing berkaitan dengan penyembuhan pikiran dan jiwa dari luka batin seperti gangguan psikologis trauma buruk atau kejadiaan lainnya, berkaitan juga dengan tubuh kita. Kesehatan emosional dan fisik sering berjalan bersama dan saling berkaitan.

Saya teringat satu kisah Nabi Muhammad menjelang masa kerasulan. Dalam Sirah Nabawiyah, menjelang usia empat puluh tahun, Muhammad senang melakukan satu hal yang sering dilakukan orang-orang yang melakukan self healing, yaitu mengasingkan diri. Ia pergi ke Gua Hira di Jabal Nur dengan membawa bekal roti gandum dan air. Jarak antara Mekkah ke Jabal Nur kira-kira dua mil. Gua Hira tidak terlalu besar, panjangnya hanya 4 hasta dan lebarnya kurang lebih ¾ hingga 1 hasta. Saat mengasingkan ke Gua Hira kadang-kadang keluarga juga juga ada yang menyertai.

Selama Ramadan, Muhammad berada di gua tersebut. Ia menghabiskan waktunya beribadah, memikirkan keagungan alam di sekitarnya dan kekuatan tak terhingga di balik alam. Pilihan untuk mengasingkan diri merupakan ketentuan dari Tuhan dalam rangka mempersiapkan menerima utusan besar yang akan segera datang kepadanya. Muhammad mengasingkan diri beberapa saat, dipisahkan dari berbagai kesibukan duniawi dan gejolak kehidupan serta kebisingan manusia yang membuatnya sibuk pada urusan kehidupan.

Tuhan mengatur dan mempersiapkan Muhammad sebelum membebaninya risalah, sebelum mengemban amanat yang besar dalam mengubah wajah dunia dan meluruskan garis sejarah. Dalam buku Manusia dan Gunung (2019), Pepep DW menyebut gunung merupakan tempat penting dalam perjalan kerasulan. Gunung merupakan tempat menyendiri, menyepi, merenung, untuk mendekatkan diri pada ilahi. Dalam kisah tersebut, di gunung pulalah pencerahan ditemukan, yang kemudian diamalkan setelahnya.

Muhammad adalah manusia seperti kita (QS. al-Kahfi: 110). Dia juga membutuhkan me time, menyendiri, mengasingkan diri dari kehidupan dunia. Terlebih ketika risalah telah turun kepadanya, amanat besar, beban tersebut ia resmi emban. Dalam riwayat, pasca menerima wahyu pertama, pada masa-masa terputusnya wahyu beberapa waktu, Rasulullah SAW hanya diam dalam keadaan termenung sedih. Rasa kaget dan bingung melingkupi dirinya.

Dalam riwayat Al-Bukhori dalam Sirah Nabawiyah, pada masa itu Nabi SAW dirundung kedukaan seperti halnya diri kita yang sedang berduka. Dalam riwayat tersebut dijelaskan bahwa beberapa kali beliau mencapai puncak gunung agar mati saja di sana. Tetapi setiap kali sudah mencapai puncak dan terbersit keinginan untuk terjun, muncul bayangan Jibril yang berkata, "Wahai Muhammad, engkau adalah benar-benar Rasul Allah." Dengan begitu, hati dan jiwa Muhammad menjadi tenang kembali.

Dalam fase hidupnya, Muhammad juga pernah mengalami kesedihan yang sangat mendalam, datang secara bertumpuk. Tahun Berduka. Sahabat dan keluarga berpulang. Abu Thalib meninggal pada tahun kesepuluh dari nubuwah. Kemudian disusul oleh Ummul Mukminin Khadijah yang telah mendampingi beliau selama seperempat abad, menyayangi, melindungi pada saat kritis, menolong menyebar risalah, mendampingi berjihad, dan rela menyerahkan diri dan hartanya. Khadijah meninggal dunia pada bulan Ramadan tahun kesepuluh nubuwah, pada usia enam puluh tahun, selang dua atau tiga bulan setelah meninggalnya Abu Thalib.

Cobaan pun datang juga dari kaumnya; akibat kematian keduanya, mereka berani menyakiti dan mengganggu Muhammad. Kita mungkin akan sama dengan Nabi SAW. Ke tempat yang tenang untuk menenangkan diri. Kita ke gunung yang tenang, pantai yang terbentang, atau tempat-tempat wisata untuk self healing. Ke tempat mana pun untuk melepaskan penat, menyembuhkan kepedihan jiwa, sesak di dada, memberikan hadiah kepada diri (self reward) setelah melewati masa-masa berjuang yang sulit. Kita sedikit-sedikit self healing.

Agama

Menurut Jalaluddin Rakhmat dalam Islam Alternatif, ada penelitian yang mencoba meneliti pengaruh agama terhadap kesehatan mental. Penelitian tersebut menemukan bahwa tidak ada perbedaan berarti antara orang yang beragama dan orang yang tidak beragama dalam hal kesehatan mental. Kesimpulan penelitian ini menganggap bohong orang yang mengatakan bahwa agama mengakibatkan seorang lebih tabah, lebih tenteram, dan lebih tahan dalam menghadapi guncangan hidup.

Namun Gordon Allport seorang psikolog sosial keberatan atas kesimpulan itu; menurutnya perasaan keagamaan tidak dapat diukur dengan menanyakan berapa kali mereka datang ke rumah ibadah. Keagamaan harus diukur dengan a comprehensive commitment (keterlibatan yang menyeluruh) dalam seluruh ajaran agama. Jelas keduanya berbeda melihat agama; ada yang melihatnya dari dimensi ritual dan ada juga dalam dimensi sosial.

Tidak ada bukti yang kuat bahwa orang-orang yang beragama lebih sehat mentalnya daripada orang-orang yang tidak beragama. Tapi menurtu Allport, untuk menyatakan hal demikian, terlebih dahulu mendefinisikan apa arti beragama. Kang Jalal menuliskan, ada dua cara beragama, ekstrinsik dan intrinsik. Ekstrinsik memandang agama sebagai sesuatu untuk dimanfaatkan bukan untuk kehidupan. Agama digunakan untuk menunjang motif lain, seperti kebutuhan akan status, rasa aman, dan harga diri.

Kata Alport, cara beragama dengan hanya melaksanakan bentuk-bentuk luar agama seperti puasa, salat, naik haji, dan sebagainya tetapi tidak di dalamnya, maka beragama semacam ini erat kaitannya dengan penyakit mental. Beragama seperti ini tidak akan melahirkan masyarakat yang penuh kasih sayang, namun sebaliknya.

Sedangkan intrinsik, dianggap menunjang jiwa dan kedamaian masyarakat. Agama dipandang sebagai comprehensive commitment (keterlibatan yang menyeluruh), dan driving integrating motive yang mengatur seluruh hidup seseorang. Agama diterima sebagai faktor pemadu. Cara beragam seperti ini terhujam dalam diri penganutnya. Kembali Kang Jalal, bahwa hanya dengan cara tersebut kita mampu menciptakan lingkungan sehat yang penuh kasih sayang.

Begitulah. Ketenangan. Sepertinya kita butuh waktu untuk sendiri, mengenal posisi sebagai hamba Tuhan, menjalani segala ketetapannya. Kita butuh untuk menerima diri sendiri, tahap pertobatan, menerima ketidakkuasaan kita terhadap hal-hal di luar kendali dan menerima segala bentuk luka dalam hati. Penyangkalan terhadap emosi negatif membahayakan jiwa seseorang, menimbulkan potensi sampah emosi.

Kita butuh mawas diri dari hal-hal yang membuat stres, mengingat Tuhan, sehingga menimbulkan ketenangan. Kita butuh melepaskan semua bentuk kekhawatiran. Tawakal. Kita butuh memotivasi diri dan berefleksi, berpikir positif dan mengevaluasi diri lalu menemukan solusi. Lalu jangan lupa bersyukur (Self Healing dalam Kitab Minhajul 'Abidin Imam Al-Ghazali oleh Andri Yulian Christyanto, 2021). Terakhir yang kita butuhkan di pengujung tahun ini: need holiday....

(mmu/mmu)