Kolom

Pandemi, Tren Yoga, dan "Spiritual Marketplace"

Indah Y. Agustina - detikNews
Jumat, 10 Des 2021 12:56 WIB
Yoga di rumah
Foto ilustrasi: Shutterstock
Jakarta -

Seorang sosiolog masyhur kelahiran Prancis tahun 1798, Auguste Comte secara tidak langsung pernah meramalkan bahwa di peradaban manusia modern agama akan luntur eksistensinya. Kekuatan agama tak lagi tampak sebab pikiran manusia akan lebih menekankan rasionalitas akal pada aspek kehidupannya. Namun dalam realitas modern saat ini justru keadaannya sangat kontradiktif dengan apa yang pernah diramalkan Comte sekitar satu setengah abad yang lalu. Di era disrupsi seperti saat ini manusia modern menjadi semakin haus akan belai sentuhan lembut dari dimensi spiritualitas agama.

Bagaimana tidak, segala bentuk modernitas yang memudahkan manusia dalam memenuhi dan mengejar kebutuhan materinya tidak cukup memberikan kepuasan yang hakiki. Pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat manusia banyak dieksploitasi untuk memproduksi sebanyak mungkin barang dan jasa. Imbalan yang diberikan seringkali tak sebanding dengan payahnya perasan keringat yang dialirkan. Sehingga manusia seolah menjadi pasif dan merasa diasingkan dengan dirinya, lingkungannya, bahkan mungkin Tuhannya. Dapat diistilahkan bahwa raganya hidup tetapi jiwanya hampa dan kosong.

Manusia modern haus akan pemenuhan suatu kebutuhan yang sangat esensial untuk mengatasi getirnya kekosongan itu yaitu dengan seteguk ketenangan jiwa. Sedangkan segala kecanggihan yang ditawarkan oleh modernitas tidak mampu meng-cover itu. Oleh karenanya, manusia modern akan terus berusaha ke sana kemari untuk mengisi kekosongan itu. Ke mana mereka akan mencari seteguk ketenangan jiwa untuk memenuhi ruang yang kosong itu? Ya, sebagian besar dari mereka akan kembali pada ajaran agama yang katanya menjanjikan ketenangan serta tak lupa bonus kebahagiaan. Inilah yang kemudian disebut sebagai opium masyarakat oleh Karl Marx, sosok maestro legendaris asal Jerman.

Namun, memang dasarnya manusia adalah makhluk yang dipenuhi oleh berbagai macam pernak-pernik masalah sepanjang hidupnya. Entah karena dibuat-buat oleh ulahnya sendiri atau memang kesengajaan Tuhan. Masalah pemenuhan kebutuhan rohani manusia tidak selesai pada kembalinya mereka kepada ajaran agama. Sebab model beragama gaya tradisional yang terlembagakan (organized religion) terlebih agama-agama Abrahamik kini dianggap terlalu kuno dan otoriter terhadap manusia. Sehingga banyak dari manusia modern yang mulai mengampanyekan gagasan agama yang lebih humanis tanpa terikat dengan segala bentuk keotoriteran. Mereka mencari hal-hal seperti kedamaian, kebahagiaan, dan ketenangan hidup melalui spiritualitas.

Sering kita dengar slogan SBNR yang merupakan singkatan dari istilah "Spiritual But Not Religious" yang beberapa tahun terakhir ini sangat digandrungi oleh manusia modern terutama di belahan dunia Barat. Spiritual yang mereka maksud di sini dapat berupa aktivitas fisik yang melibatkan meditasi dengan teknik tertentu guna mencapai harmoni antara tubuh dan jiwa. Atau sering kita sebut sebagai yoga. Menurut survei yang dilakukan Fitbit, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang fitness dan elektronik asal Amerika Serikat, peminat yoga meningkat 241 persen selama masa pandemi. Tentu lonjakan fantastis ini bukanlah jumlah yang sedikit.

Di Indonesia sendiri, istilah SBNR atau semacamnya tidak banyak digaungkan dengan keras dan berapi-api. Namun dalam praktiknya banyak sebagian dari masyarakat kita terutama masyarakat urban di perkotaan yang juga turut mengamini slogan tersebut. Entah mereka sadari atau tidak. Beberapa tahun belakangan ini banyak kita dijumpai menjamurnya berbagai komunitas yoga di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, dan lain sebagainya. Terutama di masa pandemi seperti ini, ketika muncul banyak ketidakpastian dalam berbagai aspek kehidupan. Termasuk di dalamnya aspek pendidikan, sosial-budaya, dan juga perekonomian yang kian memprihatinkan. Meski sekarang perekonomian Indonesia sudah mulai merangkak, bangun dari kubangan lumpur keterpurukan yang penuh jeritan nestapa itu.

Maraknya pelatihan yang bernuansa spiritual seperti komunitas-komunitas yoga itu mengindikasikan adanya kehampaan spiritual yang dirasakan orang-orang kota di tengah berbagai kemudahan yang ditawarkan oleh modernitas. Meski banyak aliran agama yang juga menawarkan ketenteraman batin, agaknya kini sudah tak banyak dilirik oleh masyarakat di perkotaan. Kini masyarakat kota terlihat lebih aware dengan pentingnya memelihara ketenangan jiwa demi menjalani hidup dengan tenteram ketika agama tak lagi bisa meng-cover itu.

Dua Makna

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yoga diartikan dengan dua makna. Pertama, yoga diartikan sebagai sistem filsafat Hindu yang bertujuan mengheningkan pikiran, bertafakur, dan menguasai diri. Sedangkan yang kedua, yoga dimaknai sebagai senam gerak badan dengan latihan pernapasan, pikiran, dan sebagainya untuk kesehatan rohani dan jasmani. Dari dua pemaknaan di atas dapat kita simpulkan bahwa yoga adalah sebuah aktivitas dengan teknik-teknik tertentu yang memiliki banyak manfaat bagi kesehatan fisik maupun kesehatan jiwa.

Maraknya fenomena spiritualitas yang terlepas dari bayang-bayang otoriter agama tentu sebuah hal yang patut kita teliti lebih jauh. Bukan untuk mengkritisi lalu menghancurkan atau mendalami lalu menghina. Tetapi lebih kepada keinginan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sebagaimana yang pernah dituturkan Ngainun Naim dalam karya ilmiahnya yang berjudul Kebangkitan Spiritual Masyarakat Modern, kegandrungan masyarakat kota untuk mengkonsumsi pengalaman spiritual memang tidak lepas dari pengaruh arus perkembangan zaman; agama dan para pemeluknya di dunia mengalami proses metamorfosis untuk mencari formatnya yang tepat dan unik.

Keunikan spiritualitas dapat berkelindan dengan teknologi, seni, olahraga, politik, bahkan dengan hal-hal yang bersifat materialistik. Tergantung dari preferensi masing-masing individu. Konsepsi semacam inilah yang memunculkan apa yang oleh seorang profesor dan sosiolog agama Wade Clark Roof disebut sebagai "spiritual marketplace". Dalam konteks spiritual marketplace, agama-agama kemudian menjadi seperti pasar spiritual yang harus menyajikan aneka rupa bentuk dan kemasan dagangan agar menarik hati para calon pelanggannya, yang dalam hal ini adalah pemeluk agama.

Komodifikasi agama menjadi tak terhindarkan. Mau tidak mau agama harus mengemas bentuk-bentuk baru beragama guna memberikan ruang dan jawaban terutama atas perubahan orientasi anak muda dan keragu-raguan mereka atas iman mereka. Adanya spiritual marketplace ini memunculkan kelompok masyarakat jenis metaphysical believers and seekers. Yaitu kelompok keagamaan yang menekankan pada spiritualitas --agama benar-benar lepas dari hal-hal yang bersifat simbolik dan lebih pada kepercayaan dan pencarian yang metafisik.

Seperti halnya kegandrungan masyarakat kota terhadap komunitas-komunitas yoga belakangan ini. Spiritualitas yang ditawarkan komunitas yoga dikemas sedemikian rupa sehingga menarik minat masyarakat luas. Ketika agama-agama konvensional dengan gaya beragama khas tradisionalnya tak lagi bisa menjawab kegersangan spiritualitas masyarakat modern, yoga dengan segala kemasan uniknya mulai hadir dan terus eksis hingga sekarang. Dari berbagai penjelasan di atas, akankah spiritualitas yoga akan mengalahkan eksistensi agama-agama konvensional?

Barangkali pertanyaan semacam itu bukanlah pertanyaan yang harus dijawab dengan penuh ketegangan dan ketakutan yang mengancam kapabilitas agama konvensional bagi kehidupan manusia modern. Seiring berjalannya waktu, ortodoksi agama-agama konvensional memang akan sedikit dipalingkan. Sebab manusia modern akan terus mencari celah modifikasi bentuk spiritual yang dianggap lebih menarik kemasannya dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Mereka inilah yang kemudian disebut sebagai kalangan New Age, yaitu zaman yang ditandai dengan pesatnya perhatian terhadap dunia mistik-spiritual dalam kehidupan sosial manusia modern.

Indah Y. Agustina mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

(mmu/mmu)