Jeda

Just Act Like An Adult? Halah!

Impian Nopitasari - detikNews
Minggu, 05 Des 2021 11:00 WIB
impian nopitasari
Impian Nopitasari (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Ketika menulis kolom ini, saya habis dicurhati oleh teman yang baru saja diceramahi oleh orang lain. Kebetulan saya kenal dengan orang yang menceramahinya karena dulu saya juga target ceramahnya. Jujur saja saya ini juga manusia yang punya rasa sreg dan tidak sreg dengan orang lain. Nah, orang yang saya kenal ini termasuk yang saya tidak sreg karena sepertinya setiap hari aktivitasnya adalah maido (meremehkan, nyinyir) orang lain.

Ya maido itu boleh-boleh saja tapi kalau semua hal di-paido ya nyebahi juga buat orang lain. Jadi teman saya baru saja mem-posting cuplikan satu halaman manga dengan quote menarik di Whatsapp story-nya, nah story teman saya itu dibalas oleh orang tadi. Begini katanya, "Sudah besar, eh malah sudah tua lho, masih suka baca komik kayak anak-anak. Mbok waktunya buat cari uang saja. Please just act like an adult."

Just act like an adult, ini yang paling membuat teman saya, dan saya juga akhirnya, menjadi jengkel. Definisi "dewasa" seperti apa yang dia maksud kok dengan mudahnya mengatai orang yang mem-posting kesukaannya sebagai orang yang tidak dewasa? Apakah membaca komik, manga, menonton anime dan sejenisnya adalah bentuk ketidakdewasaan? Lha memangnya cerita bergambar dan anime itu cuma buat anak-anak? Lah belum tahu dia banyak komik, manga dan anime yang ceritanya berkonten dewasa. Wong saya saja ada yang tidak berani membaca atau nonton kalau ceritanya terlalu gelap atau mengandung kekerasan.

Manga atau anime sendiri malah banyak yang menyajikan konten tentang permasalahan kehidupan dewasa. Banyak hal bisa dipelajari dari sana. Misal kasus tentang blundernya menteri sosial kita terhadap teman-teman tuli, penggemar anime banyak yang langsung terkoneksi dengan anime Koe No Katachi (A Silent Voice).

Di sana diperlihatkan kasus bullying kepada seorang anak tuli di sekolah. Kaum able ini memang sering menggunakan kuasanya kepada kaum difabel. Di sana dijelaskan betapa bahasa isyarat itu memang budaya teman-teman tuli. Itu cara mereka memaksimalkan pemberian Tuhan, bukan dengan memaksanya bicara dengan mulut seperti kaum able. Bahkan adik teman saya sampai serius belajar bahasa isyarat setelah menonton anime ini. Di sini, siapa yang lebih dewasa hayo?

Orang tadi juga sok tahu tentang teman saya yang dibilang tidak dewasa. Duh, teman saya itu sudah lama menjalani kehidupan dewasa bahkan saat usianya masih enak-enaknya main dengan teman-teman. Sebagai generasi sandwich dia sudah lama bergelut dengan dunia kerja, cicilan, utang keluarga, membeli kebutuhan rumah tangga, membiayai orangtua berobat, menyekolahkan adik-adik. Kurang dewasa apalagi coba?

Di sela-sela aktivitasnya yang melelahkan dia hanya mencari hiburan dengan melakukan sesuatu yang ia suka dan orang lain seenaknya bilang kalau dia tidak dewasa. Jujur saja, menjadi dewasa itu memang melelahkan. Banyak hal-hal yang membuat pikiran lelah. Apa salahnya mencari hiburan dengan melakukan sesuatu yang disukai? Selama hobi itu tidak mengganggu finansial sendiri, tidak berdampak kerusakan pada lingkungan dan kehidupan orang lain, apa salahnya?

Menghukumi orang lain tidak dewasa hanya karena membaca manga kok lucu. Kalau mau adu nasib ala kaum mendang-mending, teman saya masih mending tidak diceramahi seperti saya karena dia laki-laki. Saya malah pernah dibilang lebih parah oleh orang yang menceramahi teman saya tadi karena memang perempuan yang menyukai sesuatu yang berbau "Jejepangan" seperti manga dan anime. Entah kenapa anime seperti hanya diperuntukkan untuk laki-laki.

Lebih parah lagi kalau ada perempuan seumuran saya yang masih suka menonton anime, soalnya menurutnya yang pantas ditonton oleh orang seumuran saya itu ya serial drama. Loh beberapa teman saya yang sudah jadi ibuk-ibuk saja masih ada yang nonton One Piece. Haduh, masalah tontonan aja pakai mikir soal jenis kelamin.

Orang itu mungkin juga akan jantungan kalau lihat saya punya gantungan kunci dari berbagai karakter anime, jaket dan kaos anime, dan mainan-mainan tidak berguna (baca: action figure). Bisa-bisa saya semakin tidak dianggap dewasa karena boros. Padahal membeli barang seperti itu bagi saya bentuk refreshing diri dari penatnya mencari uang dan memenuhi segala kebutuhan hidup. Tentu saja ketika membeli segala printhilan itu keluarga saya sudah cukup makan dan membayar kebutuhan hidup lainnya. Ini saya saja masih single. Teman saya, bapak-bapak hampir berumur setengah abad saja masih sering chat saya kalau dia dapat action figure bagus.

Tentu saja saya tidak maido hobinya itu wong istrinya saja mendukung karena kebutuhan utama memang sudah dipenuhi. Selama tidak lupa dengan menafkahi keluarga dan melakukan tanggung jawab utama sebagai kepala keluarga, ya nggak papa dong melakukan hobi selama itu wajar.

Entahlah apa sekarang kita memang sedang berada di masa apapun selalu dipermasalahkan. Ada teman saya yang sampai malas mem-posting sesuatu yang digemarinya karena apapun yang ia posting pasti ada saja yang maido. Seakan-akan menjadi dewasa itu tidak boleh punya kesukaan yang bisa dipamerkan. Orang dewasa juga boleh dong tidak selalu membicarakan ke-mumet-an hidup dan masalah-masalah rumit yang lain.

Ngomong-ngomong, apakah menghukumi orang lain sebagai seseorang yang tidak dewasa tanpa tahu konteks yang sebenarnya adalah sebuah kedewasaan? Bukannya malah dia sendiri yang tidak dewasa? Just act like an adult? Halah, omong thok!

Mendungan, 04 Desember 2021

Impian Nopitasari penulis

(mmu/mmu)