Kolom

Kita adalah Apa yang Otak Kita Makan

Antoni Khosidik - detikNews
Jumat, 03 Des 2021 13:00 WIB
neurons
Jakarta -
Sebut saja Andri dan Budi. Mereka dua saudara kandung yang tumbuh bersama sejak kecil. Mereka dibesarkan dengan pola asuh yang sama oleh orangtuanya, bersekolah di tempat yang sama hingga kuliah. Namun berbeda dalam kehidupan pascakampus, Andri sekarang terlihat lebih sukses daripada Budi. Andri telah bertransformasi menjadi seorang pengusaha muda dengan pribadi yang ceria. Sementara Budi orang yang sangat serius dan bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan.

Sebenarnya tidak ada yang salah. Namun apa yang membuat dua orang dengan sumber daya dan latar belakang yang sama dapat berbeda tidak hanya dalam hal kesuksesan tapi juga kepribadian?

Sebagian besar kita pastinya sering melihat fenomena ini. Pencapaian kita dengan teman sewaktu kuliah pastinya berbeda-beda. Ah, kan orangtuanya kaya, pejabat, punya banyak relasi dan alasan pembenaran lainnya. Coba lihat orang-orang sukses yang memulai segalanya dari nol, yang bukan terlahir dari latar belakang orang berada. Seperti Bob Sadino, Chairul Tanjung, Oprah Winfrey, J.K Rowling dan masih banyak lagi.

Mari kita melihat fenomena ini dari sisi Neuroscience. Ini akan menarik

Otak mungkin merupakan satu-satunya organ dalam tubuh manusia yang terus berevolusi. Otak akan terus berubah seiring pertambahan usia. Apa yang kita baca serta pengalaman apa yang kita alami adalah nutrisi yang terus membentuk karakteristik otak, dan akhirnya membentuk kepribadian khas masing-masing individu.

Tahukah Anda berapa jumlah sel saraf yang dimiliki otak kita? Jumlahnya sangat banyak, bisa mencapai 100 miliar sel, dengan sekitar 120 miliar sinaps atau sambungan antarsel. Tahukah Anda, pada saat bayi otak mengambil 80% energi tubuh kita? Jumlah yang sangat besar. Sehingga efisiensi sangat dibutuhkan. Terjadi proses seleksi terhadap sel saraf dan sambungan antarsel saraf --mana yang masih benar-benar dipakai dan tetap dipertahankan, mana yang harus dihilangkan. Sehingga saat dewasa, otak memiliki berat 1,5 kg dan mengambil 20% energi tubuh.

Otak adalah organ yang sangat istimewa, yang terus menerus menyerap nutrisi informasi dari semua panca indra kita. Bahkan otak adalah organ yang dapat mempelajari dirinya sendiri. Faktanya, proses ini berlangsung terus tanpa henti selama kita hidup. Jadi otak juga berubah seiring perubahan hidup manusia. Setiap informasi yang kita serap, setiap keterampilan baru yang kita pelajari akan menambah sinaps atau sambungan baru antarsel saraf yang ada di otak.

Jika kita mengasah terus sebuah keterampilan, maka sambungannya di otak akan diperkuat dan lebih efisien. Ingatkah Anda ketika pertama kali belajar berjalan? Saat itu kita akan mengingat-ngingat bagaimana caranya berdiri, bagaimana caranya melangkahkan kaki yang benar. Seiring keterampilan ini terus diasah, berjalan sudah menjadi sesuatu yang otomatis. Kita tidak perlu lagi memikirkan caranya melangkah, caranya mengangkat kaki, semuanya sudah otomatisasi karena sambungan antarsel saraf yang bertanggung jawab untuk keterampilan berjalan di otak sudah sangat kuat.

Sama halnya dengan keterampilan membaca; dulu kita harus mengeja satu per satu huruf, suku kata, hingga kalimat. Sekarang, hanya sekali lihat kita sudah bisa membaca dengan sangat cepat. Sudah otomatis. Hal ini berlaku juga untuk keterampilan lain seperti mengemudi, bersepeda, atau berenang.

Setiap informasi yang diserap dari lingkungan, baik dari bacaan, pergaulan, atau lingkungan akan membentuk karakter khas seseorang. Kita akan menjadi baik jika terus menerus berada di lingkungan baik, membaca yang baik, bergaul dengan orang yang baik, dan berada di lingkungan yang baik. Karena tanpa disadari kita sedang memprogram otak kita untuk menjadi baik, menguatkan sambungan atau sirkuit di otak untuk menjadi orang baik.

Begitu juga sebaliknya, jika kita berada di lingkungan yang buruk. Masalah utamanya, otak tidak tahu mana informasi yang baik atau buruk. Semua akan diserap dan dibuatkan sirkuit yang baru. Kitalah sebagai pemilik otak, yang harus menentukan informasi apa yang akan kita serap. Kitalah yang menentukan sirkuit mana yang harus dipertahankan, dan sirkuit mana yang harus dibuang.

Andri menjadi seorang pengusaha sukses, karena terus menerus memaparkan dirinya dengan beragam skill yang dibutuhkan untuk menjadi pengusaha. Ia menempatkan dirinya di sekitar orang-orang sukses yang dijadikan role model. Semua itu pada akhirnya menguatkan sirkuit pengusaha sukses di otaknya, yang pada akhirnya menjadi kepribadiannya.

Jadi benarlah nasihat lama yang mengatakan, jika berteman dengan penjual minyak wangi kita akan ikut wangi, dan jika berteman dengan pandai besi paling tidak kita akan ikut berbau terbakar.

Berdasar konsep ini, bakat saja ternyata tidak cukup. Kita membutuhkan usaha terus menerus untuk sukses. Kita perlu memaksa untuk memiliki gaya hidup seperti orang yang telah sukses. Kita harus membuat pola agar otak kita membuat sirkuit yang kuat, untuk mencapai figur sukses yang kita impikan di masa depan. Sehingga kelak kita berada pada tahap otomatisasi kesuksesan.

Lalu bagaimana dengan kebiasaan buruk? Sirkuit yang sudah terbentuk untuk kebiasaan buruk harus perlahan-lahan kita lemahkan. Jika kita terbiasa bangun siang, paksakan diri Anda untuk dapat bangun pagi. Bisa melalui alarm atau cara lain. Paksa otak Anda untuk menghapus sirkuit bangun siang ini.

Konsep ini mengajarkan, kita bisa menjadi apapun yang kita inginkan. Tergantung makanan apa yang kita berikan kepada otak.

Semua terserah kita, mau menjadikan otak (diri kita) bertransformasi seperti apa di masa depan.

dr. Antoni Khosidik mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis Saraf (Neurologi) FKKMK UGM

(mmu/mmu)