ADVERTISEMENT

Kolom

Senyum Kecut Petani Bawang Merah

Harnanik - detikNews
Kamis, 02 Des 2021 13:00 WIB
Petani sedang memaneng bawang merah di Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (13/11/2021). Harga bawang merah di petani Kabupaten Kudus, Jawa Tengah sedang anjlok. Harga bawang merah di petani itu  hanya Rp 5 ribu per kilo.
Foto: Dian Utoro Aji
Jakarta -
Anjloknya harga bawang merah di kalangan petani hingga mencapai harga Rp 5000 per kilo tidak hanya membuat senyum kecut bahkan menjadi pukulan telak bagi para petani bawang merah. Harga sebelumnya berkisar Rp 13.000 sampai dengan Rp 15.000 per kilonya. Tetapi sekarang merosot tajam bahkan turun sangat drastis, hal ini membuat para petani sangat merugi karena harus mengeluarkan modal yang cukup besar dan biaya operasional tidak kembali.

Bawang merah merupakan hasil bumi dari sektor pertanian yang bisa dibilang kebutuhan wajib bagi masyarakat. Sektor pertanian mempunyai peranan penting dalam berlangsungnya kehidupan masyarakat Indonesia sebagai pemasok kebutuhan pangan di dalam negeri. Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik sektor pertanian menyerap tenaga kerja paling banyak sebesar 29,59 persen dibandingkan sektor lain seperti perdagangan besar dan eceran serta industri pengolahan.

Sebagai penyumbang lapangan pekerjaan yang tinggi, sektor pertanian tidak lepas dari berbagai permasalahan yang menyertai. Permasalahan yang sering dirasakan para petani antara lain yaitu jarak yang lama antara penggelontoran modal dan tahap panen, produktivitas yang tidak bisa ditebak karena tergantung musim serta fluktuasi harga yang petani tidak mempunyai kuasa untuk mengendalikannya.

Subsektor tanaman holtikultura juga mempunyai peranan penting di samping komoditas tanaman pangan, salah satunya adalah pemenuhan kebutuhan rumah tangga dalam penggunaan bawang merah. Bawang merah merupakan salah satu bumbu masakan utama bagi masyarakat Indonesia agar masakannya terasa enak. Harga yang berfluktuasi di pasaran tetap menjadikan bawang merah salah satu sayuran yang wajib dibeli untuk bumbu dapur. Permintaan yang tetap tinggi menjadikan bawang merah salah satu komoditas sayur-sayuran yang banyak dibudidayakan para petani.

Berdasarkan data yang dipublikasikan Badan Pusat Statistik, produksi bawang merah tahun 2020 di Tanah Air mencapai 1,82 juta ton, naik sebesar 14,88% (235,21 ribu ton) dari 2019. Jawa Tengah menduduki posisi pertama penghasil bawang merah terbanyak se Indonesia, diikuti oleh Provinsi Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat. Dapat diketahui jika banyak petani yang menggantungkan hidupnya terhadap hasil penjualan panen bawang merah ini.

Namun saat ini para petani bawang merah sedang tersenyum kecut atas anjloknya harga bawang merah di pasaran. Penurunan harga dibarengi dengan perubahan iklim menuju musim penghujan adalah pukulan telak bagi para petani. Banyak para petani yang merelakan hasil panennya dijual murah ataupun dijual secara eceran agar mendapat laba lebih banyak jika dijual ke para tengkulak.

Pupuk yang mahal dan berbagai obat-obatan yang harus dibeli dengan harapan hasil panen maksimal nyatanya hanya harapan semu bagi para petani. Penurunan harga bawang merah yang mencapai kisaran Rp 10.000 di pasaran tidak sesuai dengan biaya produksi yang digelontorkan oleh para petani.

Penerapan PPKM Level 4 Jawa-Bali akibat Covid-19 yang sempat melonjak di Indonesia turut andil dalam penyerapan bawang merah yang tidak maksimal sehingga terjadi surplus ditingkat produsen. Proses distribusi bawang merah dalam negeri terganggu, beberapa wilayah menutup daerah perbatasannya pada jam-jam tertentu sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh pemerintah.

Tingkat daya beli konsumen menurun karena beberapa kegiatan masyarakat harus ditunda ataupun diperkecil skalanya. Dikutip dari publikasi yang dirilis Badan Pusat Statistik, konsumsi bawang merah oleh sektor rumah tangga tahun 2020 adalah mencapai 729,82 ribu ton, turun sebesar 2,77% (20,81 ribu ton) dari 2019.

Harga yang berada di tingkat produsen nyatanya tidak sesuai yang diterima oleh para petani. Permainan pasar oleh para tengkulak sering terjadi sehingga jika pengawasan oleh pemerintah tidak diperketat akan memperburuk nasib para petani bawang merah ini. Tak jarang saat harga tinggi pun para petani tak mendapat untung yang sepadan karena permainan harga oleh orang-orang atas ini. Petani tak kuasa dalam menentukan harga karena petani hanya bertindak sebagai penerima harga dari para pelaku pasar.

Berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik, harga perdagangan sektor pertanian di Jawa timur pada 2020 harga komoditas bawang merah berada pada harga terendah Rp 25.125 per kg karena panen raya yang terjadi di beberapa daerah. Perubahan iklim menuju musim hujan di sejumlah daerah penghasil bawang merah turut membuat para petani memanen lebih awal di umur 60 hari karena takut gagal panen akibat terlalu banyaknya pasokan air karena hujan.

Sedangkan untuk harga tertingginya pada 2020 mencapai Rp 42.167 per kg pada Juni saat defisit bawang merah terjadi karena kurangnya produksi dari pihak petani. Berkurangnya produktivitas petani dipengaruhi karena berkurangnya luas lahan yang ditanami bawang merah. Para petani pada bulan ini banyak yang beralih untuk bercocok tanam palawija.

Fluktuasi harga bawang merah yang terjadi berdasarkan banyaknya penawaran dan permintaan. Sesuai dengan hukum penawaran bahwa semakin tinggi harga suatu produk maka semakin banyak pula barang atau produk yang ditawarkan oleh produsen dan sebaliknya hukum permintaan yang menyatakan bahwa semakin tinggi suatu barang, maka permintaan dari konsumen akan menurun.

Ketersediaan pasokan bawang merah yang berlebih di pasaran membuat pada pedagang menurunkan harga jualnya agar tingkat keseimbangan pasar dapat tercapai. Keseimbangan pasar terjadi karena penurunan harga jual sehingga penawaran dari konsumen naik.

Kebijakan pemerintah melalui menteri perdagangan dalam penetapan kebijakan harga eceran tertinggi diharapkan dapat dilaksanakan dengan baik bersama pihak-pihak terkait agar permainan harga yang dilakukan tengkulak dapat diminimalisasi. Sehingga para petani diharapkan mampu mendapat hasil sepadan dengan jerih payahnya. Selain itu dengan sesama petani bawang merah yang lain diharapkan mampu bekerja sama dalam mengakses informasi harga di tingkat konsumen secara berkala.

Dikutip dari Eriyatno dan Najikh (2012), pola pertanian industrial dapat diterapkan guna memaksimalkan nilai tambah yang diperoleh petani dan mencegah permainan harga pada tingkat konsumen. Agroindustri dapat dilakukan dengan membentuk suatu kelompok tani yang terdiri dari para petani bawang merah; kelompok tani ini didorong dan diberdayakan agar mampu menghasilkan suatu produk yang memiliki nilai jual yang lebih tinggi dan harga yang lebih stabil. Beberapa macam produk yang mampu dihasilkan antara lain adalah produk bawang merah goreng dengan tambahan rasa ataupun sambal dengan berbagai jenis varian.

Upaya peningkatan produktivitas di beberapa daerah perlu dilakukan agar tercipta kestabilan produksi di dalam negeri sehingga fluktuasi harga bawang merah dapat terkendali. Pembudidayaan bawang merah diharapkan tidak hanya bergantung pada musim; peran pemerintah diharapkan hadir untuk memberikan penyuluhan kepada petani, antisipasi apa yang dapat dilakukan sehingga kebutuhan bawang merah dalam negeri dapat terpenuhi. Serta, permainan pasar pada berbagai tingkatan harus tetap diawasi dengan ketat agar permainan harga dapat ditekan secara optimal.

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT