Sentilan IAD

Cuma Menanti Generasi yang Berganti

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Rabu, 01 Des 2021 09:37 WIB
iqbal aji daryono
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Fihril Kamal/istimewa)
Jakarta -

"Silakan masuk, Kak. Tapi mohon untuk tidak menyentuh semua barang koleksi. Kalau mau memotret boleh, tapi mohon tidak menggunakan flash, karena kilatan cahaya dapat merusak benda koleksi."

Siang kemarin, gadis muda itu menyapa saya di pintu depan, setelah saya menjalankan serangkai protokol kesehatan. Lalu kaki saya pun melangkah menuju ke dalam ruangan. Di hadapan saya berderet beberapa benda koleksi museum, alat-alat makan kuno, replika-replika makanan tradisional, papan-papan berisi tulisan keterangan atas benda-benda koleksi, dan bentangan dekorasi yang menghidupkan suasana sebuah pameran bertema makanan.

Sudah bertahun-tahun saya tidak mendatangi museum itu, padahal ia berada di kota saya sendiri. Sementara, ke negeri mana pun saya pergi, hampir tak pernah saya melewatkan untuk mendatangi dua lokasi: pasar dan museum. Tetapi ke museum terdekat dengan kampung saya sendiri saya malah enggan, karena tempat itu menyimpan setidaknya dua memori yang tidak mengenakkan.

Pertama, penjarahan besar-besaran koleksi perhiasan emas kuno yang sudah lebih dari satu dekade tak terungkap (atau memang tak boleh terungkap?). Kedua, kenangan akan suasana sebuah museum yang gelap, dengan AC yang jarang menyala dan membuat udara lembap menggerogoti lembaran-lembaran lontar dan perkakas tembaga, papan informasi dengan teks yang ala kadarnya, dan etika di dalam museum yang jarang dijaga.

Soal etika di depan benda-benda kuno cagar budaya ini memang sering bikin saya ngampet, menahan perasaan. Kita yang agak melek baca rata-rata sudah tahu, artefak purbakala itu rentan, akumulasi sentuhan tidak akan menjadi pembangkit perasaan melainkan justru menyebabkan aus dan kerusakan.

Malangnya, bukan cuma satu dua kali saya menyaksikan petugas yang abai melihat pengunjung museum menjamahi benda-benda kuno itu. Ditambah lagi banyak pengunjung yang memang tampak uncivilized karena selfie semaunya sambil memegang-megang kerangka gajah purba di Museum Geologi Bandung, menunggangi arca Nandi di Museum Fatahillah, dan bermacam-macam kebodohan lainnya, di banyak lokasi museum lainnya.

Meski begitu, sapaan mbak-mbak yang menyilakan saya masuk itu membuat saya menyadari sesuatu. Bukan, ini bukan tentang manajemen museum. Saya juga tidak akan bicara tentang museum. Yang saya rasakan sebenarnya adalah satu hal yang manis-manis getir, yaitu bahwa perubahan akan terjadi, jika dan hanya jika manusia-manusianya telah berganti.

Benar, saya melihat para petugas museum yang saya jumpai siang tadi adalah anak-anak muda, berbeda dengan bertahun-tahun silam ketika terakhir kali saya ke sana. Entah, apakah para pengurus yang menjadi pengambil keputusan di dalamnya sudah berganti pula dengan anak-anak muda, yang jelas saya melihat berubahnya suasana lama.

Bukan cuma tentang ketegasan untuk menjalankan etika di hadapan benda purba. Segala fasilitas baru yang menjadi cermin alam berpikir yang agaknya juga baru pun mulai tampak. Ketika saya masuk ke bangunan utama, papan informasi sudah jauh lebih lengkap dan "bisa dibaca". Kalau dulu sebuah genta perunggu kuno cuma diberi keterangan "Genta Kuno", maksimal dengan keterangan dari abad ke berapa, sekarang sudah ditambahi dengan detail fungsinya, dan di mana lokasi penemuannya.

Memang informasi itu belum selengkap di Museum Kereta Api Ambarawa, yang papan keterangannya tak kalah komplet dengan yang ada di museum-museum yang pernah saya datangi di negara-negara lain. Tapi lumayan, jauh lebih baik daripada masa beberapa tahun lalu ketika yang saya jumpai di museum ini masih bapak-bapak dan ibu-ibu sepuh itu.

Bukan cuma itu. Bahkan papan-papan informasi itu sudah dilengkapi lagi dengan papan berhuruf Braille untuk para penyandang difabel netra, dan layar monitor dengan bahasa isyarat untuk para kaum Tuli. Ketika saya bertanya kepada salah satu petugas, komentar dia simpel saja. "Ya, sekarang harus ada beginian, Mas. Zamannya sudah beda hehehe."

Ya, zamannya sudah beda. Orang-orangnya sudah beda. Saya tak akan lagi bicara tentang museum, tapi tentang dugaan kuat saya bahwa perubahan komunal ternyata tidak bisa dilakukan dengan mengubah karakter dan pandangan manusia. Yang lebih efektif adalah mengganti manusianya, mengganti generasinya.

Jadi, tak perlu lagi bermimpi muluk-muluk tentang upaya merevolusi mental, penyuluhan macam-macam untuk membangkitkan kesadaran ini-itu. Dalam skala kecil dan sporadis mungkin semua itu berguna, dan jelas merupakan langkah yang bagus-bagus saja. Tetapi soal efektivitasnya, tidak usah ditanya. Maka, terus terang saya masih percaya bahwa lebih baik mengganti manusianya, atau biar tidak terlalu kasar: menunggu saja hingga berganti generasinya.

Saya jadi ingat komentar seorang kawan ketika sedang berbicara tentang kebersihan tempat-tempat publik. Dulu yang namanya tempat publik itu selalu tak dapat dilepaskan dari pemandangan kulit kacang yang bertebaran, kantong plastik bekas bungkus es yang berceceran, dan sudut-sudut pesing akibat peturasan umum yang tak layak digunakan. Tapi sekarang situasinya sudah jauh lebih baik. Kata kawan saya itu, "Lah kan generasinya juga sudah ganti, to."

Benar juga. Ini tentang generasi yang berganti, bukan tentang manusia yang sama tapi diubah dan dipoles kesadarannya. Sebagian besar manusia agaknya lekat terus dengan alam berpikir yang sesuai dengan zamannya masing-masing. Hal-hal yang terkait dengan kepekaan zaman baru, mulai dari tidak membuang kulit kacang sembarangan, tidak merokok di dalam ruang tertutup, tidak kencing di sudut-sudut jalan, tidak bercanda yang seksis dan melecehkan, semua itu membutuhkan aktor-aktor yang juga baru, bukan sekadar aktor lama yang dipoles dengan kesadaran baru.

Saya juga jadi ingat tentang rasa iri saya suatu kali, ketika saya masih mampir tinggal sesaat di Australia. Di sana, sudah ada pernyataan minta maaf massal dan terbuka atas masa lalu. Luka sejarah akibat pembantaian besar-besaran dan segenap kejahatan kemanusiaan atas penduduk asli (yang dengan istilah versi Inggris disebut dengan Aborigin itu) oleh pendatang kulit putih coba disembuhkan perlahan-lahan. Ada National Sorry Day untuk menandai itu, ada anak-anak yang diminta menulis di lembar-lembar kertas berisi permintaan maaf atas sejarah yang berdarah-darah, ada buku-buku pelajaran sekolah yang membuka semua fakta itu secara relatif jujur, ada tokoh-tokoh publik yang juga terus berulang membuat pernyataan menyesal atas masa silam.

Melihat itu semua, saya sedih sendiri, lalu merasa dengki, sambil tak habis pikir kenapa sejarah kelam negeri saya sendiri masih terus menyisakan sikap-sikap defensif, tanpa penyesalan, bahkan dalam berbagai kepentingan jual-beli politik apinya masih sering dikobarkan.

Hingga kemudian saya sadar ada yang tidak fair dalam cara saya memandang persoalan. Sangat alotnya pengakuan atas tragedi masa lalu negeri kita ini terjadi karena satu hal: aktor-aktornya masih banyak yang ada. Mereka masih hidup, masih menyimpan dendam masa lalu, masih punya trauma konflik dari masa itu, bahkan mungkin mimpi-mimpi buruk tengah malam mereka kadang masih mengantarkan aroma anyir darah dan teriakan-teriakan pilu.

Itu beda sekali dengan situasi psikologis di Negeri Koala. Yang mereka sesali kemudian disempurnakan dengan permintaan maaf kolektif itu adalah kejadian lebih dari dua abad lalu. Di samping karena kenyataan bahwa para pendatang kulit putih sudah menjadi terlalu dominan di atas penduduk asli, tak dapat diabaikan juga bahwa para pelaku sejarahnya tinggal tulang-belulang yang bercampur tanah. Tak tersisa satu pun di antara mereka, tak ada trauma langsung yang bisa membentuk emosi mereka, dan artinya: mereka sudah berganti generasi sepenuhnya.

Ya, sekali lagi, sepertinya untuk membentuk perubahan efektif itu hanya bisa dilakukan dengan menunggu. Menunggu hingga manusianya berganti seluruhnya. Dan saya sendiri, bersama generasi saya yang mulai menua, satu saat juga akan masuk ke dalam generasi yang akan dinanti kepunahannya, untuk menyambut penyegaran suatu masa.

Iqbal Aji Daryono penulis, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)