Jeda

Pelajaran Menghargai Kehidupan

Impian Nopitasari - detikNews
Minggu, 28 Nov 2021 12:00 WIB
impian nopitasari
Impian Nopitasari (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Dalam mencari tontonan atau bacaan biasanya saya menyesuaikan mood. Sedang ingin menangis, serius, atau tertawa. Kapan itu saya menulis tweet meminta rekomendasi anime yang setipe dengan Anohana, anime tentang persahabatan yang walau sudah 10 tahun berlalu tapi tetap masih bisa membuat mewek-mewek sendiri. Beberapa reply memberi rekomendasi seperti yang saya mau, tapi ada satu teman saya yang malah merekomendasikan anime Silver Spoon. Katanya karena kapan itu saya sempat mencari hiburan yang bisa membuat tertawa. Ternyata teman saya tidak bohong. Anime ini sungguh bisa membuat saya nggebrak-nggebrak kasur karena kelucuannya. Dua season saya tamatkan dalam semalam.

Saya mem-posting pengamalan saya menonton anime tersebut di WhatsApp story. Beberapa teman membalas story saya tersebut. Ada yang sepakat dengan saya karena memang pernah menontonnya, ada yang belum dan penasaran ingin menonton. Tapi ada satu balasan yang ajaib. Sebenarnya saya lupa kenapa saya bisa menyimpan nomor orang tersebut. Selama ini juga kami tidak pernah berinteraksi dengan intens. Dia bilang bahwa membenci anime tersebut; anime yang sangat bertentangan dengan prinsip hidupnya baru-baru ini.

Sejauh yang saya tahu, orang ini adalah seorang vegetarian atau malah vegan, ya begitulah pokoknya. Tapi seingat saya dia belum lama menjadi seorang vegan. Sebagai informasi, anime Silver Spoon ini bercerita tentang seorang anak yang hidup di kota dan memutuskan untuk bersekolah di pedesaan yang jauh dari tempat tinggalnya karena sekolah tersebut berformat asrama, jadi dia tidak perlu pulang ke rumah dan bertemu ayahnya yang menyebalkan. Di SMK pertanian ini memang diajarkan bertani dan beternak. Gegar budaya yang dia rasakan adalah ketika harus memakan babi yang dia besarkan penuh kasih sayang dan bahkan diberi nama, ketika dia harus menguliti rusa yang tertabrak, ketika menyaksikan hewan-hewan ternak yang sudah tua, tidak produktif, dan terluka sedikit saja harus berakhir di rumah jagal.

Nah, orang yang membalas pesan saya itu paling sebal dengan premis anime ini. Katanya anime ini mengajarkan betapa manusia memang kejam terhadap binatang. Binatang tidak seharusnya dimakan. Dia masih menceramahi saya bahwa memakan binatang adalah cara hidup yang barbar. Sebenarnya kalau dipikir orang ini merusak mood saja. Tapi saya sedang berada di fase yang malas ribut untuk hal-hal begini. Saya sedang berada di fase yang sedih ketika jemuran tidak kering, tagihan belum dibayar, masuk angin dan sariawan tidak sembuh-sembuh, tidak lupa bawaan tolak angin dan minyak kayu putih adalah hal wajib.

Jadi saya biarkan dia ngomel-ngomel, namanya juga anak baru. Dalam hal apapun sepertinya sama saja, ketika masih anak baru dan semangat-semangatnya "berdakwah" terhadap suatu paham, biasanya memang jadi menyebalkan buat orang lain.

Sejujurnya saya suka anime tersebut karena realistis terhadap kehidupan. Tidak menjanjikan mimpi-mimpi utopis. Namanya hewan ternak ya akhirnya bakalan dimakan mau sesayang apapun kita merawatnya. Ketika melewati hutan dan menabrak rusa atau beruang dan akhirnya berujung sebagai makanan, ya sudah memang itu sesuatu yang wajar di tempat tersebut.

Jangan salah, saya pun mengalami masa-masa seperti tokoh utama tersebut yang tidak tega membiarkan binatang ternak yang disayang berakhir menjadi daging. Bedanya, ketika kecil, orangtua saya menuruti permintaan saya untuk tidak menyembelih ayam kesayangan saya dan pilih membeli ayam tetangga. Kalau dipikir demi apa membesarkan ayam kok tidak pernah disembelih. Sedangkan tokoh utama dalam anime itu berani membuat keputusan untuk membeli seekor babi kesayangannya dalam bentuk daging. Dia pernah ragu apakah sanggup memakannya, tapi akhirnya dimakan juga. Sebanyak 50 kilo daging babi tersebut dia buat bacon dan dibagikan kepada orang-orang di sekolah dan dikirim ke orang-orang tersayang. Semua bahagia dengan kiriman bacon itu. Kejam atau tidak kejam sebenarnya masalah perspektif saja.

Saya teringat teman saya yang tidak mau makan ikan setelah menonton serial dokumenter Seaspiracy. Sebenarnya dia tidak benar-benar menolak makan ikan, hanya masih sering bimbang apakah makan ikan termasuk perbuatan dosa. Saya bilang kalau terlalu kebanyakan nonton dan memikirkan hal-hal seperti ini, tidak bakalan ada yang dimakan. Semua pasti ujung-ujungnya juga konspirasi. Sepertinya hanya ikan ya, tapi ternyata masih ada saudara teman saya yang jarang makan ikan karena mengirit, paling mentok ya makan ikan asin dibagi dengan kucingnya. Ini benar-benar bukan karena non daerah pesisir dan tidak doyan ikan, tapi memang tidak sanggup membelinya.

Oh iya, saya ingat orang yang membalas story saya tadi pernah menggebu-gebu mengkampanyekan pemahamannya untuk tidak makan daging. Tidak salah menjadi vegetarian atau vegan, tapi orang yang masih makan daging dan turunannya ya tidak salah juga (selama memang tidak bertentangan dengan kesehatan orang tersebut). Ya gimana ya, lucu saja, dia mengkampanyekan untuk tidak makan daging ke masyarakat yang tidak perlu diberi kampanye juga belum tentu makan daging.

Ya gimana tidak banyak teman-teman yang nyinyir padanya. Kampanye tidak makan daging kok ke orang-orang yang makan dagingnya cuma setahun sekali ketika hari raya Qurban atau dari hantaran berkat tetangga yang kebetulan sedang syukuran. Menceramahi orang-orang untuk tidak menyembelih ayam kepada mereka yang memelihara ayam untuk bertahan hidup atau sebagai tabungan. Aneh-aneh wae.

Kalau orang tadi mengatakan anime Silver Spoon mengajarkan manusia untuk menjadi kejam dan barbar, kok malah saya tidak merasa begitu. Setelah menonton malah saya lebih menghargai kehidupan itu sendiri. Kalau diperhatikan tokoh-tokoh dalam anime tersebut tidak jahat kepada binatang. Mereka merawat binatang sesuai yang seharusnya dilakukan, realistis. Ya memang untuk orang yang tidak tegaan wajar jika ada adegan yang membuat baper. Tapi ya begitulah kenyataan hidup, sering tidak sesuai rencana dan tidak ideal dengan pemahaman kita.

Mau jadi vegan atau tidak ya silakan saja selama tidak over. Ketika hari raya Qurban ya tidak usah nyinyir terlalu keras apalagi ranahnya sudah agama, pastinya sensitif. Yang masih makan daging ya biasa saja tidak usah nyinyir ke orang yang berprinsip untuk menjadi vegan. Yang penting ketika memperlakukan hewan ternak adalah dengan cara yang baik tidak dengan cara yang kejam. Ketika berburu ya tidak serakah dan berburu sesuai kebutuhan dan aturan. Merawat dengan baik dan menyembelih sesuai aturan saja masih ada yang menganggap kejam kok karena kita memakan hewan tersebut. Jadi ya pintar-pintarnya menempatkan diri saja.

Gondangrejo, 27 November 2021

Impian Nopitasari penulis

(mmu/mmu)