Kolom

Wabah dan Usaha Kolektif Masyarakat Rural

Muhammad Nanda Fauzan - detikNews
Sabtu, 27 Nov 2021 10:52 WIB
Virus In Red Background - Microbiology And Virology Concept
Foto: Getty Images/iStockphoto/loops7
Jakarta -

Sembilan belas bocah berbaris beriringan di bawah gerimis malam hari, usia mereka berkisar 5-6 tahun, telanjang bulat menahan gigil, dan disaksikan sanak keluarga masing-masing dengan penuh kecemasan. Dipandu oleh Kiyai Kasan Menhat, gerombolan anak ini hendak berpencar mengelilingi Desa, menemani balok es yang terbang rendah di udara. Di dalam bongkahan es itu konon tersimpan lembaran kertas berisi ayat suci. Tujuan mereka hanya satu; mengusir pagebluk yang tengah menjangkiti 21 Desa dengan begitu ganasnya.

Kira-kira begitulah Danarto, maestro cerita pendek sekaligus perupa andal kita, mengisahkan upaya orang-orang Kampung terdahulu saat bersinggungan langsung dengan bencana wabah. Danarto sendiri, kendati dikenal sebagai salah satu representasi pengarang Indonesia yang tumbuh dalam arus prosa universal a la periode 1970-an, tetapi tetap konsisten menampilkan unsur mistisisme Jawa, terutama dalam kumpulan cerita pendeknya. Seperti yang dikemukakan oleh Pradopo (1995), kumpulan cerita pendek Berhala (1987) adalah sekumpulan cerita yang menunjukkan absurditas modern yang "gaib" dan "ajaib".

Cerita pendek berjudul Pagebluk (terhimpun dalam Berhala) di atas memang magis belaka. Maka dengan sendirinya, pembaca—terutama awam seperti saya—akan digiring untuk sepenuhnya menganalisis teks tersebut dengan nalar magis-mistis pula. Kita percaya, hal-hal semacam itu hanya mungkin terpintas dari pikiran seorang okultis sejati, dan tak mungkin benar-benar menjelma dalam dunia keseharian.

Hal pertama yang mudah kita temukan ialah perihal usaha kolektif yang coba dibangun oleh sekelompok masyarakat kampung. Danarto dalam cerita pendek tersebut, memberi aksentuasi lebih pada perkara gotong-royong, sehingga narator cerita ini—yang tak lain salah satu bocah yang tengah mengemban tugas berat itu—sampai pada suatu kesimpulan yang penuh rasa takjub bahwa "ketegangan dan ketakutan memerangi wabah, telah melenceng menjadi karnaval."

Jenis wabah dalam cerita Danarto ini sama sekali masih samar wujudnya. Bukan pes, juga bukan kolera. Dokter dan para ahli medis yang berkunjung ke sana tak mampu mengenali penyebab, lebih-lebih cara jitu untuk menanganinya. Dalam rentang sehari saja, pernah 15 orang mati secara misterius dan mengenaskan. Singkatnya kata narator, "Esuk lara, sore mati. Sore lara, esuk mati."

Ungkapan "esuk lara, sore mati. Sore lara, esuk mati" memang dicomot dari Babad Tanah Jawi, dan kita mendapatkan isyarat untuk memindai bahwa latar cerita Danarto berpusat sepenuhnya di Jawa. Hingga kini ungkapan itu memang lazim digunakan dalam ragam cakap sehari-hari di Jawa, untuk memberi citraan ihwal mencekamnya kondisi wabah, suatu mala dahsyat yang sanggup meloloskan nyawa manusia dengan begitu mudah.

Jika Prof. A. Teeuw mengatakan bahwa cerita Danarto ialah gambaran yang memesona tentang eksistensi manusia dari sudut pandangan orang Jawa (Sastra Indonesia Moderen II, Pustaka Jaya, 1989). Maka Pagebluk menjadi batu loncatan yang pas untuk menggambarkan kecenderungan gaya prosa Danarto, sekaligus menelaah bagaimana alam pikir masyarakat Jawa ketika menghadapi wabah.

Walau terkesan surealis dan disesaki oleh perkara supranatural yang sulit berterima dengan akal, melalui keberadaan balok-balok es yang terbang melayang di udara misalnya, namun kisah Danarto sejatinya tak pernah lepas dari realitas objektif masyarakat Jawa. Ia mungkin melakukan sedikit modifikasi di beberapa bagian, tapi pijakannya bisa kita lacak dengan begitu mudahnya.

Kita bisa mengenang misalnya bagaimana bendera keramat Kanjeng Kiai Tunggul Wulung—yang diujungnya terdapat tombak pusaka Kanjeng Kiai Slamet—beberapa kali dijadikan penangkal wabah dengan cara dibawa mengelilingi kota, seperti festival atau karnaval. Seperti yang diungkapkan Ricklefs dalam Mengislamkan Jawa (2013), Kanjeng Kiai Tunggul Wulung dan Kiai Slamet pernah diarak setidaknya pada tahun 1876, 1892, 1918, dan 1932 untuk kepentingan menghentikan pelbagai serangan wabah, dari influenza hingga kolera.

Upacara ini berlangsung dengan ritual yang bukan main seriusnya, melibatkan keluarga kerajaan yang dipercaya masih menyimpan kekuatan magis-mistis, dan tentu saja disesaki oleh banyak kalangan masyarakat, terutama kelas bawah (pada masa itu, orang yang baik perekonomiannya akan segera bergegas ke kota lain, mungkin lockdown dalam istilah kiwari). Pemandangannya persis festival rakyat, dengan protokoler yang demikian teraturnya.

Ricklefs menyebutkan praktik ini sebagai perwujudan dari sintetisme mistik Islam, semacam peleburan organik antara identitas dan keyakinan Jawa di satu sisi, dan ajaran baku Islam di sisi lain. Ricklefs mengingatkan dengan segera, bahwa seremoni ini bukan saja menekankan pada beberapa aspek yang bersifat Islami, tetapi juga memproyeksikan pada gaya Jawa; keharusan menyediakan sesaji pada Waringin Kurung berupa kerbau albino (kebo bule), misalnya.

"Setelah persiapan ritual dan persembahan yang sesuai, seratus tokoh agama (pamethakan) mempersiapkan diri untuk mengusung kedua pusaka keluar dari istana. Azan dikumandangkan secara bersama-sama, diikuti oleh pendarasan doa. Kemudian rombongan besar disusun dan berjalan keluar dari keraton dengan membawa bendera-bendera suci. Di luar, ribuan orang Jawa sudah menanti," tulis Ricklefs.

Kita menemukan satu benang merah antara balok-balok es yang berterbangan dalam cerita pendek Danarto, dengan bendera sakti yang pernah berkibar untuk mengentaskan pagebluk. Keduanya menyiratkan upaya kolektif dan kuasa magi, yang hampir serupa di banyak sisi.

Begitulah watak orang-orang Jawa terdahulu. Sementara itu, sebagian dari kita pernah terkecoh oleh kuasi kabar burung yang sama digerakkan oleh kuasa gaib, melalui lintasan pesan berantai di grup WA. Dikatakan seorang bayi yang baru saja lahir telah mengoceh dan menubuatkan bahwa telur rebus yang dikudap tepat pada tengah malam bisa menjadi obat jitu untuk menangkal Covid-19. Banyak orang tertipu, dan telur-telur ludes diborong.

Muhammad Nanda Fauzan pembaca cerita

(mmu/mmu)