Kolom

Siapa Masih Mau Jadi Guru?

Muhammad Arif - detikNews
Jumat, 26 Nov 2021 10:40 WIB
ilustrasi guru dan murid di kelas
Ilustrasi: thinkstock
Jakarta -
Menjadi guru mestinya didasari dari panggilan jiwa untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena tanpa itu niscaya tidak akan ada orang mampu bertahan lama dalam kerja yang penuh pengabdian. Sehingga, betapa pun beratnya tantangan yang dihadapi, seorang guru tidak akan pernah menyerah terhadap peserta didiknya.

Terlahir dari ibu seorang guru tidak membuat saya cepat sadar bahwa menjadi guru tidak hanya tentang mengajar peserta didik. Setelah lulus S-1 Keguruan dan merasakan sendiri menjadi seorang guru, akhirnya saya bisa mengerti bagaimana perjuangan ibu. Tidak mudah ternyata menjadi guru.

Pernah suatu waktu ibu saya tampak begitu risau karena sekolah akan kedatangan pengawas. Dia tidak mengerti bagaimana mengoperasikan komputer sehingga meminta bantuan saya untuk mengedit beberapa berkas dari dalam flash disk.

Setelah bantuan yang berhubungan dengan komputer selesai saya kerjakan, sesak masih belum juga usai. Masih ada setumpuk berkas kertas yang harus diperbaiki. Itu semua dia tuntaskan hingga larut malam. Berhari-hari dia harus berkutat dengan semua itu. Sampai hingga batas waktu yang ditentukan semakin dekat, dia jadi semakin kepikiran dengan apa yang akan terjadi. Sebab konsekuensinya berkaitan dengan tunjangan sertifikasi.

Sampai di sini yang bisa saya lakukan adalah memberi dia semangat moral. Hingga sekarang saya masih teringat kata-kata yang dia pikir ada benarnya ketika saya sampaikan, "Bu, tidak usah dipikirkan, dikerjakan saja."

Satu tahun menjelang purna tugas, ibu saya memutuskan untuk mengambil opsi Masa Persiapan Pensiun (MPP). Dia mengaku tidak sanggup lagi dengan semua kerumitan administrasi sekolah. Meski memutuskan pensiun lebih cepat, bukan berarti menyerah untuk dunia pendidikan. Nyatanya pada masa-masa itu dia tetap sibuk mengajar anak-anak mengaji setiap hari di rumah hingga tahun-tahun sesudah purna tugas.

Tak Sebatas Mengajar

Menjadi guru memang tidak sebatas mengajar peserta didik. Dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen disebutkan bahwa guru memiliki tugas untuk mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik.

Dalam UU tersebut paling tidak ada tujuh item yang menjadi tugas utama seorang guru. Untuk masing-masing item perlu didukung oleh seperangkat administrasi sebagai "pertanda" bahwa guru tersebut bekerja. Jika tidak, guru terancam tidak menerima tunjangan sertifikasi dan/atau hukuman disiplin bagi yang belum sertifikasi atau honor.

Alhasil, terlepas dari apa pun statusnya, setiap guru dituntut mampu membagi waktu delapan jam dalam sehari; enam jam sudah digunakan untuk mengajar. Sehingga
akan tampak tidak masuk akal jika semua bisa selesai tepat waktu secara baik dengan waktu normal. Sebab sisa waktu yang sedikit tersebut juga harus dibagi lagi untuk beberapa tugas tambahan seperti menjadi wali kelas, bendahara, pengelola aset, urusan kesiswaan, kepala perpustakaan, atau menjadi panitia program-program sekolah.

Hal ini kemudian membuat bayak guru ketir-ketir sampai harus meninggalkan kelas atau mengambil waktu untuk dirinya sendiri dan keluarga. Sesuatu yang barangkali jarang dijumpai untuk banyak jenis pekerjaan formal lain di luar sana. Tapi bagi guru bukanlah suatu yang aneh bila pekerjaan sekolah dibawa sebagai "oleh-oleh" untuk keluarga di rumah. Dengan kata lain, tuntutan atas profesi guru tidaklah sederhana.

Selain dituntut hebat dalam mengajar guru juga dituntut hebat dalam pekerjaan administrasi dan tugas tambahan. Tak ayal, untuk menjadi guru haruslah seorang yang benar-benar tangguh secara fisik dan mental, serba bisa, dan juga rela berkorban. Namun, guru juga bukanlah sejenis manusia super. Untuk memenuhi semua tuntutan tersebut para guru harus membuat skala prioritas; peserta didik seringkali berada pada posisi yang paling mudah untuk dikesampingkan.

Demikianlah sekelumit kenyataan menjadi seorang guru. Tapi, apa pun kesulitan yang dihadapi di belakang layar, ruang kelas selalu saja menyimpan mantra-mantra penghibur. Di hadapan peserta didik sosok guru bisa saja jadi pribadi yang berbeda sama sekali. Melihat tawa anak-anak, rasa ingin tahunya, sekelebat mata semua kesulitan menguap begitu saja tanpa tersisa.

Kelas adalah tempat semua nilai-nilai ideal-universal diajarkan ke jiwa-jiwa yang baru bertumbuh untuk mengenal diri dan lingkungannya. Mereka akan belajar banyak hal sebelum siap sepenuhnya terjun ke dunia yang jauh dari ideal. Misalnya saja perihal keseimbangan antara hak dan kewajiban.

Tetap Berjuang

Pada tahun awal kuliah Keguruan bayangan saya tentang sekolah dulu begitu sakral dan juga indah. Dikatakan sakral karena proses pendidikan sebagai suatu proses menyiapkan manusia sebagai pembelajar sepanjang hayat, untuk menemukan diri terbaik mereka, serta ikut menamai dunia.

Dalam hal ini manusia dipandang bukan sebagai objek melainkan subjek yang patut dihormati hak-haknya. Semua ini jelas menuntut kesungguhan dan pengagungan yang tinggi terhadap nilai-nilai kemanusiaan, tidak boleh dinodai oleh hal-hal sebaliknya.

Sekolah adalah salah satu tempat di mana proses sakral itu terjadi. Guru memiliki peran sebagai--apa yang dikatakan Bapak Filsafat Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara--Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Lantas, ketika peserta didik berhasil meraih kesuksesannya, ini menjadi momen terindah sekaligus membahagiakan bagi seorang guru.

Namun semua itu dibuat buyar oleh hal-hal yang bersifat "profan", yakni urusan administrasi dan tugas tambahan yang tidak banyak memberikan nilai tambah terhadap peningkatan kualitas pembelajaran. Waktu yang seharusnya digunakan untuk melakukan refleksi atas proses pembelajaran malah digunakan untuk mengurus laporan pertanggungjawaban.

Mestinya sekolah menjadi tempat setiap individu dapat nyaman belajar dan bekerja menurut kapasitas dan kapabilitas yang dimilikinya. Harapannya agar tercipta budaya kerja yang efektif, efisien, dan produktivitas dapat tercapai secara optimal.

Untuk itu, organisasi sekolah mestinya dipimpin oleh seorang kepala sekolah dan beberapa staf yang fokus untuk mengurus masalah keuangan, aset, kesiswaan, dan perpustakaan. Selain itu, tersedia juga SDM yang ahli di bidang tertentu seperti ahli statistik, desain komunikasi visual, dan tentu saja guru-guru profesional.

Dalam hal pembagian kerja, staf bidang statistik memiliki peran signifikan dalam merancang, menguji, mengolah, hingga menginterpretasikan data-data instrumen evaluasi pembelajaran dan big data yang terdapat di sekolah. Tidak hanya guru, kepala sekolah juga akan sangat terbantu dalam setiap pengambilan keputusan di tingkat sekolah.

Sementara itu, staf bidang desain dan komunikasi visual dapat membantu guru dalam menciptakan media pembelajaran yang menarik bagi peserta didik. Jelas hasilnya akan sangat jauh berbeda jika semuanya dilakukan oleh guru seorang. Mengingat pekerjaan ini menuntut penguasaan teknologi tingkat tinggi serta waktu yang juga tidak sedikit.

Guru sebagai ujung tombak pelayanan pendidikan mestinya berfokus pada upaya meningkatkan pengalaman belajar peserta didik agar lebih menarik, menyenangkan, dan bermakna. Guru-guru tidak lagi harus memikirkan dan mempersiapkan semua dari A sampai Z untuk memulai pembelajaran. Guru tinggal memanfaatkan semua sumber belajar yang tersedia di sekolah.

Tidak ada lagi guru yang--karena kesibukannya--memarahi peserta didik karena gagal mendapatkan nilai yang bagus saat ujian. Karena sistem telah disusun sedemikian rupa sehingga tidak ada lagi tuntutan administrasi yang bertumpuk. Guru dapat bertanggung jawab penuh kepada peserta didik dan orangtua.

Dengan manajemen sekolah yang semacam ini niscaya sekolah akan bertransformasi menjadi sebuah sistem efektif. Sekolah akan "menghasilkan" individu-individu yang berkualitas karena mendapatkan pelayanan prima dari guru yang berpundak kosong, berdada lapang, dengan seraut senyum terukir di wajahnya setiap melangkah memasuki kelas. Mungkinkah terwujud?
Selamat Hari Guru; selamat karena masih tetap berjuang sejauh ini.
Muhammad Arif guru

(mmu/mmu)