Kolom

"Metaverse": Ancaman atau Peluang bagi Umat Manusia?

Tomy Patria - detikNews
Kamis, 25 Nov 2021 13:00 WIB
Dapat Investasi Rp 4,2 Triliun, Niantic Mau Bikin Metaverse Dunia Nyata
Foto ilustrasi: nianticlabs.com
Jakarta -

Beberapa waktu yang lalu, jagat dunia teknologi dihebohkan dengan beredarnya kabar dari Meta, induk perusahaan yang menaungi Facebook, Instagram, dan Whatsapp. Mark Zuckerberg, CEO Meta, menyatakan bahwa perusahaannya akan mengembangkan sebuah teknologi yang disebut sebagai metaverse. Istilah ini konon diambil dari konsep dunia virtual yang dituangkan dalam sebuah novel fiksi ilmiah karya Neal Stephenson tahun 1992 yang berjudul Snow Crash.

Teknologi ini nantinya akan menjadi tulang punggung Meta, yang jauh lebih maju dibanding media sosial yang ada dalam naungan mereka saat ini. Beberapa perusahaan teknologi seperti Cisco dan IBM sebenarnya sudah mulai mengembangkan konsep seperti ini sejak dekade yang lalu. Namun hasilnya tidak menggembirakan. Kini, dengan kecanggihan peralatan elektronik dan kecepatan jaringan Internet yang tersedia, metaverse memiliki peluang besar untuk berhasil.

Saking canggihnya, banyak pengamat teknologi yang memperkirakan bahwa metaverse akan menjadi era baru dari teknologi Internet. Seperti apa sebenarnya wujud metaverse itu?

Bayangkan ada sebuah dunia virtual 3D yang bisa kita jelajahi menggunakan kacamata realitas virtual. Di dalamnya, kita bisa memilih representasi visual (avatar) yang kita inginkan. Misalnya, kita memilih untuk menggunakan avatar berupa sosok lelaki yang tinggi besar dengan suara yang berwibawa. Padahal, mungkin gambaran itu sangat bertolak belakang dengan fisik kita di dunia nyata.

Dengan avatar itu, kita bisa berinteraksi dengan lingkungan virtual yang ada. Kita bisa melakukan kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan di dunia nyata, mulai dari mengobrol dengan sesama avatar, menghadiri konser, menikmati karya seni, bahkan jual beli.

Sekilas terlihat seperti main-main. Namun, beberapa perusahaan besar sudah mulai melirik potensi bisnisnya. Misalnya, Gucci sudah terpikir untuk meluncurkan produk-produk digitalnya di metaverse. Kita bisa membeli dan memakaikannya pada avatar yang kita mainkan. Apakah ada yang mau? Tentu saja. Bukankah pola semacam ini sudah terjadi dalam permainan online?

Bahkan diperkirakan produk digital di metaverse akan mirip dengan apa yang ada di dunia nyata, seperti tanah, rumah, serta alat transportasi. Karena jual belinya menggunakan nilai uang asli (kemungkinan mata uang kripto), maka kita pun bisa mendulang keuntungan di dalamnya. Bisa saja nantinya akan ada banyak orang yang menggantungkan nafkahnya melalui profesi sehari-harinya di metaverse.

Ide futuristik ini mendapat beragam tanggapan dari banyak orang. Robert McNamee, salah seorang investor awal Facebook mengatakan, "Adalah ide yang buruk jika kita semua sehari-hari hanya duduk dan menonton melalui alat itu dan merasakannya sebagai sesuatu yang normal." Menurutnya, kemungkinan meluasnya fenomena seperti itu harus menjadi perhatian banyak orang sejak sekarang.

Ancaman yang paling nyata dari teknologi ini adalah kecenderungan untuk membuat manusia semakin malas bergerak dan bersosialisasi di dunia nyata. Kita sudah melihat bagaimana pola hidup anak muda berubah setelah meluasnya penggunaan media sosial. Apalagi, jika disuguhi dengan teknologi yang jauh lebih mengasyikkan lagi.

Tidak hanya problem kesehatan fisik seperti gangguan penglihatan dan obesitas yang mengintai para pengguna metaverse. Problem psikologi juga tidak kalah mengkhawatirkan. Kenikmatan berselancar di metaverse, dengan menggunakan avatar yang mungkin saja merupakan citra diri yang tidak kesampaian, bisa membuat penggunanya susah untuk menerima keadaan di dunia nyata.

Kemudian, peluang kejahatan dunia maya juga semakin terbuka lebar. Hal ini dipicu oleh kemampuan metaverse yang memungkinkan penggunanya menampilkan citra diri yang sangat lain dengan kenyataan aslinya di dunia nyata. Pencurian data serta manipulasi terhadap seseorang bisa lebih leluasa dilakukan.

Permasalahan sosial dan keagamaan pun tidak kalah banyaknya. Penyebaran konten yang mengandung pornografi ataupun yang bernuansa provokatif, agitatif, dan anarkis akan semakin mendapat ruang. Ingat bagaimana media sosial menjadi sarana utama penyebaran berita bohong (hoax), bahkan revolusi seperti yang terjadi di Mesir pada 2011.

Namun di tengah berbagai potensi bahaya yang ada, metaverse juga memiliki berbagai potensi manfaat. Kemungkinan untuk menjelajahi "dunia" tanpa melibatkan gerak fisik seperti di dunia nyata justru merupakan keunggulan utamanya. Orang-orang yang memiliki keterbatasan fisik, seperti kaum lanjut usia atau difabel, bisa menikmati "dunia" selayaknya orang-orang pada umumnya.

Potensi ekonomi yang ada di dalamnya juga bisa menciptakan peluang usaha baru yang belum pernah ada pada era sebelumnya. Perusahaan-perusahaan juga akan terdorong untuk memikirkan konsep pemasaran dan penjangkauan pelanggan melalui metaverse.

Cathy Hackl, seorang futuris teknologi, mengatakan bahwa sebagaimana banyak perusahaan pada awal tahun 2000-an yang tidak terpikir sebelumnya untuk merambah media sosial, merek-merek pada tahun 2020-an ke atas harus melibatkan tim metaverse untuk bertahan pada era Web 3.0.

Melihat pola perkembangan teknologi yang telah terjadi, kemungkinan besar metaverse akan menjadi teknologi yang umum di masa depan. Bisa saja nantinya ada sekolah virtual yang mengajarkan ilmu-ilmu yang hanya bisa dimanfaatkan di metaverse, kebun binatang virtual yang berisi hewan-hewan purbakala dan khayalan, atau hunian dan gedung perkantoran yang mustahil diwujudkan dalam dunia nyata. Jika dikelola dengan baik, metaverse tentu akan menjadi berkah bagi umat manusia.

Oleh sebab itu, permasalahannya bukan lagi terletak pada boleh-tidaknya teknologi ini dikembangkan. Tetapi, bagaimana arah pengembangannya dan penerapan etika bagi penggunanya. Tentu saja Meta tidak akan menjadi pemain tunggal pengembang metaverse. Akan ada perusahaan-perusahaan lain, bahkan mungkin yang saat ini belum berdiri, yang akan mengembangkan metaverse-nya sesuai dengan imajinasinya masing-masing. Hal inilah yang akan memperumit diskusi yang ada.

Polemik yang akan muncul seputar metaverse tidak hanya membutuhkan jawaban dari kalangan teknologi. Tetapi juga pandangan multidisiplin, seperti dari ahli hukum, pemuka agama, psikolog, maupun sosiolog. Permasalahan-permasalahan yang menyertai pengembangan metaverse harus selalu ditanggapi dan menjadi masukan dalam pengembangan versi berikutnya.

Misalnya, sejauh mana anonimitas dan kebebasan bisa diwujudkan dalam metaverse? Sekuat apa hukum dapat menyentuh "kejahatan" yang dilakukan seorang avatar terhadap avatar lain di metaverse? Seperti apa norma-norma masyarakat dan tradisi yang diterapkan dalam metaverse? Seperti halnya teknologi yang lain, jangan sampai manusia diperbudak olehnya. Dengan begitu, metaverse akan memberi manfaat secara luas.

Mungkin Anda berpikir bahwa teknologi yang canggih seperti ini baru akan terwujud dalam jangka waktu lama. Namun Mark Zuckerberg memperkirakan bahwa metaverse akan menjadi hal yang umum dalam waktu lima sampai sepuluh tahun ke depan saja. Bersiap-siaplah memasuki era dunia imajinasi "tanpa batas."

Tomy Handaka Patria alumni Magister Teknologi Informasi Universitas Indonesia, kini bekerja sebagai profesional IT

(mmu/mmu)