Benarkah Ada Kenormalan Baru?

ADVERTISEMENT

Kolom

Benarkah Ada Kenormalan Baru?

Arindra Karamoy - detikNews
Rabu, 24 Nov 2021 15:32 WIB
Passengers people traveler wearing face masks walking at airport gate terminal lounge traveling on holiday during pandemic outbreak. Airplanes behind glass window. New normal safe travel vacation.
Foto ilustrasi: Peter Varga
Jakarta -

Istilah 'new normal' sudah diwacanakan sejak setahun lalu. Gerakan memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan sebagai pesan yang kerap disandingkan dengan 'kegiatan dalam new normal'. Nah, sekarang, di saat kasus pandemi di Indonesia melandai, sayup-sayup istilah ini menghilang. Mungkin karena masyarakat sudah paham tentang istilah tersebut dan apa saja yang perlu dilakukan saat kondisi pandemi.

Pada dasarnya, saya setuju saja dengan adanya 'kenormalan baru', 'new normal' atau apalah namanya, terutama dalam kehidupan di kota, tapi dengan syarat; pertama, dalam kenormalan baru, kita boleh memilih untuk kerja di rumah, jika memang pekerjaannya bisa dikerjakan secara remote. Perusahaan tidak berhak memaksa karyawan untuk datang ke kantor, jika memang tidak diperlukan. Gaji karyawan tetap sama. Uang makan atau transport diganti untuk membayar pulsa internet. Sehingga korporasi dapat berpikir dan memperlakukan karyawannya seperti layaknya manusia. Memanusiakan manusia.

Kedua, terkait nomor satu, perusahaan dapat mulai menghitung eksternalitas yang ditimbulkan dari proses produksi berlebihan. Mulai memikirkan cara mengatasi kegagalan-kegagalan pasar yang ditimbulkan dari kegiatan produksinya. Peduli dengan manusia dan lingkungan, tidak sekadar mengejar laba jutaan dolar atau rupiah.

Ketiga, sehubungan dengan nomor satu lagi, transportasi akan dibatasi karena penggunaan transportasi seharusnya juga akan turun sehingga menurunkan polusi udara terutama di kota besar. Langit akan biru tidak terhalang asap polusi.

Keempat, transportasi menurun berarti penggunaan bahan bakar fosil menjadi berkurang. Udara bersih, sumber daya alam lebih terlindungi dan percepatan energi terbarukan dapat makin terfokus.

Kelima, begitu juga dengan sekolah dan kampus. Mengizinkan siswa untuk belajar di rumah tapi tetap ada waktu pelajaran tatap muka. Metode pengajaran hybrid akan dipakai. Hubungan orangtua dan anak akan terus terjalin. Oran tua tidak sibuk dengan urusan duniawinya saja tapi bisa melihat anak-anaknya tumbuh.

Terakhir, menjaga kebersihan lingkungan, termasuk dalam keluarga dan merawat kesehatan diri menjadi gaya hidup baru yang tidak bisa ditawar lagi.

Namun, sepertinya istilah 'normal baru' yang saya tulis di awal perlahan menghilang itu, apakah terjadi karena banyak yang sudah kembali ke 'normal lama' atau business as usual? Tentu saja ada perbedaannya dari pra pandemi, meski sedikit. Misalnya, yang saya perhatikan di kota besar, mulai kembalinya kegiatan perkantoran di kantor, meskipun masih terbatas beberapa hari.

Lantas, dengan begitu apakah syarat nomor 1 dan 2 mungkin dapat terwujud? Jika dilihat dari rajinnya pekerja di kota berangkat ke tempat bekerjanya, mulai macetnya jalanan kota, rasanya pilihan bekerja hybrid semakin sulit terwujud. Mungkin hanya beberapa bidang pekerjaan yang akan melakukan kegiatan hybrid. Hybrid artinya boleh bekerja di kantor, tatap muka, tapi bisa juga secara online, di rumah, tanpa harus ke kantor.

Lalu, jika adanya kegiatan di kantor, penggunaan kendaraan akan meningkat lagi. Sehingga pertanyaannya adalah mungkinkah syarat 3 dan 4 mewujud? Begitu juga dengan sekolah yang mulai dibuka, lalu hubungan sosial dalam keluarga akan seperti apa? Sehingga syarat 6 yang paling mungkin bisa dicapai dalam 'normal baru'. Perubahan perilaku masyarakat nanti yang akan lebih peduli dengan kesehatan dirinya maupun orang lain. Gaya hidup sehat juga akan menjadi perubahan perilaku yang signifikan. Orang tentunya tidak ingin memiliki kondisi badan yang mudah sakit selepas dari pandemi ini.

Jadi, dari enam syarat yang saya ajukan ini, cuma satu yang dapat terjadi setelah pandemi? Bagaimana dengan harapan banyak pihak, seperti aktivis lingkungan, pegiat pengelola limbah plastik, dan bahkan masyarakat biasa yang mendambakan segarnya udara di kota? Harapan tinggal harapan jika business as usual yang gitu-gitu saja akan tetap terjadi.

Sekitar lebih dari 2000 tahun yang lalu di Athena, hidup seseorang bernama Herakleitos. Salah satu pemikiran filosofis Herakleitos adalah bahwa segalanya berubah. Dari suatu fragmen, Platon berkata bahwa Herakleitos menjelaskan tentang aliran sungai. Kita tidak dapat dua kali menceburkan diri ke sungai yang sama. Karena sungai pasti berubah. Aliran sungai saat pertama kita masuk ke sungai, berbeda dengan aliran sungai saat kedua kali kita masuki. Dari sini dapat dikatakan bahwa Herakleitos menganggap bahwa ciri semesta paling mendasar adalah perubahan.

Meminjam pemikiran Herakleitos di atas, bahwa perubahan adalah sesuatu yang pasti, begitu juga seharusnya hidup manusia pascapandemi. Apalagi perubahan yang baru dan sedang kita alami didukung secara fakta dan data empiris. Sehingga akan aneh dan seakan melawan kodrat alam jika manusia tidak berubah. Apalagi --lagi-lagi pandemi menunjukkan-- perubahan perilaku hidup yang lebih adil, lebih sejahtera, lebih bahagia, lebih manusiawi itu sangat mungkin diwujudkan.

Arindra Karamoy program Doktoral FEB Universitas Trisakti

Baca artikel detiknews, "Vaksin, Pengetahuan, dan Kebenaran" selengkapnya https://news.detik.com/kolom/d-5661177/vaksin-pengetahuan-dan-kebenaran.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

Arindra Karamoy program Doktoral FEB Universitas Trisakti

Arindra Karamoy program Doktoral FEB Universitas Trisakti

Baca artikel detiknews, "Vaksin, Pengetahuan, dan Kebenaran" selengkapnya https://news.detik.com/kolom/d-5661177/vaksin-pengetahuan-dan-kebenaran.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/
(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT