Kolom

Internet, Kebohongan, dan Revolusi Data

Willy Vebriandy - detikNews
Rabu, 17 Nov 2021 10:53 WIB
Jakarta -
Seorang perempuan belum lama ini mengunggah postingan menarik di grup Facebook Info Cegatan Jogja (ICJ). Dalam unggahan tersebut, si perempuan menceritakan kondisi rumah tangganya; sang suami menurut penuturannya hanya sibuk memancing dan mengurus burung daripada berusaha menutupi kebutuhan rumah tangga. Sang istri yang sehari-hari bekerja sebagai pekerja pabrik menjadi tulang punggung keluarga karena suami yang menganggur. Keluhan yang dilontarkan si istri menyita perhatian publik hingga dikomentari lebih dari 51 ribu.
Ruang Alternatif

Melihat fenomena ini, saya teringat buku karya Seth Stephens-Davidowitz berjudul Everybody Lies: Big Data dan Apa yang Diungkapkan Internet tentang Siapa Kita Sesungguhnya (2019). Dalam buku tersebut, Davidowitz menyebut bahwa kebanyakan orang umumnya pembohong ketika di dunia nyata dan lebih jujur saat berada di dunia maya.

Argumen Davidowitz didasarkan analisisnya atas jutaan data dari pencarian di internet di seluruh dunia. Menurut analisis tersebut, berbagai pengetahuan yang dipahami dan diyakini dalam hidup keseharian berbanding terbalik dengan yang terdapat di dunia maya. Banyak orang yang justru melakukan pencarian di internet untuk sesuatu yang dilarang atau bertentangan dengan standar moral yang berlaku sehari-hari.

Davidowitz mencontohkan dengan data yang ia temukan ketika menelusuri pencarian paling populer di salah satu situs video dewasa terbesar di dunia, Pornhub. Menurut penelusurannya, ternyata di situs tersebut video yang paling banyak dicari adalah video bergenre inses atau hubungan sedarah. Data ini mengejutkan karena dalam kehidupan keseharian standar moral manapun akan mengganggap bahwa tindakan tersebut sebagai sesuatu yang keliru dan terlarang. Namun, nyatanya data pencarian dalam situs penyedia video dewasa, justru hal terlarang itulah yang malah paling banyak dicari.

Hal ini menjadi pertanyaan tersendiri, mengapa dalam hidup sehari-hari di mana standar moral tidak mengakui hubungan seksual sedarah, tapi justru model hubungan demikianlah yang menjadi favorit. Melalui penelusurannya, Davidowitz berpendapat bahwa untuk kebanyakan orang, internet adalah tempat yang paling aman dan nyaman untuk mengekspresikan dirinya secara leluasa. Kondisi itu terjadi karena dalam hidup sehari-hari, banyak faktor seperti budaya, politik, hingga ekonomi yang kerap membatasi seseorang untuk mencurahkan apa yang ia rasa dan pikirkan.

Hubungan seksual sedarah, bagi standar moral tertentu bisa dikatakan keliru. Namun hal itu tidak bisa menutup aktivitas orang-orang yang memang selera seksualnya mengarah ke sana. Mereka yang seleranya terbatasi karena bertentangan dengan moral masyarakat, menyalurkan apa yang dirasa ke internet.

Kasus perempuan yang menceritakan kisahnya di grup ICJ di awal tulisan dapat menjadi sedikit gambaran mengenai hal di atas. Dalam hidup sehari-hari, keluhan seperti yang tertuang dalam postingan tersebut umumnya tidak dianggap sebagai sesuatu yang baik. Urusan rumah tangga biasanya dipandang hanya menjadi urusan privat rumah tangga itu sendiri. Ada semacam anggapan bahwa masalah rumah tangga tidak perlu diceritakan keluar apalagi diumbar-umbar di mana-mana.

Situasi tersebut memaksa si perempuan untuk menyembunyikan apa yang ia rasa dan pikirkan tanpa bisa disalurkan sebagaimana mestinya. Hal itulah kemudian yang menyebabkan dirinya mencari ruang alternatif untuk menceritakan permasalahannya, tanpa harus memikirkan berbagai prasangka negatif jika ia bercerita langsung di luar dunia maya. Grup ICJ lalu dipilih dan menjadi tempatnya menumpahkan uneg-unegnya selama ini.

Contoh kasus seperti yang ada dalam grup ICJ di atas dapat dijumpai pula di banyak platform digital lain. Situs seperti Quora atau theasianparent.com merupakan dua situs yang kerap memuat berbagai cerita mengenai permasalahan keseharian yang kadang cukup sensitif apabila dibicarakan secara langsung. Bila kita membuka dua situs tersebut, akan mudah menjumpai banyak kisah personal, entah yang berhubungan dengan rumah tangga, seperti perselingkuhan, suami istri yang hubungannya renggang, urusan ranjang, atau tema lain. Semua tumpah ruah dalam situs tersebut.

Pada titik itu, pendapat Davidowitz bahwa orang kebanyakan cenderung berbohong dalam dunia nyata ada benarnya. Kita menampilkan wajah seakan-akan kita tidak menyukai sesuatu, padahal nyatanya suka. Kita menunjukkan wajah seakan-akan rumah tangga tidak ada masalah, padahal sebaliknya. Inilah kenyataan hari ini. Internet menjadi tempat terbaik di mana manusia bisa menampakan dirinya yang jauh berbeda dengan yang muncul di dunia nyata.
Mempengaruhi Perilaku

Berkembangnya fenomena di atas merupakan keniscayaan dari perkembangan teknologi informasi, yang oleh Eric Schmidt dan Jared Cohen disebut sebagai The New Digital Age. Dengan pesatnya kemajuan internet beserta segala platform digitalnya, membuat hampir semua orang di muka bumi saling berinteraksi dalam jagat digital. Merujuk pada data per September 2021, pengguna tiga media sosial yang berada di bawah naungan Facebook inc, seperti Whatsapp, Instagram, dan Facebook sudah berjumlah 6,3 miliar. Ini belum ditambah media sosial lain seperti Twitter atau Youtube yang penggunanya juga besar.

Data dari Facebook Group saja sudah menunjukkan bagaimana daya jangkau internet yang sangat luar biasa sekarang ini. Daya jangkau yang seluas itu pasti akan mempengaruhi perilaku orang-orang yang menggunakannya. Christian Fuchs dalam bukunya berjudul Digital Labour and Karl Marx (2014) mengatakan, dulu orang-orang menggunakan internet atau berselancar di dunia maya sebagai bentuk hiburan dari rutinitas sehari-hari. Kini dengan berkembangnya internet, memakai media sosial justru menjadi aktifitas rutin, bukan lagi semata hiburan. Perubahan pola ini nantinya akan membuat kita tidak bisa lepas dari internet dan media sosial.

Semua sendi kehidupan, mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali, tak ada yang tidak diperantarai oleh internet. Hal tersebut akan berdampak pada perilaku kita yang seperti didorong untuk mempublikasikan semua aktivitasnya di dunia maya. Perilaku demikian, pada ujungnya akan membuat batasan antara ruang privasi dengan privat menjadi kabur. Semua bercampur baur menjadi satu tanpa batasan yang jelas.

Berbagai cerita personal yang diungkapkan banyak orang di berbagai situs seperti Quora menjadi gambaran konkret situasi tersebut. Dengan internet, semua masalah yang sifatnya personal bisa berubah menjadi konsumsi publik ketika diunggah ke dunia maya.

Satu sisi kondisi ini berbahaya karena ruang privat akan semakin tergerus. Tapi di sisi lain, limpahan data yang tercatat di jagat digital dapat digunakan sebagai alat baru untuk membaca dan menghasilkan solusi atas berbagai persoalan kemanusiaan. Mengapa demikian? Karena seperti diungkap Davidowitz, pengguna internet biasanya cenderung berbohong ketika di dunia nyata dibanding di dunia maya.

Artinya, perilaku para pengguna internet yang cenderung jujur dan menampilkan dirinya apa adanya, dapat dipakai untuk keperluan penyusunan kebijakan, bisnis, atau mencari solusi atas banyak masalah sosial. Data dari internet bisa melengkapi data lapangan yang selama ini sudah jamak diperoleh melalui survei. Hal itu perlu mengingat dinamika survei yang terkadang responden tidak sepenuhnya menjawab secara jujur. Dengan data di internet, kita bisa mencocokkan data lapangan dengan data di dunia maya.

Di banyak tempat, penggunaan limpahan data sebagai basis penyusunan kebijakan atau keputusan dalam lembaga telah mulai dilakukan. Dalam dunia sepakbola, mulai banyak kesebelasan yang mengontrak ahli data untuk menganalisis data para pemain secara detil selama periode tertentu. Data itu kemudian dipakai oleh staf kepelatihan untuk menyusun strategi dalam pertandingan. Cara seperti ini dapat pula dipakai untuk bidang-bidang lain sesuai kebutuhan.

Penggunaan limpahan data di internet dalam kehidupan menjadi keniscayaan sebagai dampak langsung revolusi teknologi. Kehidupan umat manusia ke depan pastinya akan banyak dipengaruhi oleh hal ini. Kita tidak mungkin membatasi dan menghalangi keniscayaan sejarah tersebut. Yang mungkin dilakukan adalah mengatur dan mengawasi secara seksama, agar jangan sampai melimpahnya data di internet dipakai untuk keperluan negatif dan merugikan orang banyak. Harapannya semoga dengan pesatnya laju perkembangan teknologi, membuat kehidupan umat manusia semakin baik dan dapat bermanfaat untuk semuanya.

(mmu/mmu)