Kolom

Literasi Keuangan, Pandemi, dan Kemiskinan

Astrie Krisnawati - detikNews
Selasa, 16 Nov 2021 13:30 WIB
Cek BLT BPJS Ketenagakerjaan, Ini Caranya!
Foto ilustrasi: Grandyos Zafna/detikcom
Jakarta -
Melalui Keputusan Menteri Keuangan tanggal 29 Oktober 1946, ditetapkanlah emisi uang kertas pertama Indonesia yang bernama Oeang Republik Indonesia (ORI). ORI pertama kali berlaku secara sah pada 30 Oktober 1946. Dengan demikian, tanggal 30 Oktober diperingati sebagai Hari Oeang Republik Indonesia (HORI), atau sering pula disebut sebagai Hari Keuangan Nasional Indonesia. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menetapkan peringatan HORI ke-75 pada 30 Oktober 2021 dengan mengusung tema "Pulihkan Ekonomi, Wujudkan Kemenkeu Satu Yang Terpercaya, Menuju Indonesia Unggul dan Tangguh".

Tema tersebut menginspirasi upaya pemulihan ekonomi yang menjadi kepentingan seluruh masyarakat Indonesia untuk bangkit dari keterpurukan akibat resesi ekonomi yang timbul di era pandemi COVID-19. Salah satu upaya pemulihan ekonomi dapat dilakukan melalui agenda pengentasan kemiskinan. Isu kemiskinan masih menjadi "pekerjaan rumah" yang serius bagi Indonesia saat ini. Kemiskinan juga merupakan tantangan besar bagi Indonesia untuk mencapai tujuan pembangunan nasionalnya.

Bank Dunia menyatakan bahwa krisis global yang timbul akibat pandemi COVID-19 menyebabkan pencapaian tujuan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) menjadi terhambat, salah satunya yaitu upaya pengentasan kemiskinan atau poverty eradication (www.worldbank.org, 2021). Fenomena ini ditunjang pula oleh data BPS yang menunjukkan bahwa persentase penduduk miskin Indonesia PADA Maret 2021 mencapai 10,14% dengan jumlah penduduk miskin sebesar 27,54 juta orang, atau meningkat sebesar 0,36% poin dengan peningkatan jumlah penduduk miskin sebesar 1,12 juta orang dibandingkan pada Maret 2020 (www.bps.go.id, 2021).

Berkaitan dengan peringatan Hari Keuangan Nasional atau HORI ke-75, upaya pengentasan kemiskinan di Indonesia dapat dilakukan melalui peningkatan literasi keuangan masyarakat. Uang adalah alat pembayaran atau alat tukar yang sah yang digunakan oleh seluruh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Upaya pengentasan kemiskinan dengan memberikan bantuan kepada masyarakat berupa pemberian uang secara tunai melalui program Bantuan Langsung Tunai (BLT) adalah cara yang dianggap paling efektif saat ini.

Program BLT memang dirasakan sangat membantu kehidupan masyarakat saat ini; banyak masyarakat yang mengalami pengurangan penghasilan, atau bahkan kehilangan penghasilan sebagai imbas dari terpuruknya perekonomian akibat pandemi COVID-19. Namun akan jauh lebih baik jika program BLT disertai pula dengan program edukasi yang dapat meningkatkan literasi keuangan masyarakat Indonesia.

Menurut The Institute for Financial Literacy (2007) dan Houston (2010), literasi keuangan adalah kemampuan individu untuk menguasai pengetahuan pengelolaan keuangan yang terdiri dari konsep keuangan dasar dan pengelolaan arus kas (basic money management), cara memperoleh dan memanfaatkan pinjaman dana secara bijaksana (borrowing/debt management), perlindungan aset (risk management), serta perencanaan strategis untuk tabungan dan investasi (saving and investment). Literasi keuangan pada dasarnya adalah pengetahuan individu untuk mengelola keuangannya secara efektif dan efisien demi mencapai kesejahteraan hidup.

Pemberian bantuan uang tunai tanpa diiringi dengan edukasi keuangan sama halnya dengan memberikan ikan, bukan kail. Hal ini berpotensi mengakibatkan program tersebut tidak mencapai tujuannya untuk mengentaskan kemiskinan. Kepemilikan uang tanpa adanya pengetahuan pengelolaan keuangan yang memadai akan membawa masyarakat terjerumus pada pola konsumsi yang tidak efisien. Alokasi uang yang tidak terkelola dengan baik akan menyebabkan kesulitan bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokoknya secara berkelanjutan, dan pada akhirnya akan kembali membawa masyarakat pada kemiskinan.

Suatu ungkapan populer, Money cannot eradicate poverty, only education can yang dikemukakan oleh seorang jurnalis asal Afghanistan, M. F. Moonzajer menjadi sangat relevan dengan situasi terkini dalam upaya pengentasan kemiskinan di tengah pandemi. Hal ini sejalan pula dengan penjelasan seorang Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga, Prof. Dr. Bagong Suyanto, yang menyatakan bahwa masyarakat miskin tidak memperoleh pendidikan yang baik, sehingga sulit untuk meningkatkan daya saing dan kelas sosialnya di masyarakat. Mereka diberi bantuan, namun tidak diberikan pengetahuan untuk bertahan menghadapi struktur yang sangat kompetitif saat ini. Prof. Bagong juga menyatakan bahwa faktor utama penyebab kemiskinan bukanlah kemalasan, namun karena kurangnya modal sosial yang memadai (detikcom, 29 Oktober 2021).

Dalam beberapa literatur dan hasil penelitian di bidang keuangan, modal sosial terbukti menjadi mediator antara literasi keuangan dan inklusi keuangan. Modal sosial dapat diartikan sebagai nilai, norma, kepercayaan, dan jaringan sosial yang dimiliki bersama oleh sekelompok individu dalam suatu masyarakat (Coleman, 1988). Dalam kaitannya dengan keuangan, peningkatan literasi keuangan akan mampu mempengaruhi peningkatan inklusi keuangan secara signifikan jika terdapat modal sosial yang diyakini oleh masyarakat mengenai pengelolaan keuangan yang baik. Inklusi keuangan adalah kemampuan individu dan masyarakat dalam menjangkau dan mengakses layanan-layanan lembaga keuangan.

Peningkatan literasi keuangan masyarakat akan menyebabkan peningkatan pula pada inklusi keuangan yang pada akhirnya akan berperan dalam mengentaskan kemiskinan. Masyarakat yang mengusai pengetahuan dan pemahaman pengelolaan keuangan yang baik akan lebih mudah mengakses berbagai layanan keuangan yang disediakan oleh bank serta lembaga-lembaga keuangan lainnya dalam bentuk kemudahan bertransaksi melalui berbagai platform keuangan digital dan financial technology, kesempatan memperoleh kredit modal usaha dan pembiayaan mikro bagi industri UMKM, serta perencanaan keuangan jangka panjang melalui layanan tabungan dan investasi.

Terjangkaunya akses layanan keuangan bagi masyarakat secara luas tentu akan membantu masyarakat untuk lebih berdaya secara finansial dan ekonomi karena terbukanya peluang-peluang usaha yang kondusif. Hal ini dapat dicapai apabila masyarakat memiliki literasi keuangan yang memadai. Peningkatan literasi keuangan memiliki peran yang sangat penting dalam pemberdayaan masyarakat yang membuat masyarakat menjadi tangguh dalam memerangi kemiskinan yang merupakan dampak resesi ekonomi.

Astrie Krisnawati dosen dan peneliti pada Kelompok Keahlian Finance & Accounting Studies Fakultas Ekonomi & Bisnis Telkom University, alumnus program Doctor of Science in Management Institut Teknologi Bandung

(mmu/mmu)