Kolom

Wajah Bangsa di Hari Kesehatan Nasional

Jagaddhito Probokusumo - detikNews
Jumat, 12 Nov 2021 11:56 WIB
eorang seniman melukis mural di kolong Tol Wiyoto Wiyono, Jakarta Timur, Rabu (2/12/2020). Nantinya akan ada 100 tiang TOL yang akan dimural dengan gambar protokol kesehatan.
Ilustrasi (Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom)
Jakarta - Ada kisah istimewa di hari ini, 12 November, 62 tahun yang lalu. Dalam perjalanan pulang dari Solo ke Jakarta melalui pangkalan udara Adisutjipto, Presiden Soekarno dijadwalkan singgah di rumah Darsono, seorang guru SD di Desa Kringinan, Kecamatan Kalasan, Daerah Istimewa Jogjakarta (DIY). Agendanya untuk memberikan komando nasional pemberantasan malaria. Waktu itu, DIY bersama Jawa Tengah dan Lampung paling berat dilanda malaria di Indonesia.

Setelah beristirahat sebentar di Balai Desa Tirtomartani, dengan berjalan kaki Bung Karno menuju rumah Darsono. Didampingi Drs Soegiosaputro selaku Kepala Dinas Pembasmian Malaria Provinsi DIY, Presiden Soekarno kemudian menyemprotkan cairan Dichloro Diphenyl Trichloroethane (DDT) ke dinding ruang dalam rumah Pak Darsono yang terbuat dari gedek (anyaman bambu).

Penyakit malaria yang ditularkan nyamuk anopheles saat itu menjadi masalah kesehatan utama masyarakat Indonesia. Ini penyakit rakyat yang banyak menimbulkan kesengsaraan dan kematian. Bila tidak diberantas secara nasional, kata Presiden Soekarno, "akan dapat mengurangi kekuatan bangsa". Dan, hari pencanangan penyemprotan antimalaria itu kini diperingati jadi Hari Kesehatan Nasional.

Kegentingan akibat malaria saat itu bisa dibandingkan dengan kita yang hidup di era pandemi Covid-19. Menurut data Kemenkes per tanggal 10 November 2021 saat ini terdapat 4.249.323 kasus positif, 4.096.194 sembuh, dan 143.592 meninggal dunia karena Covid-19 di Indonesia.

Sedangkan di tahun 1955-1959, menurut buku Sejarah Pemberantasan Penyakit di Indonesia oleh Direktorat Jenderal Pengendalian, Penyakit dan Penyehatan Lingkungan tahun 2007, penyemprotan secara berkala dengan DDT yang dibantu WHO (World Health Organization) itu digunakan melindungi 30 juta jiwa penduduk Indonesia yang terkena wabah malaria dengan ratusan ribu jiwa korban meninggal akibat malaria. Kalau sekarang Covid-19 dicegah dengan vaksinasi massal, dulu penyemprotan DDT-lah yang dimassalkan.

Untuk penyemprotan itu, pemerintah Indonesia juga bekerja sama dengan pemerintah Amerika melalui USAID, mencanangkan Komando Pembasmi Malaria (Kopem). Kopem merupakan satgas Departemen Kesehatan dengan tugas khusus membasmi penyakit malaria. Penugasannya melalui Keppres Nomor 118 tahun 1959. Sebagai tindak lanjut dari Keppres dan komando pemberantasan malaria, dibentuk Panitia Negara Urusan Pembasmian Malaria yang diketuai oleh Menteri Kesehatan Mayjen TNI dr Satrio. Anggota panitia terdiri dari unsur-unsur Departemen Dalam Negeri, Pertahanan, Penerangan, Perburuhan, Pelayaran, Keuangan, Biro Perancang Nasional serta perguruan tinggi. Pelaksanaannya dilakukan Kopem yang berada di daerah-daerah.

Komponen Terpenting Ketahanan

Saat ini kondisi Indonesia jelas berbeda dibandingkan 62 tahun yang lalu. Transisi epidemiologi dari penyakit menular ke penyakit tidak menular cukup signifikan. Dulu penyakit menular seperti malaria, TBC, diare, ISPA mendominasi. Sekarang malaria masih merundung manusia, namun lebih banyak di wilayah Afrika yang setiap menit satu orang meninggal. Sedangkan kondisi saat ini penyakit tidak menular seperti penyakit jantung koroner, stroke, kanker dan gagal ginjal menjadi penyebab utama kematian di Indonesia. Gaya hidup tidak sehat semakin dominan dalam memicu penyakit. Ditambah lagi dengan adanya pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia termasuk Indonesia.

Posisi Indonesia dalam peta kesehatan dunia perlu dicermati. Laporan Indeks Daya Saing World Economic Forum (WEF) 2018-2019 menunjukkan, bahwa kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia pada posisi ke-96 dari 141 negara. Jauh tertinggal dari negara-negara ASEAN lainnya seperti Singapura (1), Thailand (38), Malaysia (66) dan Vietnam (71).

WEF menilai pembangunan pilar kesehatan dan pendidikan di Indonesia menunjukkan kondisi berkebalikan dengan tren negara-negara ASEAN. Data ini menunjukkan bahwa sebelum pandemi Covid-19 pelayanan kesehatan di Indonesia sudah memiliki masalah. Negara ASEAN lain telah melakukan investasi pembangunan manusia secara tepat, sedangkan kita masih belum menemukan "formula" yang tepat. World Bank memperingatkan Indonesia aspek kesehatan dan keahlian tenaga kerja Indonesia perlu mendapat perhatian.

Laporan bidang kesehatan itu sejalan dengan Indeks Daya Saing WEF umumnya. Yakni, Indonesia ada di peringkat 50 dari 141 negara (2019) turun 5 peringkat dari peringkat 45 tahun 2018. Indonesia masih berada di bawah Thailand (40), Malaysia (27) dan Singapore (1) di Asia Tenggara. Jadi, kondisi kesehatan SDM kita sangat jelas berimpit dengan kemampuan berkompetisi dalam produktivitas dalam lapangan kehidupan. Setelah pandemi hampir dua tahun, wajah kompetitif bangsa kita bisa makin berat.

Tahun ini Kemenkes mencoba menyemangati dengan mengangkat tema Sehat Negeriku Tumbuh Indonesiaku. Sudah semestinya hikmah pandemi Covid-19 ini telah menyadarkan kita, meneguhkan "revolusi mental", bahwa pembangunan manusia adalah investasi terpenting dari suatu negara. Alangkah repotnya ketika kondisi sangat banyak orang sakit atau terancam sakit. Semua sektor kehidupan seperti mengerem mendadak dan tak bisa berkembang leluasa. Ini sekali lagi membuktikan sumber daya manusia (SDM) adalah kunci dari keberhasilan negara dalam membangun masa depannya dan bukan sumber daya alam (SDA). Bila kesehatan banyak gangguan, seperti kata Bung Karno di atas, "akan dapat mengurangi kekuatan bangsa".

Pengembangan dan revitalisasi sistem kesehatan nasional yang solid, adaptif dan tanggap bencana mulai dari layanan primer, sekunder dan tersier adalah suatu keniscayaan. Begitu juga sikap proaktif dan partisipatif segenap warga dalam mementingkan kesehatan jiwa raga juga menjadi faktor penentu. Dengan demikian, Hari Kesehatan Nasional yang dirayakan 12 November setiap tahun menjadi aktualisasi dan pengingat tentang pentingnya kesehatan sebagai komponen terpenting ketahanan bangsa. Hanya Rakyat Indonesia yang sehat dapat mewujudkan negara Indonesia yang kuat di segala bidang.

Sehat dulu, baru Indonesia akan tumbuh dengan langkah yang gagah.

Jagaddhito Probokusumo, Koordinator Tim Bantuan Residen Tim Mitigasi Dokter PB IDI (mae/mae)