Kolom

Ilmuwan, Media, dan Literasi Sains

Rizko Hadi - detikNews
Jumat, 12 Nov 2021 14:15 WIB
Logo National Geographic
Foto ilustrasi: Dok. National Geographic/Depositphotos/Brightside
Jakarta -

Pandemi Covid telah menunjukkan kepada kita betapa buruknya literasi sains masyarakat Indonesia. Hoax sains begitu mudah menyebar di WAG keluarga dan di media sosial. Sebagian besar dari manusia bangsa ini main langsung percaya saja kepada tulisan dan video yang diteruskan dari orang ke orang, tanpa merasa perlu menngecek validitas atau kebenaran. Cukup dengan membaca atau mendengar kata "ilmuwan" dalam sebuah tulisan atau video, otomatis tulisan atau video tersebut dianggap benar, tanpa pernah memastikan apakah sang "ilmuwan" tadi benar-benar ilmuwan.

Akibatnya, sikap sosial yang salah berkaitan sains jadi merajalela. Dalam kasus Covid, misalnya, banyak orang yang akhirnya beranggapan bahwa vaksin itu berbahaya atau minima, tidak perlu dilakukan.

Di sisi lain, masih ada yang beranggapan bahwa para ilmuwan berada terlalu tinggi di menara gading. Sebagian orang mengistilahkan bahwa para ilmuwan tidak membumi, terlalu tinggi di langit. Apa yang mereka telah lakukan dan capai dalam proses keilmuwanan tidak terserap, tidak tercapai, dan tidak dimengerti oleh masyarakat umum.

Ilmuwan terjebak dalam dunianya, masyarakat umum berada di dunia yang lain. Bisa jadi ini karena kurangnya publikasi. Tapi bisa jadi juga karena kekurangmampuan dalam berkomunikasi.Sungguh sebuah paradoks. Masyarakat langsung main percaya pada apa yang disebut "kata ilmuwan", padahal ilmuwan yang sesungguhnya ilmuwan tidak terpublikasi. Atau kalaupun terpublikasi, kata-kata mereka tidak dipahami.

Jembatan

Pada masa Covid baru-baru hadir dan mengganas di Indonesia, saya paling suka dan menanti-nanti salah satu channel TV yang menayangkan acara diskusi panel antarahli. Di acara tersebut dihadirkan ilmuwan yang mendalami ilmu pervirusan dan dokter paru.

Diskusi mereka menurut saya asyik diikuti, mungkin karena latar belakang ilmu saya mirip. Acara tersebut pun ditayangkan ulang. Beberapa hari kemudian dari acara tersebut, video rekamannya juga beredar di WAG dan media sosial. Orang-orang umum mengikuti, membaca, dan menyebarkan lebih jauh. Pada titik ini, media menjadi jembatan antara ilmuwan dan masyarakat.

Saya juga merupakan penggemar channel dan acara sains di layar kaca, serta rubrik sains di media cetak. Sejak masa sekolah menengah, saya menghabiskan waktu sore sepulang dari sekolah dengan menonton National Geographic. Saya yakin juga banyak dari kita yang mengenal Discovery Channel. Tayangan mereka memukau dan dekat, dengan bahasa sehari-hari yang biasa kita gunakan, bukan bahasa jargon ilmiah. Kalaupun ada jargon ilmiah, mereka pandai menjelaskannya dengan ilustrasi yang menarik dan mudah dipahami.

Rubrik sains di media cetak juga menarik karena mengabarkan perkembangan terbaru dunia sains. Hanya saja, menurut saya, sering penjelasannya terlalu singkat dan tidak konstekstual. Mungkin porsi halamannya terlalu sedikit. Atau bisa jadi, menurut kabar yang saya dengar, jurnalisnya memang tidak terbiasa dengan sains.

Selain kabar perkembangan sains dari luar negeri, media-media di Indonesia juga perlu dalam jumlah banyak mempublikasikan dan memberi ruang bicara untuk ilmuwan dari dalam negeri. Agar masyarakat terbiasa dengan bacaan sains. Supaya terbangun juga kebanggaan anak-anak negeri. Sehingga ilmuwan Indonesia dapat membumi dan dekat dengan masyarakatnya.

Komunikasi

Tentu saja, beban meningkatkan literasi sains masyarakat tidak hanya berada di pundak media dan pegiatnya. Yang paling utama adalah para ilmuwan sendiri. Merekalah sejatinya yang paling memahami apa yang mereka lakukan dan kembangkan. Masalah berikutnya adalah maukah dan mampu kah para ilmuwan ini mengkomunikasikan penelitian mereka ke masyarakat?

Sebenarnya, para akademisi juga mendapatkan tuntutan untuk menyebarkan ilmu mereka. Salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi adalah pengabdian masyarakat. Ini sudah bagus. Belakangan juga marak kampus-kampus mengadakan webinar. Tren ini semakin baik lagi, perlu diteruskan, dan ditingkatkan. Publikasi sains populer harus diperbanyak oleh kalangan ilmuwan. Agar tidak ada lagi tanggapan miring ilmuwan berada di menara gading.

Supaya ilmuwan semakin bergairah untuk publikasi populer, mungkin perlu juga suntikan semangat berupa insentif, seperti yang terjadi untuk publikasi ilmiah di jurnal bereputasi internasional. Agar mereka berlomba-lomba. Atau minimal sejak jenjang doktoral, sudah diwajibkan untuk menulis di media massa, sebagai syarat kelulusan mata kuliah, seperti yang saya alami.

Adapun masalah kemampuan melakukan komunikasi ilmiah populer, tentu saja perlu dilatih, secara mandiri ataupun kolektif berupa pelatihan. Tetapi tentu saja tidak semua ilmuwan harus mampu mengkomunikasikan penelitian mereka. Rasanya tidak adil juga bila memaksakan kondisi ideal pada ilmuwan. Mereka sudah susah berkecimpung dalam dunia sains yang rumit, dituntut pula bersosial dengan komunikasi awam yang ribet.

Maka untuk ilmuwan yang memiliki kesulitan seperti ini, perlulah kiranya pendampingan dari mereka yang memang pandai berkomunikasi, yakni para jurnalis dan komunikator sains. Sudah ada organisasi yang menginisiasi ini, tinggal berkoordinasi saja. Ilmuwan melakukan penelitian dan menjelaskan ke pendampingnya dari kalangan jurnalis atau komunikator sains, kalangan ini yang kemudian menceritakan ke masyarakat.

Dengan begini, pada akhirnya, literasi sains masyarakat akan meningkat sedikit demi sedikit. Hoax sains tidak mudah lagi bertebaran. Perilaku masyarakat dengan demikian akan terpandu dengan prinsip ilmiah yang benar.

Sebagai penutup saya ingin berbagi cerita yang pernah dibagikan oleh dosen saya pada sebuah kuliah. Pada satu kesempatan, dia bertanya pada koleganya yang berasal dari disiplin ilmu berbeda, bagaimana pendapatnya tentang biologi. Koleganya menjawab kira-kira begini, "Wah, saya tidak mengerti ilmunya itu, Pak. Evolusi dan lain sebagainya itu. Tetapi kalau saya menonton acara tentang itu di National Geographic atau Discovery mesti saya tonton sampai habis itu."

Kalau sesama ilmuwan beda bidang saja memerlukan bantuan publikasi ilmiah populer untuk literasi sains, apalagi masyarakat awam.

Rizko Hadi mahasiswa doktoral Fakultas Biologi UGM

(mmu/mmu)