"Selfie" dan Korban Bunuh Diri

ADVERTISEMENT

Kolom

"Selfie" dan Korban Bunuh Diri

Endah Widyawati - detikNews
Jumat, 12 Nov 2021 13:00 WIB
Beautiful young woman taking a selfie with phone
Foto ilustrasi: thinkstock
Jakarta -

"Pak, ada warga mengontrak gantung diri," kata Pak RT kepada suami saya.

Karena suami saya pengurus RW, dia pun ikut sibuk dengan kejadian itu. Korban bunuh diri adalah seorang perempuan muda yang punya bayi dua bulanan. Dari surat yang ditinggalkannya, terkuak bahwa dia mempunyai utang pinjol, yang tidak pernah disampaikannya kepada siapa pun.

Setelah urusan kepolisian dan visum selesai, jenazah pergi bersama suara ambulans yang meraung, dibawa keluarganya pulang kampung.

Ada jejak yang tertinggal....

Di grup WA RW muncul foto selfie seorang tetangga sedang berdiri di samping kaki yang bergelantungan.

"Ih, nggak pantes," komentar seorang ibu.

"Hapus dong. Serem ah!" kata yang lain.

***

Hampir semua orang yang punya ponsel pintar pernah melakukan selfie, dan kemudian mengunggah di media sosial atau perpesanan teks. Selfie merupakan kenormalan masa kini. Dibanding dengan jutaan kata lain dalam bahasa Inggris, "selfie" baru muncul pada 2013 di Kamus Oxford.

Kata "selfie" pertama kali digunakan pada 2002. Hopey, orang yang pertama menuliskan kata itu, lebih bermaksud untuk berkonsultasi di forum sains TV ABC. "Saya mabuk dan terjatuh. Bibir bawah saya terkena anak tangga, sehingga sobek satu senti," tulisnya.

"Apakah membasahi bibir dengan lidah akan membuat jahitan lebih cepat menyatu dengan kulit?"

Hopey tidak bermaksud untuk mendapatkan perhatian. Satu-satunya kesan adanya unsur "pamer" adalah tawarannya untuk melihat foto dirinya melalui suatu tautan. "Anyone wanna see a picture of it? It's pretty cool." Tentang fotonya, dia menambahkan, "Sorry about the focus. It was a selfie."

Akhiran –ie pada kata "selfie" merupakan pemendekan kata yang biasa muncul pada bahasa Inggris Australia. Misalnya, "barbecue" jadi "barbie", "firefighter" jadi "firie". Dengan pemendekan itu ada kesan cute dan ringkas. Kesan ini yang terkandung pada kata "selfie". Selfie dilakukan dengan cepat dan untuk lucu-lucuan.

Di dalam kata selfie, ada makna yang bergerak: diri sendiri dan sosial. Dengan selfie, seseorang memusatkan perhatian kepada dirinya, dan kemudian menunjukkannya kepada dunia luar. Keinginan menonjolkan diri ini terkait dengan Era Me-Me-Me yang sedang berlangsung saat ini. Era ini memungkinkan seseorang untuk memamerkan diri dengan berkembangnya sosial media.

Ada kondisi kesehatan mental yang menonjol: keinginan diperhatikan. Kata "selfie" tak jauh dari "selfish", kan? Mementingkan diri sendiri. Di feeds Instagram saya berseliweran foto selfie kenalan di tempat liburan, di balkon barunya, dan apa boleh buat, saya pun kerap melakukan "pamer tipis-tipis" dengan buku atau tanaman saya.

Selfie merupakan bagian dari komunikasi visual. Kita mengajak orang lain untuk melihat apa yang kita lihat. Saat melakukan selfie kita seperti "ditemani" karena ketika klik dilakukan, di kepala kita ada orang-orang yang akan melihat foto itu.

Dalam perkembangannya, keinginan itu menjadi tidak sekadar pamer barang baru, tetapi juga peristiwa yang mengerikan, seperti bunuh diri. Foto selfie di area bunuh diri pernah muncul di akun Facebook seorang kader parpol di Pulau Jawa. Dengan wajah tersenyum, kader parpol tersebut berfoto di depan mayat yang masih tergantung pada tali.

Baik tetangga saya maupun kader parpol itu berada dalam situasi yang sudah tidak bisa diperbaiki karena korban sudah tewas. Namun ada yang lebih parah lagi: berfoto dalam situasi percobaan bunuh diri.

Di Instagram pernah ada foto yang menunjukkan sekumpulan orang dengan latar jembatan di Los Angeles. Di atas jembatan ada petugas petugas tengah membujuk seseorang agar tidak terjun dari jembatan. Orang-orang yang berfoto itu menunjukkan wajah tersenyum, sehingga menuai kritik.

The Selfie-ish adalah headline surat kabar New York Post pada 2013 yang memperilihatkan seorang turis berfoto di depan Brooklyn Bridge. Dia tersenyum mengarahkan kameranya kepada dirinya. Di latar belakang ada petugas kepolisan yang tengah membujuk seseorang dari percobaan bunuh diri.

Bagi siapa pun bunuh diri adalah peristiwa yang mengoyak hati. Tidak hanya cara tragis yang diambil seseorang untuk pindah ke alam lain, tetapi juga adanya alasan pribadi yang pasti sangat mendalam dan tidak mudah diselesaikan. Aura negatif itu pastinya memunculkan berbagai emosi bagi orang yang ada di TKP.

Ketika seseorang melakukan selfie di depan korban bunuh diri, ada kemungkinan itu adalah mekanisme koping yang dilakukannya untuk mengatasi emosinya. Dengan ber-selfie, ia merasa kelak akan ada teman berbagi tentang sebuah peristiwa tragis. Kalau seseorang tersenyum saat berfoto, ada kemungkinan ia menutupi perasaan yang sesungguhnya.

Di alam bawah sadar orang yang berfoto di dekat korban bunuh diri sesungguhnya tengah berlangsung survival selfie. Peristiwa kematian bunuh diri akan memunculkan mortality salience (kesadaran akan kematian sendiri). Selfie yang dilakukan menjadi semacam cara untuk menyelamatkan identitas dirinya bahwa ia baik-baik saja.

Foto di depan korban bunuh diri yang muncul di grup Whatsapp RW saya sesungguhnya tidak hanya menyelamatkan orang yang melakukan foto selfie, tetapi siapa pun yang pernah melihat foto itu. Setelah munculnya protes, foto itu segera dihapus oleh pengunggahnya. Kami tidak membahasnya lagi.

Namun perlu diakui, sesaat ketika foto itu muncul, ada momen tak terucapkan bagi kami untuk menyalurkan kesedihan telah luput menolong tetangga yang kesulitan. Di dalam hati saya pribadi merayap mortality salience, dan terucapkan janji di dalam hati akan menjaga kesempatan hidup sebaik mungkin.

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT