Teknologi dan Persiapan Pascapandemi

ADVERTISEMENT

Kolom

Teknologi dan Persiapan Pascapandemi

Arga Pribadi Imawan - detikNews
Rabu, 10 Nov 2021 15:16 WIB
Young asian woman wearing surgical mask shopping in clothes store at the mall, New normal and lifestyle concept
Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/kitzcorner
Jakarta -
Perlahan tapi pasti, angka persebaran Covid-19 mulai menurun. Persiapan menyambut kenormalan baru telah berada di depan mata. Pemberlakuan sistem pembelajaran offline telah menjadi tandanya. Perlahan, bangku sekolah dan perkuliahan membuka pintu dengan tetap menjaga protokol kesehatan. Jaga jarak dan penggunaan masker tetap ditegakkan. Proses interaksi langsung pun bukan saja menjadi angan tetapi sudah menjadi capaian.

Namun, siapa sangka bahwa kenormalan baru tidak saja mengubah kita dalam kehidupan, seperti jaga jarak dan menggunakan masker ketika berinteraksi? Kenormalan baru juga ditandai dengan perubahan cara berinteraksi manusia dengan teknologi.

Prediksi dimulai kehidupan kenormalan baru ini membuka memori kita dua tahun yang lalu. Dua tahun silam, kata 'panik' menjadi kata yang tepat dalam menggambarkan situasi pandemi Covid-19. Tersebarnya virus yang dimulai di wilayah Wuhan, Cina telah membuat seluruh negara merasakan dampak besar. Dampak yang besar ini kemudian menimbulkan suasana tidak terkendali di momentum awal persebaran virus. Hal ini menjadi sesuatu yang wajar mengingat pandemi virus dalam skala global, yaitu wabah flu Spanyol, terakhir kali dialami pada Februari 1918 hingga April 1920.

Pandemi ini kemudian mengubah banyak aspek dalam kehidupan manusia, salah satunya pandangan kita untuk bergantung kepada teknologi komunikasi. Di Indonesia, sistem pembelajaran yang semula bertatap muka, berubah menyeluruh menjadi sistem pembelajaran online. Negara Belanda menerapkan sistem pendidikan hibrid dengan menggabungkan pembelajaran offline dan online. Sistem hibrid ini dilakukan dengan penerapan protokol kesehatan yang sangat ketat, semisal menempatkan garis jaga jarak antara satu individu dengan individu lainnya.

Apapun bentuknya, pandemi Covid-19 telah mendorong kita untuk berjalan beriringan dengan teknologi komunikasi. Kita tidak bisa menolak dalam ketergantungan ini. Justru kita 'dipaksa' untuk menggunakannya mengingat kondisi yang tidak memungkinkan kita untuk berinteraksi langsung.

Sosiologi Ekspektasi

Penurunan kasus Covid-19 telah membawa angin segar bagi cara kita berinteraksi. Indonesia telah menerapkan kebijakan pembelajaran tatap muka seiring penurunan kasus yang drastis. Penerapan langkah ini telah membuat kita berpikir ulang tentang nasib teknologi komunikasi yang telah kita memberi kita ruang untuk berinteraksi dengan individu lainnya. Akankah kondisi kita selama ini yang telah berjalan berdampingan dengan penggunaan teknologi akan menghilang seiring dengan kenormalan baru dengan ditandai mulai diterapkannya sistem pembelajaran offline?

Jawabannya tidak, apabila kita melihat dengan perspektif sociology of expectations (SOE). Ide dasar SOE menjelaskan tentang respons dari masyarakat atas interaksi dengan teknologi. Semakin kompleks sistem maupun jaringan teknologi, memunculkan kesukaran bagi masyarakat dalam merespons. Penggunaan perspektif ini telah menjadi perhatian mendalam bagi penggiat studi Science and Technology Studies.

Misalnya, Van Lente, H., & Rip, A. (2012), pioner tentang SOE telah memprediksikan bahwa peran teknologi mengambil alih kehidupan kita dengan ditandai penggunaan big data sebagai basis analisis prediktif dalam penelitian maupun kebijakan pada 2012 dan akan menjadi 'kenormalan baru' dalam penggunaan teknologi. Dasar argumen ini muncul dengan melihat kondisi perkembangan teknologi yang terus menerus meningkat tatkala Facebook didirikan 2004 dengan memanfaatkan jaringan internet yang mulai menguat dari tahun ke tahun semenjak 1990-an.

Namun, kondisi masyarakat saat itu tidak merespons perkembangan itu dengan maksimal. Hal ini disebabkan karena pengetahuan manusia untuk berinovasi dengan medium teknologi tidak kreatif. Ekspektasi 'kenormalan baru' teknologi ini kemudian runtuh dan mengakibatkan teknologi terus berkembang dalam 'bayangan' atau tidak terlihat.

Lebih dari 10 tahun lamanya, Indonesia tidak merespons perkembangan teknologi ini. Baru memasuki 2010-an hingga sekarang, bermunculan ragam start-up teknologi. Gagasan untuk mendorong untuk keterbukaan data dari pemerintah (open government data) yang dipergunakan sebagai basis kebijakan pun turut didorong.

Terjadinya pandemi Covid-19 juga telah mendorong perubahan drastis kondisi interaksi masyarakat dengan teknologi, semisal pemanfaatan aplikasi Zoom untuk melakukan rapat. Pandemi telah memutarbalikkan kondisi kita semula yang telah stabil untuk tidak terlalu bergantung dengan teknologi menjadi bergantung pada teknologi. Tanpa kita sadari, selama kurun dua tahun lamanya, dimensi kultural masyarakat kita telah membentuk habit maupun stabilisasi baru dalam pemanfaatan teknologi.

Dipaksa Siap

Dari pemaparan di atas, kita mengetahui bahwa teknologi telah berkembang dengan pesat sejak internet mulai dikenal di era 1990-an. Kondisi kultur masyarakat yang tidak siap membuat teknologi tetap berkembang di bawah 'bayang-bayang'. Pandemi Covid-19 mengubah itu semua dan mendorong masyarakat kita untuk 'dipaksa' siap. Kondisi sosial saat ini telah membentuk kita untuk berdamai dengan teknologi. Oleh karenanya, kenormalan baru yang tengah diupayakan turut menumbuhkan interaksi masyarakat dengan teknologi yang kian harmonis.

Prediksi ke depannya, teknologi tetap menjadi medium yang digunakan walaupun kenormalan baru dengan ditandai interaksi offline tengah dilakukan. Masyarakat akan tetap menggunakan teknologi komunikasi dalam kegiatan pembelajaran, misalnya. Tantangan selanjutnya terletak pada perkembangan teknologi yang semakin cepat. Bagaimana masyarakat akan meresponsnya? Langkah apa yang sewajarnya ditempuh agar kita tidak tergerus dalam perkembangan teknologi? Diskusi tentang ini perlu menjadi perbincangan publik untuk dapat menghindari risiko yang didapat melalui penggunaan teknologi.

Arga Pribadi Imawan peneliti Research Centre for Politics and Government (PolGov) Universitas Gadjah Mada

(mmu/mmu)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT