Narasi Digital Kepahlawanan

ADVERTISEMENT

Kolom

Narasi Digital Kepahlawanan

Zudan Rosyidi - detikNews
Rabu, 10 Nov 2021 14:26 WIB
Bangkok, Thailand - JUN 18, 2018: social medial app iPhone mobile phone with blue screen background technology business smartphone digital communication facebook and internet editorial
Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/Wiyada Arunwaikit
Jakarta -

Peringatan Hari Pahlawan 10 November identik dengan teks-teks kepahlawanan yang berisikan perjuangan arek-arek Suroboyo dalam melawan tentara Inggris. Teks-teks yang beredar dipastikan tidak lepas dari peristiwa heroik seperti pidato Bung Tomo, perobekan bendara Belanda di Hotel Yamato, pertempuran di bawah Jembatan Merah, dan terbunuhnya Brigadir AWS Mallaby. Selama puluhan tahun, beberapa fakta pertempuran di Surabaya ini menjadi kepingan-kepingan teks sejarah yang selalu direproduksi setiap tahun. Masing-masing kepingan dikoneksikan satu sama lain sehingga menghasilkan satu teks pengetahuan yang sama dalam memori masyarakat. Pahlawan adalah mereka yang berjasa bagi negara dan bangsa Indonesia.

Bentuk teks pengetahuan yang berbeda muncul seiring dengan kehadiran media baru (new media) seperti Twitter, Facebook, weblog, TikTok, Instagram, dan lain-lain. Keberadaan media yang memampukan setiap individu merajut teksnya sendiri ini membawa perubahan paradigmatik kepahlawanan yang ditandai dengan hadirnya gagasan baru yang dikonstruksi berdasarkan kepingan-kepingan pengalaman individualistik yang sama sekali tidak berkaitan dengan nilai kebangsaan, yaitu mengkaitkan kehidupan asmara dengan pahlawan. Pada 2019, seorang pemilik akun Twitter menulis, "Selamat Hari Pahlawan, Dik Pahlawan hatiku, bahwa kemerdekaan dan hubungan ini adalah sama, wajib sama2 dipertahankan".

Pengetahuan kepahlawanan baru yang berkembang di masyarakat digital ini lambat laun dapat memudarkan nilai kebangsaan sebagai salah satu unsur pembentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Seperti yang ditulis secara implisit oleh Benedict Anderson, Indonesia adalah penyatuan kepingan-kepingan rasa kebangsaan yang tumbuh diantara individu-individu di seluruh wilayah Hindia Belanda sebagai bentuk respons atas kolonialisme. Masing-masing individu itu kemudian mentransformasikan dan membagikan pengalaman dan pengetahuannya selama berada di bawah kekuasaan kolonial kepada individu-individu lain sehingga lambat laun muncul satu imagined community yang dinamakan Indonesia.

Mengidentifikasi Sebab

Pengetahuan kepahlawanan yang termediasi platform media sosial menjadikan keberadaan suatu teks dapat terkoneksi dengan kepingan teks lain. Keterhubungan itu tidak selalu terkait dengan fakta perjuangan bangsa di masa kemerdekaan, namun juga dapat kepingan-kepingan kehidupan sosial yang lebih beragam. Konstruksi teks ini sangat dimungkinkan terjadi karena keterhubungan di antara pemilik akun media sosial sehingga apapun yang dibagi dapat dibaca oleh yang lain secara cepat dan berpotensi untuk mengalami reproduksi meskipun konten di dalamnya tidak sesuai dengan gagasan baku yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Reproduksi atas bentuk pengetahuan kepahlawanan baru ini tidak lepas dari dua hal. Pertama, setting waktu pembuatan teks yang jauh dari tahun 1945 sehingga peristiwa heroik yang mengikuti kemerdekaan Indonesia itu hanya sebagai sebuah informasi atau pengetahuan semata. Artinya, nilai kepahlawanan dapat berkembang dan dilupakan dari memori masyarakat sesuai dengan kepentingan dan kebermanfaatan yang bersifat individual. Prinsip ini lebih mengemuka dibandingkan nilai pemersatu yang ada pada satu peristiwa kepahlawanan.

Kedua, kekinian bentuk representasi individu yang lebih banyak terbantu teknologi media digital yang menjadikan mereka terhubung dan sekaligus menjadi bagian dari arus teks tersebut. Gagasan kepahlawanan adalah konsep yang cair. Tidak heran jika momentum Hari Pahlawan yang biasanya dinarasikan dalam epos perjuangan, tiba-tiba disandingkan dengan romantisme asmara. Secara bebas para pemilik akun merelasikan perjalanan cerita percintaannya dengan nilai kepahlawanan. Narasi ini didukung pula dengan logika yang tepat untuk melegitimasi bahwa relasi personal adalah bagian dari gagasan kepahlawanan.

Salah satu yang membuat cepat reduplikasi teks kepahlawanan baru ini adalah gaya bahasa puitis yang dipergunakan. Mereka juga menulis secara singkat, padat, dan mengena dengan konteks jejaring yang didominasi oleh para kaum muda. Cenderung menghindari deskripsi teks yang panjang karena selain dibatasi oleh jumlah kata yang dapat diunggah dalam platform media, mereka juga memahami bahwa jejaring di media baru tidak suka membaca terlebih lagi dengan jenis teks panjang.

Kondisi ini dapat terbaca dari hasil riset UNESCO yang menempatkan Indonesia berada pada posisi dua dari bawah sebagai negara yang minat bacanya rendah dan laporan lembaga We Are Social yang menunjukkan bahwa Indonesia sebagai negara yang paling aktif dalam penggunaan media sosial Twitter.

Dalam hal strategi bahasa, teks kepahlawanan ini sangat kontras ketika dibandingkan dengan buku-buku sejarah, baik untuk kepentingan pendidikan maupun umum. Buku-buku tersebut lebih cenderung menyajikan satu kejadian atau peristiwa yang mengiringi kemerdekaan Indonesia dalam bentuk deskripsi yang rumit dengan bahasa yang bersifat akademis.

Merumuskan Tindakan

Untuk sampai pada rumusan tindakan yang perlu dilakukan untuk menandingi pengetahuan kepahlawanan yang individualistik ini, pemerintah perlu memperhatikan struktur sosial dan sekaligus individu-individu yang beraktivitas di ruang digital berbasis internet.

Pertama, struktur masyarakat digital yang cair. Tidak ada batas yang dapat menghalau laju informasi atau pengetahuan dalam masyarakat ini. Bahkan tindakan tegas pemerintah dalam bentuk pengawasan dan pemblokiran tidak cukup efektif untuk menghambat laju suatu konten di media sosial. Masyarakat dengan cepat dan mudah melakukan ko-kreasi dan ko-produksi untuk menyamarkan teks yang diblokir meskipun hanya bersifat sesaat.

Struktur masyarakat digital yang terbuka dengan semua bentuk pengetahuan ini berimplikasi bahwa strategi untuk menanganinya juga dengan cara yang sama. Pengetahuan harus dilawan dengan pengetahuan. Pemerintah harus memproduksi sebanyak mungkin konten kepahlawanan dalam bingkai kebangsaan. Pemerintah tidak cukup hanya hadir dalam ruang lama seperti dalam muatan materi pendidikan dan seremonial peringatan Hari Pahlawan saja. Model ini hanya menjadikan peristiwa tersebut sebagai sebuah informasi dan kegiatan sesaat yang berakhir pada tahapan evaluasi dalam satu pembelajaran atau upacara peringatan hari Pahlawan.

Kedua, bahwa pengguna media sosial didominasi oleh subjek-subjek yang dikenal dengan konsep clickactivism atau lazyactivism (Lim, 2013). Boleh jadi aktivisme yang dijalankan adalah bentuk dari kecenderungan yang terdapat dalam jejaring pertemanannya. Hadir hanya sebagai bentuk representasi diri. Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan subjek ini bertransformasi menjadi subjek yang aktif untuk mengkampanyekan sebuah keberpihakan atas sebuah nilai. Seperti dalam kasus "Koin Prita" dan "Cicak vs Buaya". Mereka melakukan ini karena muncul kesadaran bahwa kasus yang sama dapat menimpa mereka karena aktivitas di dunia maya.

Pemerintah harus menggugah masyarakat untuk berperan aktif dalam proses produksi kepahlawanan. Salah satu yang dapat dilakukan pemerintah adalah dengan menempatkan masyarakat sebagai digital citizenship. Melalui serangkaian program pemerintah menumbuhkan kepedulian dan bertanggung jawab masyarakat atas persoalan kebangsaan melalui ko-produksi dan ko-kreasi atas konten kepahlawanan. Masyarakat diajak untuk berpartisipasi dalam produksi media digital kepahlawanan dengan struktur narasi yang kekinian dengan tetap menggunakan kepingan-kepingan peristiwa perjuangan kebangsaan Indonesia.

Zudan Rosyidi kandidat Doktor Ilmu Sosial Universitas Airlangga Surabaya, dosen di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

(mmu/mmu)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT