ADVERTISEMENT

Kolom

Hunian Minimalis Ramah Lingkungan Tanpa Bikin 'Kembang Kempis'

Irene Roselynda Prabarani - detikNews
Jumat, 05 Nov 2021 15:54 WIB
Ilustrasi Rumah Minimalis
Foto: Shutterstock/ilustrasi
Jakarta -

Tahukah Anda, bahwa Indonesia termasuk dalam 10 besar negara penghasil emisi karbon di dunia? Berdasarkan data dari World Resource Institute (WRI) Indonesia tahun 2020, Indonesia termasuk dalam 10 besar negara penghasil gas emisi di dunia dengan menyumbang sekitar 2% emisi karbon.

Mayoritas emisi karbon berasal dari sektor energi, yang salah satunya disokong oleh kegiatan rumah tangga. Itu artinya, seluruh masyarakat Indonesia berperan dalam menyumbang emisi karbon dunia. Namun di sisi lain, setiap individu dalam masyarakat kita juga dapat turut berpartisipasi dalam upaya pengurangan emisi karbon.

Masalahnya, terkadang kita tidak tahu bagaimana cara berkontribusi terhadap pengurangan emisi karbon dunia. Padahal, hal-hal tersebut dapat dimulai dari lingkungan sendiri, salah satunya adalah pengaplikasian gaya hidup minimalis dalam kehidupan sehari-hari.

Gaya hidup minimalis nyatanya bukan hanya menjadi sekedar tren yang sedang digandrungi generasi muda saja, tapi juga dapat digunakan sebagai wujud pertanggungjawaban terhadap lingkungan. Saat ini banyak bentuk pengaplikasian gaya hidup minimalis, seperti dalam bidang fashion, interior, manajemen keuangan, dan bahkan juga dalam desain hunian.

Hunian Minimalis, Mengapa dan Seperti Apa?

Hunian merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Bahkan seyogyanya, hunian harus memenuhi kriteria layak huni untuk dapat disebut hunian yang baik. Pemerintah sendiri melalui Kementerian PUPR telah menetapkan 4 kriteria rumah layak huni, di antaranya memiliki struktur konstruksi yang kuat, luas bangunan, sanitasi yang baik, serta tersedianya jaringan air bersih di rumah tersebut.

Meski demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa di era ini hunian menjadi barang yang mahal, terutama di perkotaan. Hal ini terkait dengan keterbatasan lahan akibat bergesernya pola penduduk Indonesia dari masyarakat pedesaan (rural) ke masyarakat perkotaan (urban).

Bahkan menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2020, lebih dari setengah generasi milenial dan Gen Z yang merupakan mayoritas penduduk di Indonesia tinggal di perkotaan. Hunian minimalis pun menjadi pilihan yang tidak terelakkan bagi anak muda, demi memenuhi kebutuhan pokok manusia akan adanya rumah tinggal.

Identik dengan desainnya yang efisien, efektif dan sederhana baik dalam bentuk, ruang, material, serta pemilihan warna, hunian minimalis dianggap mampu meningkatkan gaya hidup rendah karbon. Namun terkadang, penyediaan hunian minimalis tidak diimbangi dengan desain hunian yang sehat dan ramah lingkungan.

Dalam era Pandemi yang telah menerapkan sistem Work From Home (WFH) dan School From Home (SFH), membuat kita lebih banyak melakukan kegiatan di rumah. Tentu saja kita tidak ingin 'kembang kempis' seharian di rumah akibat kekurangan asupan udara dan sinar matahari yang baik, bukan?

Sedangkan, jika desain hunian tidak ramah lingkungan namun ingin tetap nyaman, pada akhirnya kita hanya akan melakukan pemborosan energi dengan memaksimalkan penggunaan lampu atau AC yang seharusnya tidak dibutuhkan. Memaksimalkan fungsi lahan sebagai ruang aktivitas sebenarnya bukan halangan untuk tetap mengoptimalkan fungsi rumah sebagai hunian sehat.

Desain Hunian Minimalis Ramah Lingkungan, Bisa Saja!

Idealnya, selain memenuhi kriteria rumah layak huni, desain hunian yang baik dan sehat juga menawarkan sistem penghawaan dan pencahayaan yang baik. Tidak hanya untuk alasan kesehatan saja, hunian yang adaptif terhadap lingkungan sekitar juga turut menyumbang penghematan energi. Lalu, bagaimana dengan hunian minimalis yang memiliki isu utama keterbatasan lahan?

• Minimalis dengan Ruang multifungsi - Sediakan Ruang lebih untuk RTH pribadi

Rumah minimalis yang menonjolkan kesederhanaan tidak memerlukan bermacam-macam ruang berbelit. Sebagai hasilnya, rumah minimalis identik dengan minimnya sekat ruangan, kecuali untuk area privat.

Contoh area privat adalah kamar tidur dan kamar mandi. Penggunaan ruang multifungsi seperti teras yang juga berfungsi sebagai ruang tamu, dan penyatuan fungsi ruang keluarga dengan ruang makan; dapat menghemat lahan sehingga hunian mampu menyisakan lahan untuk Ruang Terbuka Hijau (RTH) pribadi di rumah.

Namun, bagaimana jadinya jika ruangan sudah multifungsi tapi lahan tanaman hijau tetap tidak tersedia? Tenang saja! Karena sifat keterbukaannya, konsep hunian minimalis dapat diusung dengan menyamarkan sekat antara ruang indoor dan outdoor.

Salah satunya dengan cara memanfaatkan area indoor yang berbatasan dengan lahan tetangga untuk menjadi RTH. RTH yang diciptakan bisa menggunakan konsep taman kering, ataupun vertical garden. Alhasil, dengan lebar kurang dari 1 meter saja, kita sudah mendapatkan RTH di dalam rumah dan membuat ruang menjadi asri, lebih sejuk, dan juga memperoleh sinar matahari yang lebih optimal.

Selain itu, memanfaatkan sedikit lahan yang berbatasan dengan dinding tetangga juga meminimalisir terjadinya rembesan air ke dinding bagian dalam rumah, dan juga sebagai upaya untuk pencegahan rambatan kebakaran dari rumah ke rumah.

• Hunian Minimalis dengan Prinsip rumah pasif (Passive House)

Meski minimalis, konsep rumah pasif tidak boleh ditinggalkan demi kenyamanan jangka panjang. Pada dasarnya, prinsip hunian pasif ialah menciptakan kenyamanan thermal di dalam bangunan melalui pemanfaatan energi alami seperti cahaya matahari, sehingga terjadi penghematan energi.

Beberapa prinsip rumah pasif yang dapat diterapkan untuk hunian minimalis dengan lahan terbatas di antaranya dengan menciptakan ventilasi silang. Sistem ventilasi silang yang tepat dapat meningkatkan kualitas udara dan mendorong zat-zat kimia yang menumpuk, serta mengurangi kelembaban yang dapat menyebabkan tumbuhnya jamur.

Pada hunian minimalis, ventilasi silang lebih mudah diaplikasikan karena bentuk persegi sederhana pada hunian minimalis memudahkan terjadinya pertukaran udara yang optimal. Bukaan bukaan pada 2 sisi bangunan juga harus diatur bersilangan, seperti atas-bawah atau serong kiri-kanan. Dengan begitu, alur udara dapat lebih optimal mencapai setiap sisi ruangan.

Selain ventilasi silang, prinsip rumah pasif lain yang dapat diterapkan ialah mengatur orientasi bangunan sesuai dengan jalur matahari, agar bangunan mendapat cahaya optimal sepanjang hari. Jika terjadi ketidaksesuaian orientasi bangunan karena keterbatasan lahan, salah satu solusinya adalah penempatan bukaan yang tepat ataupun penambahan double façade untuk mengontrol paparan sinar matahari yang berlebihan.

Ada banyak lagi ide mengenai rumah pasif yang dapat diterapkan ke dalam hunian minimalis, meski perlu diingat bahwa sebaiknya penerapan prinsip rumah pasif tetap mempertimbangkan desain, interior, bentuk dan proporsi ruangan.

Sebagai contoh adalah peninggian plafon untuk mendapatkan suhu ruangan yang lebih nyaman. Plafon yang terlalu tinggi untuk ruang sempit dapat menimbulkan beberapa masalah, seperti tidak proporsionalnya ruangan dan sulitnya mencocokkan bentuk ruangan dengan furniture yang tepat. Sisi-sisi ruangan yang memiliki plafon tinggi juga harus diimbangi dengan ventilasi agar udara yang terperangkap di atas dapat langsung keluar.

Inovasi Hunian Minimalis, Mengapa Tidak?

Sekarang ini telah banyak inovasi yang diberikan arsitek untuk hunian, termasuk hunian minimalis, agar tetap merespon baik terhadap lingkungan. Salah satu contohnya adalah penggunaan struktur panggung pada konstruksi rumah. Hal ini dilakukan agar pembangunan hunian tetap mempertahankan area tanah sebagai media resapan air.

Lebih lanjut, inovasi dengan penambahan bak penampung air hujan juga mulai banyak diterapkan di hunian minimalis, sebagai cadangan air untuk kebutuhan toilet dan penyiraman tanaman. Selain itu, penggunaan material juga dapat dipertimbangkan dan disesuaikan baik dengan lingkungan, budget, maupun nuansa desain yang diminati.

Ternyata, hunian minimalis tidak menjadi halangan bagi kita untuk membuatnya tetap ramah lingkungan. Melalui pengolahan tapak dan desain bangunan yang baik, kita tidak hanya turut menyumbang pengurangan emisi karbon bagi dunia, namun juga memperoleh banyak keuntungan baik yang bersifat jangka pendek dan panjang.

Kita tidak perlu lagi merasa 'kembang kempis' di dalam rumah karena tidak mendapat penghawaan dan pencahayaan yang baik, dengan tetap dapat menerapkan prinsip hemat energi; demi pencegahan dampak perubahan iklim yang tidak diinginkan.

Bagaimana, tertarik memiliki hunian minimalis ramah lingkungan?

Irene Roselynda Prabarani, Juara 2 Karya Tulis PUPR Kategori PUPR



(ads/ads)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT