ADVERTISEMENT

Kolom

Pocket Park Jadi Solusi Ruang Terbuka Hijau di Perkotaan Indonesia

Natalia Tampubolon - detikNews
Jumat, 05 Nov 2021 14:34 WIB
PUPR
Foto: Istimewa
Jakarta -

Karbon dioksida (CO2) atmosfer merupakan indikator utama pemanasan global dan konsumsi bahan bakar fosil oleh aktivitas manusia. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menekankan teknologi, praktik, dan kebijakan mitigasi untuk mengurangi emisi CO2 di sektor perkotaan termasuk pengelolaan hutan dan regulasi tata guna lahan (IPCC, 2007). Salah satu mitigasi pengurangan emisi CO2 di sektor perkotaan ialah melalui penyediaan Ruang Terbuka Hijau.

Ruang terbuka hijau kota tidak hanya terdiri dari lahan hutan kota atau urban taman, tetapi juga semua area lanskap di area bangunan individu dan area penanaman kecil yang terletak sebagai pecahan di sekitar kota. Seperti yang dikatakan John Ruskin, seorang arsitek dan filsawan dari Inggris(1849), "The measure of any great civilisation is its cities and a measure of a city's greatness is to be found in the quality of its public spaces, its parks and squares". Ruang terbuka, taman, dan plaza sebagai salah satu elemen fundamental dalam kota dan menjadi salah satu faktor penentu baik atau tidaknya kota. Saat ini, kota-kota di Indonesia memang masih belum memiliki ruang terbuka hijau yang sesuai dengan ketentuan. Hal ini berkaitan dengan keterbatasan lahan di mana demand selalu meningkat namun supply selalu stagnan. Saat ini, pemanfaatan lahan kota paling dominan terkait dengan tuntutan masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya akan rumah (shelter).

Konsep pocket park merupakan inovasi penyediaan RTH yang mengembangkan pemanfaatan teknologi dan efisiensi desain. Konsep ini tidak memerlukan konstruksi pada lahan luas serta memiliki struktur otomatis untuk manajemen pengelolaannya. Konsep pocket park juga mampu menjadi solusi tambahan bagi konsekuensi yang mungkin ditimbulkan oleh konsep vertical garden. Solusi tambahan tersebut yaitu konsep pocket park tidak memerlukan dinding bangunan maupun penyangga yang berdekatan dengan bangunan sehingga lebih menyesuaikan anjuran pembatasan tanaman yang menempel pada bangunan untuk pencegahan potensi kebakaran serta tidak mengganggu nilai estetika bangunan (Splittgerber dan Saenger, 2015).

Selain itu, Konsep pocket park juga memiliki metode konstruksi yang tepat sehingga dapat dialokasikan pada karakteristik ruang yang berbeda tanpa perlu mengubah desain dan konstruksi, serta jenis tanaman yang digunakan pun juga sudah teruji dapat meningkatkan kualitas udara yang lebih optimal. Dengan demikian, konsep pocket park dapat menjadi pilihan cerdas bagi perwujudan pembangunan kota berkelanjutan melalui inovasi RTH.

Terdapat dua intervensi utama dalam pengembangan pocket park. Pertama adalah pemanfaatan teknologi dan kedua adalah efisiensi desain dan ruang. Pemanfaatan teknologi yang akan diterapkan dalam konsep pocket park adalah penggunaan teknologi CityTree. CityTree sendiri dikembangkan oleh Green City Solutions di Jerman dan disebut sebagai filter udara biologis cerdas pertama di Dunia. CityTree bekerja dengan memanfaatkan lumut khusus yang diinstalasi pada alat dengan ukuran 4 x 3 meter sebagai environment control bagi lumut untuk dapat tumbuh dalam kondisi apapun. Itu menciptakan lingkungan untuk tumbuhan lumut yang dibudidayakan khusus untuk tumbuh subur dalam kondisi perkotaan. Kemampuan kultur lumut tertentu untuk menyaring dan menyerap udara polutan udara seperti partikulat dan nitrogen dioksida menjadikannya pembersih udara yang ideal. Setiap CityTree mampu mengurangi materi partikulat hingga 30% (Splittgerber, 2015) dengan radius mencapai 50 meter serta dinding lumut yang dialiri pada CityTree ini menghasilkan efek pendinginan di daerah sekitarnya yang setara dengan 275 pohon yang ada di perkotaan dengan efisiensi lahan sebesar 99% (Green Pulse, 2017).

Teknologi CityTree, solusi kota hijau dengan menggunakan IoT untuk memerangi polusi udara Foto: Green City Solution.

Pemanfaatan teknologi CityTree pada konsep pocket park akan didukung oleh efisiensi desain dan ruang. Ruang perkotaan yang cenderung memiliki kepadatan bangunan yang tinggi menyebabkan lahan untuk peruntukan vegetasi menjadi minim (Dirjen. Cipta Karya PUPR Danis Hidayat Sumadilaga, 2019). Pada inovasi pocket park ini, vertical garden akan menjadi kerangka utama dalam efisiensi desain dan ruang pocket park. Desain pocket park dan vertical garden di dalamnya akan menerapkan konsep energy conscious design (Priatman, 2002) yang meliputi empat kerangka utama dengan akronim BESGree (Bioclimatic, Energy Efficiency, Solar, and Green). Bioklimatik (dalam desain) adalah pendekatan yang mengarah pada penyelesaian desain dengan mempertimbangkan hubungan antara desain dengan lingkungannya. Bioklimatik akan diwujudkan dengan membentuk desain pasif dan minim energi dengan menciptakan penataan penyekat-penyekat tunggal vertical garden yang efisien dengan mempertimbangkan orientasi, ruang transisional, desain dinding, dan keterkaitan lingkungan (Yeang, 1990).

Efisiensi energi dan solar akan diimplementasikan dengan memanfaatkan solar panel sebagai sumber energi pada seluruh alat/street furniture di pocket park dan pemilihan alat ramah lingkungan dan hemat energi dalam pocket park. Adapun Green (dalam konteks arsitektur dan desain) adalah proses perancangan mengurangi dampak lingkungan yang kurang baik untuk meningkatkan kenyamanan manusia dengan meningkatkan efisiensinya (Ming Kok dalam Anisa, 2017). Hal ini akan diimplementasikan dengan mengalokasikan tanaman yang hemat ruang namun efektif untuk meningkatkan kualitas udara serta material ramah lingkungan.

Selain dengan konsep BESGree, optimalisasi taman pocket park juga dilakukan dengan mewadahi lebih banyak ruang sosial. Azkia Avenzoar et.al (2014) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa taman yang efektif adalah taman yang dapat memfungsikan dirinya sebagai ruang ekologis dan ruang sosial. Dalam hal ini, pocket park harus menyediakan ruang sosial yang juga tetap adaptif dengan pandemi di tengah keterbatasan lahan. Maka dari itu, pocket park akan menyediakan gathering space yang desain beserta furniturenya akan mengadaptasi new normal. Dengan ini, konsep vertical garden, BESGree, dan optimalisasi ruang sosial akan menciptakan efisiensi desain dan ruang pada pocket park yang tidak hanya mengefektifkan RTH, namun juga meningkatkan kualitas udara.

Keunggulan dari Pocket park dapat dilihat dari konsep dan desainnya yang disusun dengan holistik agar dapat menjawab beberapa permasalahan kota dari keterbatasan lahan, polusi udara serta upaya pencegahan dan peminimalisiran pandemi dengan menggunakan konsep yang tentunya ramah akan lingkungan. Pocket park menerapkan solar panel sebagai sumber energi utama, sehingga untuk memaksimalkan penggunaannya pada kota padat penduduk di kawasan perkotaan maka instalasi panel surya harus dilakukan seefisien mungkin agar mendapatkan sinar matahari yang optimal. Selain itu, untuk mengantisipasi faktor cuaca yang kurang mendukung, maka perlu diinstalasi baterai sebagai tempat penyimpanan daya agar dapat menyimpan daya dan digunakan ketika tidak ada sinar matahari. Oleh karena itu, harapannya konsep pocket park dapat menjadi solusi penyediaan green open space pada kota padat penduduk di perkotaan Indonesia.

Natalia Tampubolon, Juara 3 Karya Tulis PUPR Kategori Umum

(ads/ads)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT