Kolom

Agenda Perguruan Tinggi Menyongsong Disrupsi

Aceng Hidayat - detikNews
Selasa, 02 Nov 2021 12:30 WIB
Revolusi Industri 4.0
Jakarta -

Prof. Klaus Schwab dalam bukunya The Fourth Industrial Revolution (2017) mewanti-wanti bahwa disrupsi yang saat ini menghantam dunia akibat revolusi digital masih tahap awal, alias baru permulaan. Dunia akan segera menghadapi disrupsi bergelombang. Bak tsunami berkepanjangan. Akan ada inovasi besar-besaran di bidang teknik fisika dan biologi yang berkelindan dan beresonansi dengan teknologi digital.

Inovasi tersebut saat ini sudah dalam tahap pemantapan. Pendahuluannya seperti robotic, drone, dan rekayasa genetika sudah mulai mentas dan memperkenalkan diri. Ketiga inovasi tadi --teknik fisika, biologi, dan digital-- merupakan penggerak utama disrupsi yang akan menggemparkan dunia. Schwab menamainya Revolusi Industri 4.0.

Teknologi Penggerak

Inovasi menonjol dalam teknik fisika adalah drone dan pesawat tanpa awak. Selain itu, mesin cetak 3D (3D printer) dan robot cerdas (smart robotic). Penggunaan drone pesat dalam pertanian, kehutanan, dan kelautan. Kehadirannya akan mendisrupsi pekerjaan tenaga manusia secara massal.

Di bidang material telah ditemukan graphene, sebuah material baru berukuran nano dengan kekuatan 200 kali lipat melebihi baja. Tatkala masuk skala ekonomi, graphene dipastikan bakal menggemparkan industri yang kini bergantung material logam.

Mesin cetak 3D lebih dahsyat lagi. Ia mampu menampilkan gambar geometris rumit dengan hasil sempurna. Teknologi ini digunakan dalam arsitek, sipil, manufaktur, kesehatan, dan fashion. Terobosan spektakuler lain dalam teknik fisika adalah inovasi robot cerdas. Kecerdasannya mampu terdistribusi antar-robot hingga membentuk masyarakat robot (society of robot). Mereka bisa berkomunikasi dan berkolaborasi dalam menuntaskan suatu pekerjaan.

Lebih radikal lagi dalam biologi. Kini berkembang teknik pengurutan dan pengeditan gen (sequencing and editing gen). Ia bakal menggemparkan dunia melalui memodifikasi sifat-sifat genetis hewan, tanaman, dan manusia. Ia mampu mengenali genetik manusia secara presisi, dan mengubah lalu membentuk replikasinya. Umpamanya, seseorang menderita penyakit jantung bisa diganti dengan jantung anyar hasil rekayasa genetik sesuai aslinya. Begitu pula terapi masalah kesehatan dapat dibuat customized sesuai sifat genetisnya. Pendek kata, lewat teknik edit gen, kita dapat memesan organ tubuh buatan.

Menariknya pula berbekal teknik cetak 3D, sebelum memesan organ tubuh kita bisa melihat gambar tiga dimensinya. Gambarnya pun dengan tingkat presisi tinggi persis organ tubuh yang dikehendaki. Teknik ini tak hanya berlaku pada manusia, melainkan juga pada genetik hewan dan tanaman.

Teknologi digital merupakan penghela utama Revolusi Industri 4.0, hasil pengembangan teknologi informasi. Kini ia telah hadir dalam bentuk platform, blockchain, big data, dan internet of things (IoT). Semuanya, kini mendisrupsi dunia. Lalu, apa respons dan peran perguruan tinggi di Indonesia dalam mengantisipasinya?

Menyusun Agenda

Hemat saya, perguruan tinggi minimal dapat memerankan lima hal pokok. Pertama, sebagai lembaga pendidikan berbasis riset, perguruan tinggi mesti segera menyusun agenda riset pengembangan teknologi. Gagasan ini sangat penting untuk mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain.

Kendati dewasa ini kita berada di titik nol akibat dampak serangan pandemi Covid-19, namun perguruan tinggi di negara lain sudah memiliki bekal memadai untuk berlari cepat. India dan China, di luar Eropa dan Amerika, tampaknya sudah ancang-ancang. Mereka memang memiliki budaya ilmiah dan risetnya lebih maju. Karena itu, perguruan tinggi di Indonesia wajib menyusun agenda riset. Lalu berkolaborasi dengan perguruan tinggi, industri, maupun pusat-pusat riset lainnya. Pergerakan individual terlalu berat menghasilkan riset-riset dengan hasil inovasi unggul.

IPB sudah menginisiasinya. Rektor IPB, Prof. Arif Satria mulai merencanakan membangun IPB-Jawa Barat Innovation Valleyl di Jonggol berkolaborasi dengan pemerintah Jawa Barat. Kolaborasi ini mesti segera direalisasikan dengan sasaran yang SMART (specific, measurable, achievable, relevance dan timebound). Jonggol mesti disulap menjadi semacam Silicon Valley-nya Indonesia berbasis pertanian. Inovasi-inovasi unggulan peternakan, perikanan, pertanian dan kehutanan harus lahir dari Jonggol. Umpamanya, inovasi rekayasa genetika sapi unggul lokal sekelas limosin atau berahman.

Kedua, perguruan tinggi mesti melakukan riset-riset pengembangan kelembagaan dan kebijakan publik. Ia berkolaborasi dengan pemerintah dan industri. Tujuannya adalah menghasilkan format kelembagaan dan kebijakan publik yang mumpuni. Nantinya ia dapat mengawal dan memastikan Revolusi Industri 4.0 bermanfaat serta berkeadilan. Meminjam istilah SDGs yaitu no one left behind.

Ketiga, perguruan tinggi mesti melakukan zoom-in untuk melihat detail setiap inovasi teknologi. Saat bersamaan, melakukan juga zoom-out untuk melihat koneksi antarinovasi. Inovasi yang berkelindan antardisiplin ilmu bakal menghasilkan gelombang disrupsi berdampak sistemik dan dahsyat. Dampak eksternalitasnya bakal menyasar semua aspek kehidupan. Mulai dari ekonomi, sosial, budaya, psikologi, dan sebagainya. Maka, kelembagaan menjadi sangat penting.

Keempat, perguruan tinggi pun mesti siap merombak kurikulumnya. Kurikulum lawas berbasis text book dan monodisiplin ketat mesti diubah. Soalnya disrupsi yang saat ini terjadi atau yang akan terjadi mendatang akibat kolaborasi dan fusi antardisiplin ilmu. Mau tidak mau, kita mesti mengantisipasinya dengan pola dan pendekatan serupa. Pilihannya adalah pendekatan transdisiplin, interdisiplin, maupun multidisiplin. Disempurnakan pula dengan beragam cara dan kanal dalam pengajaran agar menghasilkan lulusan yang agile. Mereka lincah, adaptif, antisipatif, dan open minded dengan kebutuhan era disrupsi.

Disrupsi berpotensi mengalienasi nilai-nilai agama dan budaya. Ia menggantinya dengan budaya lain. Budaya yang beresonansi dengan gelombang disrupsi secara masif, merasuk, merangsek, dan dominan. Ia melakukan penetrasi ke dalam relung-relung kehidupan masyarakat. Maka, kelima, mau tidak mau, perguruan tinggi pun harus mengkontekstualisasikan dan menginternalisasikan nilai-nilai agama dan budaya lokal dalam praksis kehidupan akademis. Bukan sekadar simbolisme dan formalisme agama belaka. Melainkan bagaimana mentransformasikan nilai-nilainya dalam proses kehidupan yang berbudaya dan berperadaban.

Internalisasinya mesti lebih cerdas sehingga berdampak terhadap sikap dan perilaku individu maupun interaksi sosialnya. Nilai-nilai lokal bukan sekadar belajar dan menggunakan bahasa daerah atau menyanyikan lagu-lagu daerah. Melainkan, bagaimana anak didik mampu memahami dan mengaktualisasikan nilai-nilai tersebut dalam kehidupannya. Pasalnya nilai-nilai lokal dan tradisi itu sejatinya adalah modal sosial warisan turun-temurun.

Modal sosial dan nilai-nilai agama yang melekat (embedded) dalam kehidupan kita tak mudah tergerus begitu saja dari akarnya. Ia merupakan nilai-nilai agung adiluhung yang telah mengkristal dan mendarah daging. Tugas perguruan tinggi adalah bagaimana mentransformasikan nilai-nilai agama, modal sosial (tradisi dan budaya) mengalami hibridisasi dan berkelindan dengan era digital tanpa disrupsi menggerus akarnya.

Ini adalah PR besar pendidikan tinggi yang membutuhkan komitmen, kerja-kerja intelektual, jiwa akademisi, governability, dan kemauan politik seluruh komponen civitas akademika. Saya membayangkan akan lahir "model kurikulum hibrid" dalam pendidikan tinggi khas Indonesia berbasiskan nilai-nilai tradisi lokal, agama, modal sosial bersinergi dengan nilai modern dan kemajuan teknologi informasi.

(mmu/mmu)