Kolom

PANJALU, Inovasi Pemanfaatan Bentonit Kurangi Emisi Karbon Limbah Cair

Ridhan Mulki Hidayat Jati - detikNews
Minggu, 31 Okt 2021 13:45 WIB
PUPR
Foto: Istimewa
Jakarta -

PANJALU (Installation of Clay Absorptive Pipes): Inovasi Pemanfaatan Serbuk Lempung Aktif (Bentonit) Sebagai Absorban Bau, Warna, Tingkat Keasaman (Ph), Kadar Karbon (C), Merkuri (Hg) Serta Jumlah Bakteri Pada Limbah Cair Industri Kertas Mewujudkan Pengurangan Emisi Karbon Kawasan Perkotaan

Kemajuan teknologi dapat mengubah segala hal yang ada di dunia ini. Bahkan, saat ini teknologi telah dijadikan tolak ukur kemajuan suatu bangsa. Jika teknologi suatu negara maju, maka kemampuan sumber daya manusia di negara itu juga mengalami kemajuan.

Pengembangan industri dari hari ke hari semakin digalakkan. Salah satu bukti peningkatannya adalah semakin banyaknya industri yang berdiri di negara kita ini, baik yang dimiliki investor domestik maupun investor asing.

Perkembangan industri selama ini tidak terlalu mencolok bagaikan air yang mengalir, lambat tapi pasti. Sehingga tidak ada rasa puas dalam benak para pengusaha, karena hasil yang mereka dapatkan itu datang secara bertahap. Keberhasilan industri memang sangat menggiurkan kita, kadang kita tidak sadar bahwa ada sisi lain yang perlu kita waspadai, yaitu mengenai limbah dari hasil produksi itu, karena setiap proses produksi selalu menghasilkan limbah.

Kertas adalah bahan yang tipis dan rata, yang dihasilkan dengan kompresi serat yang berasal dari pulp. Serat yang digunakan biasanya adalah alami, dan mengandung selulosa dan hemiselulosa. Pabrik kertas menghasilkan limbah cair yang mengandung logam berat jenis Hg dan non logam jenis C.

Limbah cair tersebut berupa bubur kertas encer yang apabila dibuang sembarangan akan mengakibatkan pencemaran lingkungan, termasuk industri kertas yang merupakan pada proses pembuatan kertas juga menghasilkan limbah. Karena dari proses pembuatan kertas dihasilkan sekitar 30% saja, sehingga sisanya muncul sebagai limbah.

Limbah yang dihasilkan pabrik kertas ini sangat beragam, yaitu limbah cair, partikulat, padat dan gas. Untuk mengatasi hal tersebut, bisa ditanggulangi dengan cara mengabsorbsi air tersebut, biasanya bahan yang digunakan adalah karbon aktif dari serbuk arang karbon kayu.

Tingkat keasaman (pH) air juga berubah akibat adanya limbah industri. Tidak ketinggalan bau dan warna air juga tidak netral. Ditambah lagi adanya kandungan logam ataupun bakteri pada beberapa air limbah.

Dalam penelitian ini kami mencoba membandingkan serbuk karbon arang kayu dengan lempung yang diaktivasi sehingga menjadi serbuk lempung aktif untuk menanggulangi limbah cair berwarna dan berbau.

Lempung aktif dapat digunakan untuk mengurangi pencemaran warna dan bau ke dalam air. Selain itu lempung mudah dan banyak ditemukan di daerah Kediri.

Hal yang mendasari dalam pemecahan masalah yang terjadi adalah (1) untuk mengetahui apakah serbuk lempung aktif dapat digunakan sebagai bahan absorban pada limbah cair industri kertas, (2) untuk mengetahui pengaruh pemberian serbuk lempung aktif terhadap perubahan bau, warna dan tingkat keasaman (pH) pada limbah cair kertas, serta (3) untuk mengetahui pengaruh pemberian serbuk lempung aktif terhadap perubahan kadar non-logam karbon (C) dan logam berat merkuri (Hg) serta jumlah bakteri pada limbah cair kertas.

Kemungkinan Tanah Lempung Sebagai Absorban

Sifat dari tanah liat adalah lengket jika terkena air dan menggumpal jika kering. Hal ini umumnya menimbulkan keresahan pada masyarakat yang tinggal di daerah yang tanahnya adalah tanah liat.

Oleh karena itu, tanah liat dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat bahan bangunan, dengan cara diaktivasi. Lempung membentuk gumpalan keras saat kering dan lengket apabila basah terkena air. Sifat ini ditentukan oleh jenis mineral lempung yang mendominasinya.

Mineral lempung digolongkan berdasarkan susunan lapisan oksida silikon dan oksida aluminium yang membentuk kristalnya. Golongan 1:1 memiliki lapisan satu oksida silikon dan satu oksida aluminium, sementara golongan 2:1 memiliki dua lapis golongan oksida silikon yang mengapit satu lapis oksida aluminium. Mineral lempung golongan 2:1 memiliki sifat elastis yang kuat, menyusut saat kering dan memuai saat basah. Karena perilaku inilah beberapa jenis tanah dapat membentuk kerutan - kerutan atau 'pecah-pecah' bila kering.

Pencemaran air adalah penyimpangan sifat-sifat air dari keadaan normal, bukan dari kemurnianya. Air yang tersebar di alam semesta ini tidak pernah terdapat dalam bentuk murni, namun bukan berarti bahwa semua air sudah tercemar. Adanya benda-benda asing yang mengakibatkan air tersebut tidak dapat digunakan sesuai dengan peruntukannya secara norma disebut dengan pencemaran air.

Karena kebutuhan makhluk hidup akan air sangat bervariasi, maka batas pencemaran untuk berbagai jenis air juga berbeda. Sebagai contoh, air kali di pegunungan yang belum tercemar tidak dapat digunakan langsung sebagai air minum karena belum memenuhi persyaratan untuk dikategorikan sebagai air minum (Philip Kristanto, 2004 : 72-73).

Arang aktif adalah arang yang diproses sedemikian rupa sehingga mempunyai daya serap/absorbsi yang tinggi terhadap bahan yang berbentuk larutan atau uap. Saat ini, arang aktif telah digunakan secara luas dalam industri kimia, makanan/minuman dan farmasi. Pada umumnya, arang aktif digunakan untuk bahan penyerap dan penjernih. Dalam jumlah kecil digunakan juga sebagai katalisator.

Proses pembuatan arang aktif dilakukan dengan cara 'Destilasi Kering', yaitu pembakaran tanpa adanya oksigen pada temperatur tinggi. Untuk kegiatan ini dibutuhkan prototype tungku aktivasi (alat destilasi) yang merupakan kisi-kisi tempat arang yang diaktifkan dengan kapasitas 250 kg arang. Proses aktivasi dilakukan hanya dengan mengontrol temperatur selama waktu tertentu (Pusat Dokumentasi Dan Informasi Ilmiah LIPI).

Menurut Standar Industri Indonesia (SII No. 0258-79) persyaratan arang aktif adalah sebagai berikut: