Perjalanan

"Ngaseuk" di Kasepuhan Ciptagelar

Mang Salik - detikNews
Sabtu, 30 Okt 2021 11:14 WIB
Usai banjir di awal tahun lalu, para petani di Desa Buni Bakti, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, mulai menanam padi. Yuk lihat.
Foto ilustrasi: Agung Pambudhy
Jakarta -
Jumat, 8 Oktober 2021, masyarakat Kasepuhan Ciptagelar di Sukabumi, Jawa Barat menghelat acara ngaseuk di huma rurukan atau huma milik Kasepuhan sebagai tanda dimulainya waktu tanam pada musim pertanian tahun yang berjalan. Ngaseuk adalah istilah dalam bahasa Sunda yang digunakan untuk menyebut proses menanam padi di huma yang memang menggunakan aseuk sebagai alat utamanya. Hal ini berbeda dengan proses menanam padi di sawah yang disebut dengan istilah tandur.

Istilah ngaseuk diambil dari kata aseuk, yakni sebatang kayu yang besarnya kira-kira sekepal tangan dan salah satu ujungnya diruncingkan. Dengan aseuk inilah lubang-lubang pada tanah di huma dibuat, untuk kemudian diisi bulir padi dengan cara dijatuhkan. Karenanya, ngaseuk terkadang juga disebut sebagai waktu nibakeun sri ka bumi—menjatuhkan sri ke tanah. Sri atau Sri Pwahaci adalah sebutan masyarakat Kasepuhan Ciptagelar bagi padi. Muasal penyebutan padi sebagai sri ini dapat dirunut pada salah satu sumber otoritatif di kalangan mereka: pantun, yakni jemalin kisah yang disusun dalam prosa liris dan dibacakan dengan iringan kecapi.

Sebenarnya ada beberapa rangkaian kegiatan yang cukup panjang dan saling berkaitan sebelum dihelatnya acara ngaseuk oleh masyarakat Kasepuhan Ciptagelar ini, yakni proses mengolah dan mempersiapkan lahan pertanian huma. Kegiatan mempersiapkan lahan pertanian ini dimulai sejak setidaknya bintang kerti muncul di cakrawala. Kerti adalah istilah lokal masyarakat Ciptagelar bagi rasi bintang Pleiades. Saat bintang kerti ini muncul, mereka akan mempersiapkan segala macam peralatan pertanian, khususnya yang terbuat dari besi, seperti golok, parang, cangkul, gobang atau arit. Konsepsi atas praktik semacam ini terbaca pada ungkapan yang dikenal di tengah-tengah mereka: tanggal kerti turun wesi, yang artinya kira-kira "saat bintang kerti muncul maka persiapkanlah besi" atau alat-alat pertanian.

Masyarakat Kasepuhan Ciptagelar memang mendasarkan praktik pertanian mereka pada siklus dua bintang utama, yakni bintang kerti atau rasi bintang Pleiades serta bintang kidang atau rasi bintang Orion. Karenanya, sesuai siklus kedua rasi bintang tersebut, mereka hanya akan menanam padi sebanyak satu kali saja dalam setahun. Kerti, dalam hal ini, menjadi penanda awal masuknya musim pertanian tahun yang berjalan.

Langkah selanjutnya dalam praktik pertanian warga Kasepuhan Ciptagelar yang berbasis siklus dua rasi bintang tersebut terbaca pada ungkapan tanggal kidang turun kujang. Hal ini dapat diterjemahkan sebagai "saat bintang kidang naik maka itulah waktunya kujang digunakan." Artinya, saat rasi bintang Orion naik di ufuk, maka itulah waktunya bagi mereka untuk mulai mengolah tanah, mempersiapkan lahan pertanian. Karenanya, mereka akan mulai membersihkan rumputan dan semak di bukit-bukit yang akan dijadikan sebagai huma, sedangkan pohon-pohon besarnya atau tumbuhan kayu keras akan dibiarkan.

Huma memang merupakan sistem pertanian polikultur yang juga tidak mengubah kontur tanah menjadi terasering laiknya sawah di perbukitan. Demikianlah lahan akan dipersiapkan dengan cara dibersihkan rumputannya menggunakan arit, parang, golok, dan gobang, lalu dibakar setelah mengering.

Adapun masuknya waktu ngaseuk adalah saat bintang kidang sudah berada di puncak langit dan berkilau cahayanya. Ngaseuk dilakukan di pagi hari saat matahari mulai muncul di ufuk, setelah malamnya di pusat Kasepuhan dihelat salamet ngaseuk atau selamatan untuk memulai ngaseuk yang dilanjutkan dengan pembacaan pantun. Pantun ini akan dibacakan oleh juru pantun semalam suntuk dengan iringan kecapi yang dipetik oleh Ki juru pantun itu sendiri.

Di huma, ngaseuk diawali dengan upacara khusus yang dihelat di hadapan pungpuhunan, yaitu semacam bentuk gunungan dalam wayang yang terbuat dari anyaman daun rotan. Pungpuhunan ini ditancapkan di salah satu sisi paparakoan. Paparakoan sendiri adalah sebentuk diagram khusus yang terbuat dari batang bambu. Sekilas, bentuknya terlihat mirip dengan lambang swastika.

Dengan diiringi tabuhan angklung buhun, seseorang yang dituakan akan duduk bersila menghadap pungpuhunan untuk memimpin ritual ngaseuk. Di hadapannya, di dalam paparakoan, terdapat boboko atau bakul berisi benih padi yang akan ditanam, sepasang daun sirih, uang koin, dan pusaka pamelakan atau pusaka khusus yang digunakan dalam prosesi ngaseuk. Ritual ini dimulai dengan doa amit, diiringi pembakaran kemenyan. Doa amit menjadi semacam permohonan izin tidak hanya kepada Tuhan, melainkan juga seluruh pihak yang oleh mereka dipahami terlibat dalam pertanian tersebut, seperti air, tanah, angin, udara, hewan, serta makhluk-makhluk lainnya baik yang kasat mata ataupun tidak.
Setelah doa amit dan pembakaran kemenyan, sesepuh pemimpin ritual akan mengunyah panglay atau bangle dan menyemburkannya ke pungpuhunan serta empat arah mata angin. Ia juga memutar parupuyan atau tempat bara pembakar kemenyan beberapa kali mengelilingi tubuhnya dan benih padi. Selepas itu, ia memasukkan telapak tangan ke dalam boboko berisi benih padi guna mendapatkan beberapa bulir padi. Dua bulir padi yang menempel di telapak tangannya akan dipilih oleh istri sang tetua untuk dijadikan sepasang benih utama yang kemudian ditanam di tengah-tengah diagram paparakoan. Sepasang benih tersebut disebut dengan sakuren.

Setelah binih sakuren ditanam oleh pemimpin ritual, barulah ngaseuk dilakukan di huma secara masal oleh seluruh warga Kasepuhan yang hadir saat itu. Ngaseuk di huma dikerjakan dengan pola melingkar mengitari paparakoan. Praktik melingkar ini merupakan upaya dan simbol dari ngala suwung yang secara konseptual berarti mencari keselarasan atau keselamatan. Selain padi, ditanam juga beberapa tumbuhan lainnya saat ngaseuk ini, misalnya jagung, kacang-kacangan, sayuran, serta umbi-umbian dan pisang.

Bagi masyarakat Kasepuhan, upacara khusus dalam ritual ngaseuk ini menjadi simbol rekontekstualisasi relasi antara manusa (manusia) dan selain manusa, yakni para aktor yang terlibat dalam pertanian huma ini, seperti hutan, tanah, air, angin, langit, dan yang lainnya. Hal demikian dilakukan mengingat, bagi mereka, manusa tidak bisa sendirian di dalam melakukan pertanian.

Warga Kasepuhan memahami bahwa setelah nibakeun sri ka bumi, selanjutnya manusia menyerahkan pengasuhan sri kepada para pihak selain manusia itu tadi. Manusia hanya sesekali menengok dan menyiangi rumputan, atau membantu menyingkirkan jika ada pengganggu dari luar. Tanahlah yang kemudian menjaga bulir-bulir padi itu hingga tumbuh, lalu bersama-sama dengan hutan, air, angin, langit dan lainnya mereka mensuplai asupan pangan bagi sri serta menjaga kesehatan dan keselamatannya, hingga nanti siap dipetik dan dikonsumsi oleh manusia.
Demikianlah kesadaran kosmologis karuhun orang Sunda atas relasi dengan liyan yang masih dapat dilacak di dalam praktik pertanian warga Kasepuhan. Menanam padi tak hanya melulu soal ekonomi dan urusan makan, melainkan bagaimana manusia bekerja sama—dalam relasi yang saling menghormati—dengan sesama ciptaan Tuhan demi kelangsungan hidup bersama dan keselarasan semesta. Karenanya, seluruh aktor pada proses pertanian ini mesti dihormati dan dijaga hak-haknya oleh manusia, sebagai konsekuensi dari kesadaran kosmologis semacam itu.
Secara praktikal, bukti dari sikap penghormatan masyarakat Kasepuhan terhadap liyan semacam itu tampak pada, misalnya, perilaku mereka menjaga dan menghormati hutan. Mereka hanya mengolah dan memanfaatkan lapisan hutan baladahan, menebang hanya pohon yang mereka tanam di wilayah itu. Jika terpaksa harus menebang kayu di hutan tutupan, maka mereka akan menggantinya dengan 5 pohon baru lainnya. Sedangkan mengakses hutan titipan sangatlah dilarang. Hutan titipan dan hutan tutupan, bagi mereka, adalah amanah yang harus dijaga demi kelangsungan hidup anak cucu nanti serta kelangsungan hidup makhluk Tuhan lainnya dan semesta.
Penghormatan dan penjagaan mereka terhadap tanah juga sangat tampak dalam praktik pertanian padi yang dilakukan. Mereka hanya menanam padi satu kali dalam setahun. Bagi masyarakat Kasepuhan, tanah atau bumi adalah ibu yang mesti dihormati. Tidak mungkin bagi mereka untuk—meminjam ungkapan salah seorang warga Kasepuhan—memaksa seorang ibu melahirkan lebih dari satu kali dalam setahun. Karenanya, mereka hanya menanam padi sekali setahun.
Dengan penghormatan dan praktik semacam itu, terbukti kesuburan tanah terus terjaga dengan baik; suplai air terjaga sepanjang tahun; juga kebersihan udara dan keseimbangan ekosistem yang meminimalisir tumbuh dan berkembangnya hama pun tercipta, sehingga mereka tidak perlu menyemprot padi dengan insektisida, selain juga hal itu sangat dilarang bagi mereka sebab dianggap dapat menyakiti batur, yakni makhluk yang juga—menurut mereka—memiliki hak hidup dan hak guna lahan yang sama dengan manusia. Hasilnya, pertanian mereka selalu memberikan padi yang cukup bahkan melimpah, guna dikonsumsi dan disimpan di lumbung sebagai cadangan pangan pokok. Selain itu, dengan praktik pertanian yang demikian itu, maka perilaku eksploitatif yang mengancam kehidupan ekologis sangatlah kecil kemungkinannya.

Demikianlah memang seharusnya manusia berperilaku, sebab bukankah ia adalah khalifah, penata layan di muka bumi ini?

(mmu/mmu)