Kolom

Smartphone & Ancaman Polemik Electronic Waste di Kawasan Perkotaan

Bagus Septiangga & Nisa Nabila - detikNews
Kamis, 28 Okt 2021 12:36 WIB
BANGALORE, INDIA - APRIL 13: (ISRAEL OUT) Old computers and electronic parts are for sale at a local market, April 13, 2008 in Bangalore, India. Indias growing digital economy has contributed to the amount of e-waste it generates. According to the Karnataka, a state pollution control board, more then 10 tones of electronic waste is produced in Bangalore alone every year and about 80 per cent of e-waste generated in the US is exported to India, China and Pakistan to be recycled. (Photo by Uriel Sinai/Getty Images)
Ilustrasi/Foto: Getty Images/Uriel Sinai
Jakarta -

Smartphone dan Ancaman Polemik Electronic Waste di Tengah Pesatnya Perkembangan Teknologi di Kawasan Perkotaan

Siapa yang tidak pernah menggenggam smartphone? Gawai ini menjadi paling banyak digandrungi oleh masyarakat lintas generasi saat ini. Mulai dari generasi Baby Boomer hingga Generasi Alpha terutama di kawasan urban.

Itu hanya pada satu kasus gawai, bagaimana jika setiap orang memiliki smartphone, tablet, kindle, laptop, dan playstation portable yang sudah tidak digunakan? Berapa banyak limbah yang terkumpul? Setiap tahun, berbagai versi canggih smartphone terus diproduksi dan secara tidak langsung meningkatkan sifat konsumerisme masyarakat untuk memenuhi prestise. Tidak sedikit yang membeli smartphone hanya untuk mendapatkan pengakuan up-to-date, tanpa berpikir pada permasalahan jangka panjang dari gadget bekas. Akibatnya, satu barang yang tadinya paling penting dicari saat bangun tidur, menjadi hanya sekadar limbah elektronik yang tersimpan rapi dan terabaikan di dalam laci, dan berharap untuk menghilang dengan sendirinya.

Coba bayangkan dan persempit cakupan hanya di kawasan perkotaan. Berdasarkan prediksi dari Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2035 dengan proyeksi sebanyak 304,9 juta penduduk, sebanyak 66,6% penduduk Indonesia akan berpindah dan tinggal di kawasan perkotaan.

Berarti ada sekitar 203 jutaan penduduk yang tinggal dan diasumsikan setiap jiwa membuang satu gadget. Dengan menghiraukan seunik apa cara membuka smartlock di masa depan dan kemajuan futuristik smartphone lainnya, sudah dapat dibayangkan seberat apa limbah yang akan dihasilkan.

Jika dihitung lebih detail lagi, berdasarkan survei yang telah dilakukan GSM Arena untuk mencari tahu berapa berat smartphone yang ideal bagi pengguna, jawabannya yaitu seberat 140 gram hingga 170 gram. Mari berpikir optimis dan mengambil jawaban terkecil sebagai basis hitungan kasar. Menggunakan asumsi optimis, ada sekitar 203 juta penduduk kota yang berpotensi membuang gawai seberat 140 gram di tahun 2035, berarti ada potensi limbah smartphone di kota seberat 28.420.000.000 gram atau seberat 28.420 ton.

Angka sebesar itu hanya dihasilkan dari satu gadget, belum lagi hedonisme dan sibuknya hidup menuntut orang untuk punya dua hingga empat gadget. Sederhananya, akan lebih banyak gawai yang dibuang dan limbahnya akan semakin menggunung.

Hal ini diperparah lagi oleh pabrikan smartphone yang akhir ini terlalu sering melepas banyak model dan membanjiri pasar dengan umur pakai yang cenderung lebih pendek dibandingkan model jadul. Jika diasumsikan per orang mengganti smartphone tiap dua tahun, bayangkan saja berapa beban limbah yang harus dipikirkan untuk diolah? Polemik tersebut jelas akan menjadi masalah serius jangka panjang di kawasan urban, mungkin tidak dirasakan oleh kita sekarang, tapi oleh anak dan cucu kita nanti.

Konsekuensi lain yang harus ditanggung oleh alam mulai dari smartphone itu diproduksi hingga menjadi limbah adalah emisi gas rumah kaca. Faktanya, emisi tertinggi yang dihasilkan pada sebuah smartphone bukan berasal dari pemakaian, melainkan dari produksi.

Salah satu perusahaan smartphone terkemuka pernah mengeluarkan studi terkait emisi karbon yang dihasilkan pada semua tipe smartphone yang telah mereka buat, dan secara mengejutkan rata-rata 80% dari emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh produk mereka terjadi pada tahap produksi. Sisanya 2% saat transportasi dan distribusi, 17% saat pemakaian, dan 1% saat daur ulang, dengan rata rata mengeluarkan 79 kilogram gas karbon dioksida per satu gawai untuk pemakaian seumur hidup.

Dengan besarnya konsekuensi permasalahan lingkungan yang dihasilkan pada satu gadget, alangkah lebih baik kita sebagai penghuni bumi dan juga penikmat teknologi untuk menggunakannya secara bijak dan pintar.

Kembali pada permasalahan potensi limbah smartphone masa depan di kawasan urban. Banyak orang berpikir bahwa limbah ini dapat didaur ulang dengan teknologi yang sudah ada dan banyak material yang dapat digunakan kembali. Namun realitanya, Indonesia hanya memiliki sistem daur ulang elektronik yang terbatas dan belum memadai.

Artinya, selain jumlahnya yang terbatas, limbah yang masuk ke sistem daur ulang akan tetap menyisakan banyak bagian yang tidak bisa dimanfaatkan dan dibuang ke alam. United Nations University bahkan menyebut sistem daur ulang elektronik di Indonesia sebagai sistem yang inisiatif informa. Hal ini ditandai dengan infrastruktur daur ulang yang terbatas dan dikuasai sektor informal serta belum ada regulasi yang mengatur secara tegas dan detail. Satu-satunya regulasi yang menjadi pegangan pemerintah Indonesia adalah Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang pengelolaan sampah, sedangkan aturan teknis pelaksanaannya sendiri belum ada.

Salah satu yang berpengaruh dari banyaknya alasan mengapa orang-orang sangat mudah membuang atau menyimpan smartphone di laci sebagai sampah elektronik adalah kerumitan dan kegagahan dari struktur futuristik smartphone itu sendiri. Secara psikologis, desain smartphone yang canggih dan gagah ini, secara tidak langsung mengintimidasi para pengguna untuk tidak membuka dan merakit sembarangan.

Ketika rusak, struktur yang rumit dan mengintimidasi tersebut menghambat pengguna untuk memperbaikinya. Baterai yang tertanam dan mudah terbakar, potensi tersengat listrik, sekrup yang hilang, potensi merusak komponen, dan lainnya menjadi hal yang berputar-putar dalam pikiran dan ditakuti para pengguna saat ingin membongkar smartphone yang rusak.

Jika garansi masih berlaku, mengklaimnya akan menjadi solusi, namun jika tidak, kebanyakan pengguna akan segera mengganti smartphone karena harga servis hampir menyamai harga baru dengan spesifikasi yang mirip. Padahal jika komponen pada smartphone mudah dibongkar dan dicari bagian yang rusak, tentu ini akan lebih murah dan menekan budget anggaran tahunan untuk keperluan tak terduga, dan pastinya akan ramah lingkungan.

Banyak solusi pernah ditawarkan untuk mengatasi masalah kekakuan ini. Salah satunya telah dilakukan oleh satu perusahaan start-up di Amerika Serikat. Mereka memberikan edukasi tentang merakit dan memperbaiki smartphone secara mandiri berbasiskan tutorial video di website. Secara detail dijelaskan mulai dari kemungkinan kerusakan software atau hardware yang terjadi dengan berbagai diagnosa hingga step by step membuka hingga menutup berbagai macam jenis gadget.

Itu semua dilakukan perusahaan untuk menekan angka e-waste atau limbah elektronik yang cukup berbahaya apabila dilepas ke alam, serta menggeser persepsi khalayak umum tentang rumit maupun mahalnya memperbaiki smartphone yang sejatinya tidak sulit dan cukup murah.

Dengan kehendak terciptanya persepsi umum tentang smartphone baru bukan menjadi solusi tunggal terhadap smartphone rusak. Bagi mereka yang tidak ingin pusing dengan membongkar gawainya, perusahaan start-up ini juga menawarkan smartphone ramah kantong, yang dinamai dengan The Fairphone. Gadget ini didesain secara unik layaknya mainan lego agar mempermudah penggunanya dalam bongkar-pasang jika terjadi kerusakan.

Untuk membongkar semua bagian dalam smartphone ini, hanya membutuhkan waktu kurang dari 30 detik. Selain itu, struktur yang disimplifikasi membuat pengguna semakin mudah dalam mencari letak komponen yang rusak. Teknologi ini sempat ramai diperbincangkan dan diminati oleh banyak pengguna, namun sayangnya, warga benua Asia harus bersabar karena gadget simpel ini baru dipasarkan di Amerika Serikat dan Eropa.

Contoh solusi konkret tersebut merupakan tanda bahwa permasalahan ini dapat ditanggulangi asalkan perspektif mengenai teknologi dapat digeser ke arah yang lebih sederhana dan berbasis lingkungan.

Permasalahan yang mengakar dan berpotensi meningkat secara eksponensial, harus diakomodir dengan solusi yang menyentuh seluruh lini sistem negara dan kolaboratif antara hulu dan hilir. Solusi yang ditawarkan tidak melulu harus diselesaikan di level users, melainkan solusi regulatif oleh pemangku kepentinganlah yang lebih strategis dan menjadi kunci kesuksesan atasi problem ini. Skema Extended Producer Responsibility (EPR) menjadi solusi praktis yang dikenal dan mulai banyak diterapkan di negara maju. Apa itu EPR?

Seberapa efektifkah penerapannya? Singkatnya, EPR ini berprinsip bahwa apa yang sudah dikeluarkan oleh produsen harus kembali menjadi tanggung jawab produsen selepas masa pemakaian users dengan melalui banyak skema dan skenario. Tidak hanya dalam pengelolaan limbah, konsep ini banyak diterapkan di manajemen proyek dalam hal operasi dan pemeliharaan aset dan infrastruktur sebagai bentuk garansi dengan jangka waktu tertentu.

Skema EPR mulai banyak digunakan di negara-negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Perancis, dan India, tentunya dengan pendekatan bertahap ke industri-industri terkait. Prinsip EPR bukan memaksa produsen untuk menerima kembali limbah elektronik yang telah mereka produksi. Lain dari itu, ini merupakan bentuk win-win solution antara pemerintah dengan industri smartphone, produsen dapat menaikan harga smartphone atau melalui subsidi yang diberikan pemerintah yang mencakup biaya daur ulang, lalu dari insentif tersebut produsen diwajibkan untuk membangun fasilitas daur ulangnya sendiri dan memilah komponen-komponen yang dapat digunakan kembali untuk manufaktur produk baru.

Produsen tak perlu sulit mencari bahan-bahan produksi, sekaligus mengurangi limbah yang mereka hasilkan. Negara bagian New York dan California di Amerika Serikat sudah lama menerapkan skema ini dengan mewajibkan seluruh toko penjual smartphone untuk menerima kembali gawai dari pembeli mereka untuk proses daur ulang, dengan catatan kondisinya harus dalam keadaan rusak dan tidak bisa digunakan lagi.

Pembentukan dan penunjukan pihak ketiga dalam proses dua arah antara produsen dan pemerintah menjadi solusi alternatif jika proses lobi keduanya mandek. Pembentukan perusahaan pihak ketiga ini akan menyediakan jasa pembelian, pengepulan, dan pemrosesan smartphone yang rusak untuk didaur ulang.

Singkatnya, perusahaan ini akan membeli smartphone bekas yang rusak dari users dengan harga yang bervariasi tergantung dari kerumitan spesifikasi. Mengapa? Dengan adanya reward insentif akan lebih menarik bagi para pengguna untuk merelakan gawai mereka didaur ulang, tentunya dengan seleksi ketat untuk memastikan smartphone mereka memang sudah tidak bisa digunakan lagi. Terdengar lucu memang perusahaan harus menyeleksi dan membeli gawai yang rusak, tapi hal itu sudah menjadi wajar bagi negara-negara yang berpikir bahwa perkembangan tidak melulu lewat kecepatan informasi dan kecanggihan teknologi, melainkan melalui kesadaran lingkungan.

Setelah proses pembelian, elektronik ini dikumpulkan dan komponen komponen sisa akan diekstraksi semaksimal mungkin hingga bisa mengambil bagian terkecil dari smartphone. Sebagai contoh, semua jenis sekrup mulai dari pentalobe, Y tri-point, slotted, hingga jenis torx security dapat diambil dan difungsikan kembali pada smartphone yang baru. Lalu, ada material silver yang biasa ditemukan pada papan sirkuit PCB, dapat diambil dan difungsikan kembali menjadi bahan pembuatan solar panel untuk produksi listrik ramah lingkungan dengan berbagai skala.

Tentunya masih banyak lagi komponen-komponen smartphone yang dapat disebar dan difungsikan kembali menjadi alat yang lebih fungsional dibandingkan hanya menjadi sampah yang tersimpan berharap untuk musnah begitu saja. Pihak ketiga ini nantinya akan berperan penting sebagai pembantu pemasok bahan baku untuk industri elektronik yang ada di Indonesia dan mengambil keuntungan dari transaksi tersebut. Ketergantungan industri elektronik terhadap impor bahan dan eksploitasi bahan mentah juga bisa ditekan. Hal ini tentunya akan saling menguntungkan dan tidak ada pihak yang dirugikan. Semua dapat mengambil laba dari proses ini, termasuk alam yang akan mengambil manfaat dari berkurangnya limbah. Jika skema ini dapat terlaksana, setidaknya kekhawatiran tentang rentannya masa depan di wilayah perkotaan dapat berkurang dan kita dapat berfokus pada permasalahan lingkungan lainnya.

Jika kita mengimajinasikan diri sebagai alam, kita pasti tidak mengharapkan kemajuan gadget ada pada kejernihan kamera, kecepatan prosesor, besarnya kapasitas memori, ataupun grafis yang lebih baik, melainkan kita mengharapkan gadget yang ramah lingkungan dan berkelanjutan tanpa menampik pentingnya kecanggihan.

Selain itu, keterbukaan mengenai kondisi limbah ini ke publik oleh pemerintah tentunya akan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan limbah elektronik, hal ini akan menekan industri untuk lebih sensitif dalam mengelola problem ini. Apalagi image 'peduli lingkungan' menjadi semakin disukai oleh korporasi untuk tampil hijau di depan publik dan mengambil atensi.

Nah, tugas kita sebagai masyarakat yang sensitif terhadap isu lingkungan adalah kontrol terhadap image tersebut. Oleh karena itu, kolaborasi hulu hingga hilir secara jangka panjang antara pemangku kepentingan, industri, dan pengguna sangat diharapkan untuk menghadapi ancaman ini. Terutama dalam upaya mengurangi limbah dan emisi karbon di kawasan perkotaan yang akan selalu rentan oleh permasalahan yang pelik dan tertekan oleh hajat hidup orang banyak yang tinggal di atasnya.

Bagus Septiangga & Nisa Nabila, Juara Favorit Karya Tulis PUPR Kategori PUPR

(akn/ega)