Jeda

Hanya Ingin Hidup Tenang

Impian Nopitasari - detikNews
Minggu, 24 Okt 2021 12:08 WIB
impian nopitasari
Impian Nopitasari (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Kebiasaan saya ketika membuka Netflix adalah melihat apa saja yang menjadi daftar TOP 10 meski saya sendiri belum tentu menonton semua. Sampai sekarang saya masih melihat drama seri dari Korea Selatan, Squid Games, masih menduduki posisi tersebut. Sempat saya melihat berhari-hari orang membicarakan serial ini.

Saya bukan ingin sok beda, tapi memang untuk tontonan saya menyesuaikan mood dan kondisi mental saya. Sebagus apapun kata orang-orang, kalau tontonan tersebut ada pemicu yang negatif, pasti tidak akan saya tonton. Ini juga berlaku untuk buku bacaan. Meski buku tersebut ditulis oleh peraih Nobel Sastra, kalau ada adegan animal abuse, misalnya, saya tidak berani membaca.

Tanpa sengaja saya membaca tweet dari seorang teman praktisi spiritual healing, meski dia sendiri lebih suka menyebut dirinya "dukun rasa SJW". Kebetulan dia sedang membicarakan tentang Squid Games dari sisi dampak yang ditimbulkan ketika orang yang menontonnya tidak kuat mental. Ternyata banyak reply yang sama dengan apa yang saya rasakan. Mereka adalah orang-orang yang dianggap kuper karena tidak menonton sesuatu yang sedang hype.

Teman saya yang punya utas ini mengatakan tidak apa-apa tidak mengikuti sesuatu yang sedang hype kalau memang tidak bagus untuk mental kita. Dulu saya juga begitu, ketika rame-rame film Joker, saya sedang dalam kondisi mental yang buruk. Saya memilih untuk tidak menontonnya. Dianggap tidak keren juga tidak apa-apa daripada mental saya semakin memburuk.

Ribet sekali ya sepertinya menjadi jenis orang seperti saya. Tidak bisa melihat adegan kekerasan, tidak bisa membaca berita yang mengandung kekerasan, dan segala pemicu yang membuat mood saya memburuk. Sebelum menonton atau membaca sesuatu, pasti saya tanya kepada yang sudah membaca atau menontonnya, apakah aman untuk orang seperti saya. Kalau memang tidak aman, saya memilih untuk menghindarinya.

Seperti berita pemerkosaan ayah kepada tiga putrinya di Luwu Timur tidak akan saya baca. Atau, film dokumenter dari India, House Secret yang menceritakan tentang kematian 11 anggota keluarga, meski sedang trending di Netflix, ya tidak bakal saya tonton.

Ketika mood saya memburuk, kepercayaan diri saya bisa meluncur drastis ke titik terendah. Untuk interaksi dengan orang saja saya hindari, selfie saja rasanya berat sekali, bahkan melihat diri sendiri di cermin saja tidak berani. Jadi saya tidak mau macam-macam. Menonton atau membaca konten yang mengandung pemicu negatif jelas cari gara-gara. Pokoknya hidup dengan kondisi mental yang tidak stabil itu tidak mudah.

Saya bisa memaklumi ketika banyak orang dengan kondisi demikian sering berharap ingin hidup tenang. Setidaknya saya mengamati tweet teman-teman yang berdoa diberi ketenangan hidup. Bagi orang-orang seperti ini, hidup tenang adalah nomor satu. Herannya, ternyata lumayan juga yang nyinyir dengan prinsip orang semacam ini. Saya melihat itu dari replies-nya. Mereka mengatakan kalau hidup tenang itu ya harus menjadi kaya raya.

Orang-orang yang mengeluh punya masalah mental sebenarnya hanya kurang duit saja. Orang yang berharap ketenangan hidup dianggap terlalu naif atau bahkan sok-sokan saja. Omong kosong kalau orang tidak butuh uang dan tidak ingin terkenal. Uang memang bisa menyelesaikan semuanya.

Perbincangan ini dipicu dari kasus seorang selebgram yang tersandung masalah hukum karena melarikan diri dari kewajiban karantina. Sejujurnya saya ini tidak mengikuti para selebgram tersebut. Selain karena memang jarang membuka Instagram, saya merasa sombong karena bagi saya mereka itu bukan artis betulan. Saya sering dibuat bingung karena banyak centang biru dari akun Instagram yang saya tidak paham mereka ini siapa saja haha.

Banyak orang yang membela selebgram tersebut. Katanya dia adalah role model mereka. Perkara si selebgram tersebut ternyata problematik ya tidak apa-apa. Bahkan kata kenalan saya sendiri, dia ingin hidup seperti si selebgram. Menjadi kaya itu nomor satu. Ketika punya masalah mental ya gampang tinggal ke psikiater. Masalah mental itu tidak apa-apa yang penting endorse lancar. Sejujurnya saya kaget dengan pernyataan kenalan tersebut. Apalagi ketika akhirnya saya membaca-baca gosip bahwa persoalan endorse si selebgram ternyata bermasalah.

Yang saya tangkap dari tweet pertama orang yang berdoa diberi ketenangan hidup dan tidak banyak mengalami masalah mental, bukannya mereka tidak butuh uang. Jelas banyak uang itu banyak keuntungan. Punya masalah mental mudah untuk akses ke tenaga profesional, ingin membantu orang juga mudah, sakit juga bisa berobat ke dokter terbaik, akses pendidikan lebih baik, dan beribadah juga lebih enak.

Tapi, apa salahnya ketika ada orang yang keinginan yang paling didambakan adalah hidup tenang? Bahkan menurut saya, uang bisa masuk sebagai faktor pendukung ketenangan hidup. Jadi bukannya tidak butuh uang. Saya malah melihat kenalan saya ini melihat persoalan mental adalah sesuatu yang sepele. Asal kaya, semua bisa terselesaikan. Ya, apa kabar dengan kasus bunuh diri orang-orang yang secara ekonomi kelebihan duit? Apa uang mereka tidak cukup untuk ke psikolog atau psikiater?

Saya juga sering ditertawakan karena berprinsip yang penting hidup ini adalah berkah. Entahlah ketika punya prinsip agak mambu-mambu religius saya sering dibilang sok-sokan. Padahal kan tidak semua orang ingin menjadi kaya raya. Asal hidup tenang, keluarga yang sayang, bisa leha-leha dengan santai sudah cukup.

Saya pernah merasakan punya gaji besar, tapi cepat habis dan tidak tahu untuk apa saja. Biasanya masalah juga ada saja. Tapi, pernah juga sepertinya tidak banyak nominal uang di rekening tapi banyak kebutuhan tercukupi. Saya sekarang tidak pernah menabung, tapi ada saja bantuan dari teman, kerjaan dari kenalan, dan dukungan ketika saya sedang down. Jadi meski saya tidak kaya raya, saya masih bisa mencari bantuan ketika mental saya memburuk. Ya, kalau maunya ya jelas banyak uang dan berkah dong.

Saya menjelaskan kepada kenalan saya bahwa hidup dengan masalah mental itu tidak sesederhana yang dia pikirkan karena saya mengalaminya dan masih berjuang sampai sekarang. Saya bilang, apa enaknya hidup kebanyakan masalah? Cari masalah kalau bisa ya cukup di skripsi saja. Karena nanti dalam hidup masalah tidak dicari pun akan datang sendiri. Tapi, kenalan saya membantah bahwa dia sudah bosan hidup biasa-biasa saja.

Dia berpikir bahwa ketika menjadi selebgram seperti idolanya, tidak tenang hidup paling hanya sebentar saja, karena kalau sedang down bisa ke psikiater mahal, kalau tersandung masalah bisa menyewa pengacara kondang, hidup akan tenang lagi. Dia mengatakan bahwa itu adalah pilihannya, saya tidak boleh ikut campur. Dari situ saya menyesal, kok ya saya cerewet sekali mengomentari hidup orang ya?

Gondangrejo, 23 Oktober 2021

Impian Nopitasari penulis

(mmu/mmu)