Jeda

Mengapa Kita Mengidolakan Selebgram?

Mumu Aloha - detikNews
Minggu, 24 Okt 2021 10:37 WIB
mumu aloha
Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Demi ilmu pengetahuan dan memenuhi tugas luhur sebagai pengamat yang dituntut untuk senantiasa menjadi penyigi yang akut, saya sesekali (baca: sering) "harus" keluyuran di Tinder, MiChat, dan website akun-akun bokep.

Tugas suci mulia ini semata-mata saya lakukan untuk mengetahui perkembangan jagad digital, agar sebagai pengamat cum penulis cum kritikus budaya (ehm, benerin syal!) saya tidak gagap untuk memetakan persoalan, membaca dinamika realitas, dan kemudian menganalisisnya untuk disuguhkan kepada publik guna membuka wawasan masyarakat mengenai apa yang sedang terjadi, dan di dunia seperti apa kita menjalani kehidupan saat ini.

Kabar ter-update yang bisa saya sampaikan, salah satunya, baru-baru ini saya menemukan sebuah video bokep dengan judul yang menarik di website yang sangat terkenal dan bila saya sebutkan namanya Anda pasti tahu. Video itu berjudul Instragram Model Seduces Cameraman, dan membuat saya terlongong-longong untuk beberapa saat. Bukan karena kontennya, atau "ceritanya" --video bokep, apapun judulnya, ya sebenarnya isinya begitu-begitu saja. Tapi, judul itu sendirilah yang membuat saya agak terhenyak.

Bukan hal yang baru-baru amat sih sebenarnya, tapi, judul itu seolah untuk pertama kalinya menyadarkan saya; membuat saya berpikir kembali tentang banyak hal, menimbang kembali keberadaan saya di panggung sejarah peradaban umat manusia yang telah berevolusi sedemikian jauhnya, menempuh perjalanan panjang hingga sampai di sini, zaman kini.

Judul yang sekilas biasa-biasa saja dan memang sederhana itu menurut saya telah merangkum salah satu isu paling paling penting dalam "narasi besar" ilmu sosial, yakni tentang perubahan sosial. Saya jadi ingat kembali masa-masa ketika mengambil mata kuliah Pengantar Ilmu Sosiologi pada Semester Satu di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik dulu. Kita menghuni suatu dunia yang kita terima begitu saja sebagai "nyata". Tapi, ilmu pengetahuan kemudian mengajari kita untuk bertanya: Apa itu "nyata" --apa sih sebenarnya "kenyataan" itu, dan bagaimana kita memahaminya?

Bagaimana kita bisa berada dalam situasi di mana seorang "instagram model", atau kita biasa menyebutnya "selebgram", yang pada sepuluh atau bahkan mungkin sampai lima tahun yang lalu tidak pernah ada, tiba-tiba kini menjadi bagian dari "kenyataan" sehari-hari, menggantikan "kenyataan" sebelumnya tentang "model" dan "seleb" yang kita kenal dan pahami. Atau, kalau pun tidak sepenuhnya "menggantikan", menjadi "kenyataan" baru yang harus kita terima begitu saja?

Jika teori mengatakan bahwa "kenyataan" itu dibentuk secara sosial, maka proses sosial seperti apa yang telah kita lalui, sehingga sekonyong-konyong kita harus menerima "kenyataan", misalnya, bahwa seorang perempuan bernama Rachel Vennya, seorang selebgram, adalah idola baru masyarakat, yang setiap tindak tanduknya disorot oleh media, punya pengaruh besar, perilakunya menimbulkan dampak luas di masyarakat, layaknya kaum seleb dalam definisi lama yang kita pahami dulu: orang yang berprestasi dalam bidang menyanyi, film, acara televisi, ataupun jabatan publik, sehingga terkenal dan menjadi "panutan".

Ngefans sama selebgram saja sudah aneh. Demikian salah satu komentar yang muncul dari sekian banyak suara, opini, analisis yang berhamburan di media sosial seiring dengan mencuatnya kasus sang selebgram yang mangkir dari kewajiban karantina sepulang dari luar negeri sebagai bagian dari prosedur protokol kesehatan pada masa pandemi ini. Komentar itu secara tersirat mengandung nada "mengeluh" atau "mempertanyakan", bagaimana seorang selebgram bisa menjadi idola yang memiliki ratusan ribu penggemar --bagi si komentator itu adalah hal yang "aneh".

Bukan tidak mungkin, komentar tersebut mewakili "kegagapan" kita memahami "kenyataan" baru ini. Dan, berbagai kehebohan berikutnya, yang muncul susul-menyusul dengan segala kekacauannya, barangkali tanpa kita sadari merupakan bagian dari usaha kita untuk menganalisis proses yang terjadi, yang telah membentuk "kenyataan" itu. Ketika kemudian rate card sang selebgram "bocor" dan menjadi viral, silang sengkarut opini pun semakin memanas. Ada yang membelanya dengan mengatakan bahwa membocorkan rate card bukan hal yang etis karena itu sama saja dengan mengumbar "rahasia dapur" orang.

Mau tak mau, isunya jadi makin melebar ke mana-mana. Orang-orang menjadikan rate card --yang angka-angkanya mencengangkan-- itu sebagai bahan untuk membanding-bandingkan dengan profesi lain. Betapa ada orang yang kerjanya "cuma begitu saja" bisa mendapatkan bayaran puluhan sampai ratusan juta!

Suara lain menyanggah, oh apa salahnya (membuka rate card seorang selebgram); bukankah rate card itu tak ubahnya menu di restauran, justru orang harus tahu. Inilah saatnya publik harus tahu, karena kita memang hidup dalam "budaya influencer". Ini soal ketidakadilan. Jadi wajar jika kemudian orang membanding-bandingkan, dan bahkan melakukan penghakiman.

Yang jelas, ini memang serba membingungkan. Kita harus akui bahwa kita dilanda kebingungan, karena kini kita hidup pada zaman yang memang sangat membingungkan. Ke mana para model "beneran" yang dulu kita idolakan, sehingga tokoh dalam video bokep sekarang telah berganti menjadi model Instagram? Dulu tidak ada sexting, berkirim pesan erotis, merayu dan mengajak kencan lewat DM. Dulu tidak ada selfie. Dulu butuh satu kalimat, atau istilah kerennya copywrite, yang sangat kuat agar sebuah produk yang diiklankan di televisi menancap ke benak khalayak. Dulu, segalanya tampak begitu jelas dan jauh lebih sederhana.

Sekarang semua berubah. Dulu, ketika informasi masih sedikit, terbatas, dan harus kita cari, ia dengan efektif menjalankan fungsinya untuk mengurangi ketidakpastian --semakin banyak informasi yang bisa kita kumpulkan, maka kita akan semakin mudah untuk mengambil keputusan. Sekarang, ketika informasi menyerbu bak air bah, dan datang sendiri tanpa kita kehendaki, kita justru dilanda kecemasan, dan tak jarang berakhir dalam kesulitan untuk menemukan "kebenaran".

Rachel Vennya, yang kini menyita perhatian kita semua, dan membingungkan kita itu, lahir dari perubahan sosial yang didorong dalam sekejap oleh interkonektivitas ekstrem yang dihadirkan media sosial. Kita mungkin belum punya cukup waktu untuk menarik napas agak panjang untuk memahami apa yang terjadi, ketika ia tiba-tiba telah menjadi "kenyataan" baru, seiring dengan berubahnya hubungan manusia dengan teknologi dan manusia dengan manusia secara fundamental.

Tidak ada yang aneh. Kita hanya butuh waktu untuk memahami. Tapi, apakah kita sempat? Keterhubungan digital yang radikal melahirkan perilaku dan kebiasaan yang berlebihan. Kita menjadi berlebihan dalam menyajikan, menyebarkan, merespons, dan menanggapi informasi. Media sosial tanpa ampun menenggelamkan kita dalam pesonanya yang tak bisa kita tolak. Semua orang menjadi tokoh utama dalam kehidupan digital masing-masing.

Dulu kita hanya memperbarui "status", paling banter menge-tag atau men-"colek" (poke) orang lain untuk mendapatkan perhatian. Namun, tak butuh waktu lama, media sosial berkembang menjadi dunia tersendiri, yang menyediakan apa saja, memenuhi seluruh hasrat kita bahkan yang paling tersembunyi, menyalakan naluri liar yang sejak dulu tersimpan dalam pikiran kita.

Tak butuh waktu lama, media sosial berkembang menjadi tempat yang asyik dan nyaman bagi kita untuk membangun "kenyataan" kita sendiri, sesuai angan-angan kita, tanpa harus mendapat "kesepakatan" dari "society", dengan cara yang relatif mudah: mengunggah foto kita saat berendam di bath-tub hotel berbintang sambil memegang gelas bertangkai berisi wine, mengunggat video lima belas detik joget-joget di tempat liburan kita di vila yang tersembunyi di Bali, melemparkan pendapat-pendapat kita yang paling kedengaran sangat pintar atas setiap isu yang sedang menjadi perbincangan.

Untuk apa lagi menonton sinetron tante-tante jahat di televisi, kalau kita bisa menciptakan drama kita sendiri setiap saat? Untuk apa lagi mengagumi model dan bintang film kalau kita bisa menjadi bintang yang mendulang "like' dari ribuan atau bahkan jutaan follower, yang memberikan respons dan berinteraksi secara langsung dengan kita? Untuk apa berkenalan dengan cewek di dalam pesawat atau kereta, kalau kita bisa tinggal geser layar HP ke kanan, setelah memastikan bahwa foto profil yang kita lihat (di depan Menara Eifell, atau paling apes di rooftop sebuah kafe tengah hutan di pinggiran Bogor) sesuai selera kita?

Atau, kalau kita memang sudah sedemikian putus asa, tinggal buka MiChat untuk mendapatkan pasangan kencan sesaat dalam radius yang dekat dengan tempat kita berada. Dengan syarat "chat sekarang otw sekarang", dengan tarif dan ketentuan: "600 nett, wajib kondom, no anal, dengan jaminan "main santai rasa pacar".

Hahaha.

Kabar terakhir, setelah kasus Rachel Vennya, muncul sebuah akun yang menyodorkan informasi tentang adanya selebrgam lain "yang lebih senior dalam hal lolos dari kewajiban karantina." Yaitu selebgram internasyenel (disebutkan sebuah nama pria), nyampe Jakarta, besoknya langsung berkeliaran dan dugem di (disebutkan sebuah nama klab) Bandung, demikian tweet aku tersebut.

Lalu, dengan kronologis akun itu merinci betapa si selebgram ini sering bolak balik Dubai; setelah ke Dubai singgah sebentar di Istanbul, terus terbang ke Jakarta, keesokan siangnya sudah sampai di Bandung, demikian berdasarkan update story di IG (yang kemudian dihapus). Lalu keesokan harinya sudah terbang ke Bali dan langsung update Story di IG, kangen sama anjing piarannya. Tujuan akun tersebut mengungkap kronologi itu untuk membuat kesimpulan bahwa tidak ada karantina satu hari pun.

Tapi komen-komen yang kemudian bermunculan justru lebih tertarik dengan "kenyataan" betapa si selebgram ini biasa mengunggah foto-foto seksi, dan dari situ tak terelakkan timbul prasangka-prasangka dari komentar-komentar lainnya. Sedangkan komentar lainnya, seperti biasa, masih bernada "denial", seperti "Dia siapa?" "Emang dia terkenal ya?" "Saya tidak kenal siapa dia, apa prestasi dia?" "Apa cuma aku yang nggak follow selebgram?" Sekrol terus ke bawah mulai ada titik terang:

"Ini pemain bokep bukan sih?"

"Doi yang punya akun Onyfans bukan sih?"

Lalu ada yang sharing link profil si selebgram di Onlyfans.

Dan, sebuah informasi terbaru: sudah balik ke Dubai lagi kayaknya.

Demikianlah, dalam dua puluh tahun terakhir, manusia telah ber-evolusi secara ajaib, menyerahkan porsi yang menakjubkan dalam hidupnya --jam-jam yang kita isi dan habiskan untuk berinteraksi dengan dunia dan orang lain-- kepada kekuatan yang sama sekali baru.

Selamat datang di kenyataan baru!

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor

(mmu/mmu)