Kolom

Maulid Nabi dan Keharusan Memuliakan Manusia

Yaqut Cholil Qoumas - detikNews
Rabu, 20 Okt 2021 08:43 WIB
Menag Yaqut Cholil Qoumas (Dok Menag)
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas (Dok Menag)
Jakarta -

Umat Islam sedang merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada 12 Rabiul Awwal 1443 H, bertepatan dengan 19 Oktober 2021. Banyak cara dilakukan umat Islam untuk merayakan hari lahir Rasulullah SAW. Mulai dari pembacaan Kitab al-Barzanji, Simt al-Durar, atau al-Al-Dhiba' selama 12 hari pertama bulan Maulid ini. Ada pula yang mengisinya dengan memperbanyak membaca shalawat nabi. Sebelum pandemi COVID-19, perayaan Maulid Nabi diselenggarakan jauh lebih meriah, dari pengajian umum hingga festival dan berbagai bentuk perayaan meriah lainnya.

Setiap kali umat Islam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, seolah Nabi Muhammad SAW hadir dan menyapa umatnya. Umatnya yang daif ini dipaksa berkaca di hadapan cermin agung kehidupan yang sempurna. Lalu bertanya, sudahkah umat Islam ini mencontoh pribadi Nabi dengan sungguh-sungguh? Apakah ajaran Nabi sudah kita praktikkan secara konsekuen atau belum? Jika Nabi konsisten memuliakan seluruh manusia, apakah umat Islam harus pilah-pilih dalam menghormati manusia?

Kita mesti ingat bahwa rukun agama (arkan al-din) yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW tidak hanya dua tetapi tiga. Rukun Islam, rukun iman dan rukun ihsan. Dua rukun agama yang pertama, relatif sudah dihapal lengkap dan diajarkan sejak usia dini. Pada umumnya, semua umat mengerti dan hafal rukun Islam dan rukun iman, Sekalipun belum tentu memiliki pengetahuan yang mendalam. Umat Islam juga masih memiliki persoalan dalam dalam mengamalkan dua rukun tersebut.

Rukun yang Dilupakan

Nasib berbeda dialami Rukun Ihsan. Ihsan sering dilupakan dan bahkan tidak dianggap sebagai salah satu pilar Islam yang wajib dilaksanakan. Padahal, tiga pilar agama ini mesti dijalankan oleh umat secara bersamaan di manapun berada. Jika tidak, kurang sempurna iman dan Islam seseorang.

Bukankah semua umat tahu bahwa banyak ayat dan hadits yang mewajibkan umat Islam untuk berbuat ihsan. Misalnya, QS, 2: 195: "...dan berbuat baiklah. Sesungguhnya Allah SWT mencintai orang-orang yang berbuat baik." Dalam HR. Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda: Inna Allah kataba al-ishan 'ala kulli syai-in (sesungguhnya Allah SWT mewajibkan berbuat baik atas segala sesuatu).

Ihsan artinya kebaikan, berbuat atau berlaku baik. Dalam dimensi yang luas, ihsan berarti berlaku baik dalam segala hal sebagaimana Allah SWT telah berbuat ihsan kepada semua mahkluk-Nya. Yang beriman atau tidak beriman, semua mendapatkan ihsan dari-Nya. Menurut al-Jurjani (w. 1413), ihsan merupakan implementasi ibadah atas dasar penyaksian terhadap kehadirat Rubbiyyah dengan matahati.

Rasul SAW memaknai ihsan sebagai "menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya dan bila tidak melihat-Nya, yakinlah bahwa Allah SWT melihatmu." Menurut Ibn Katsir, ihsan merupakan maqam taat yang tertinggi (a'la maqamat al-tha'at/ 1:211). Berdasar pendapat ini, di atas rukun Islam dan rukun iman adalah rukun ihsan. Di atas syadahat dan shalat ada ihsan yang harus dilaksanakan. Karena itu, al-Harrali (Shihab, 2002) menyebut kata ihsan mengandung arti puncak kebaikan amal perbuatan seorang hamba.

Quraish Shihab (1:514) menjelaskan bahwa kandungan makna ihsan lebih tinggi dari berbuat adil. Berlaku adil bisa berarti mengambil semua hak yang kita punya atau memberi semua hak kepada orang lain. Sedang ihsan adalah memberi lebih banyak daripada yang harus kita beri dan mengambil lebih sedikit dari yang seharusnya kita ambil.

Tentu saja, makna ihsan yang paripurna adalah kesadaran bahwa kita selalu dalam pengawasan Allah SWT. Perasaan selalu 'dilihat dan diawasi' Allah SWT mendorong kita untuk selalu beriman, bertaqwa dan senantiasa berbuat baik dan syukur-syukur yang terbaik. Orang yang merasa selalu diawasi tidak akan pernah berbuat buruk dan jahat. Bahkan melirik pun tidak. Bayangan siksa-Nya membuat kita harus lebih hati-hati (takwa) dalam hidup ini. Ihsan inilah yang menjadi dasar bagi umat Islam untuk menjalani tugas sebagai abid maupun khalifah denganakhlak yang mulia.

Dengan makna demikian, ihsan seharusnya bukan hanya membingkai (frame) tapi mendasari rukun Islam dan Rukun Iman. Hal ini tidak sulit dijelaskan mengingat penyembahan dan keimanan kita adalah wujud akhlak manusia kepada Sang Maha Pencipta. Ini merupakan sebentuk sopan santun dan rasa syukur hamba-Nya kepada Allah SWT yang telah mencipta dan memberi karunia tak terhitung jumlahnya. Melaksanakan Rukun Islam merupakan bukti pelaksanaan dari rukun iman. Keimanan dan keislaman tak bernilai tinggi jika tidak dilambari sikap ihsan.

Inti ihsan mengejawantah dalam akhlah mulia. Lebih-lebih kepada manusia. Allah SWT telah menciptakan manusia dengan ihsan-Nya, maka manusia juga harus berbuat ihsan kepada ciptaan-Nya. Berbuat ihsan kepada ciptaan-Nya berarti berbuat ihsan kepada Penciptanya. Allah Swt menciptakan manusia dengan beragam suku, bangsa dan warnakulit (QS, 49:13). Allah SWT berkuasa untuk menciptakan umat yang seragam dalam agama dan keyakinan, tetapi Dia tidak berkehendak untuk itu (QS, 11: 118), supaya kita saling mengenal dan saling berlomba dalam kebaikan.

Rasa kemanusiaan belakangan mulai terkikis akibat kepentingan politik. Yang berbeda karena agama atau bahkan karena pilihan politik dinista kemanusiaannya. Jahatnya lagi, penistaan dilakukan atas nama agama. Cap 'kafir' disematkan dan doa buruk dipanjatkan untuk melengkapi penghinaannya kepada orang yang berbeda. Seolah yang berbeda itu bukan manusia yang tak layak dimanusiakan.

Gejolak dunia Islam dalam sepuluh tahun terakhir, terutama yang terkait dengan kekerasan dan peperangan di Timur Tengah dan menguatnya tren ekstrimisme-terorisme atas nama agama, menunjukkan minimnya penghormatan kepada kemanusiaan.

Menguatnya semangat keislaman tanpa diimbangi dengan pemuliaan kepada kemanusiaan merupakan keberagamaan yang tak bermakna. Kemanusiaan itulah yang menunjukkan esensi agama. Sebab agama diciptakan untuk manusia agar mereka hidup sesuai dengan fitrah kemanusiaannya.

Kemanusiaan sebagai Etika

Beragama tetapi tidak memuliakan manusia-apa pun agama dan sukunya-berarti cara beragamanya tidak otentik. Sebab esensi agama adalah memberitahu manusia bahwa dirinya adalah manusia (makhluk), bukan Tuhan (Khaliq). Karena dirinya seorang manusia, maka ia harus berlaku dan bersikap seperti manusia dan wajib menghormati manusia lainnya sebagai sesama manusia. Dalam ungkapan Jawa, manungsa iku uwang, urip kaya uwong lan kudu isa nguwangke uwang.

Fitrah kemanusiaan menginginkan harmoni dan kedamaian daripada berperang. Fitrahnya memilih hidup rukun daripada geseh (tidak akur) dengan orang lain. Kemanusiaan merupakan etika universal dalam bergaul dan bermuamalah dengan sesama. Kemanusiaan nyaris tanpa batas. Namun karena setiap orang mungkin memiliki standar kemanusiaan yang berbeda disebabkan karena agama, keyakinan dan pandangan hidupnya, maka dunia menyebutnya sebagai hak asasi manusia (HAM).

Habib Ali al-Jufri menekankan pentingnya kemanusiaan sebelum keberagamaan (humanity before religiosity). Bukan berarti agama dipandang lebih rendah posisinya daripada kemanusiaan. Agama dan kemanusiaan merupakan dua sisi dari satu mata uang yang sama. Agama mengajarkan kemanusiaan. Kemanusiaan menopang keberagamaan karena fitrah manusia adalah ber-Tuhan. Persaudaraan sebab kemanusiaan (ukhuwah insaniyyah) jangan sampai mengorbankan akidah. Penghormatan karena kemanusiaan bukan berarti pembenaran atas keyakinan orang lain. Keduanya merupakan dua hal yang berbeda.

Di hari Maulid ini, kita jadikan kemanusiaan sebagai modal pembangunan yang perlu dijaga dan ditumbuh-kembangkan. Kemanusiaan merupakan ikatan kehambaan yang akan mempermudah kita untuk menyelesaikan berbagai tantangan dan masalah yang terjadi. Kemanusiaan membuat kita bersatu dan tidak mudah terpecah belah. Kemanusiaan merupakan etika bergaul antar umat manusia, sekaligus sebagai wujud ihsan kita kepada sesama hamba Allah SWT. Janganlah agama dijadikan sebagai penghalang berwelas asih kepada sesama. Sebab, "Dia yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan," kata Ali ibn Abi Thablib.

(dnu/dnu)