Kolom

Menggagas "Super-App" untuk Ekosistem Digital UMKM

Budi Septiawan - detikNews
Selasa, 19 Okt 2021 11:40 WIB
Jakarta -
Istilah ekosistem lebih dikenal dalam bidang ilmu Biologi, dimana ekosistem ini merupakan hubungan dan interaksi antarmakhluk hidup yang terjadi dalam sebuah lingkungan atau tatanan.

Jika diambil contoh dalam ekosistem persawahan, akan ada beberapa aspek yang membentuk ekosistem tersebut, di antaranya tumbuhan, hewan, air, tanah, angin, cahaya matahari, dan para petani. Semua saling berinteraksi satu sama lain untuk membentuk ekosistem sawah yang baik dan rapih, tujuannya menghasilkan padi yang berkualitas dan layak untuk dikonsumsi.

Lalu, apakah UMKM juga mempunyai ekosistem yang baik layaknya padi di persawahan?

Paradigma Digitalisasi

Eksistensi UMKM didukung oleh banyak pihak, mulai dari pemerintah, bisnis-bisnis e-commerce/marketplace, para akademisi, maupun masyarakat pada umumnya. Penetrasi UMKM untuk masuk pasar digital terus didorong oleh pemerintah; di bawah komando Presiden Jokowi, Kementerian Koperasi dan UKM diminta untuk mendorong 30 juta UMKM masuk pasar digital pada tahun 2024.

Digitalisasi pada UMKM merupakan hal yang tidak terhindarkan, bahkan tanpa disuruh oleh pihak mana pun. UMKM akan mengubah bisnisnya menjadi lebih digital selama periode pandemi ini, tujuannya adalah untuk dapat survive. Namun digitalisasi bisnis pada UMKM, paling tidak untuk saat ini, lebih sering diartikan sebagai "berjualan" online atau pemasaran online.

Berdasarkan survei Katadata tahun 2020, pelaku UMKM pun menggunakan internet secara dominan untuk memasarkan produk melalui medsos (60,2%), bermedia sosial (57,8%), promosi barang/jasa (54,4%), mencari informasi terkait usaha (44,7%), membeli bahan baku (35,9%), dan seterusnya. Ini mengindikasikan bahwa aktivitas pemasaran dan penjualan masih mendominasi aktivitas bisnis digital pada UMKM, sementara aktivitas lain masih dianggap hanya pelengkap bisnis saja.

Padahal ada banyak proses bisnis yang harus dilakukan oleh UMKM, mulai dari pemasaran barang dagangan, pengelolaan keuangan usaha, merekrut karyawan, membeli bahan baku, ataupun pengelolaan produksi. Pebisnis yang sukses pun cenderung digambarkan dari raihan omzet usahanya yang tinggi, padahal meskipun omzetnya tinggi, jika pebisnis tidak mampu mengelola persediaan, produksi dan pembelian dengan tepat, bisa saja produknya menjadi out of stock atau habis di saat yang tidak tepat.

Penjualan tinggi, namun ternyata pebisnis tidak melakukan pencatatan transaksi keuangan dengan baik, mungkin saja bisnisnya tidak profitable atau mungkin merugi, ataupun omzet tinggi tapi para karyawannya tidak memperoleh bonus yang layak. Dan, beberapa masalah yang mungkin muncul jika pelaku UMKM hanya berfokus pada aktivitas pemasaran atau penjualan online saja.

Menciptakan Ekosistem

Mari berandai-andai dan berharap suatu saat nanti akan ada super app yang andal dan fiturnya lengkap, sehingga mampu mengakomodasi kebutuhan para UMKM. Semua aktivitas proses bisnis UMKM akan tampil dalam satu dashboard, dan tidak hanya aktivitas penjualan online saja yang dominan.

Saat ini marketplace "gratis" dominan hanya menampilkan produk dalam katalog elektronik, dilanjutkan ke proses pembayaran, pengiriman, dan pelaporan keuangan sederhana. Bagi pebisnis UMKM fitur-fitur ini rasanya sudah cukup untuk menjalankan usaha mereka, namun informasi mengenai data pelanggan, data pemasok, status persediaan, info pembiayaan, regulasi ,dan lainnya juga penting untuk dapat diketahui.

Lantas, fitur apa saja yang bisa ditampilkan di super app tersebut? Mari kita coba identifikasi.

Pertama, Fitur Penjualan, Pengiriman, Pembelian, dan Persediaan. Ini akan menjadi fitur utama dalam aplikasi, dimana penjualan tetap akan menjadi interface utama. Di samping melakukan penjualan, pebisnis juga akan disuguhkan fitur pembelian bahan baku, jika misalnya bisnisnya adalah kopi, maka bahan baku pilihan akan muncul dalam layar seperti kopi, susu, gula, dan peralatan pendukung juga.

Fitur juga akan diintegrasikan dengan status persediaan bahan baku, informasi tentang produk yang terjual dan berapa lagi sisa persediaan produk atau bahan baku. Pada aspek ini perlu adanya informasi tentang database pemasok, database konsumen, top sales, dan lain-lain. Tentunya fitur ini perlu terintegrasi dengan sistem pembayaran dan status saldo atau uang yang dimiliki oleh pebisnis, dimana uang akan berkurang jika melakukan pembelian dan akan bertambah jika melakukan penjualan.

Kedua, Fitur Pembayaran dan Pelaporan. Aspek keuangan terkadang masih dianggap sepele oleh UMKM. Maka dari itu, fitur laporan penjualan, laporan pembelian, laporan keuangan, dan laporan lainnya akan muncul secara otomatis berdasarkan aktivitas pembelian dan penjualan yang sudah dilakukan. Tidak lupa super app juga akan menyediakan berbagai fitur pilihan pembayaran bagi konsumen setia, dimulai dari transfer bank sampai dengan panggunaan dompet digital.

Ketiga, Fitur Pembiayaan. Komponen yang akan sangat menarik dalam super app, lembaga-lembaga keuangan dan para investor bisa ikut masuk dalam super app ini untuk memberikan dukungan pembiayaan. Para calon kreditur dan investor akan disuguhkan top merchants yang memiliki peforma bisnis yang bagus dan prospektif, sehingga keputusan investasi akan tepat sasaran. Sementara pebisnis akan disuguhkan beberapa alternatif pembiayaan, mulai dari perbankan, fintech, sampai venture capital.

Keempat, Fitur Pelatihan dan Modul-Modul Bisnis. Super app juga akan menyuguhkan fitur berbagi ilmu bagi para pebisnis UMKM, dimana para akademisi, praktisi, dan trainer bisa ikut berpartisipasi. Mereka bisa memberikan modul-modul tentang keuangan, pemasaran, produksi, dan lain-lain secara gratis atau berbayar. Berbagai pelatihan bisnis juga akan muncul dalam app, sehingga pebisnis tinggal memilih pelatihan mana saja yang akan diikuti.

Kelima, Portal Berita UMKM. Informasi dan berita mengenai UMKM akan tampil juga dalam super app ini. Pebisnis bisa memperoleh informasi tentang regulasi bisnis dari pemerintah, info-info kedaerahan untuk mengetahui pola dan perilaku konsumen, berita success dan failure story pun akan disajikan sebagai pengetahuan dan bahan evaluasi bagi UMKM.

Keenam, Fitur Promosi dan Branding. Fitur ini tidak kalah asik dari fitur lainnya, dimana para influencer media sosial akan ikut "nimbrung" dan masuk ke sini. Para influencer dan pebisnis bisa menjadi mitra dan saling menguntungkan, para influencer bisa menawarkan jasanya kepada pebisnis, sementara pebisnis juga bisa memilih influencer berdasarkan jumlah pengikut dan juga harga yang ditawarkan. Menarik bukan? Karena faktanya sejauh ini cukup banyak konsumen yang membeli barang atau jasa karena para idolanya yang menjadi endorser.

Super app ini juga bisa menambahkan fitur mengenai info-info bazzar atau event di daerah tempat UMKM berjualan, karena terkadang bazzar menjadi ajang promosi bagi para UMKM. Juga menyediakan data-data bisnis lainnya, layaknya portal saham yang menyediakan data-data saham. Data statistik tentang bisnis juga akan tersedia untuk dapat diakses. Bermitra dengan para pencari pekerjaan, dengan demikian para pelaku UMKM yang berniat mencari karyawan bisa masuk ke fitur tersebut.

UMKM yang unggul akan terbentuk dari banyak pihak yang mendukung di sekitarnya. Dimulai dari konsumen, jasa logistik, pemasok, lembaga pembiayaan, lingkungan akademik, lembaga pelatihan, pemerintah, para influencer, dan masyarakat pada umumnya. Mari kita ciptakan ekosistem UMKM digital yang kuat, terintegrasi, dan bersifat kolaboratif.

Budi Septiawan dosen dan peneliti Ekonomi & Akuntansi Digital Universitas Pasundan

(mmu/mmu)