Jeda

Hidup di "Zaman Konten"

Impian Nopitasari - detikNews
Minggu, 17 Okt 2021 11:51 WIB
impian nopitasari
Impian Nopitasari (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Saya habis mengobrol dengan seorang teman pengurus sebuah pondok pesantren. Dia cerita bahwa rekannya yang menjadi wali kamar sedang apes kena masalah dengan wali santri. Ya, sebagai orangtua yang baru memondokkan anaknya, kadang-kadang memang masih khawatir tentang kondisi anaknya. Beberapa wali santri memang mengontak wali kamar untuk mengirim dokumentasi kegiatan anaknya untuk memastikan mereka baik-baik saja. Si wali kamar ini merekam kegiatan si santri ketika di kamar dan dikirimkan kepada wali santri sebagai laporan bahwa si santri baik-baik saja.

Rekaman tersebut dikirim via pesan pribadi karena sifatnya yang privat. Sialnya, wali santri tersebut malah mengunggah rekaman anaknya tanpa izin di kanal Youtube-nya yang mempunyai 2000-an subscriber. Memang dalam unggahan tersebut diberi keterangan betapa bangganya anaknya mondok, tapi dia lupa bahwa rekaman tersebut akan mengundang berbagai macam komentar. Ya, namanya sedang di kamar, dan kamar adalah ruang privat, ada kalanya memang tidak selalu rapi. Hal tersebut banyak menuai komentar yang buruk, seperti menganggap semua santri pemalas dan pondok pesantren yang tidak menerapkan kedisiplinan, lalu melebar ke mana-mana.

Saya sendiri juga akan marah ketika ruang privat saya disebarkan tanpa izin, apalagi orang lain tidak paham konteksnya. Saya bukan orang yang selalu rapi menata kamar. Kamar saya sering berantakan. Ada kalanya memang malas sekali menata barang. Bagi saya itu ruang privat saya, yang penting tidak keterlaluan misal menumpuk sampah sampai membusuk dan mengganggu orang lain. Memang tidak selalu rapi, tapi bukan berarti kemproh banget. Tapi, ya namanya orang lain pasti akan berkomentar macam-macam dengan melihat sekilas saja.

Teman saya, seorang ibu rumah tangga sering mengomel ketika ada teman yang tiba-tiba datang berkunjung tanpa berkabar. Dia pasti stres ketika ada tamu, tapi rumah dalam kondisi berantakan. Karena dulu pernah ada yang berkunjung ke rumahnya ketika sedang berantakan dan tamu ini ngrasani di belakang bahwa tuan rumah yang baru dikunjunginya tadi adalah seorang pemalas, dan pemalas pasti dekat dengan kemiskinan.

Hal ini mengingatkan saya ketika sedang ramai-ramainya pembahasan work-life balance. Ada yang menganggap semakin banyak waktu kita dihabiskan untuk bekerja, hidup kita lebih berharga. Orang yang sedikit menggunakan waktunya untuk bekerja adalah seorang pemalas. Waktu itu saya melihat ada yang mengunggah foto bapak-bapak yang mengopi pada pagi hari di sebuah warung kopi. Si empunya tweet tersebut memberi keterangan bahwa itu adalah contoh orang-orang pemalas dan tidak produktif. Waktu segitu bagi yang punya tweet adalah waktu berharga untuk berangkat bekerja, bukan malas-malasan.

Tentu saja itu adalah unggahan yang sembrono. Selain tidak izin sebelum mengunggahnya, opininya terlalu tendensius dan tidak paham konteks. Dari fotonya saja saya bisa menduga bahwa bapak-bapak yang mengopi pada pagi hari itu adalah para petani yang akan berangkat ke sawah. Ya, memang berangkatnya jam-jam segitu. Ya namanya pergi ke sawah sebenarnya lebih fleksibel sih tergantung pekerjaannya. Tidak seperti jam orang kantoran yang harus presensi dengan fingerprint.

Dulu juga ada yang mengunggah foto petani yang sedang beristirahat di ladang dengan merokok. Di keterangan unggahan ditulis begini, "Ya gimana mau kaya kalau santai, malas-malasan terus sambil merokok begitu?" Duh, sungguh opini yang njelehi. Tidak tahukah bahwa mereka yang bekerja keras menanam sesuatu yang ia makan? Menanam sampai panen itu perjuangan yang berat. Eh, ketika sedang leyeh-leyeh begitu malah dihukumi pemalas dan miskin.

Kenapa ya orang-orang ini menyamakan standar rajin, malas, kaya, dan sukses dengan standar mereka? Apa semua orang harus menjadi sempurna dengan selalu terlihat rapi? Apa salah ketika kadangkala kita malas mengerjakan sesuatu seperti menata barang dengan rapi atau bukan seseorang yang penggila kerja? Beberapa orang lebih senang lho dengan bekerja secukupnya agar bisa leyeh-leyeh dan santai-santai. Tidak kaya-kaya banget seperti orang-orang ya tidak apa-apa. Hidup biasa-biasa saja yang penting hati tenang.

Saya penginnya juga begitu; bekerja secukupnya saja yang penting kebutuhan terpenuhi. Tapi, ya namanya hidup seringnya tidak ideal. Saya juga pernah tipes karena terlalu kelelahan bekerja. Overworked saya bukan karena ingin terlihat produktif atau cepat kaya, tapi lebih ke kepepet butuh.

Hidup pada era perkontenan seperti sekarang ini memang rasanya engap. Setiap hari orang dipaksa untuk menonton konten. Seperti yang saya ceritakan di atas, orang berlomba-lomba untuk mengunggah apa saja seenaknya. Seringkali unggahan tersebut membuat geger dan masalah. Yang penting trending dulu, urusan benar-tidaknya ya belakangan.

Belum lama kita melihat seorang selebriti yang suka membuat konten tentang kemiskinan. Ya, namanya konten komersil pasti yang bisa meraih simpati penonton dan mendatangkan uang. Ketika ada bapak-bapak yang membuntuti dia untuk meminta bantuan, yang sebenarnya bukan mengemis tapi menawarkan dagangan, malah dimaki-maki. Yang membuat saya kesal lagi, dia membagi-bagikan uang kepada orang lain di depan bapak-bapak itu dan mengatakan bahwa kalau mau cari uang ya dengan bekerja, jangan malas-malasan.

Dibuntuti orang memang menyebalkan, tapi orang sampai berani membuntuti itu ya karena konten yang ia buat sendiri. Dia sendiri mencitrakan diri sebagai orang yang dermawan kok. Dan soal kemiskinan, apa ya si seleb ini tidak paham kemiskinan struktural sih ya. Ada orang yang sudah bekerja bagaimanapun tetap hidup kekurangan karena sistem.

Selebriti lain juga tidak mau kalah, memanfaatkan yang sedang ramai; bapak-bapak korban selebriti sebelumnya diundang ke acaranya. Memang sekilas seperti klarifikasi dan pembelaan untuk si bapak. Tapi, ya tetap saja, konten lagi, konten lagi. Ini seperti acara TV ketika saya kecil dulu. Ketika orang miskin diberi uang dadakan dan disuruh menghabiskannya dalam waktu yang singkat.

Sekilas memang seperti menolong, tapi saya kok malah kasihan ketika mereka terlihat kebingungan, kelelahan karena berlari, bisa-bisa kena serangan jantung. Apalagi barang-barang yang dibeli terkadang tidak sesuai kebutuhan, yang penting untuk menghabiskan uangnya. Terlihat sekali kuasa siapa menekan siapa. Kalau niat membantu lebih baik yang tepat sasaran sesuai kebutuhan mereka begitu kan? Ya, kalau begitu ya nggak jadi konten dong.

Mendungan, 16 Oktober 2021

Impian Nopitasari penulis

(mmu/mmu)