Kolom

Seandainya Semua Manusia Jadi Vegan

Mahmud Khabiebi - detikNews
Selasa, 12 Okt 2021 13:16 WIB
Merayakan Waisak dengan Menjadi Vegetarian, Ini Filosofinya
Foto ilustrasi: iStock
Jakarta -

Salah satu hal yang selalu ramai dibicarakan adalah tentang jalan hidup vegan. Kalau di media sosial Twitter, membicarakan vegan ini jaminan engagement besar. Paling hanya kalah ramai dari topik LGBT

Tidak terkecuali saat beberapa waktu lalu muncul konten dari akun yang sering kampanye penyelamatan hewan dan kampanye vegan. Akun tersebut mengkampanyekan vegan dengan cara yang menurut saya out of the box, yaitu dengan media video dewasa. Di dalamnya terdapat perbandingan antara pasangan vegan dan pasangan bukan vegan melakukan hubungan seks. Dan, voila, pasangan vegan tahan lebih lama ketika melakukan hubungan seks!

Saya sih tidak begitu mempertanyakan dasar ilmiah video tersebut. Mau mendebat juga tidak bisa karena saya terlalu malas untuk menyelidiki penelitian ilmiah yang menghubungkan vegan dengan ketahanan di atas ranjang.

Pikiran saya justru membayangkan hal lain tentang bagaimana jika seluruh umat manusia tiba-tiba menjadi vegan? Sebuah pertanyaan yang sekonyong-konyong muncul dalam kepala sesaat setelah selesai menonton video softporn tersebut. Berbekal pengalaman membaca separuh buku Sapiens karya Yuval Noah Harari, saya memprediksi kondisi dunia seandainya seluruh umat manusia tiba-tiba menjadi vegan.

Pertama-tama, industri ayam goreng dan burger cepat saji akan mati. Tentu ini kabar baik bagi pecinta hewan. Dengan berhentinya konsumsi hewan, waralaba ayam goreng dan burger yang jualan utamanya adalah daging hewan akan mati.

Hewan yang biasa dimakan manusia akan sangat bahagia saat awal-awal mengetahui manusia menjadi vegan. Mereka akan lepas dari kandang hingga tidak ada lagi sapi dan ayam yang terkurung dalam kandang sempit nan menyiksa.

Ayam akan kembali ke hutan. Mereka bisa makan beragam serangga kecil yang tidak pernah diberikan oleh pemiliknya dahulu. Sapi sangat bahagia karena bisa berlarian kesana kemari dan tertawa di padang rumput yang luas.

Manusia pengusung ide vegan dan penggerak revolusi vegan juga akan sangat bahagia. Ini adalah kemenangan besar yang layak untuk dirayakan dengan pesta. Acara seperti makan besar dilaksanakan dengan makanan yang seluruhnya berasal dari tumbuhan.

Seminggu pertama mungkin akan baik-baik saja. Baru kemudian saat minggu kedua mulai ada dampaknya. Harga sayur dan buah meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah konsumen. Petani bersuka cita karena hasil panennya laku keras. Petani mendadak menjadi jutawan.

Konsumsi sayur dan buah yang terus meningkat membuat petani terpaksa harus memperluas lahannya. Ini bukan masalah besar karena petani sudah kaya raya. Dengan keuntungan dari hasil panen sebelumnya, petani mampu memperluas lahan tanam.

Namun ternyata itu saja masih belum cukup. Pemerintah yang berkuasa menginginkan hasil panen lebih banyak lagi sebagai persiapan kalau terjadi paceklik. Segala hal dilakukan pemerintah antara lain memindahkan hunian penduduk ke rusun sehingga lahan bekas tempat tinggal mereka bisa ditanami komoditas pertanian. Masyarakat mungkin mau pindah dengan senang hati mengingat bekas tempat tinggalnya akan menjadi lahan hijau pertanian. Harga pangan juga akan turun jika lahan pertanian semakin luas.

Faktanya, pemerintah mulai dikuasai petani kaya raya yang tidak mau rugi. Dari sini mulailah petani di dalam lembaga pemerintah membuat macam-macam aturan untuk mencegah harga sayuran turun. Kalau bisa justru harus terus ditingkatkan supaya bisa diekspor ke mancanegara.

Melalui semangat ekspor padi, pemerintah membuka lahan kosong. Hutan ataupun savana akan dimodifikasi sedemikian rupa agar dapat ditanami padi. Hasilnya, keanekaragaman flora terus berkurang hingga menyisakan tumbuhan yang dikonsumsi manusia saja.

Menyempitnya hutan akan berdampak pada kehidupan ayam tadi. Sayang sekali ayam harus masuk ke sawah untuk mencari makan. Dan, itu artinya ayam menjadi musuh manusia dalam mencari makan. Ayam akan dianggap hama yang merusak sawah hingga akhirnya dibasmi. Kemudian, karena manusia tidak lagi makan daging, manusia tidak butuh ayam. Kemungkinan ayam akan diperlakukan seperti tikus yang terus dihabisi manusia.

Nasib sapi pun tidak terlalu baik. Mereka tinggal di tanah lapang penuh rumput yang luas. Sapi harus berebut lahan dengan manusia. Sama seperti hewan lain, sapi pasti kalah dari manusia kemudian hanya bisa memilih untuk pindah ke dalam hutan. Ya, sapi akan menjadi hewan liar seperti badak dan gajah saat manusia tidak membutuhkannya.

Nasib sapi tergantung kemampuan adaptasinya. Tidak banyak cahaya matahari yang berhasil menembus lebatnya hutan. Dengan begitu rumput yang tumbuh tidak akan sebanyak di padang savana. Di dalam hutan pula, sapi harus bersaing dengan gajah dan badak dalam mencari makan.

Mungkin hal seperti itu yang akan terjadi seandainya seluruh manusia berhenti mengonsumsi daging hewan. Ayam harus berjuang hidup sendiri tanpa bantuan makanan dari manusia. Sapi harus bersaing dengan pemakan rumput lain di alam liar. Sialnya, kedua hewan tersebut kemungkinan akan dibasmi oleh manusia karena memperebutkan sumber makanan yang sama.

(mmu/mmu)