Kolom

Merespons "Sambat" Peternak Ayam (Petelur)

Gunawan Wibisono - detikNews
Selasa, 12 Okt 2021 11:03 WIB
Massa yang tergabung dalam Paguyuban Peternak Rakyat Nusantara melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR, Jakarta  Senin (11/10/2021). Aksi ini menuntut Pemerintah agar keadilan bagi para peternak ayam mandiri, yang selalu dihantui oleh ancaman monopoli perusahaan besar (korporasi) dan fluktuasi harga rugi.
Demo peternak ayam petelur di DPR (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Kehebohan kembali terjadi. Setelah aksi peternak Suroto mengangkat poster pada Presiden, para peternak Blitar kembali melakukan aksi "bagi-bagi telur" gratis dan melepaskan ayam. Mereka menggelar demo tersebut karena tidak merasakan "perubahan nasib" usaha. Harga telur ayam ras masih rendah, sementara harga pakan jagung semakin tinggi.

Apa yang menyebabkan harga telur terus menurun? Adanya penawaran tinggi (stok yang berlebih) tidak diimbangi dengan bertambahnya permintaan barang. Ketidakseimbangan tersebut membuat harga semakin anjlok. BPS merilis terjadi deflasi pada September 2021 sebesar 0,04 persen. Salah satu penyebabnya adalah penurunan harga telur ayam. Secara umum, telur termasuk dalam kelompok makanan, minuman, tembakau yang mengalami deflasi -0,47 persen, dan memberikan andil deflasi nasional sebesar -0,12 persen.

Penurunan harga telur dan kenaikan harga jagung secara bersamaan adalah kombinasi yang menyudutkan peternak. Jika diibaratkan manusia, jagung adalah beras/makanan pokok bagi ayam petelur .Tanaman serelia ini mengandung 70% karbohidrat, 10% protein, dan 5% lemak. Mudah dicerna unggas karena mempunyai kandungan pati sebanyak 60-80%. Dalam komposisi pakan ayam, jagung mendominasi sebanyak ±50 persen, selebihnya adalah konsentrat, bekatul, dan bahan campuran lainnya.

Kementerian Pertanian sebagai lembaga yang menangani data jagung menyatakan bahwa mahalnya harga jagung terjadi karena masalah distribusi. Masih tersedia stok jagung sebanyak 2,37 juta ton. Kementerian Perdagangan lantas mempertanyakan keberadaan stok jagung, Menurut mereka harga tidak akan semakin mahal apabila tersedia barang mencukupi di pasaran. Polemik data tersebut berpotensi menimbulkan keraguan masyarakat terhadap keakuratan data jagung nasional.

Tidak Berdaya

Makanan ternak memang menjadi faktor yang utama; peternak dituntut memberikan nutrien/zat makanan yang cukup dan bergizi. Menurut data Survei Struktur Ongkos Usaha Peternakan (SOUT) 2017, komposisi pakan ayam ras petelur sebesar 85% dari total biaya produksi. Besarnya biaya produksi untuk pakan ayam membuat peternak harus memutar otak. Karena pakan ayam kemasan pabrik dinilai mahal, peternak pun mencari alternatif lain dengan membuat pakan ayam sendiri.

Sayangnya, alternatif tersebut bagaikan memakan buah simalakama. Pasalnya, tingginya harga jagung pernah menembus sampai Rp 6000/kg. Kenyataan tersebut memaksa peternak menelan kerugian setiap hari dan merogoh kocek pribadi guna menutupi biaya produksi usaha.

Sekadar ilustrasi, jika memiliki ayam layer 1000 ekor saat masa produksi membutuhkan makanan sebanyak 115 gr/ekor, dan totalnya adalah 115 kg pakan. Dengan rata-rata biaya pakan Rp 6000/kg, maka diperlukan biaya sebesar Rp 690.000. Seribu ekor ayam tersebut mampu memproduksi 750 butir telur atau setara 42 kg. Bila harga rata-rata dari peternak Rp 12.500/kg, maka peternak hanya meraup omset Rp 525.000. Iya, merugi.

Itulah kenyataan yang dihadapi peternak selama ini saat harga jagung mahal. Biaya tersebut belum termasuk ongkos tenaga kerja, atau biaya antara yang lain seperti vaksin, vitamin, air, listrik, dan sebagainya. Mereka menghadapi dua pilihan yang sama-sama sulit, yakni terus "bertahan" entah sampai kapan ataukah "gulung tikar" dari usaha yang menopang ekonomi keluarganya selama ini.

Butuh Solusi

Fenomena harga telur ayam yang turun bukanlah kali pertama terjadi. Fluktuasi terus terjadi sejak 2020, saat awal pandemi Covid-19 dan pemberlakuan PPKM. Untuk antisipasi, pemerintah biasanya mengambil kebijakan dengan mengendalikan populasi ayam. Menurut BPS, pada 2020 tercatat 46 Perusahaan Pembibitan-Parent Stock ayam petelur, 137 perusahaan budidaya yang bisa mengatur DOC ayam layer. Sepertinya pengaturan populasi kali ini salah prediksi, tidak mempertimbangkan daya beli masyarakat yang rendah, sehingga stok telur menjadi melimpah.

Selain masalah harga, kebutuhan jagung menjadi krusial bagi peternak. Kementerian Pertanian mencatat kenaikan produksi jagung 21,65 juta ton di 2018 menjadi 25,18 juta ton pada 2020 dengan rata-rata produktifitas 5,31 ton/hektar. Jika melihat tren data serta tidak adanya fenomena lain kebutuhan jagung, seharusnya perkiraan kebutuhan jagung 2021 dengan 7,04 juta ton untuk industri pakan unggas dan 3,71 juta ton untuk peternak mandiri dapat terpenuhi.

Karena memegang peran yang krusial, tata kelola data produksi jagung nasional perlu di-update kembali. Kolaborasi dengan berbagai pihak perlu ditingkatkan untuk menghadirkan statistik yang dapat diandalkan (reliable). Menurut Prof Abuzar Asra, "dapat diandalkan" mengandung nilai objektif (apa adanya/tidak bias). Kemudian akurat (merefleksikan kenyataan/realitas) serta tepat waktu (timely).

Luas panen merupakan faktor pengali, sehingga mempunyai peran penting dalam data produksi. Dengan memaksimalkan data Survei Kerangka Sampel Area (KSA) jagung dapat memperkuat estimasi penghitungan luas panen. Inovasi yang dirintis BPPT dan BPS tersebut memanfaatkan citra satelit dan data dari pemetaan radar. Karena titik koordinat tanaman jagung dipantau setiap bulan, maka nilai amatan yang terekam bermanfaat untuk memperoleh data luas lahan yang lebih akurat.

Untuk meng-update data kebutuhan jagung, dapat dilakukan dengan pendekatan jumlah peternak dan populasinya. Database secara kewilayahan akan membentuk peta yang menggambarkan lokasi sentra peternakan ayam petelur. Para peternak bisa bergabung dalam kegiatan kelompok tani di desanya masing-masing. Perpaduan tersebut akan memudahkan penyuluh Dinas Pertanian maupun Peternakan untuk mendata kegiatan usaha mereka.

Menyadari kondisi ekonomi saat ini, memang tidak mudah untuk semua pihak. Perekonomian Indonesia mulai pulih dengan pertumbuhan ekonomi dari pijakan yang rendah (low base effect). Harapan peternak saat ini adalah terpenuhinya kebutuhan pakan jagung. Meskipun daya beli/konsumsi masyarakat masih rendah, setidaknya dengan harga jagung yang terjangkau akan membuat mereka bertahan hidup.

Gunawan Wibisono Statistisi BPS Kabupaten Blitar

(mmu/mmu)