Kolom

Ketakutan "Learning Loss" dan Dilema PTM Terbatas

Yanti Hanahime - detikNews
Senin, 11 Okt 2021 11:46 WIB
Suasana PTM terbatas di SMP N 2 Wates, Kulon Progo, Senin (4/10/2021).
Foto ilustrasi: Jalu Rahman Dewantara/detikcom
Jakarta -
Isu klaster sekolah semakin santer, meski jumlahnya simpang-siur. Berapa pun angka yang belum dipastikan itu, buah dari rendahnya ketaatan dalam menjalani protokol kesehatan. Meskipun tidak ada juga data resmi yang menyatakan tingkat kedisiplinan siswa dalam menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Namun, sulit untuk membayangkan anak-anak usia PAUD dan SD konsisten menaati prokes dari waktu ke waktu.

Apakah dampak pembelajaran jarak jauh bagi siswa memang sebegitu menakutkan, seperti ungkapan Luhut Binsar Pandjaitan yang ramai diberitakan, "Kita lebih takut dan ngeri lagi kalau generasi yang akan datang tidak berpendidikan dan bodoh"? Apakah alasan semacam ini yang mendorong pemerintah mengambil opsi yang mau tidak mau disebut "membahayakan", melalui kebijakan PTM terbatas, yang berlaku sejak Surat Keputusan Bersama Empat Menteri dikeluarkan?

Padahal, jika kita kembali pada peraturan pertama Kemendikbudristek tentang pembelajaran jarak jauh yaitu Surat Edaran No 4 Tahun 2020, telah disebutkan bahwa tujuan pembelajaran di saat pandemi adalah memberikan pengalaman belajar dan fokus pada pendidikan kecakapan hidup sehari-hari. Lalu, mengapa kebijakan tersebut diganti di saat pandemi belum berakhir?

Kemungkinan jawabannya ada tiga hal. Pertama, virus ini akan menjadi endemi yang mau tidak mau mengharuskan manusia beradaptasi. Kedua, program vaksinasi yang prosentasenya terus meningkat. Meskipun faktanya kebijakan PTM terbatas juga diterapkan di SD, bahkan pada tingkat PAUD yang notabene tidak tergolong sebagai penerima vaksin. Ketiga, ketakutan para pemangku kebijakan tentang ancaman learning loss pada siswa.

Learning Loss

Istilah learning loss awalnya digunakan untuk menggambarkan kondisi setelah siswa mengalami libur panjang atau putus sekolah sementara waktu karena berbagai alasan. Siswa akan kehilangan minat pada sekolah, kemampuan akademik menurun, hilangnya pengetahuan tentang pembelajaran dan keterampilan yang telah dipelajari. Penelitian tentang learning loss banyak dilakukan pada negara-negara yang memiliki musim panas atau summer, yang biasanya libur sekolah selama dua hingga tiga bulan.

Dalam penelitian Kuhfeld (2019) berjudul Surprising New Evidence on Summer Learning Loss, ia mengungkapkan beberapa teori yang mungkin bisa menjadi penyebab learning loss selama siswa libur musim panas. Salah satunya adalah the faucet theory dari Olson dkk (2000) yang beranggapan bahwa proses pembelajaran seperti tombol on dan off sebuah keran air yang jika dimatikan, aliran akan terhenti dan tidak terjadi proses apapun --berakibat pada hilangnya resources terhadap pembelajaran, terutama pada keluarga dengan low income.

Sebaliknya, siswa yang lebih mampu secara finansial, memiliki akses terhadap pendidikan informal lain seperti kursus, pelatihan, dan belajar langsung ke alam bebas seperti kebun binatang, akuarium, dan museum. Di sisi lain, jika dilihat dari sudut pandang generasi Z yang lahir pada rentang tahun 1997-2012, usia tertua gen Z masih duduk di bangku kuliah atau baru menyelesaikan studi, sedangkan usia termudanya berada di bangku SD. Artinya, generasi ini lahir setelah internet dan cukup familiar dengan berbagai kemudahan teknologi.

Studi dari Barber (2020) berjudul Teaching and Engaging Generation Z during the Coronavirus mengungkapkan bahwa kelompok gen Z ini merasa cukup mudah beradaptasi dengan pembelajaran daring. Terlebih bagi siswa yang mengambil beberapa kerja part-time dan kursus informal di luar jam sekolah.

Fleksibilitas dan kemudahan penggunaan teknologi adalah hal yang terpenting bagi generasi ini. Dengan catatan bahwa tugas seorang pengajar telah terpenuhi, yaitu memberikan dukungan, membuat siswa merasa dipahami, dan didengar. Selain tetap menekankan melalui setiap pertemuan daring tentang pentingnya keterlibatan siswa dalam bidang pendidikan, melampaui apapun.

Artinya, potensi learning loss mungkin saja dialami beberapa siswa, tetapi tidak bisa digeneralisasi. Lagipula, learning loss terjadi hanya ketika siswa sama sekali tidak memiliki akses terhadap ilmu pengetahuan. Kondisi ini berbeda dengan sistem pembelajaran jarak jauh; keran sumber pengetahuan tetap terbuka. Ditambah lagi jika fasilitator mampu mengimplementasikan desain pembelajaran interaktif, bukan memindahkan pembelajaran di kelas yang bersifat monolog dan monoton ke media daring.

Dengan demikian, menghindari learning loss dengan melakukan PTM terbatas bukanlah regulasi terbaik yang diberlakukan untuk saat ini. Sebab, masih ada usaha lain yang bisa ditempuh pemerintah supaya siswa tidak perlu mengalami uji coba yang dapat membahayakan kesehatan bahkan nyawa.

Lagipula, jika kita kembali pada asas-asas terpenting dari sebuah sistem pendidikan, tentu saja tidak hanya berupa pengetahuan dan nilai akademik semata. Bahkan, dua dari empat pilar pendidikan yang dicetuskan UNESCO adalah konsep belajar mandiri, yaitu learning to be atau kemampuan untuk menjadi manusia dan mengenali diri sendiri. Serta learning to live together, yaitu bermanfaat bagi orang lain sehingga mampu hidup bersama.

Pada akhirnya, kita harus mengakui dilema menentukan alternatif terbaik di dunia pendidikan saat ini. Sebab, bagaimana pun, digital inequality, perbedaan tingkat sosial ekonomi dan tingkat pendidikan orangtua peserta didik, kesenjangan kelompok urban dan rural, semua itu berpengaruh pada kualitas pembelajaran jarak jauh.

Namun demikian, pilihan untuk menyelenggarakan PTM terbatas patutnya dijadikan alternatif terakhir setelah semua kondisi terkendali, dan setelah berbagai usaha lain terkait peningkatan mutu pembelajaran jarak jauh ditempuh oleh pemerintah. Sebab, jika regulasi ini ditetapkan hanya karena ketakutan akan learning loss, tentu menggambarkan poin decision making yang cenderung hiperbolis.

Sriwiyanti mahasiswa Master of Educational Psychology UniSZA, Malaysia

(mmu/mmu)