Kolom

Peran Komponen Cadangan dalam Ancaman Konvensional & Nonkonvensional

Beni Sukadis - detikNews
Jumat, 08 Okt 2021 18:35 WIB
65 warga sipil Kuningan ikut Komcad marta darat
Foto: Bima Bagaskara
Jakarta -

Menjelang akhir tahun 2021, Indonesia telah mengalami situasi darurat pandemik COVID-19 selama lebih dari 1,5 tahun dan nampaknya kita belum tahu kapan berakhir. Namun, awal Oktober ini memang situasi menurun dibandingkan bulan Juni-Juli 2021 yang dinyatakan gelombang 2 pandemi. Pada saat itu, fasilitas kesehatan seperti rumah sakit dan tenaga kesehatan yakni dokter, perawat dan lainnya mengalami beban berat dan hampir kolaps akibat jumlah pasien COVID-19 melonjak tinggi.

Saat itu pihak Kementerian Pertahanan (Kemhan) ikut membantu dengan menyiapkan fasilitas/aset Kemhan menjadi rumkit darurat COVID-19. Sejumlah fasilitas Kemhan yaitu Gedung Litbang Kemhan dan juga RS veteran dijadikan rumah sakit tambahan bagi pasien COVID-19 yang tidak tertampung di rumah sakit lainnya, serta dibutuhkan tenaga kesehatan dalam menanganinya.

Tentu, hal ini menjadi suatu preseden baru dalam pengunaan sumber daya pertahanan di masa darurat menghadapi pandemi yang terbesar dialami Indonesia pasca kemerdekaan dan seluruh dunia.

Kalau melihat praktek terbaik soal komponen cadangan (komcad) di beberapa negara lain seperti AS maka dapat kita pelajari bahwa komcad di sana sangat dibutuhkan baik dalam waktu damai dan waktu perang. Dalam waktu damai, komcad dan garda nasional AS sangat dibutuhkan ketika terjadi darurat nasional di AS utamanya saat badai Katrina tahun 2005.

Saat itu dampak badai sangat besar yang meluluhlantakan negara bagian Lousiana, akhirnya mendorong pemerintah federal mengumumkan keadaan darurat nasional dan mengaktifkan garda nasional. Penggelaran garda nasional dan komponen cadangan itu dalam rangka membantu pemerintah negara bagian dalam menangani bencana alam dan keadaan darurat lainnya, serta menjadi contoh faktual dalam pengelaran garda nasional dalam tugas-tugas domestik.

Yang menarik dipelajari bahwa AS sebagai negara besar sangat bergantung pada komcad sebagai unsur pendukung yang menambah (augment) kekuatan pasukan reguler pada masa perang. Di saat yang sama pada awal perang melawan teroris (war against terrorism), komcad AU diaktifkan untuk membantu pasukan regular dalam melakukan patroli udara dan menjadi tenaga medis darurat (first responder).

Dan juga ketika terjadi operasi militer di Irak, komcad menyumbang 40% pasukannya dalam total penugasan pasukan AS di Irak. Ketika masa pascarekonstruksi di Irak, komcad banyak bertugas di bagian urusan sipil, tenaga kesehatan, teknik sipil, dan operasi psikologis. Sehingga peran mereka dalam pembangunan Irak dan sekaligus penguatan pasukan regular tidak terbantahkan.

Sedangkan Indonesia secara geografis merupakan wilayah rawan bencana yang sangat rutin kita alami seperti gempa bumi, banjir, erupsi gunung, kebakaran hutan, dan lainnya. Maka peran komponen cadangan harus dipersiapkan sebagai pasukan yang akan selalu membantu pemerintah dalam menanggulangi ancaman nonkonvensional tersebut. Artinya kebutuhan komponen cadangan selain dipersiapkan untuk tugas pokok pertahanan negara, maka penambahan fungsi sebagai kekuatan cadangan dalam menghadapi darurat nasional menjadi suatu keniscayaan.

Seperti dijelaskan di atas, keadaan darurat pandemi COVID-19 di Indonesia membuat sumber daya di bidang kesehatan kewalahan saat gelombang 2 terjadi pada pertengahan tahun ini. Kemhan merespon dengans mendirikan rumah sakit tambahan yang berasal dari aset/fasilitas Kemhan, namun ini perlu didukung oleh sumber daya manusia yang mumpuni. Salah satu sumber daya manusia yang bisa dikerahkan tentunya dari mahasiswa kedokteran/perawat tingkat akhir dan mestinya komponen cadangan di masa depan bisa berkontribusi dalam penanganan pandemi ataupun keadaan darurat nasional lainnya.

Untuk itu, maka para pemegang kebijakan di Kemhan dan lainya perlu memikirkan bagaimana melakukan perekrutan dan pelatihan komponen cadangan yang memiliki keahlian yang spefisik yaitu tenaga kesehatan (dokter, perawat, dan lain-lain), teknik sipil, ahli urusan sipil (civilian affairs), polisi militer, operasi psikologi, ahli komputer/teknologi informasi dan lainya. Mereka memang akan lebih banyak bertugas sebagai sistem dukungan untuk membantu pemerintah pada masa damai terutama saat ini ketika pandemi belum reda dan darurat nasional lainnya. Tetapi pada masa perang mereka tentu dapat didayagunakan sesuai kompetensinya.

Pemerintah harus lebih serius mempertimbangkan hal di atas. Karena tanpa ada kebijakan yang jelas dalam perekrutan komcad yang sesuai keahlian yang dibutuhkan di masa depan, maka kita akan kehilangan waktu untuk mengantisipasi ancaman keamanan yang di luar dugaan. Kebijakan yang tepat tentu akan berdampak jangka panjang ketika ancaman konvensional dan nonkonvensional semakin meningkat dan faktual dapat ditangani dengan kesigapan kita dalam persiapan sumber daya manusia bidang pertahanan itu.

Beni Sukadis, Peneliti Senior Lesperssi

(ncm/ega)