Kolom

Merger Pelindo, Menuju Pelabuhan Kelas Dunia

Hafidz Novalsyah - detikNews
Jumat, 08 Okt 2021 11:16 WIB
Wakil Menteri BUMN II, Kartika Wirjoatmodjo, mengikuti Press Conference Rancangan Penggabungan PT Pelabuhan Indonesia I, II, III, dan IV (Persero), di Jakarta, Rabu (1/9/2021).
Foto: Dok. Pelindo
Jakarta -

Para pegawai di keempat BUMN Pelabuhan Indonesia 1, 2, 3, dan 4 mungkin sebelumnya tidak pernah membayangkan bahwa kelak mereka akan bekerja di salah satu operator pelabuhan berkaliber dunia. Perusahaan hasil merger Pelindo dikalkulasikan akan melayani arus (throughput) peti kemas mencapai 16,7 juta TEUs per tahun atau berada di posisi kedelapan terbesar di dunia.

Jadi 'Pelabuhan Indonesia' (Indonesia) akan berada di antara PSA International (Singapura), COSCO (Tiongkok), Hutchison PH (Hong Kong), Dubai PW (UAE), dan AP Møller Terminals (Belanda). Menteri BUMN Erick Thohir bahkan pernah menyebutkan valuasi 'Pelabuhan Indonesia' diproyeksikan hampir Rp 120 triliun atau melampaui nilai aset beberapa emiten yang telah mapan bertahun-tahun di Bursa Efek Indonesia, mulai dari sektor pengelola jalan tol, semen, kontraktor, gas, hingga pertambangan dan perkebunan sawit (lifepal.co.id, 2021).

Jadi marwah sekitar 9 ribu pegawai di seantero grup usaha Pelindo nantinya bukan lagi hanya berkartu nama sebagai 'pegawai BUMN', tetapi 'berkarya di BUMN berlevel global'. Bila hal tersebut dipandang masih prematur, anggaplah merupakan optimisme semangat sekaligus doa. Citra tersebut semoga tidak berlebihan, karena ditumbuhkan dari pijakan angka data.

Sebelum semakin berbunga-bunga atas harumnya citra, mari kita kembali mulai ber-tabayyun (memverifikasi) data. Bila membuka data, ternyata masih banyak perspektif lain yang bisa dikomunikasikan untuk membawa optimisme bersama. Merger diharapkan menjadi fresh restart untuk melayarkan kembali mimpi Indonesia memiliki industri maritim berstandar dunia, dengan berkompaskan data yang rasional.

Misalnya apakah apple-to-apple bila pelabuhan di Indonesia harus melampaui Pelabuhan Singapura dan Pelabuhan Tanjung Pelepas Malaysia dari sisi throughput? Padahal kedua pelabuhan di negeri jiran tersebut didominasi arus peti kemas transhipment internasional alias mayoritas peti kemas hanya singgah untuk berganti kapal. Sementara pengembangan beberapa pelabuhan di Indonesia sebagai hub port international konteksnya sebagai pelabuhan untuk mengirim komoditas ekspor nasional. Tak pelak pengembangan ekosistem logistik pada hinterland pelabuhan juga menjadi faktor kontributor penting pada produktivitas pelabuhan.

Contoh lainnya, informasi rendahnya peringkat Indonesia pada Logistics Performance Index (LPI) yang dihitung oleh Bank Dunia (lpi.worldbank.org, 2018). Mulai kuliah tamu dosen dari UNCTAD di kampus saya di Swedia, hingga sesi tanya jawab webinar logistik dengan pembicara petinggi di Indonesia, saya masih belum mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang penghitungan LPI.

Untuk negara berkembang dengan ribuan kepulauan dan seratusan juta penduduk seperti Indonesia, apakah ada faktor yang berbeda pada rumus penghitungan LPI dibanding negara-negara yang wilayahnya terdiri dari sedikit pulau atau bahkan landlock? Bila disamakan, lalu bagaimana peringkat Indonesia bisa membaik?

Kemudian apabila narasinya kinerja pelabuhan menjadi kambing hitam untuk LPI Indonesia, akan semakin membingungkan sebagai asumsi pembuka diskusi untuk solusi. Karena bila membuka data, proporsi kinerja pelabuhan berkontribusi kecil pada pengukuran kinerja logistik secara keseluruhan. Hal tersebut dijelaskan Wakil Menteri BUMN II Kartiko Wirjoatmojo pada Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR, yang disiarkan di kanal YouTube pada 30 Juni 2021.

Perihal persaingan dengan Pelabuhan Singapura dan LPI tersebut merupakan contoh narasi internal dan eksternal yang perlu diluruskan dengan kedalaman data. Agar membawa insan Pelindo menggerakkan integrasi dengan berbasis data (data-driven mindset).

Merger merupakan langkah transformasi akbar yang membutuhkan kepemimpinan yang jelas (crystal clear) dalam mengomunikasikan arah kebijakan. Dengan komposisi organisasi yang dipenuhi generasi milenial, data-driven mindset bisa menjadi jembatan yang efektif antara pemimpin dengan seluruh elemen organisasi.

Strategi Kepemimpinan Teknologi yang merupakan salah satu formulasi prioritas Kementerian BUMN dalam Roadmap BUMN 2020-2024 sangat tepat untuk menginkubasi tunas-tunas muda Pelindo untuk kelak menjadi data-driven leaders. Yakni, mengarahkan para pemimpin BUMN agar memimpin secara global dalam teknologi strategis dan melembagakan kapabilitas digital (bumn.go.id, 2020)

Di sinilah semakin terlihat bahwa digitalisasi tersebut mengakselerasi integrasi Pelindo. Bukan hanya dari sisi teknologi informasi yang merupakan key enablers dari integrasi bisnis kepelabuhanan dan proses merger pelabuhan itu sendiri, tetapi juga untuk membangun fondasi keberlanjutan bisnis Pelindo pada aset yang paling penting: sumber daya manusia (SDM/human capital).

Direktur SDM Pelindo III Edi Priyanto pada suatu talkshow di Instagram Live (25 Juni 2021) menyebutkan bahwa digitalisasi mengakselerasi pengembangan manajemen talenta perusahaan. Misalnya di Pelindo III yang telah memiliki sistem informasi digital SDM yang mampu membaca gap kompetensi. Sehingga manajemen bisa memberikan langkah pelatihan sesuai kebutuhan masing-masing pegawai untuk disiapkan mengisi kebutuhan formasi di perusahaan.

Ia menambahkan bahwa yang terpenting dari digitalisasi ialah bagaimana membuat pegawai memiliki digital mindset atau menjadi digital savvy untuk bekerja dengan efisien, efektif, dan inovatif. Selain itu menurut saya, digital mindset harus data-driven mindset, yang sudah terbukti diterapkan di negara maju untuk memerdekakan korporasi dari arogansi dan kompleksitas birokrasi.

Seperti disadari bahwa industri kepelabuhanan sangat rentan pada sisi regulasi dan keruh dengan lintas sektoral yang melibatkan banyak sekali institusi. Para SDM pembelajar Pelindo juga dibekali dengan core value BUMN, AKHLAK. Hal tersebut penting karena moral hadir untuk menjadi arah yang etis dari perkembangan ilmu pengetahuan dan bisnis.

Komunikasi Filosofi

Lalu bagaimana menggugah mereka untuk memahami merger sebagai hari baru untuk menjadi lebih baik bersama-sama? Menurut Simon Sinek dengan konsepnya "Start with Why" (Simon Sinek, 2009), perusahaan-perusahaan besar yang sukses tidak pernah langsung menjual keunggulan produk atau jasanya. Tapi memulai dengan mengomunikasikan mengapa mereka berbisnis atau apa tujuan bisnisnya dulu (why & purpose). Kemudian baru bagaimana sumber daya perusahaan (how the people, process, technology) dikerahkan untuk mewujudkan apa yang menjadi produk atau jasanya (what).

Percaya pada tujuan dan filosofi atau nilai organisasi inilah yang diyakini menjadi rahasia di balik betapa tampak bangga dan inovatifnya karyawan start-up unicorn atau perusahaan teknologi seperti Apple atau Google. Mereka percaya mereka sedang berkarya (melakukan hal yang baik, penting, dan besar). Tidak semata bekerja demi pendapatan materi yang besar.

Misalnya, karyawan Apple meyakini bahwa mereka sedang mengerjakan karya-karya teknologi yang menjadi alternatif dan solutif untuk masalah produk ponsel yang mapan ketika itu (why). Lalu mereka membuat ponsel dengan desain yang simpel, berlayar sentuh, dan satu tombol tengah yang multifungsi. sehingga lebih efektif daripada ponsel bertombol QWERTY (how). Lahirlah iPhone (what) yang turut menikam Blackberry dan ponsel jenis PDA.

Start-up seperti Apple, Facebook, Instagram, Google, Gojek, Shopee, dan lainnya bahkan rajin memublikasikan 'kehidupan kerja di dalam kantor mereka', semacam behind-the-scene. Hal tersebut tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan engagement karyawan, tetapi juga mengiklankan kualitas perusahaan (branding) dan menarik calon pelamar kerja terbaik. Era memupuk loyalitas karyawan dengan gaji tinggi sudah berakhir.

Komunikasi Publikasi

Dalam perspektif public relations, saya berargumen, Pelindo sebagai badan usaha negara yang tunduk pada dua instansi regulator, membuat bisnisnya rentan pada regulasi dan berada di antara banyak pemangku kepentingan di industri maritim. Publikasi Pelindo sebaiknya mengoptimalkan third party endorser. Strategi agenda setting bisa dimainkan di antara segitiga relasi antara regulator - masyarakat - mitra usaha, demi kelancaran operasional layanan.

Untuk menanggulangi isu negatif ada formulasi tema publikasi. Ketika ada keluhan kenaikan tarif pelabuhan, tema yang diangkat penyesuaian tarif dibutuhkan untuk peningkatan pendapatan negara dan layanan kepada masyarakat. Ketika ada protes dari elemen masyarakat, tema yang diangkat pengamanan pelabuhan sebagai objek vital nasional.Ketika ada regulasi yang memberatkan bisnis, tema yang diangkat dampak berat yang akan dirasakan oleh seluruh pihak pada rantai pasok dan ujungnya memberatkan masyarakat.

Komunikasi Transformasi

Rencana strategi komunikasi merger perlu dirumuskan dengan matang. Baik internalisasi why ke internal, maupun publikasi why ke eksternal dari perspektif para pemangku kepentingan. Corporate Communications Pelindo III secara berkala telah melakukan sosialisasi internal melalui beberapa email blasting tentang manfaat merger Pelindo bagi Negara, BUMN, masyarakat, serta sentimen positif dari DPR, dan sosok opinion leader.

Langkah tersebut tepat dilakukan dan tentunya tidak mudah, mengingat bentuk final merger masih belum diputuskan secara resmi. Namun telah cukup bermanfaat meredam potensi isu kekhawatiran di internal. Nantinya materi-materi sosialisasi tersebut bisa dikerucutkan lagi dengan pertimbangan prioritas pemegang saham dan kreativitas untuk publikasi.

Jadi, para pemimpin hendaknya mengomunikasikan dahulu ke internal perusahaan mengapa merger dilakukan. Kemudian bersama-sama seluruh elemen perusahaan mengkomunikasikannya ke eksternal. Selanjutnya jangan sampai insan keempat Pelindo kehilangan momentum merger ini untuk tidak hanya mengintegrasikan bisnisnya, tetapi juga merevolusi mental SDM-nya. Agar sadar, percaya diri, dan mumpuni menjadi bagian dari korporasi yang merupakan pemain global.

Merger Pelabuhan Indonesia menjadi tonggak transformasi industri maritim Indonesia menjadi modern. Apabila merger bisa diresmikan sesuai rencana pada Oktober, maka salah satu skenario narasi yang bisa diinternalisasi dan diamplifikasi yaitu bahwa integrasi Pelindo tujuannya sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat Indonesia. Integrasi dan transformasi dijalankan oleh para insan muda pelabuhan Indonesia yang segera berkarya sebagai operator pelabuhan kelas dunia!

Hafidz Novalsyah Humas Pelindo Marines (Pelindo III Group), Anggota Serikat Pekerja Pelindo III, Alumni Komunikasi UNS 2013 & World Maritime University 2017

(mmu/mmu)