Kolom

Kesehatan Jiwa dan Produktivitas ASN

Dinda Balqis - detikNews
Senin, 04 Okt 2021 10:00 WIB
Close up photo of men using phone and laptop in the office
Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto
Jakarta -

Seorang guru di Bone, Sulawesi Selatan mengumpulkan para siswanya di dalam sebuah kelas dan mengunci dirinya bersama para siswa kemudian berceramah selama kurang lebih 4 jam hingga siswanya jatuh pingsan karena kelaparan. Setelah ditelusuri, guru tersebut memiliki gangguan jiwa sehingga acapkali bersikap aneh.

Pada 2019 pun terdapat kejadian, seorang PNS di salah satu dinas di Aceh bernama Siti Nuri menerima surat pemecatan sebagai ASN dikarenakan gangguan Skizofrenia Paranoid yang diidapnya.

Dua kasus di atas memiliki kesamaan, yaitu kasus gangguan kejiwaan yang dialami oleh PNS. Mungkin itu hanya contoh kecil dari banyaknya kasus gangguan kejiwaan yang terjadi pada usia produktif.

ASN dalam Undang-Undang Nomor 5 tahun 2014 tentang ASN memiliki tiga fungsi, yaitu pelaksana kebijakan publik, pelayanan publik, serta perekat dan pemersatu bangsa. ASN dalam melaksanakan tugasnya dituntut untuk cermat, disiplin, dan profesional. Terlebih di era Revolusi Industri saat ini, ASN harus menerapkan penggunaan teknologi komunikasi dan informasi di segala lini tugasnya.

Masa pandemi tampaknya menambah beban para ASN dikarenakan kebijakan work from home (WFH). Meskipun mobilitas ASN berkurang, namun beban kerja secara online bertambah, seperti mengikuti meeting online. Komunikasi tim secara online itu dapat dilakukan berjam-jam di depan sebuah piranti.

Kesehatan jiwa merupakan indikator penting terbentuknya ASN yang berkualitas. Tugas-tugas profesional hanya mampu diemban oleh ASN yang sehat secara mental. Gangguan kesehatan jiwa dapat menyerang siapa saja, termasuk ASN. Namun, apakah ASN sudah mendapat layanan kesehatan jiwa yang memadai?

Pandemi dan Kesehatan Jiwa ASN


Kesehatan jiwa berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa didefinisikan sebagai kondisi dimana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental,spiritual dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya.

World Health Organization (WHO) menegaskan bahwa definisi sehat merupakan definisi yang sifatnya integral, artinya bukan sekedar bebas dari penyakit, namun kondisi dimana seseorang mencapai kesejahteraan paripurna secara fisik, mental dan sosial.

Dari dua definisi di atas sepertinya sudah cukup menjelaskan pentingnya kesehatan jiwa bagi setiap orang untuk dapat berpartisipasi di dalam masyarakat. Orang dengan gangguan kejiwaan memiliki gangguan dalam pikiran, perilaku, dan perasaan yang membuatnya tidak bisa menjalankan fungsinya sebagai manusia.

Gangguan kejiwaan tidak bisa hanya digambarkan dengan kondisi seseorang kehilangan akal secara total, perilaku-perilaku sekecil kelalaian pun bisa jadi merupakan tanda-tanda seseorang memiliki gangguan kejiwaan. Jika dikaitkan dengan ASN, sikap interdisipliner dapat berindikasi seorang ASN memiliki gangguan kejiwaan.

Gejala-gejala psikopatologi dapat muncul bila seseorang mengalami tekanan dalam pekerjaannya, seperti depresi, obsesif, kecemasan dan antisosial. Hal ini kemungkinan besar terjadi pada mayoritas ASN, terlebih pada masa pandemi. Bekerja pada masa pandemi membawa tantangan tersendiri. ASN bekerja di tengah kecemasan akan pandemic Covid-19 ini.

Tekanan bekerja secara online juga pasti lebih besar. Dapat dibayangkan kewajiban berhadapan dengan piranti selama berjam-jam demi menuntaskan meeting online dan keterbatasan mobilitas akan memunculkan gejala depresi.

Sebagian besar menganggap WFH membawa kemudahan karena kita bisa meng-handle pekerjaan kantor sekaligus pekerjaan di rumah dengan mudah. Tetapi, hal ini bisa menjadi permasalahan baru bagi pelaksanaan WFH. Menurut Andrew Schwehm, seorang ahli psikologis klinis, banyak orang yang kesulitan membagi waktu selama WFH, menjadikannya tidak dapat memisahkan kehidupan profesional dan pribadi.

Saat WFH, banyak dari kita yang kesulitan membagi waktu sehingga jam kerja yang normalnya kita lakukan di kantor adalah 8 jam, menjadi lebih panjang ketika dilakukan di rumah. Kekhawatiran lainnya ialah berkurangnya kesempatan untuk bersosialisasi. Sebagai makhluk sosial, terlepas dari terbuka atau tertutupnya karakter seseorang, tetap membutuhkan sosialisasi kepada sesama. Dengan bersosialisasi, kita terhindar dari depresi, memunculkan motivasi serta memunculkan rasa nyaman. Namun, mobilitas dan sosialisasi harus terbatas karena pandemi.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia melakukan survei kesehatan jiwa terkait Covid-19, hasilnya dari 1.522 responden dengan rentang usia 14-71 tahun, sebanyak 68% mengaku cemas, 67% mengalami depresi dan 77 % mengalami trauma psikologis. Hasil survei tersebut menggambarkan di segala rentang usia mulai usia sekolah, pekerja dan lansia mengalami gangguan kesehatan jiwa seiring tidak usainya pandemi, bukan tidak mungkin dari 1.522 responden ada yang berprofesi sebagai ASN.

Penyediaan Layanan Kesehatan Jiwa


Berdasarkan Undang-Undang tentang Kesehatan Jiwa, upaya kesehatan jiwa dapat dilakukan melalui kegiatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Upaya kesehatan tersebut dilaksanakan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat.

Layanan kesehatan jiwa dapat diberikan oleh pemerintah dalam bentuk komunikasi, informasi, dan edukasi mengenai kesehatan jiwa, menciptakan lingkungan kerja yang kondusif terlebih pada masa pandemi seperti saat ini, memberikan rujukan dan tindakan klinis bagi ASN yang mengalami gangguan kesehatan jiwa serta memberi fasilitas rehabilitasi sehingga ASN dapat kembali ke lingkungan pekerjaannya.

Perkembangan teknologi semestinya memberikan kemudahan bagi pemerintah untuk memperkaya literasi kesehatan mental bagi ASN dan konsultasi secara daring terhadap permasalahan-permasalahan yang bisa menjadi pendorong gangguan kesehatan jiwa ASN.

Stigma buruk terhadap pengidap gangguan kesehatan jiwa pun seyogianya dapat sirna seiring dengan edukasi yang komprehensif dari pemerintah. Setiap individu memiliki risiko yang sama untuk mengalami gangguan kesehatan jiwa, pun yang orang yang mengalami gangguan kesehatan jiwa dapat pulih kembali dengan penanganan yang tepat.

Tuntutan profesionalitas ASN harus berbanding lurus dengan perhatian pemerintah terhadap kesehatan jiwa ASN. ASN yang sehat jiwanya dapat memberikan kinerja yang baik bagi pemerintah.

Dinda Balqis, S.H Analis Hukum Kementerian Hukum dan HAM

Lihat juga Video: Mahfud Ungkap Ide Awal Perekrutan 57 Pegawai KPK Jadi ASN Polri

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)