Jeda

Bambu Merah, Bambu Hitam, dan Cara Memecah Kesunyian

Mumu Aloha - detikNews
Minggu, 03 Okt 2021 11:19 WIB
mumu aloha
Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta -

Seorang pria dari keluarga kaya mengundang seorang seniman terkenal untuk diminta melukis bambu. Selesai melakukan tugasnya, ia mendapat pujian dari pria kaya itu. "Sempurna...."

Tapi, belum lagi sang seniman sempat menunjukkan kepuasannya, pria kaya itu segera melanjutkan. "Tapi, warnanya salah! Anda mewarnai bambunya merah."

Seniman itu pun terkejut. "Memangnya warna apa yang Anda inginkan?"

"Tentu saja hitam!" sahut pria kaya itu.

Seniman itu pun langsung membalikkan badan, berlalu, sambil dengan wajah bersungut-sungut mengomel. "Mana ada bambu hitam!"

***

Di Twitter baru-baru ini ada sebuah akun "menfess" yang membagikan sebuah pertanyaan: orang yang lebih suka naik mobil menurut kalian gimana?

Jika hanya itu pertanyaannya, tentu tidak terlalu menarik karena sifatnya yang sangat umum dan jawabannya bisa sangat terbuka. Tapi, yang membuat tweet itu kemudian menjadi sangat ramai tanggapan adalah karena pertanyaannya tidak berhenti sampai di situ saja. Masih ada lanjutannya berupa penjelasan dan kesimpulan -alias tanya sendiri dijawab sendiri, begini:

Aku kan iseng ya ngajakin ke Magelang, naik motor dari Cilegon biar romantis. Tapi dia malah bilang mending naik kereta atau mobil deh. Belum jadian aja keliatan matrenya.

Walaupun kalimat itu tanpa subjek-subjek berikut keterangan identitas yang jelas, tentu saja tidak sulit untuk membacanya sebagai berikut: seorang pria mengajak cewek yang sedang didekatinya untuk melakukan perjalanan, lalu ditolak, dan berakhir dengan penghakiman dari si pria kepada si cewek.

Tidak sulit pula untuk menebak komentar dan respons para netizen. Umumnya "berpihak" pada penolakan si cewek dan "mementahkan" usaha dari si penanya tersebut yang nadanya meminta persetujuan, pembelaan, dan simpati.

Bahkan tidak sedikit yang terang-terangan menyerang, dengan mengatai bahwa mengajak cewek melakukan perjalanan sangat jauh dengan motor itu bukannya romantis tapi goblok. Dan, dari berbagai komentar yang sahut-menyahut, bisa ditarik benang merah yang intinya menganggap bahwa penghakiman "matre" itu sangat naif, konyol, ngawur karena ajakan tersebut tidak masuk akal.

Tentu masalahnya tidak sesederhana "lebih suka naik mobil" -lalu disimpulkan sebagai "matre". Tapi Cilegon ke Magelang itu bukan jarak yang dekat dan naik motor bisa membuat "otak pindah ke bokong" --seperti salah satu komentar yang sinis dan emosional.

***

Media sosial tempat kita menghabiskan sebagian besar waktu dan hidup kita pada zaman ini dipenuhi dengan silang sengkarut opini-opini yang luar biasa bising, berisik, dan memekakkan. Orang bisa dengan mudah melakukan penilaian dan penghakiman terhadap orang lain, membuat kesimpulan-kesimpulan yang simplistis terhadap suatu isu.

Di media sosial setiap orang datang, muncul, nimbrung, teriak, berkomentar, atau melemparkan pernyataan dengan berbekal keyakinan bahwa dirinya adalah kebenaran. Lalu yang lain menanggapi, membantah, menyanggah dengan keyakinannya sendiri yang tak kalah kuat bahwa opininya lebih benar. Begitu seterusnya, setiap suara bertukar tangkap dengan kebenarannya masing-masing yang diyakini. Sampai akhirnya akan muncul "suara terakhir" yang merasa paling benar.

Lalu, kalau masing-masing merasa lebih benar di atas yang lain, siapa yang sebenarnya benar-benar benar?

Situasinya menjadi seperti kisah empat biksu "memecah kesunyian" dalam khazanah pelajaran Zen. Alkisah, empat orang biksu sepakat untuk bermeditasi tanpa bicara selama seminggu. Mereka duduk melingkar dengan nyala api lilin di tengah-tengah. Mereka melewati hari pertama dengan tenang.

Namun, begitu api lilin mulai berkedip melemah dan kegelapan membayangi ruangan, salah seorang biksu berseru, "Wah, lampunya akan padam!"

Salah satu biksu lain pun spontan menyahut, "Heh, kita kan nggak boleh bicara!"

Biksu ketiga akhirnya tidak tahan. "Mengapa kalian berdua bicara?"

Hingga kemudian biksu keempat pun tertawa dengan jemawa. "Ha ha ha...Saya satu-satunya yang tidak bicara!"

***

Banyak orang tidak sadar, dirinya sebenarnya juga keliru ketika mengingatkan orang lain, dan menunjukkan kesalahan mereka. Sama seperti para biksu itu, demikian pula halnya dengan pria kaya yang meminta seniman melukis bambu. Meskipun si pria kaya dapat menunjukkan kesalahan sang seniman, tapi sanggahan dia sendiri belum tentu benar walaupun diucapkan dengan sangat yakin.

Bambu merah mungkin memang ada, tapi siapa tahu pria kaya itu belum pernah melihatnya. Bambu hitam mungkin juga ada, tapi bisa jadi si seniman belum pernah melihatnya. Di jagat digital, tempat kita dengan riang gembira bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang yang sebagian besar tidak kita kenal secara langsung, kita kerap beradu argumen dengan sengit, tanpa pernah menyadari bahwa yang kita perdebatkan sebenarnya sesuatu yang sia-sia.

Seseorang membagikan sebuah informasi yang dinilainya sangat berharga, tentang suatu tempat yang dianggapnya rahasia, dan dengan bangganya dia menyebut sebagai hidden gem. Tapi, ketika informasi itu menyebar di media sosial dan ditangkap oleh orang lain dalam jumlah yang banyak, bisa jadi akan ada yang dengan "bijaksana" berkata: kalau kamu belum pernah tahu tempat itu, ya bukan berarti itu hidden gem.

Belakangan ini banyak nasihat berseliweran, stop normalize anu, stop glorifying anu....Tapi sebenarnya pesan-pesan seperti itu ditujukan kepada siapa? Akan selalu ada "pria kaya" yang pengalaman hidupnya tidak pernah mengajarkan bahwa ada bambu berwarna merah, dan akan selalu ada "seniman" yang punya keyakinan kuat bahwa mana ada bambu berwarna hitam.

Dalam dunia seperti itu, tidak akan pernah ada titik temu. Tidak ada yang namanya diskusi -apalagi diskusi yang sehat dan mencerahkan. Yang ada hanya hasrat untuk memamerkan ego -semua hanya tentang aku, aku, aku, dan duniaku. Kita mengukur kesuksesan dengan pengalaman diri kita sendiri, lalu menjadikannya seolah-olah itu ukuran kebenaran umum bahwa di umur sekian, seseorang itu harus punya ini, ini, ini, dan di umur sekian harus bergaji segini, segini, segini.

Dengan ukuran yang "serba-aku", kita menasihati orang lain tentang kerja keras, jangan mudah mengeluh, selalu bersyukur, dan sebagainya. Dengan ukuran yang "serba-aku", kita menjadikan pengalaman kita sendiri sebagai kebenaran tunggal, dan bukan memperlakukannya sebagai "referensi" yang terbuka untuk didialogkan dengan pengalaman orang lain, sehingga memperkaya pengetahuan, wawasan, dan bisa menjadi pertimbangan dalam mengambil keputusan.

Dengan ukuran yang "serba-aku" seseorang ngotot bahwa tidak ada kesuksesan tanpa kerja sekian puluh jam, bahwa hidup yang tidak dijalani dengan kerja kerja kerja itu hanyalah sebuah hidup yang medioker, dan seterusnya, dan seterusnya. Tapi, dengan ukuran "aku-yang lain", semua itu bisa dipatahkan dengan penyataan yang santai: hidup chill aja merasa sukses kenapa juga harus hectic?

Jadi, siapa yang benar?

Saya teringat keramaian beberapa waktu lalu, ketika sebuah akun tiba-tiba dengan nyolot mengatakan bahwa profesi barista itu hanya "menang" di gaya, tapi gajinya kecil. Tak lama setelah itu muncul sebuah komik strip yang sederhana tapi sangat menyentuh, menggambarkan dua lelaki muda di dapur sebuah kafe sedang berbincang.

"Tidak ada gunanya melihat kumpulan opini di internet, lebih baik kita kerja."

"Benar," sahut temannya.

Kembalilah pada kesepakatan. Jangan tergoda dengan kedip nyala lilin yang hampir padam. Tidak ada gunanya terus-menerus mencari cara dan ikut-ikutan memecah kesunyian. Sebab, ketika semua orang sudah tak bisa menahan untuk berbicara apa saja, yang diam saja sekalipun bisa menjadi pihak yang salah dan diserang, minimal diprasangkai, tak jarang dengan penuh kebencian.

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor

Simak juga 'Bikin Laper: Makan Ayam Bakar Bambu yang Kaya Rempah':

[Gambas:Video 20detik]



(mmu/mmu)