ADVERTISEMENT

Kolom

Penanda Semiotika Akhir September

Zudan Rosyidi - detikNews
Kamis, 30 Sep 2021 11:20 WIB
Berkarya gelar nobar film G30S/PKI (Ibnu/detikcom)
Sebuah acara nobar film "G30S/PKI" (Foto: Ibnu/detikcom)
Jakarta -

Pembunuhan perwira TNI AD pada 1965 adalah penanda semiotika yang selalu dikonstruksi pada (akhir) bulan September. Sebagai sebuah penanda, peristiwa berdarah itu telah direproduksi melalui beragam sudut pandang yang terepresentasikan melalui langue (sistem) pengetahuan yang mendeskripsikan aktor intelektual di balik peristiwa tersebut, kehidupan para penyintas dan keluarganya, kehidupan terdakwa selama di penjara, pelaku penjagalan, hingga konteks lokal yang menjadi latar dari Peristiwa 30 September 1965.

Beberapa buku dan media menunjukkan bahwa variasi bentuk penanda itu dikonstruksi dengan mengikuti praksis politik negara yang berbeda-beda dalam menempatkan Peristiwa 30 September 1965. Dikontrol dan dibatasi oleh negara sebagai otoritas penafsir tunggal pada masa Orde Baru, dan kemudian berubah menjadi suatu penanda sosial yang secara luas diperdebatkan dalam ruang publik pasca-gerakan Reformasi pada 1998.

Pada babakan selanjutnya, kepemilikan media sosial telah mengeser penanda peristiwa tahun 1965 tersebut. Tidak lagi tampak sebagai penanda yang berkontestasi untuk "berebut" klaim kebenaran secara teoritik maupun perspektif, tetapi telah bergeser pada kepentingan individu masyarakat dan sekaligus sebagai subjek yang terkoneksi dengan platform digital. Mulai dari sekadar menunjukkan kehadirannya pada momentum yang ramai diperbincangan, menjadi sebatas penikmat dan audien pasif, larut dalam arus yang berkembang di jejaring sosialnya, hingga melakukan aktivitas yang mengarah pada produksi hoak.

Penanda di Media Lama

Kepustakaan Indonesia memiliki beragam bentuk penanda semiotika lama komunisme. Para penulis memiliki pilihan penanda tersendiri untuk membingkai Peristiwa 1965. Meskipun berbeda antar-penulis, setiap penanda yang digunakan bersumber pada data-data empirik yang diambil secara langsung pada pelaku, korban, saksi, hasil reportase, tulisan awal, atau catatan-catatan pengadilan di Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub).

Nugroho Notosusanto menggunakan data-data dari catatan Mahmilub dalam menyusun buku Tragedi Nasional: Percobaan Kup G 30 S/PKI di Indonesia. Arifin C Noer dalam menulis naskah film Pemberontakan G 30 S/PKI menggunakan buku Nugroho sebagai acuan dalam membuat skenario film yang menjadi tontonan wajib setiap 30 September semasa Orde Baru berkuasa.

Dengan cara dan perspektif yang berbeda dari negara, Umar Kayam melalui novel Para Priyayi membangun latar bagaimana individu yang terlibat dalam Gerakan 30 September 1965 terbunuh. Dalam pemahaman Umar Kayam, interseksi sosial yang dimiliki atau melekat pada individu yang menjadi bagian dari PKI menjadi faktor penting apakah yang bersangkutan akan menjadi korban atau tidak dalam tragedi pada 1965 tersebut.

Pasca-Orde Baru, tanda penanda itu tidaklah tunggal. Lebih bervariasi dengan beragam identitas kelompok sosial pengusungnya dan tema yang diangkat. Secara garis besar terdapat dua pola dalam mengkonstruksi peristiwa tersebut. Kelompok pertama mendeskripsikan Peristiwa 30 September dari sisi penyintas dan keadilan untuk mereka. Sementara kelompok kedua mendengungkan kebangkitan PKI kembali di Indonesia.

Buku Aku Bangga Jadi Anak PKI yang ditulis oleh Ribka Tjiptaning Proletariyati menjadi buku dengan perspektif keluarga korban. Karya lain yang memiliki kesamaan dapat ditemukan pada film Jagal dan Senyap. Konteks lokal dari film ini menyajikan peritiwa yang menjadi antitesis dari film G 30 S/PKI . Jagal menceritakan tentang pelaku pembantaian pada 1965 di wilayah Sumatera Utara. Senyap lebih menuturkan dari sisi keluarga korban yang dibunuh karena dianggap bagian dari PKI.

Pada aras lain muncul buku yang menggambarkan kekejaman dan komunisme di Indonesia seperti yang ditulis oleh Taufiq Ismail, Sesudah 50 Tahun Gagalnya Kudeta PKI, sebagai respons dari aktivisme yang disinyalir akan membangkitkan PKI di Indonesia atau diberi istilah Komunisme Gaya Baru (KGB). Buku ini dapat dikategorikan sebagai bentuk tandingan atas kehadiran penanda yang mengeksplorasi peristiwa 1965 dari sisi PKI. Dari judul, pilihan kata, hingga pokok bahasan atau isi, buku Taufik Islmail ini dapat dikatakan memiliki kemiripan perspektif dengan buku Nugroho Notosusanto.

Penanda di Media Sosial

Penanda semiotika Peristiwa 30 September 1965 di media sosial berbeda dengan semiotika lama yang penuh dengan kontestasi data dan deskripsi seputar peristiwa tersebut. Lebih banyak dipenuhi dengan penanda yang tidak terkait langsung dengan peristiwa tersebut. Bahkan beberapa yang beredar adalah bentuk propaganda dan agitasi yang tidak memiliki dasar apapun selain kepentingan pragmatis.

Kontestasi politik di level lokal dan nasional menjadi ruang yang sering menjadi target dari penanda ini. Salah satu contoh penanda yang teridentifikasi adalah posting-an "Jokowi adalah keturunan Partai Komunis Indonesia" yang disebar di media sosial Facebook ketika Jokowi mencalonkan sebagai presiden periode kedua pada 2019.

Akun-akun media sosial itu menjadikan Peristiwa 30 September 1965 sebagai pintu masuk. Tidak sebagai penanda utama yang dijelaskan rigid seperti dalam buku. Mereka memahami bahwa komunisme pernah ada di Indonesia dengan common sense mengarah pada satu pemahaman bahwa komunisme identik dengan kekerasan dan kebengisan yang terbentuk melalui doktrinasi dan indoktrinasi selama zaman Orde Baru. Artinya, mereka secara bebas merajut fakta sosial atau sejarah dari satu tokoh yang kemudian dikaitkan dengan gerakan komunisme pada 1965.

Penanda itu digambarkan melalui segerombolan pasukan yang diinformasikan sudah berada di wilayah Indonesia melalui media sosial. Pada momen lain ditampilkan tokoh-tokoh nasional yang berkunjung ke negara Tiongkok yang diberitakan sebagai bagian dari pendidikan kader partai komunis Tiongkok.

Secara rasional, gambaran tentang realitas itu hampir tidak mungkin terjadi. Meskipun demikian, tidak sedikit masyarakat mempercayai konten di medsos tersebut. Masyarakat meyakini satu isu bahwa komunisme baru sudah terbentuk dan itu tidak lagi diinisiasi oleh sesama masyarakat seperti pada 1965, namun akan dilakukan oleh negara luar yaitu Tiongkok.

Realitas sosial ini dapat dibaca pada hasil survei yang dilakukan oleh Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) sejak 2016. Lembaga ini menemukan bahwa di rentang 10-16% masyarakat percaya dengan kebangkitan komunis. Lembaga ini juga menemukan bahwa 26% masyarakat percaya bahwa relasi negara Tiongkok dengan Indonesia tidak hanya terkait dengan hubungan bisnis semata, namun juga dibarengi dengan upaya untuk membangkitkan komunisme.

Pada titik ini terlihat distilasi informasi yang tidak berjalan. Ketika kepakaran sudah mati, beragam penanda itu tidak memerlukan argumentasi pengetahuan yang teoritik dan metodologis. Tidak perlu data yang valid dan reliabel apalagi metodologi penulisan yang runtut untuk membuktikan klaim-klaim dalam informasi tersebut.

Keberadaan penanda ini hanya perlu memanfaatkan struktur sosial yang dipersepsikan tidak adil ke masyarakat. Penguasaan sumber ekonomi yang belum bergeser dari dominasi etnis Tionghoa dan perilaku elite pemerintahan dan politik yang mengambil keuntungan dari kondisi tersebut dapat menjadi pemantik yang memperkuat persepsi tersebut. Atau, ketika pengangguran meninggi dan lowongan kerja semakin sempit di masa pandemi, tenaga kerja asing (TKA) dari Tiongkok justru datang bergelombang. Para TKA ini datang ketika semua bentuk mobilitas penduduk di batasi dan mereka berasal dari negara yang menjadi asal Covid-19.

Konstruksi di media sosial ini sangat berbahaya karena dapat memecah kohesi sosial di akar rumput. Ibarat api dalam sekam, konstruksi ini perlahan-lahan dapat membakar masyarakat karena secara tidak langsung melakukan stigmatisasi sosial pada kelompok-kelompok masyarakat yang berseberangan pandangan.

Zudan Rosyidi kandidat Doktor Ilmu Sosial di Universitas Airlangga, dosen di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

(mmu/mmu)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT