Sentilan IAD

Ketika Banyak Hal Tak Lagi Mudah Menjadi Istimewa

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 28 Sep 2021 19:20 WIB
iqbal aji daryono
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Fihril Kamal/istimewa)
Jakarta -

Saya merancang kalimat-kalimat awal ini sambil rebahan di samping anak laki-laki saya. Umurnya empat tahun, baru sebulan lalu dia meniup lilin ulang tahunnya. Tangan-tangan mungilnya sedang mengutak-utik dua mainan. Satu mobil-mobilan van berwarna biru, satu lagi berbentuk ekskavator yang lebih gede. Kuning, warnanya.

Dua mainan itu dia dapatkan setelah merengek beberapa jam kepada ibunya, gara-gara dia melihat sepupunya punya mainan serupa. Sementara, anak saya sejak dulu sangat terobsesi dengan mainan kendaraan, hasil dari ketekunan menonton saluran Youtube Blippi, MonsterJamLord, dan TwentyTrucks.

Awalnya saya malas menuruti keinginan anak saya itu. Pertama, karena konon menuruti keinginan anak dengan terlalu gampang itu tidak baik dan tidak mendidik. Setidaknya, begitulah kata para ayah-bunda pakar parenting itu. Kedua, karena tampaknya mainan-mainan itu mahal. Bentuknya memang keren, bahannya dari logam.

Tetapi, dugaan saya salah. Ketika istri saya menengok marketplace, mainan semacam itu ternyata cuma seharga tiga puluh ribuan. Segeralah muncul dalam imajinasi saya akan potensi komentar-komentar netizen, semacam, "Ya ampuuun, harga segitu lebih murah ketimbang dua bungkus rokokmu! Jadi kamu lebih mementingkan rokok daripada kegembiraan anakmu?"

Karena saya tak ingin ada survei viral lagi yang mengatakan bahwa sekian juta laki-laki Indonesia menelantarkan anak demi rokok, akhirnya saya pun bilang ke istri saya, "Ya udah, beli aja." Lagipula saya tidak mungkin bisa konsen menulis kalau terus-terusan mendengar rengekan anak saya.

Jadinya, mainan itu sekarang ada dalam genggamannya. Satu situasi yang tiba-tiba memunculkan kekhawatiran baru di benak saya.

Mainan milik anak saya sudah bertumpuk-tumpuk di sudut sana, juga tersebar di mana-mana. Itu baru yang berbentuk kendaraan, belum yang robot dan superhero. Waktu ulang tahun kemarin, karena kakaknya menata pesta ultah adiknya dengan tema Spiderman, saudara yang pada datang semuanya membawa kado bertema Spiderman juga. Akhirnya, rumah saya diserbu dari segala sisi oleh puluhan ekor Spiderman.

Nah, seminggu kemudian, apa yang terjadi? Ya, anak saya hanya fokus pada satu dua biji Spiderman-nya. Yang lain-lain diabaikan begitu saja, bahkan beberapa hari kemudian yang dua biji itu pun ditinggalkannya.

Begitu mudahnya anak saya, juga mungkin semua anak zaman sekarang, mengakses mainan-mainan itu. Segalanya begitu murah. Sangat sedikit di antara mainan anak saya itu yang harganya di atas seratus ribu. Dan karena murah, semuanya mudah didapat. Dan karena mudah didapat, jumlahnya jadi terlalu banyak. Dan karena jumlahnya terlalu banyak, tak ada lagi yang spesial di antara mereka.

Ini situasi psikologis yang mirip dengan cerita tentang kelinci-kelinci milik anak perempuan saya. Pada awalnya, setelah kami belikan sepasang kelinci berwarna putih dan coklat, keduanya memproduksi beberapa anak. Semuanya diberi nama oleh anak perempuan saya. Ada Choco, Petches, Peanut, dan nama-nama bule lainnya.

Pada generasi pertama itu, setiap bayi yang lahir adalah kebahagiaan, dan setiap kematian adalah tangisan. Tiap kali ada kelinci yang sakit atau menyendiri mogok makan, saya tahu bahwa esok paginya saya harus menyiapkan diri untuk memeluk anak saya yang pasti akan terisak-isak sambil berendam air mata.

Tetapi, sekarang peta politik sudah berbeda. Sepasang kelinci itu sudah beranak-pinak, bercucu-cicit, dan kawin-mawin antarsaudara. Dari yang semula dua menjadi delapan, dari delapan menjadi sembilan belas, dari sembilan belas menjadi dua puluh tujuh. Pada satu tahap generasi, akhirnya anak saya tak lagi memberi mereka nama. Mungkin karena bosan dan kehabisan ide nama, saking banyaknya. Dan karena tak lagi bernama, mereka tak lagi istimewa.

Sejak itu, untuk anak saya, kematian kelinci-kelinci bukan lagi jadi sesuatu yang akan dia tangisi. Peristiwa lepasnya nyawa dari tubuh-tubuh mungil itu bukan lagi putusnya sebuah relasi, tercabiknya kenangan dan kedekatan batin, apalagi hancurnya cita-cita bersama akan masa depan, melainkan semata berhentinya aktivitas sel-sel organisme. Kematian-kematian itu sekarang menjadi nir-makna.

Persis di sini saya jadi paham kenapa Stalin berkata, "Satu kematian adalah tragedi, sejuta kematian adalah statistik." Sekaligus saya akhirnya juga mengerti kenapa para korban kamp konsentrasi Auschwitz konon hanya disebut dengan nomor-nomor dan bukan nama, untuk melenyapkan kemungkinan tumbuhnya rasa iba dalam diri para eksekutor yang akan melihat bakal korban-korbannya sebagai sesama manusia.

Ah, tapi saya tidak hendak bicara tentang kematian. Sudah terlalu jenuh kita mendengar dan membincangkan kematian-kematian. Yang mau saya sampaikan hanyalah betapa arus zaman ini membawa kemudahan-kemudahan yang keterlaluan kepada kita. Dan karena saking gampangnya, saya ulangi, tak lagi banyak hal yang bisa kita tempatkan sebagai sesuatu yang istimewa.

Bukan cuma tentang mainan-mainan, atau produk apa pun yang sekarang bisa kita dapatkan dengan harga yang tidak perlu membuat dompet kita kembang kempis. Namun juga tentang informasi, berita, juga kabar-kabar.

Waktu ronda malam Minggu lalu, Mas Dayat, anggota Brimob yang teman satu grup saya, bercerita kalau dia habis ikut menengok pabrik pil koplo terbesar se-Indonesia yang baru saja digerebek polisi itu. Jarak pabrik itu cuma enam kilo dari rumah saya. Ketika mendengar cerita itu, saya cuma manggut-manggut. Biasa saja, rasanya. Entah kenapa kabar yang seharusnya menghebohkan itu tidak lagi cukup untuk membuat saya ternganga. Bahkan ketika Senin pagi penggerebekan itu dikabarkan di media-media, saya pun malas membaca detailnya.

Meskipun itu berita besar, tapi sudah seberapa sering kita mendengar berita tentang kasus narkoba di zaman sekarang? Bosan, saya. Pasti begitu pula Anda.

Bandingkan dengan dulu ketika saya SD, saat terdengar berita ada seekor ular berkepala kuda, dan persebaran berita belum begitu mudahnya, ribuan orang langsung mendatangi kampung Brajan, tiga kilo dari sekolah saya. Berita itu jadi sangat istimewa.

Belum lagi ketika ada kabar seekor ayam yang disembelih sampai putus kepalanya tapi tetap hidup dan mengeluarkan suara kokoknya, sepulang sekolah teman-teman saya langsung bersepeda menuju TKP di dekat Jalan Lingkar Barat Jogja. Atau ketika kuburan di kampung Jogonalan dibongkar dan jenazah di dalamnya masih utuh, ratusan orang menggeruduk makam itu untuk berebut lebih dulu mencatat tanggal kematian jenazah itu, lalu membeli nomer togel yang sesuai dengan angka-angka itu. Segalanya sungguh terasa istimewa.

Sekarang, saya buka koran online saja isinya sungguh tak terasa ada yang istimewa. Pembunuhan? Korupsi? Perdebatan para tokoh politik? Berita tentang indeks kepercayaan yang rendah kepada anggota DPR? Kepala daerah (yang agaknya pada mau nyapres itu) yang berkeliling untuk memantau pelaksanaan vaksinasi? Di mana istimewanya? Tak ada lagi yang istimewa.

Semakin gampang kita mendengarnya, semakin sering kabar-kabar itu melintas di layar HP kita, semakin kita sulit untuk meletakkannya pada posisi istimewa. Hari-hari esok kita mungkin adalah hari-hari yang murung, karena semakin tidak gampang bagi kita untuk menemukan lagi hal-hal yang istimewa. Persis sebagaimana anak saya saat melirik tumpukan mainan-mainannya.

Iqbal Aji Daryono penulis, tinggal di Bantul

(mmu/mmu)