Kolom

Gus Yahya, Isyarat Gus Dur, dan NU Baru

Ishaq Zubaedi Raqib - detikNews
Selasa, 28 Sep 2021 10:54 WIB
KH Yahya Cholil Staquf atau biasa dipanggil Gus Yahya meluncurkan buku bertajuk Perjuangan Perjuangan Besar Nahdlatul Ulama.
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Sebagian besar nahdliyin (warga NU) pernah mendengar cerita di sekitar perjalanan KH Said Aqil Siradj menuju NU-1. Kisah ini mutawathir dan masyhur bukan karena jadi rahasia umum jamaah, tapi juga karena diriwayatkan sendiri oleh Kiai Said. Haddatsana Kiai Said: Gus Dur itu dawuh. Said! Ente baru akan jadi Ketua Umum kalau umurmu sudah kepala lima alias lima puluh tahun. Begitu kira-kira kutipannya. Sejak itu, kepemimpinan NU pindah dari Jawa Timur ke Jawa Barat.

Di usia 50-an, Kiai Said memimpin NU, menggantikan KH Hasyim Muzadi. Periode kepemimpinan Kiai Said sama persis dengan Gus Dur dan Kiai Hasyim Muzadi. Dalam ulumur rijal NU, Kiai Said termasuk kibar shohabah alias sahabat senior sekaligus murid Gus Dur. Walau lebih muda, tapi ia seleting dengan KH Hasyim Muzadi, Slamet Effendi Yusuf, Achmad Bagdja, Muhyiddin Arubusman, Masdar F. Mas'udi, Rozy Munir, Musthofa Zuhad, dan lain-lain.

Di bawahnya, ada sighor shohabah --sahabat yunior. Mereka berada di posisi santri alias murid dan benar-benar menjadikan Gus Dur sebagai role model. Satu di antara yang paling menonjol adalah Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya). Memang, ada nama lain semisal Saifullah Yusuf, Muhaimin Iskandar, atau Khofifah Indar Parawansa. Saat muda, ketiganya memimpin badan otonom NU, yakni Ansor, PMII dan Muslimat NU. Sedikit di atas layer ini ada Arifin Junaidi, KH Yusuf Muhammad, Moh AS Hikam, Moh Mahfud MD.

Gus Yahya lebih beruntung, karena dari usia muda sudah "punya" pondok. Di bawah muroqobah pamannya, KH A. Mustofa Bisri (Gus Mus), ia mengasuh PP Raudhatut Tholibin, Rembang. Gus Dur punya PP Tebuireng, Pak Hasyim mengasuh PP Al Hikam, dan Kiai Said mengampu PP Luhur At Tsaqofah. Gus Yahya menguasai bahasa Inggris sama bagus dengan bahasa Arab-nya. Mahir menulis dan bertutur dengan dua bahasa internasional itu.

Isyarat Gus Dur

Dalam hal menjaga keberlangsungan regenerasi kepemimpinan di NU, Gus Yahya mendapat porsi pembelajaran "lebih" dari Gus Dur dibanding nama-nama besar seangkatannya di atas. Paling kurang, kalau umur jadi ukuran, sebagaimana peran "profetik" Kiai Said, maka Gus Yahya yang kelahiran 1966 sudah berada di periode golden age generasi NU mutakhir. Tapi jelas, ini bukan soal umur. Ini soal kapasitas dan garis "sabda alam".

Inilah keniscayaan sejarah ke-NU-an itu. Tentu kurang elok kalau menggunakan istilah merebut, tapi jelas kesempatan itu sudah tiba. "Wahyu" sudah ditulis. Ada baiknya generasi Gus Yahya segera bersatu untuk menerjemahkan NU era baru. Generasi ini, ditambah satu layer di bawahnya, seperti KH A Fahrur Rozi Malang, Ulil Abshar Abdallah, KH Abdurrahman Kautsar, KH Bahauddin Nursalim, KH Abdul Salam Shohib, KH Reza Zahid, Prof KH Nadirsyah Hosen dan puluhan nama lain, adalah pelintas sejarah The Next NU.

Memahami NU, tidak bisa hanya dari ilmu kasbi alias yang didapat lewat literasi semata. NU adalah perikatan ulama dan umatnya yang unik, khas, kaya perlambang. Sebagai contoh, status doktor, guru besar, lulusan Ummul Quro, Mekkah, komisioner Komnas HAM, anggota TPGF kerusuhan Mei 1998, tapi tidak serta merta memudahkan Kiai Said jadi Ketua Umum PBNU. Ia menyimak benar dawuh Gus Dur. Itulah dunia perlambang.

Tapi, jabatan Katib 'Am Syuriyah adalah jalan paling dekat menuju kursi Ketua Umum. Kalau di arena Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar NU, 25-26 September 2021 lalu di Grand Sahid Hotel, Jakarta muncul nama Gus Yahya, itu kian menguatkan dawuh Gus Dur di atas. Sebelum jadi Ketua Umum NU, Kiai Said adalah Katib 'Am. Jabatan yang sejak muktamar Jombang juga diampu oleh Gus Yahya.

Kenapa Mesti Gus Yahya

Meski tidak sama persis, jelas Gus Dur sudah mempersiapkan jalan bagi Gus Yahya. Orang sekaliber Gus Dur, semua sikap dan langkahnya selalu terukur. Ia biasa mempersiapkan siapa untuk tugas apa. Ketika Gus Dur membidani kelahiran Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Gus Yahya duduk sebagai Wakil Sekjen. Gus Yahya jadi komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU), sebagai wakil PKB di awal era reformasi. Darah politik mengalir dari abahnya, KH Cholil Bisri, Wakil Ketua MPR.

Ketika Gus Dur terpilih sebagai Presiden RI, Gus Yahya masuk dalam gerbong menuju istana. Jabatannya sebagai juru bicara menunjukkan betapa Gus Dur percaya Gus Yahya bisa menerjemahkan sikap dan pikirannya sebagai Presiden. Bersamaan dengan itu, sikap dan pandangan kenegarawanan Gus Yahya juga semakin terbentuk seiring bertambahnya frekuensi pertemuan dan intensitas pergaulannya dengan sang mentor, Presiden Gus Dur.

Misalnya, dalam situasi sangat krusial, ketika Istana berhadap-hadapan dengan parlemen, Gus Dur menerbitkan dekrit yang penuh risiko. Posisinya di bibir jurang, karena kekuasaannya digergaji oleh para koboi Senayan. Situasi itu disikapi Presiden dengan keras. Ia bubarkan parlemen dan minta Gus Yahya membacakan dekrit. Itu momen paling kuat menggedor dada Gus Yahya. Dan ia merasa mendapat 'illat untuk mengikuti jalan politik Gus Dur. Melawan!

Menapaktilasi Gus Dur, sejumlah kegiatan promosi Islam ala NU dilakukan Gus Yahya. Kalau Kiai Said pernah membuat heboh karena berceramah di Gereja Algonz, Surabaya, langkah Gus Yahya lebih dari itu. Ia menemui Paus di Vatikan. Ia mengenalkan Islam Rahmatan Lil Alamin di jantung Katolik dunia. Gus Yahya berkeliling dunia, diminta lembaga think tank, NGO, dan pejabat tinggi di banyak negara, untuk didengar pandangannya soal moderasi Islam versi NU.

Promosi Islam wasathiyah dilakukan Gus Yahya di tengah menguatkan radikalisme dan ekstremisme di sejumlah negara Islam di Timur Tengah. Seperti Gus Dur dan Kiai Said, ia juga dikecam segelintir orang di dalam negeri. Gus Yahya mengaku tengah melakukan perkuatan gerakan perdamaian. "Upaya saya ini mengajak atau memperkuat gerakan perdamaian di tingkat akar rumput di masyarakat menjadi konsensus sosial. Semua orang mau perdamaian," kata Gus Yahya.

Saat jadi pembicara dalam forum American Jewish Committee (AJC) di Israel, Gus Yahya bicara soal jalan "rahmah". Dia mengajak dunia memilih jalan tersebut. "Kalau ini jadi konsensus sosial, aspirasi fundamental dari seluruh masyarakat, maka kita harapkan ini akan jadi penentu dari perilaku pemerintahnya dalam pergaulan internasional," tutur Gus Yahya.

Diakui dia, dalam kunjungannya ke Israel itu, intinya adalah mengajak orang mengubah pola pikir. "Saya juga katakan kepada teman-teman Yahudi di sana bahwa bukan hanya mindset umat Islam yang harus berubah, mindset Yahudi harus berubah. Mindset pemerintah Israel juga harus berubah. Kalau tidak berubah, tidak akan ada gunanya," tutur dia.

Demikianlah catatan dan 'illat, kenapa Gus Yahya dan rekan seangkatannya, mesti berikhtiar mengambil tugas "profetik" ini, saat ini. Generasi di atasnya wajib membuka jalan dan mendukung lahirnya kepemimpinan NU baru, beralih secara damai dari Al Qodimis Sholeh ke Al Jadidil Ashlah. Inilah golden period anak-anak muda NU yang telah matang. Tentu lewat muktamar, Desember tahun ini di Lampung. Giliran Jawa Tengah memegang tampuk riasah NU.

Ishaq Zubaedi Raqib keluar-masuk arena muktamar NU, dari Cipasung Tasikmalaya Jawa Barat hingga Jombang Jawa Timur

(mmu/mmu)